Lebih parah dari kondisi krisis moneter 97-98?
---Usai Sevel, Nyonya Meneer korban berikut penurunan daya beli rakyat
Sabtu, 5 Agustus 2017 14:00Reporter : Anggun P. Situmorang   
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   -       
      - 5
         - SHARES

PT Nyonya Meneer. ©2017 merdeka.com/parwito
Merdeka.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance 
(INDEF) Didik J. Rachbini mengatakan penurunan daya beli masyarakat saat ini 
memang tengah terjadi. Hal tersebut, terlihat dari bangkrutnya sejumlah 
perusahaan di Indonesia. 

Baru-baru ini giliran PT Nyonya Meneer yang gulung tikar, setelah sebelumnya 
perusahaan retail PT Modern International Tbk menutup seluruh gerai convenience 
store 7-Eleven di Indonesia. "Daya beli masyarakat memang mengalami penurunan. 
Ya akhirnya berdampak kepada perusahaan-perusahaan itu. Ya walaupun ada yang 
bilang membaik, kenyataan kan banyak yang tutup perusahaan," ujar Didik saat 
ditemui di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (5/8).

Didik menambahkan, penurunan daya beli juga dapat dilihat dari penjualan sepeda 
motor yang semakin menurun beberapa waktu belakangan. Bahkan pada semester I 
2017, penurunan penjualan sepeda motor hanya mencapai 13 persen dibandingkan 
dengan penjualan pada 2016.

"Yang kedua, kalau mengukur pertumbuhan tidak usah ukur semua. Penjualan motor 
saja lihat sama mobil. Penjualan motor minus 13 persen pada semester I 2017, 
dibanding 2016. Dengan daya beli ini apakah pertumbuhan ekonomi oke? Ini harus 
dicermati," tegasnya. 

Selain itu, penurunan daya beli masyarakat juga terlihat dari konsumsi masa 
Lebaran tahun ini yang jauh dari harapan. Kemudian penurunan daya beli juga 
terlihat dari jumlah konsumsi listrik tahun ini yang hanya berkisar satu 
persen. 

"Kenapa ini terjadi? Ya karena masyarakat menahan konsumsi tadi," 
pungkasnya.[bim]

Kirim email ke