https://ekbis.sindonews.com/read/1218224/178/kredit-tumbuh-9-ekonomi-indonesia-sulit-tembus-53-1499257494




Kredit Tumbuh 9%, Ekonomi Indonesia Sulit Tembus 5,3%

Kunthi fahmar sandy
<https://index.sindonews.com/blog/2122/kunthi-fahmar-sandy>

Kamis, 6 Juli 2017 - 02:19 WIB [image: Kredit Tumbuh 9%, Ekonomi Indonesia
Sulit Tembus 5,3%] Perlambatan pertumbuhan kredit yang disalurkan pada Mei
2017 dinilai akibat berkurangnya permintaan karena daya beli masyarakat
yang masih tertekan. Foto/Ilustrasi/Istimewa

A+ A-

*JAKARTA* - Ekonom Indef Eko Listyanto menilai perlambatan pertumbuhan
kredit yang disalurkan pada Mei 2017 didorong oleh berkurangnya permintaan
akibat daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Sekitar 60% kredit di bank berasal dari dunia usaha. Seiring masih lesunya
penjualan maka penarikan/permintaan kredit oleh dunia usaha ke perbankan
juga ikut melambat.

(*Baca: Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh Lambat
<https://ekbis.sindonews.com/read/1218114/178/penyaluran-kredit-perbankan-tumbuh-lambat-1499238979>*
)

"Sepertinya tidak akan on the track seperti target BI, kemungkinan kredit
masih tumbuh di tingkat single digit, sekitar 9%," kata dia saat dihubungi
di Jakarta, Rabu (5/7/2017).

Hal ini dikarenakan, daya beli yang melemah akan membuat pertumbuhan dana
pihak ketiga (DPK) turun, implikasinya laju kredit ikut turun. "Kalau bisa
sekitar 9% (batas bawah target OJK) sudah cukup bagus, tapi jika hanya 9%
maka tidak cukup untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3%," katanya.

Sementara, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menilai, meskipun
pertumbuhan kredit lebih lambat dibandingkan April 2017, OJK melihat
pertumbuhan kredit hingga Mei 2017 masih sejalan dengan Rencana Bisnis Bank
(RBB) yang menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini di 9%-12% (yoy).

"Secara umum, pertumbuhan kredit on the track. Artinya beberapa target
pertumbuhan on track tercapai," ujar Muliaman.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit yang disalurkan pada Mei
2017 menjadi Rp4.453 triliun atau naik 8,6%, lebih rendah dibanding bulan
sebelumnya yang tumbuh 9,4%.

Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan pertumbuhan kredit perbankan
terjadi pada Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI).

"Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp2.050 triliun atau naik 8,5% lebih
rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 10%," kata Direktur Eksekutif
Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.
Sementara, kredit investasi mengalami perlambatan pertumbuhan dari 8% pada
April 2017 menjadi 7,9%.

Kirim email ke