Bukan. Rizal ramli bukan radikal ketika mengkritik sri mulyani ttg pajak tebu.
Rizal ramli melihat pajak tebu itu malas mikir. Sedangkan banyak cara lain dalam menciptakan pendapatan dalam negeri. Ini yg dari dulu dikritik sama RR. Tetapi jangan salah sangka RR bukan anti pajak. Dia orang kiri tetapi bukan orang radikal atau komunis. Beda dengan bung yg radikal dan jonathan yg asal ngomong saja. Bung pikir nesare itu suka hutang dan suka berhutang Bung butanya disini. Ketika orang kasih pendapat lain, bung langsung marah dan ngecap ini itu. Ini yg saya katakan radikal nya bung. Saya tidak sembarangan melabel orang lain. Memang kenyataannya bung radikal dan itu sudah bung setujui. Kenapa sekarang koq seakan2 bung mempersoalkan RR radikal dan mengkerdilkan arti radikalisme itu sendiri. Saya tidak mengkerdilkan arti radikalisme loh walaupun saya bukan radikal. Begitu juga walaupun saya bertentangan dgn faham radikalisme baik kiri maupun kanan, saya gak pernah mau ribut sama orang2 yg berlawanan opini itu. Kita bisa bicara baik2, debat dengan baik dst. Bung yg aneh. Bung yg selalu menyalahkan orang lain yg berbeda pendapat dan terutama masalah ideologi. Saya menggoblok2an jonathan itu krn memang dia goblok. Dia salah dan saya kasih tahu salahnya dimana. Itu gak ada uruan dengan perbedaan ideologi loh. Bung banyak membutakan diri shg tidak mampu berpikiran jernih utk mengerti opini orang lain. Ngomong pajak saja, bung lalu keluar dan seakan2 ngamuk bahwa Jokowi/Indonesia memeras rakyatnya utk bayar pajak tebu. Lucu kan. Yg dipersoalkan RR itu adalah msh ada alternative lain dalam mencari pendapatan utk negara dan kenapa harus pajak tebu. Itu saja persoalannya. Bung dan jonathan kan lain melihatnya: Jokowi/Indonesia memeras rakyatnya! Gila kan? Persoalan keadilan penerapan pajak tebu disebut memeras rakyat?!!! Sedangkan Indonesia itu punya persoalan besar dalam menerapkan system pajak. Indonesia itu sumber dari pajak sangat kurang. Di USA itu bukan orang hidup saja yg dikenakan pajak, orang matipun kena pajak! Tahu tidak bung?!!! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, July 9, 2017 3:18 AM To: [email protected]; [email protected] Cc: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Sri Mulyani Terapkan Pajak 10% ke Petani Tebu, Rizal Ramli: “Ampun, Ampun… ☹️☹️ Menkeu Sudah Kalap” “Jangan sampai, semua pemotongan anggaran dan pemotongan subsidi, dan kenaikan pajak hanya untuk bayar utang, agar terus dipuji kreditor,” ujar Rizal Ramli lagi. Aduh, kok Rizal Ramli omong begitu sih!! Kok senafas dengan orang radikal : potong anggaran, potongan subsidi, pajak naik.....untuk bayar utang!! apa ini bukan berarti hutang dibebankan kepara rakyat??? Jangan mau diprovokasi untuk bicara soal lain. Yang sedang dibicarakan adalah negara membebankan hutang kepada rakyat melalui semua tindakan di atas. Sedangkan pengusaha tidak bisa... Kecuali konglomerat yang begitu besar pengaruh politiknya sehingga negara mau menanggung hutangnya. Eh, bukannya dulu pernah ada yang mempostingkan berita hutangnya LAPINDO (bosnya kan ketua GOLKAR??) kepara para korban di talangin oleh Jokowi??? Kayaknya berita datang dari Ajek (tolong dibetulin kalau saya salah ingat). Soal hutang dibebankan pada rakyat bukan hanya di Indonesia saja. Lha Yunani memberi contoh yang bukan main gamblangnya!! Upah turun, pensiun turun, pajak naik dan diciptakan pajak baru dan seterusnya..... On Sunday, July 9, 2017 8:53 AM, "[email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Sri Mulyani Terapkan Pajak 10% ke Petani Tebu, Rizal Ramli: “Ampun, Ampun… <http://www.aktual.com/sri-mulyani-terapkan-pajak-10-ke-petani-tebu-rizal-ramli-ampun-ampun-%E2%98%B9%EF%B8%8F%E2%98%B9%EF%B8%8F-menkeu-sudah-kalap/> ☹️☹️ Menkeu Sudah Kalap” Juli 8, 2017 19:12 <http://www.aktual.com/wp-content/uploads/2015/06/APTRI-Swasembada-Gula-Jangan-Hanya-Jadi-Fatamorgana.jpg> Jakarta, Aktual.com – Kementerian Keuangan telah mengeluarkan kebijakan dengan mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tebu sebesar 10 persen terhadap tanaman tebu yang akan diolah menjadi gula. Kebijakan ini dinilai banyak kalangan, terutama petani tebu, sebagai beban baru yang menyiksa. Petani tebu di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, misalnya, termasuk yang menjerit akibat kebijakan ini. Keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani menaikan pajak sebesar 10 persen untuk tebu yang dikirimkan ke pabrik gula membuat petani serba salah. Media melaporkan bahwa tak sedikit lahan tebu di Malang yang tidak dipanen dan dibiarkan begitu saja walau tanaman tebu telah menua. Kenaikan pajak tebu ini pun menarik perhatian Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli. Dalam akun facebook, dia sampai sampai menuliskan kata “ampun” sebanyak dua kali ditambah emotikon berduka juga dua kali. “Ampun, ampun. ☹️☹️ Menkeu sudah kalap,” tulis mantan Menko Ekuin era Presiden Gusdur itu. Bentuk kekalapan pemerintah akibat keputusan Menkeu Sri Mulyani menaikkan pajak tebu itu barangkali bisa dilihat dari pernyataan Direktur Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Agus Wahyudi. Agus mengatakan, sudah sepatutnya tebu dikenakan kenaikan pajak bila mengalami pertambahan nilai. Dia juga mengatakan, pajak baru untuk tebu ini diharapkan membuat petani tebu fokus hanya menanam tebu, dan tidak ikut dalam aktivitas pembuatan gula. Adapun Rizal Ramli curiga ada maksud lain di balik kenaikan pajak tebu ini. Sejak beberapa waktu belakangan ini Rizal Ramli menyoroti kebijakan Kementerian Keuangan yang kelihatannya ingin mencari cara mudah untuk mengumpulkan uang untuk membayar utang. Cara mudah yang dilakukan Kementerian Keuangan adalah dengan memotong anggaran dan menaikkan pajak untuk sektor-sektor industri yang dilakoni masyarakat menengah bawah. “Jangan sampai, semua pemotongan anggaran dan pemotongan subsidi, dan kenaikan pajak hanya untuk bayar utang, agar terus dipuji kreditor,” ujar Rizal Ramli lagi. (Arbie Marwan)
