From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, July 17, 2017 5:40 AM

  





http://nasional.harianterbit.com/nasional/2017/07/10/83784/25/25/Hutang-Per-Mei-2017-Rp3.600-Triliun-Indonesia-Diambang-Kehancuran



Hutang Per Mei 2017 Rp3.600 Triliun, Indonesia Diambang Kehancuran 
 


Ilustrasi (ist) 

Jakarta, HanTer - Hutang pemerintah terus meroket. Per Mei 2017 mencapai Rp 
3.672,33 triliun. Besarnya hutang  tersebut tentu sangat menghawatirkan bagi 
Indonesia dan juga menjadi beban rakyatnya. Bahkan sejumlah kalangan menyatakan 
hutang yang terus membengkak semakin mengarahkan negeri ini diambang kehancuran.

“Hutang itu menjadi beban rakyat dan jika terus membengkak negeri ini diambang 
kehancuran. Apalagi kebijakan hutang luar negeri  kemauan dan kepentingan rezim 
Jokowi, bukan rakyat Indonesia. Karena tidak pernah meminta persetujuan dari 
rakyat melalui DPR. Sehingga rezim Jokowi mengabaikan kedaulatan rakyat," kata 
Direktur Network for South East Asian Studies (NSEAS), Dr Muchtar Effendi 
Harahap menjawab Harian Terbit, Minggu (9/7/2017).

Sementara itu, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) Jajang 
Nurjaman mengatakan, ambisi Jokowi dalam pembangunan infrastruktur harus 
dibayar mahal dengan beban hutang negara yang semakin meroket, dengan beban 
hutang per Mei 2017 yang mencapai Rp 3.672,33 triliun. Besarnya hutang  
tersebut tentu sangat menghawatirkan bagi Indonesia dan juga rakyatnya.

"Dampak terburuk dari beban hutang yang semakin tinggi bisa dirasakan secara 
nasional bahkan berkelanjutan.  Lama kelama namun pasti beban hutang yang 
dilakukan Jokowi akan ditanggung rakyat sebagai warisan," ujar Jajang 
dihubumngi terpisah, Minggu (9/7/2017).

Jajang mengemukakan, hutan juga bisa berdampak langsung terhadap rakyat. Karena 
untuk membayar hutang membuat APBN 2017,  anggaran kementerian atau lembaga 
negara diamputasi karena pemerintah belum dapat sumber penghasilan untuk 
membayarnya. Saat ini RAPBN 2017 mengalami defisit sebesar 2,92% mendekati 
batas defisit anggaran yang diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 
tentang Keuangan Negara.

Lebih lanjut Jajang mengatakan, dengan berhutang besar maka anggapan bahwa 
pemerintahan Jokowi tidak sedang ugal-ugalan dalam mengelola negara, yang bisa 
membawa Indonesia kepada ambang kritis, sulit dinafikan. Karena pada faktanya 
hutang negara saat ini sudah mencapai Rp 3.672,33 triliun.

Krisis Dahsyat

Terpisah, ekonom Indonesia, Fuad Bawazier melihat ekonomi Indonesia diambang 
krisis dahsyat akibat utang Indonesia terus membengkak.

Menurutnya, perhitungan pemerintah melakukan pembangunan infrasturuktur dengan 
menggunakan dana pinjaman merupakan tindakan yang membahayakan negara.

“Hal ini jelas tidak sustainable dan amat membahayakan APBN dan bisa 
menimbulkan krisis dahsyat,” ujarnya.

Dalam catatannya, pada bulan Januari 2016 ini penerimaan pajak, yang merupakan 
sumber utama APBN, hanya Rp62,2 triliun, sementara pada saat yang bersamaan, 
negara membayar cicilan utang dan bunganya sebesar Rp47,4 triliun.

Ingkar Janji

Muchtar Effendi mengatakan, membengkaknya hutang Indonesia saat ini memang 
salah satu persoalan pokok negara dan rakyat Indonesia era Jokowi. Padahal 
waktu kampanye Pilpres lalu dengan pongahnya Jokowi berkata, takkan nambah 
hutang pemerintah. Jokowi bahkan menafikan kebijakan rezim sebelumnya yang 
berhutang.

"Tetapi, faktanya rezim Jokowi bukan menghindari hutang. Jokowi malah cari-cari 
hutang kayak orang miskin baru mau dagang, butuh modal besar mau untung besar. 
Padahal kemampuan dagangnya ngak punya. Akibatnya, tanpa batas hutang terus dan 
dagangan ngak untung," ujarnya.

Penambahan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengakui, pemerintah 
Jokowi-JK berencana menambah porsi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang 
akan dimasukkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 
Perubahan (R-APBNP) 2017. Nilai surat hutang tersebut mencapai Rp 467,3 triliun 
atau naik Rp 67,3 triliun dibandingkan target yang ditetapkan pemerintah dalam 
APBN 2017 sebesar Rp 400 triliun.

"Penambahan hutang untuk meningkatkan belanja negara yang produktif. Sehingga, 
perekonomian Indonesia akan meningkat dengan banyaknya aliran dana masuk ke 
dalam negeri. Hutang untuk menaikkan belanja yang produktif. Ada capital inflow 
juga besar masuk. Kita sudah memperhitungkan kemampuan pasar untuk 
menyerapnya," kata Darmin di kantornya, Jakarta, Jumat (7/7/2017).

Meski hutang negara terus bertambah, namun Darmin meyakini bahwa pemerintah 
masih mampu untuk melunasi utang-utang tersebut. "Jangan melihat dianggap itu 
hanya naik begitu saja. Yang berkurang juga (ada)," imbuhnya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) 
Kementerian Keuangan, posisi hutang pemerintah hingga akhir Mei 2017 telah 
mencapai Rp 3.672 triliun, di mana sebagian utang itu akan jatuh tempo pada dua 
tahun mendatang. 

Kirim email ke