Sungguh sangat PRIHATIIIN, ... masih saja terdengar berita-menyedihkan begini! 
Seorang pria dituduh mencuri dibakar hidup-hidup, ... bahkan dikomentari 
saksi-mata: “jika massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya pengeras 
suara, Al-Zahra tidak akan dibakar hidup-hidup.”! Lalu? Kalau mencuri motor 
boleh saja orang dibakar hidup-hidup?! Sedang koruptor, pencuri yang jauh lebih 
besar sampai ratusan M atau entah berapa T buaanyak yang masih hidup bebas 
menikmati hidup MEWAH dari hasil curian! Lalu, dimana keadilan dan hukum 
dinegeri ini???

Jelas mencuri, mengambil barang atau uang orang lain yang bukan hak-miliknya 
dalam bentuk apapun adalah PELANGGARAN HUKUM, yang harus ditindak dan dijatuhi 
sanksi hukum! Tapi, ... TIDAK dihakimi sendiri, boleh saja digebuki, dianiaya 
bahkan dibunuh sendiri! Apapun KESALAHAN seseorang yang terlihat, tidak boleh 
diHUKUM sendiri, mutlak harus serahkan pada aparat keamanan-hukum untuk diusut 
dan dijatuhi sanksi sesuai HUKUM yang berlaku! Siapa saja yang main menghakimi 
sendiri, yang melakukan pembalasan, pemukulan, penganiayaan atas nama 
“KEMARAHAN” pada seseorang juga HARUS terjerat sanksi HUKUM!

Namun masalahnya nampak menjadi-jadi karena nampak jelas kejadian-kejadian main 
menghakimi sendiri dinegeri ini sudah menjadi TRADISI bahkan membudaya, 
khususnya pasca G30S 1965! Begitu luas dan maraknya kejadian culik menculik, 
bunuh membunuh sampai terjadi pada ratusan ribu, kalau tidak hendak dinyatakan 
jutaan massa RAKYAT tidak berdosa, ternyata sampai sekarang setelah lewat lebih 
1/2 abad tetap saja dibiarkan lalu seperti tidak terjadi apa2. Penculikan dan 
“penghilangan” aktivis gerakan massa berulang kali terjadi bahkan jelas terjadi 
pembunuhan atas diri Munir juga sampai sekarang belum berhasil dituntaskan! 
Kalau saja kejadian-kejadian yang jelas merupakan kejahatan Negara dibiarkan 
lewat begitu saja, TIDAK JUGA bisa menyeret penanggungjawab utama kepengadilan, 
... bagaimana pemerintah yang berkuasa bisa menegakkan KEADILAN dan HUKUM 
dengan baik dinegeri ini?! Bagaimana bisa menghentikan main menghakimi sendiri 
dengan tuntas, ... yang terjadi dibawah?!

Salam-prihatin,
ChanCT


From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, August 7, 2017 10:31 PM

  



Istri pria yang dibakar karena 'ampli mesjid' di Bekasi sedang hamil enam bulan 


                        
                 
           
                    Istri pria yang dibakar karena 'ampli mesjid' di Bekasi 
sedang hami...
                  Istri pria yang dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri 
mengatakan bahwa massa tak punya hati dan mestinya sua...  
           
     




Abraham UtamaBBC Indonesia
  a.. 5 Agustus 2017
  a.. Bagikan artikel ini dengan Facebook  
  b.. Bagikan artikel ini dengan Twitter  
  c.. Bagikan artikel ini dengan Messenger  
  d.. Bagikan artikel ini dengan Email  
  e.. Kirim
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSiti Zubaidah kehilangan suaminya, 
Muhammad Al-Zahra, yang dibakar hidup-hidup oleh massa karena mengira dia 
mencuri alat pengeras suara masjid. 
Siti Zubaidah yang sedang hamil empat bulan tak membayangkan suaminya, Muhammad 
Al-Zahra, tak akan pulang lagi ke rumah untuk selama-lamanya setelah pamit 
untuk mencari alat pengeras suara bekas.
Berselang 10 jam usai pertemuan terakhir mereka atau sekitar pukul 23.00 WIB, 
hari Selasa (01/08), polisi mengabari Siti tentang kematian suaminya. Al-Zahra 
dikeroyok lalu dibakar hidup-hidup oleh massa.
"Orang-orang itu benar-benar tidak punya hati. Mau salah atau tidak, suami saya 
tidak seharusnya diperlakukan seperti itu," ujar Siti kepada BBC Indonesia, 
Jumat (04/08).
  a.. Apakah polisi akan usut kasus pembakaran seorang pria oleh massa di 
Bekasi? 
  b.. ISIS membakar hidup-hidup dua tentara Turki 
  c.. Pembakaran bus dan penjarahan toko terjadi di Brasil setelah aksi 
pemogokan
Muhammad Al-Zahra (30) adalah warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten 
Bekasi yang tewas setelah dikerok dan dibakar massa karena dituduh mencuri alat 
pengeras suara milik musala Al-Hidayah di Kecamatan Babelan, yang berjarak 34 
kilometer dari rumahnya.
"Kenapa suami saya tidak diserahkan ke polisi kalau suami sa ya memang benar 
mencuri, tanpa harus dianiaya seperti itu. Suami saya manusia, bukan hewan," 
ucap Siti Zubaidah lagi, dalam tatapan nanar.
Perempuan berusia 25 tahun itu kini harus melanjutkan hidup bersama putranya 
yang berusia empat tahun. Sementara usia kandungannya masuk bulan keenam.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSiti Zubaidah berpose d i teras 
rumahnya, tempat almarhum suaminya biasa menyervis alat pengeras suara. 
Tak lulus sekolah dasar, Siti belum pernah bekerja. Ia mengaku dapat membaca, 
tapi tidak menulis. Selama lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Al-Zahra 
merupakan penopang ekonomi keluarganya.
"Sehari paling dapat Rp70.000, tapi tidak setiap hari. Kadang tiga hari dia 
pulang nggak bawa duit," kata Siti.
Tiga bulan mendatang, saat hari melahirkannya tiba, Siti setidaknya harus 
mengeluarkan biaya paling sedikit Rp400.000 untuk membayar dukun beranak.
Uang itu menurutnya tidak sedikit, terutama setelah mengeluarkan Rp1,2 juta 
sebagai biaya pengambilan jenazah suaminya dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Siti dan Al-Zahra tinggal di kampung yang berada tak jauh dari pusat industri 
Jabeka. Sejak tiga bulan terakhir, mereka mengontrak rumah petak berukuran 6x10 
meter yang berisi dua kamar tidur.
Meski berada dekat di kawasan pabrik, almarhum suaminya tak bekerja di sektor 
formal. Hanya memegang ijazah sekolah menengah pertama, Al-Zahra sempat 
berdagang roti keliling sebelum akhirnya terjun ke bisnis jual-beli dan servis 
alat pengeras suara.
Kondisi ekonomi Siti dan Al-Zahra serupa dengan 20.820 penduduk Cikarang Utara, 
yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bekasi, masuk kategori 
miskin.
Adapun, Babelan merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk miskin 48.616 jiwa, 
terbanyak kedua di kabupaten itu pada 2017.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSiti Zubaidah menunjukkan salah satu 
foto almarhum suaminya dan anaknya. Siti kini sedang hamil dan diperkirakan 
melahirkan tiga bulan mendatang. 
Massa 'tak terkendali'
Lokasi penganiyaan dan pembakaran Al-Zahra berada di dekat Pasar Muara Bakti. 
Merujuk keterangan sejumlah saksi mata, dia dibakar saat masih bernyawa, di 
atas got, di sekitar beberapa gerobak penjaja makanan yang buka jelang sore.
Seorang pemilik toko bangunan di depan lokasi itu menyebut tak berani 
menyaksikan kejadian tersebut. Perempuan yang enggan disebut namanya itu 
mengaku menutup tokonya begitu massa berkumpul di simpang tiga Muara Bakti dan 
'menghakimi Al-Zahra dengan bogem mentah dan bensin'.
"Yang mengejar massa dari daerah utara, mereka teriak maling. Di sini banyak 
anak muda, jadi massa sudah berkumpul. Awalnya dia sempat mau dibawa ke balai 
desa yang nggak jauh dari sini, diselamatkan," ujarnya kepada BBC Indonesia.
Menurut saksi itu, amuk massa memuncak karena mendengar ada yang berteriak 
maling motor. Menurutnya, jika massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya 
pengeras suara, Al-Zahra tidak akan dibakar hidup-hidup.
"Di sini lagi banyak motor yang dicuri. Belum lama ini ada motor hilang, waktu 
pemiliknya salat Isya di masjid di Desa Suka Tenang," ucapnya.
BBC Indonesia menanyakan kronologi perbuatan main hakim sendiri itu pada lima 
pemuda dan dua lelaki paruh baya di Pasar Muara Bakti. Seluruhnya mengaku tak 
mengetahui awal mula peristiwa tersebut.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionMusala Al-Hidayah yang pengeras suaranya 
diduga dicuri Muhammad Al-Zahra. 
Hafif Zulfahmi, anak pengelola musala Al-Hidayah, menyebut neneknya merupakan 
orang pertama yang melihat alat pengeras suara tempat ibadah itu raib. Menurut 
ayahnya, sebelum peralatan elektronik itu hilang, hanya ada satu orang yang 
salat di musala itu.
"Di sini mau ada acara haul akbar. Pas nenek saya masuk musala, amplifier itu 
sudah tidak ada. Kebetulan bapak saya lihat sebelumnya ada orang salat, sesudah 
itu dia langsung mencari," katanya.
Orang yang dilihat ayahnya itu adalah Al-Zahra. Menurut Kepala Unit Reserse 
Kriminal Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito, Al-Zahra panik tatkala 
diteriaki maling.
Al-Zahra disebutnya menambah laju sepeda motor, sebelum akhirnya terjun ke 
sungai untuk menghindari kejaran massa.
Namun, sekelompok pemuda di Muara Bakti telah menunggunya di seberang kali. 
Saat itulah, kata Rizal, perbuatan 'main hakim sendiri' terjadi.< /div>Hak atas 
fotoBBC INDONESIAImage captionLokasi pengeroyokan dan pembakaran massal 
terhadap Muhammad Al-Zahra tidak ditutup garis polisi. Terdapat bekas noda 
hitam api di got tempat kejadian. 
Di sisi lain, Siti yakin suaminya tak mencuri satu barangpun dari musala 
Al-Hidayah. Apalagi, kata dia, Al-Zahra merupakan sosok yang selalu 
menyempatkan diri menunaikan salat.
Meski demikian, Siti mengaku tak sanggup melanjutkan perkara kematian suaminya. 
Ia hanya berharap kepolisian tak menutup kasus itu.
"Saya nggak mengerti masalah hukum, jadi saya pasrah saja, cuma bisa berdiam 
diri di rumah," tuturnya.
Siti menyebut dirinya takut berurusan dengan hukum. Ia hanya berencana 
mengambil motor sewaan yang dikendarai suaminya, Selasa lalu, di kantor Polsek 
Babelan.
"Sampai sekarang belum saya ambil karena butuh biaya. Menebus motor kan harus 
pakai duit. Nggak tahu berapa. Polisi nggak bilang, tapi mengambil jenazah saja 
pakai duit, apalagi motor," ujarnya.

Kirim email ke