http://regional.kompas.com/read/2017/07/18/08331131/kisah-kakek-yang-hidup-di-atas-becak-
hingga-meninggal-dan-jenazahnya-ditolak
Kisah Kakek yang Hidup di Atas Becak
hingga Meninggal dan Jenazahnya Ditolak
Keluarga
Kompas.com - 18/07/2017, 08:33 WIB
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Ini becak yang ditinggali Muhammad Agus Hariono semasa hidup. Agus
ditemukan meninggal di becaknya pada Kamis (13/7/2017).
Ini becak yang ditinggali Muhammad Agus Hariono semasa hidup. Agus
ditemukan meninggal di becaknya pada Kamis
(13/7/2017).(TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANISA)
*SURABAYA <http://indeks.kompas.com/tag/Surabaya>, KOMPAS.com* - Nasib
Muhammad Agus Hariono (51), seorang kakek di Surabaya
<http://indeks.kompas.com/tag/Surabaya> sungguh kurang beruntung.
Pria sebatang kara ini tinggal di atas becak kawasan Putro Agung Gang
III Jalan Rangkah, Tambaksari Surabaya. Dia ditelantarkan keluarganya
dan sering mendapat bantuan makanan dari warga.
Bahkan hingga dirinya meniggal di atas becak, keluarganya pun diketahui
tak mau mengurus jenazahnya.
/*Baca juga: Mbah Kadiyem yang Ditelantarkan Anaknya Meninggal Dunia
<http://regional.kompas.com/read/xml/2017/03/15/16081811/mbah.kadiyem.yang.ditelantarkan.anaknya.meninggal.dunia>*/
Agus ialah anak pertama yang juga tinggal dengan ayah tirinya. Usai
ibunya meninggal, kehidupan Agus mulai telantar, diusir keluarga dan tak
diurus.
"Kata warga di sini sempat diusir keluarga ayah tirinya setelah ibunya
meninggal. Dulu tinggalnya ya di rumahnya yang ditempati sama almarhum
ibu dan ayah tirinya itu," ujar Supriyadi (47), ketua RT III Putro
Agung, Rangkah, Tambaksari kepada /TribunJatim.com/, Senin (17/7/2017).
Saat /TribunJatim.com/ mendatangi rumah almarhum di Jalan Putro Agung No
38, terlihat rumah berpagar hitam yang sedang ditinggal penghuninya.
Meski lampu pijar berwarna putih menyala di balik selambu berwarna merah
muda menutupi ruang tamu, tak ada seorang pun yang menyambut wartawan
/TribunJatim.com/.
Agus yang hidup serba kekurangan harus membawa baju-bajunya di bungkusan
tas plastik di atas becak.
Tumpukan baju tak layak pakai itu diletakkan di belakang kursi becak
bersama kardus dan botol minuman plastik.
Becak bercat warna biru itu pun terlihat mulai berkarat dengan bagian
penyangga kanan yang sudah patah dan disambung kayu dan lilitan tali
rafia kuning.
"Pas meninggal, baju-baju di dalam kresek ini numpuk. Sebagian kita
pindah di kardus. Sepertinya beliau juga baru beli kain warna hitam dan
biru dongker dibungkus kresek hitam. Insya Allah kita sumbangkan jika
ada yang mau," ujar Supriyadi.
Belum dipastikan apa sebenarnya penyebab meninggalnya kakek Agus
<http://indeks.kompas.com/tag/Kakek-Agus>. Namun Supriyadi menduga
almarhum meninggal karena sakit.
"Mungkin sakit, perut kosong sering kena angin malam," ujar Supriyadi.
/*Baca juga: Kakak Beradik Ditelantarkan di SPBU karena Orangtuanya
Poligami
<http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2017/01/15/12453251/kakak.beradik.ditelantarkan.di.spbu.karena.orangtuanya.poligami>*/
Hal yang mengiris hati, jenazah Agus ditolak keluarga ayah tirinya.
Mereka tak lagi mengurus kakek Agus saat hidup hingga ajalnya menjemput.
"Saat ditemui warga untuk persiapan pemakaman keluarga berkali-kali
bilang, 'nggak urus. Nggak urus. Aku nggak urus'," ujar Supriyadi
sembari menirukan suara keluarga almarhum.
Akhirnya menggunakan ambulans pinjaman warga, jenazah kakek dibawa ke
Balai RT III untuk persiapan pemakaman hingga dimakamkan menggunakan
iuran warga. /*(Tribunjatim.com/Nur Ika Anisa)*/
/*Berita ini sudah tayang di Tribunnews, Selasa 18 Juli 2017 dengan
judul Kisah Kakek Agus Hidup Terlantar di Atas Becak Hingga Jenazahnya
Ditolak Keluarga
<http://www.tribunnews.com/regional/2017/07/18/kisah-kakek-agus-hidup-terlantar-di-atas-becak-hingga-jenazahnya-ditolak-keluarga?page=2>*/
Seorang Ibu Tepis Dugaan Pelantaran Anak(Kompas TV)
/**/
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
EditorFarid Assifa
SumberTribunnews.com <http://www.tribunnews.com>,