Istri pria yang dibakar karena 'ampli mesjid' di Bekasi sedang hamil enam bulan


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Istri pria yang dibakar karena 'ampli mesjid' di Bekasi sedang hami...
 Istri pria yang dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri mengatakan bahwa 
massa tak punya hati dan mestinya sua...  |   |

  |

  |

 

Abraham UtamaBBC Indonesia   
   - 5 Agustus 2017
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSiti Zubaidah kehilangan suaminya, 
Muhammad Al-Zahra, yang dibakar hidup-hidup oleh massa karena mengira dia 
mencuri alat pengeras suara masjid.Siti Zubaidah yang sedang hamil empat bulan 
tak membayangkan suaminya, Muhammad Al-Zahra, tak akan pulang lagi ke rumah 
untuk selama-lamanya setelah pamit untuk mencari alat pengeras suara 
bekas.Berselang 10 jam usai pertemuan terakhir mereka atau sekitar pukul 23.00 
WIB, hari Selasa (01/08), polisi mengabari Siti tentang kematian suaminya. 
Al-Zahra dikeroyok lalu dibakar hidup-hidup oleh massa."Orang-orang itu 
benar-benar tidak punya hati. Mau salah atau tidak, suami saya tidak seharusnya 
diperlakukan seperti itu," ujar Siti kepada BBC Indonesia, Jumat (04/08).   
   - Apakah polisi akan usut kasus pembakaran seorang pria oleh massa di Bekasi?
   - ISIS membakar hidup-hidup dua tentara Turki
   - Pembakaran bus dan penjarahan toko terjadi di Brasil setelah aksi pemogokan
Muhammad Al-Zahra (30) adalah warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten 
Bekasi yang tewas setelah dikerok dan dibakar massa karena dituduh mencuri alat 
pengeras suara milik musala Al-Hidayah di Kecamatan Babelan, yang berjarak 34 
kilometer dari rumahnya."Kenapa suami saya tidak diserahkan ke polisi kalau 
suami saya memang benar mencuri, tanpa harus dianiaya seperti itu. Suami saya 
manusia, bukan hewan," ucap Siti Zubaidah lagi, dalam tatapan nanar.Perempuan 
berusia 25 tahun itu kini harus melanjutkan hidup bersama putranya yang berusia 
empat tahun. Sementara usia kandungannya masuk bulan keenam.Hak atas fotoBBC 
INDONESIAImage captionSiti Zubaidah berpose di teras rumahnya, tempat almarhum 
suaminya biasa menyervis alat pengeras suara.Tak lulus sekolah dasar, Siti 
belum pernah bekerja. Ia mengaku dapat membaca, tapi tidak menulis. Selama lima 
tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Al-Zahra merupakan penopang ekonomi 
keluarganya."Sehari paling dapat Rp70.000, tapi tidak setiap hari. Kadang tiga 
hari dia pulang nggak bawa duit," kata Siti.Tiga bulan mendatang, saat hari 
melahirkannya tiba, Siti setidaknya harus mengeluarkan biaya paling sedikit 
Rp400.000 untuk membayar dukun beranak.Uang itu menurutnya tidak sedikit, 
terutama setelah mengeluarkan Rp1,2 juta sebagai biaya pengambilan jenazah 
suaminya dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati.Siti dan Al-Zahra tinggal di 
kampung yang berada tak jauh dari pusat industri Jabeka. Sejak tiga bulan 
terakhir, mereka mengontrak rumah petak berukuran 6x10 meter yang berisi dua 
kamar tidur.Meski berada dekat di kawasan pabrik, almarhum suaminya tak bekerja 
di sektor formal. Hanya memegang ijazah sekolah menengah pertama, Al-Zahra 
sempat berdagang roti keliling sebelum akhirnya terjun ke bisnis jual-beli dan 
servis alat pengeras suara.Kondisi ekonomi Siti dan Al-Zahra serupa dengan 
20.820 penduduk Cikarang Utara, yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik 
Kabupaten Bekasi, masuk kategori miskin.Adapun, Babelan merupakan kecamatan 
dengan jumlah penduduk miskin 48.616 jiwa, terbanyak kedua di kabupaten itu 
pada 2017.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSiti Zubaidah menunjukkan 
salah satu foto almarhum suaminya dan anaknya. Siti kini sedang hamil dan 
diperkirakan melahirkan tiga bulan mendatang.
Massa 'tak terkendali'
Lokasi penganiyaan dan pembakaran Al-Zahra berada di dekat Pasar Muara Bakti. 
Merujuk keterangan sejumlah saksi mata, dia dibakar saat masih bernyawa, di 
atas got, di sekitar beberapa gerobak penjaja makanan yang buka jelang 
sore.Seorang pemilik toko bangunan di depan lokasi itu menyebut tak berani 
menyaksikan kejadian tersebut. Perempuan yang enggan disebut namanya itu 
mengaku menutup tokonya begitu massa berkumpul di simpang tiga Muara Bakti dan 
'menghakimi Al-Zahra dengan bogem mentah dan bensin'."Yang mengejar massa dari 
daerah utara, mereka teriak maling. Di sini banyak anak muda, jadi massa sudah 
berkumpul. Awalnya dia sempat mau dibawa ke balai desa yang nggak jauh dari 
sini, diselamatkan," ujarnya kepada BBC Indonesia.Menurut saksi itu, amuk massa 
memuncak karena mendengar ada yang berteriak maling motor. Menurutnya, jika 
massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya pengeras suara, Al-Zahra tidak 
akan dibakar hidup-hidup."Di sini lagi banyak motor yang dicuri. Belum lama ini 
ada motor hilang, waktu pemiliknya salat Isya di masjid di Desa Suka Tenang," 
ucapnya.BBC Indonesia menanyakan kronologi perbuatan main hakim sendiri itu 
pada lima pemuda dan dua lelaki paruh baya di Pasar Muara Bakti. Seluruhnya 
mengaku tak mengetahui awal mula peristiwa tersebut.Hak atas fotoBBC 
INDONESIAImage captionMusala Al-Hidayah yang pengeras suaranya diduga dicuri 
Muhammad Al-Zahra.Hafif Zulfahmi, anak pengelola musala Al-Hidayah, menyebut 
neneknya merupakan orang pertama yang melihat alat pengeras suara tempat ibadah 
itu raib. Menurut ayahnya, sebelum peralatan elektronik itu hilang, hanya ada 
satu orang yang salat di musala itu."Di sini mau ada acara haul akbar. Pas 
nenek saya masuk musala, amplifier itu sudah tidak ada. Kebetulan bapak saya 
lihat sebelumnya ada orang salat, sesudah itu dia langsung mencari," 
katanya.Orang yang dilihat ayahnya itu adalah Al-Zahra. Menurut Kepala Unit 
Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito, Al-Zahra panik tatkala 
diteriaki maling.Al-Zahra disebutnya menambah laju sepeda motor, sebelum 
akhirnya terjun ke sungai untuk menghindari kejaran massa.Namun, sekelompok 
pemuda di Muara Bakti telah menunggunya di seberang kali. Saat itulah, kata 
Rizal, perbuatan 'main hakim sendiri' terjadi.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage 
captionLokasi pengeroyokan dan pembakaran massal terhadap Muhammad Al-Zahra 
tidak ditutup garis polisi. Terdapat bekas noda hitam api di got tempat 
kejadian.Di sisi lain, Siti yakin suaminya tak mencuri satu barangpun dari 
musala Al-Hidayah. Apalagi, kata dia, Al-Zahra merupakan sosok yang selalu 
menyempatkan diri menunaikan salat.Meski demikian, Siti mengaku tak sanggup 
melanjutkan perkara kematian suaminya. Ia hanya berharap kepolisian tak menutup 
kasus itu."Saya nggak mengerti masalah hukum, jadi saya pasrah saja, cuma bisa 
berdiam diri di rumah," tuturnya.Siti menyebut dirinya takut berurusan dengan 
hukum. Ia hanya berencana mengambil motor sewaan yang dikendarai suaminya, 
Selasa lalu, di kantor Polsek Babelan."Sampai sekarang belum saya ambil karena 
butuh biaya. Menebus motor kan harus pakai duit. Nggak tahu berapa. Polisi 
nggak bilang, tapi mengambil jenazah saja pakai duit, apalagi motor," ujarnya.

Kirim email ke