https://nasional.tempo.co/read/news/2017/07/16/078891749/inilah-alasan-kenapa-kesetaraan-
perempuan-belum-tercapai
Inilah Alasan Kenapa Kesetaraan
Perempuan Belum Tercapai
Minggu, 16 Juli 2017 | 04:31 WIB
* share facebook <javascript:void(0)>
* share twitter <javascript:void(0)>
* share google+ <javascript:void(0)>
* share pinterest <javascript:void(0)>
Inilah Alasan Kenapa Kesetaraan Perempuan Belum Tercapai
Saparinah Sadli di kantor Tempo, Velbak, Jakarta (21/3). (Tempo/Ratih
Purnama)
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Tokoh perempuan
<https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=22&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiXxqSe-YvVAhVFrI8KHVEzB8E4FBAWCCYwAQ&url=https%3A%2F%2Fwww.tempo.co%2Ftopik%2Fmasalah%2F3682%2Fperempuan&usg=AFQjCNEj48YouEsAZ05FduQZIV76eEysvQ>
Saparinah Sadli mengatakan ada banyak faktor kenapa kesetaraan gender
belum tercapai. Hal itu bisa dilihat dari angka kekerasan terhadap
perempuan yang dilakukan oleh laki-laki yang terus meningkat di tiap
tahunnya.
"Berbagai penelitian telah mengungkap kekerasan terhadap perempuan
terkait sejumlah faktor seperti masih dianutnya nilai patriarki," kata
Saparinah Sadli saat ditemui di Roosseno Plaza Kemang, Jakarta Selatan,
Sabtu 15 Juli 2017. Saparinah ditemui di sela-sela penerimaan
penghargaan Roosseno Award.
Baca: Arab Saudi Izinkan Murid Perempuan Olahraga di Ruang Publik
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/07/13/115891041/arab-saudi-izinkan-murid-perempuan-olahraga-di-ruang-publik>
Roosseno Award merupakan ajang penghargaan kepada para pelaku penelitian
dan tokoh Indonesia yang memiliki semangat learning by doing. Tahun ini,
pihak panitia memilih Saparinah Sadli sebagai penerima penghargaan.
"Saparinah dipilih sebagai tokoh perempuan yang memperjuang hak-hak
perempuan dan kesetaraan gender," Pengarah Panitia Roosseno Award, Inda
Citraninda Noerhadi, di tempat yang sama.
Selama ini Saparinah dikenal di bidang kesetaraan perempuan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/06/27/173887478/pesantren-perempuan-02-gontor-putri-ciptakan-nyai-nyai-hebat>
sejak lama. Bahkan ia juga merupakan salah satu inisiator berdirinya
lembaga Komnas Perempuan saat terjadinya kekerasan seksual kepada
perempuan dari etnis Tionghoa.
Baca: Cerita Menteri Yohana Berbicara di Forum Perempuan Afganistan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/19/078876867/cerita-menteri-yohana-berbicara-di-forum-perempuan-afganistan>
Selain masih dianutnya secara luas nilai-nilai patriarki, Saparinah
melihat interpretasi ajaran agama yang menempatkan perempuan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/06/27/173887466/pesantren-perempuan-01-perguruan-diniyyah-putri-mendata-mimpi>
berada dalam posisi inferior dibandingkan laki-laki dalam kehidupan
bersama. Kemudian, interpretasi agama dalam hal membenarkan mengawinkan
perempuan di usia anak berkontribusi pada sulitnya menurunkan angka
kekerasan terhadap perempuan.
Hal ini, kata Saparinah, berarti belum semua perempuan bisa menikmati
pemenuhan hak asasinya. Kemudian juga mencerminkan masih banyak
perempuan Indonesia yang belum bisa menikmati cita-cita dan nilai
berbangsa, seperti yang tertuang dalam sila kedua dan sila kelima.
Menurut Saparinah pemerintah harus mensosialisasikan kembali
undang-undang nomor 7 tahun 1984 tentang penghapusan segala bentuk
diskriminasi terhadap perempuan. Ini merupakan ratifikasi dari
Convention on the Elimination of All Types of Discrimination against
Women atau disingkar Cedaw.
Baca: Kongres Ulama Perempuan Indonesia Ungkap Soal Peminggiran Wanita
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/26/173869805/kongres-ulama-perempuan-indonesia-ungkap-soal-peminggiran-wanita>
Saparinah mengungkapkan aturan tersebut kurang disosialisasikan dengan
baik. Ia melihat jika pemerintah memiliki niat untuk melindungi hak-hak
perempuan, maka bisa dimulai dengan mensosialisasikan aturan itu dan
menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
Setelah Habibie, berturut-turut penerima penghargaan Roosseno Award
diberikan kepada Franz Magnis Suseno untuk bidang kemanusiaan. Lalu
kepada Wiratman Wangsadinata di bidang rekayasa struktural teknik sipil,
dan berikutnya ke Saparinah Sadli.
Baca: Angka Kekerasan terhadap Perempuan Masih Tinggi
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/17/173866634/angka-kekerasan-terhadap-perempuan-masih-tinggi>
Simak berita lainnya tentang kesetaraan perempuan
<https://gaya.tempo.co/read/news/2017/03/20/215857782/stephen-hawking-orang-terkuat-saat-ini-adalah-perempuan>
hanya di /Tempo.co./
*DIKO OKTARA*
*
*
*
*