Relawan Jokowi pernah menilai Derek Manangka (DM) sbg sosok yg ucapannya bisa 
'menjerumuskan orang ke dalam kesesatan berpikir' , karna itu dia (DM) pernah 
diancam akan dilaporkan kepada kepolisian terkait tulisannya yg ngawur  --- > 
http://politik.rmol.co/read/2016/01/28/233809/Relawan-Jokowi-Mau-Adukan-Derek-Manangka-Ke-Polisi-
  

Sedangkan artikel yg diposting bung Chan kali ini, menunjukkan watak asli DM yg 
mengumbar pujian setinggi langit thd 'crony cendana' tanpa kritik sedikitpun 
dan kritiknya hanya diarahkan kpd lawan-lawan politik crony cendana dlm nada yg 
seirama dg selera crony cendana.  

 Ada imbalan apa yg diharapkan oleh DM dari pihak crony cendana, tentunya hanya 
DM yg tahu.


----
-----Original-Nachricht-----
Betreff: [temu_eropa] Fw: Pilpres 2019 Pertarungan Antar-Dinasti: 
Cikeas-Cendana-Kebagusan
Datum: 2017-08-14T08:00:11+0200
Von: "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]>
An: "GELORA_In" <[email protected]>



From: B.DORPI P. 
Sent: Monday, August 14, 2017 12:41 PM


http://www.rmol.co/read/2017/08/14/302895/Pilpres-2019-Pertarungan-Antar-Dinasti:-Cikeas-Cendana-Kebagusan-

SENIN, 14 AGUSTUS 2017 , 05:11:00 WIB 

Pilpres 2019 Pertarungan Antar-Dinasti: Cikeas-Cendana-Kebagusan
OLEH: DEREK MANANGKA 
      

 
Titiek Soeharto

EMPAT tahun lalu seorang diplomat dari sebuah negara Eropa Barat mengungkapkan 
analisanya bahwa Titiek Soeharto atau Titiek Hediati Haryadi, bakal menjadi 
penerus Dinasti Cendana. 

     

"Bacaan saya, bukan kakaknya, Mbak Tutut atau adiknya Tommy yang akan jadi 
penerus Dinasti Cendana," ujar diplomat itu serius.

Mendengar analisa seperti itu, saya lebih banyak bersikap pasif atau menjadi 
pendengar yang baik. Lagi pula situasi politik di tahun 2013, belum 
memperlihatkan tanda-tanda adanya kebangkitan Dinasti Cendana lewat Mbak Titiek.

Masyakarat justru lebih melihat Tommy atau kakak perempuannya, Mbak Tutut. 
Terutama karena Tommy dan Mbak Tutut, relatif lebih sering tampil di publik dan 
terkadang membuat politik Indonesia bergemuruh, manakala satu di antara mereka 
membuat pernyataan politik maupun bisnis.

Kesan sekilas, Mbak Tutut dan Tommy lebih peduli pada masa depan Indonesia yang 
selama 32 tahun dikuasai oleh ayah mereka, Pak Harto.

Analisa orang asing ini saya angkat kembali sebagai sebuah reminder. Terutama 
karena saat ini, sepertinya para pengamat dan politisi lebih tercurah pada 
usaha "come back" dari Dinasti Cikeas (SBY) ataupun Dinasti Kebagusan (Megawati 
Soekarnoputri).

Sangat jarang orang menaruh perhatian pada aktifitas Titiek yang kini menjadi 
anggota DPR-RI serta anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar.

Pekan ini saja, Titiek membuat pernyataan yang cukup berani. Yaitu dia meminta 
agar Setya Novanto yang sudah dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK dalam 
skandal e-KTP, supaya mundur dari jabatan yang didudukinya. Yakni Ketua Umum 
DPP Golkar dan Ketua DPR-RI.

Penilaian diplomat asing ini, masuk dalam memori saya. Sebab pada tahun 2008, 
saat Sri Mulyani Indrawati sedang digadang-gadang oleh Rachman Tolleng untuk 
menjadi Presiden RI - entah itu di Pilpres 2009 ataupun 2014, diplomat yang 
sama secara tegas menyatakan, SMI (Sri Mulyani Indrawati) tidak akan mungkin 
menjadi Presiden RI.

Atensi pada gerakan yang dilakukan Rachman Tolleng - yakni mempersiapkan SMI 
sebagai Presiden, saat itu, cukup besar. Sebab Tolleng dikenal sebagai salah 
seorang pendiri Golkar yang bertangan dingin. Artinya apa yang dikerjakannya di 
tahun 1966, terbukti berhasil. Paling tidak Golkar menjadi sebuah kekuatan 
politik yang mampu merubah politik Indonesia. Indonesia berada dalam genggaman 
Golkar selama 32 tahun.

Dari politik yang mendasarkan pada ideologi Soekarno yang nasionalis marhaenis 
ke ideologi baru, yang dibawakan oleh non-marhaenis.

"Usaha yang dbangun oleh Rachman Tolleng dan kawan-kawan, tidak akan berhasil," 
ujar diplomat yang sama ketika itu.

Kini sang diplomat itu sudah kembali ke negaranya. Dan beberapa waktu lalu 
menelpon saya, hanya untuk menegaskan, bahwa prediksinya, tidak meleset.

Dan analisanya tentang Titiek Soeharto, mulai makin kelihatan wujudnya.

Sementara itu Mbak Tutut dan Tommy pun seperti senyap dari kegiatan berpolitik. 
Lantas Mbak Titiek, tiba-tiba menjadi makin sering tampil sebagai politisi yang 
aktif.

SMI pun kurang lebih sama. Sekalipun sudah kembali ke tanah air dan masuk dalam 
Kabinet Jokowi & JK, tapi dari bahasa tubuhnya, ia tidak pernah memperlihatkan 
sikap ambisius untuk menjadi Orang Nomor Satu di Indonesia.

Bahkan Rachman Tolleng yang hampir 10 tahun lalu, tiba-tiba keluar dari 
persembunyian politiknya, kini kembali bersembunyi di hutan belantara politik.

Akftifitas Mbak Titiek, mantan isteri Letjen (Purn) Prabowo Subianto dari waktu 
ke waktu semakin memperlihatkan keseriusannya untuk menjadi politisi yang 
diperhitungkan.

Pekan ini misalnya, ketika tak satupun anggota Golkar yang berani mengusik 
Setya Novanto, tapi justru mbak Titiek, secara "bluntly" membuat pernyataan 
keras yang sekaligus cukup menohok.

Otokritik yang selama ini hampir tak pernah terdengar di tubuh Golkar, kini 
dihidupkan oleh putri mendiang bekas pemimpin Orde Baru tersebut.

Permintaan Titiek Soeharto agar Setya Novanto dengan ikhlas mengundurkan diri 
dari jabatan Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Ketua DPR-RI, sesungguhnya 
mewakili aspirasi masyarakat luas. Tapi entah karena sikap kebanyakan rakyat 
Indonesia yang lebih suka memilih "tepo seliro", maka gugatan terhadap Setya 
Novanto itu, tak pernah terdengar.

Kalau melihat karakter Golkar, apa yang dikatakan oleh Mbak Titiek seakan-akan, 
melanggar disiplin kepartaian atau bertentangan dengan budaya Partai Pohon 
Beringin. Kalau dari sudut disipilin dan budaya, Mbak Titiek berpotensi 
dikenakan hukuman indispliner.

Tetapi yang terjadi, tidak demikian. Reaksi berupa kontra atas tuntutannya, 
tidak atau belum terdengar. Boleh jadi pernyataan Titiek menjadi sebuah 
terobosan.

Diakui atau tidak, disadari atau belum, dengan pernyataan tersebut, Mbak Titiek 
sudah mencetak sebuah kredit poin yang sangat berharga bagi eksistensi dan 
legitimasinya di dalam tubuh Golkar.

Lalu pertanyaan berikutnya apakah pernyataan menohok untuk Setya Novanto itu 
murni sebagai suara hati nurani atau bagian dari agenda dan manuver politik 
menuju ke sebuah sasaran yang lebih tinggi ?

Saya lebih cenderung ke bagian yang terakhir.

Boleh jadi Mbak Titiek sudah memperoleh persetujuan dari anggota keluarga 
Cendana untuk ikut bertarung dalam Pilpres 2019.

Keluarga Cendana sudah berhitung, momen 2019 merupakan waktu yang sangat 
menentukan baik bagi Indonesia maupun masa depan keluarga atau Dinasti Cendana.

Masa depan Indonesia harus dijaga. Sebab sebagaimana banyak tercermin dari 
suara-suara yang ada di akar rumput, kejayaan yang dicapai selama pemerintahan 
Soeharto, kini sudah banyak yang mulai tergerus.

Sementara pemerintahan yang ada dan yang pernah ada, yang menggantikan 
Soeharto, belum atau tidak mampu menjaga hal-hal baik yang ditinggalkan oleh 
mendiang Pak Harto.

Soal korupsi misalnya. Tuduhan bahwa Presiden Soeharto-lah yang menyebabkan 
meraja lelanya korupsi di Indonesia, mulai terbantahkan. Sebab korupsi pasca 
era Soeharto, justru lebih parah dan bersifat massive.

Sementara itu, boleh jadi Keluarga Cendana melihat dan menilai, apakah Jokowi 
lagi yang menang di Pilpres 2019 ataupun Koalisi antara Prabowo Subianto dan 
putranya SBY yang tampil sebagai duet baru pemimpin Indonesia, semuanya tidak 
memberi jaminan. Bahwa keadaan Indonesia tidak akan menjadi lebih baik.

Keluarga Cendana juga mungkin melihat, kalau SBY yang nota bene merupakan anak 
buah Pak Harto ingin membangun Dinasti Cikeas, justru bisa lebih berresiko. 
Lantas mengapa bukan Dinasti Cendana yang dibangun?

Begitu pula jika Keluarga Soekarno, Megawati Soekarnoputri ingin melanggengkan 
kekuasaannya lewat PDIP atau mungkin dengan Puan Maharani, lantas mengapa tidak 
dengan Dinasti Cendana?

Jadi bertarung di Pilpres 2019 bagi Mbak Titiek atau keluarga Cendana, dengan 
tujuan untuk menang, dilandasi oleh sebuah pemikiran yang berdimensi luas dan 
alasan yang kuat.

Pertanyaan berikutnya, apakah Mbak Titiek jika dia bertarung di Pilpres 2019, 
bisa menang atau gagal?

Jawaban atas pertanyaan ini, memang tidak mudah. Jadi yang paling aman adalah 
semuanya tergantung usaha dan nasib.

Sejarah telah membuktikan, sebuah kejutan dalam Pemilihan Presiden, bisa 
terjadi.

Dan Keluarga Cendana sendiri, diam-diam mulai melakukan persiapan.

Semalam saya coba buka website yang memberitakan tentang tuntutan mundur Mbak 
Titiek kepada Setya Novanto.

Yang menarik, berita tersebut diposting di media Kelurga Cendana, bernama 
"Cendana News".

Pada kolom TV, juga ada rubrik yang meberitakan tentang "Jejak Orde Baru".

Mbak Titiek sendiri di akun Facebook menciptakan tiga buah "page" (halaman) 
yang khusus menjadi tempat pemostingan semua kegiatannya selama ini.

Sekalipun media tersebut, sifatnya masih terbatas, tetapi dari segi konsep, di 
era digital, media on-line bisa menjadi infra-struktur untuk menyuarakan 
perjuangan politik Mbak Titiek maupun Keluarga Cendana.

Kehadirannya pun bisa cukup efektif, jika melihat trend media sosial sebagai 
alat penyebar informasi secara viral.

Itu sebabnya saya tak sungkan memprediksi, Pilpres 2019 bakal ramai dengan 
persaingan antar Dinasti: Cikeas, Kebagusan dan Cendana. 

[***]














[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------
Posted by: "Chan CT" <[email protected]>
------------------------------------


------------------------------------

Yahoo Groups Links





----------------------------------------------------------------
Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos und 
sicher für alle!

Kirim email ke