Tapi, tetap saja SMI mengobral bunga supertinggi untuk obligasi bertenor 1 dan 
10 tahun. Bunga kita yang 6,17% untuk setahun dan 7,08% untuk obligasi 10 
tahun. Bandingkan dengan Filipina (2,9% dan 5,4%), Vietnam (3,9% dan 5,76%), 
dan Thailand (1,57% dan 2,6%).
...
Sri Mulyani, Utang Negara dan Kartu Kredit 

14 Agustus 2017 20:56BERBAGIFacebook Twitter  Oleh: Edy Mulyadi
MEDIAHARAPAN.COM – “Sri Mulyani Ibaratkan Utang dengan Kartu Kredit” begitu 
judul sejumlah media pekan silam setelah Menkeu Sri Mulyani Indrawati (SMI) 
tampil di acara talkshow televisi swasta.Menurut dia, bila pendapatan seseorang 
Rp10 juta, maka mintalah kartu kredit yang limit maksimalnya Rp1 juta. 
Kemudian, bila pendapatan mencapai Rp 25 juta, maka batas maksimal yang 
seharusnya diajukan adalah Rp 5 juta.Mencermati pernyataan Menkeu yang seperti 
ini sungguh benar-benar membuat miris. Bagaiman mungkin Bendahara Negara 
bergelar doktor ekonomi mengibaratkan utang yang dibuatnya seperti kartu 
kredit? Tidakkah Ani, begitu dia biasa disapa, tahu bahwa bunga kartu kredit 
amat tinggi, yaitu 3% per bulan atau 36% per tahun?Tamsil seperti ini agaknya 
menjelaskan kepada publik, mengapa saat dua kali menjadi Menkeu (era SBY 
Desember 2005-Mei 2010 dan kabinet Jokowi Juli 2016-sekarang) dia rajin membuat 
utang dengan bunga supermahal. Dalam dua periode itu, Ani memaksa Indonesia 
membayar bunga lebih tinggi ketimbang negara-negara yang punya rating lebih 
rendah.Obligasi Indonesia di masa Sri adalah yang tertinggi dibandingkan 10 
negara Asia Timur lainnya. Padahal, dari sisi pertumbuhan ekonomi Indonesia 
(5,04%%) adalah keempat tertinggi. Kita mengalahkan Malaysia (4,5%), Singapura 
(1,8%), Thailand (3,2%), Korsel (2,3%), Taiwan (1,4%),  dan Hong Kong 
(1,9%).Tapi, tetap saja SMI mengobral bunga supertinggi untuk obligasi bertenor 
1 dan 10 tahun. Bunga kita yang 6,17% untuk setahun dan 7,08% untuk obligasi 10 
tahunl. Bandingkan dengan Filipina (2,9% dan 5,4%), Vietnam (3,9% dan 5,76%), 
dan Thailand (1,57% dan 2,6%).Jika dilihat selisih bunga itu sepertinya kecil, 
hanya 2-4%. Tapi dengan asumsi bertenor 10 tahun, nilai nominalnya sangat luar 
biasa. Angkanya berkisar Rp56 triliun lebih tinggi setiap tahun sejak 
2016-2020. Kenapa sampai 2020? Karena sebagian besar utang berbunga supertinggi 
itu terjadi saat Ani menjadi Menkeu di era Presiden SBY, yaitu 2006-2010. Dalam 
periode itu, dia menjaring utang tidak kurang dari Rp476 triliun.Akibatnya, 
APBN temehek-mehek membayar cicilan pokok dan bunga utang yang menjulang. Tahun 
ini saja, negara mengalokasikan anggaran Rp486 triliun untuk pembayaran utang. 
Dari jumlah itu, Rp221 triliun di antaranya hanya untuk membayar bunganya.Satu 
lagi, bank penerbit kartu kredit biasa memberi batas pinjaman tiga kali 
pendapatan. Jadi, kalau gaji seseorang Rp10 juta, ya tidak bisa minta limit 
cuma Rp1 juta seperti dikatakan Ani. Bank bakal memberi limit yang bersangkutan 
Rp30 juta. Begitu juga kalau pendapatannya Rp25 juta, maka batas pinjamannya 
mencapai Rp75 juta. Begitu lho, bu menteri…Oya, sekadar mengingatkan Menkeu, 
dalam sistem pembayaran kartu kredit dikenal istilah interest free period, atau 
periode bebas bunga. Maksudnya, nasabah akan dibebaskan dari bunga jika 
melakukan pembayaran penuh sebelum tanggal jatuh tempo pada tiap 
bulan.Sebaliknya, bila nasbah terlambat melakukan pembayaran melewati tanggal 
jatuh tempo, maka akan dikenai bunga harian terhadap selisih hari pembukuan dan 
tagihan untuk setiap aktivitas. Misalnya, bu Menteri belanja dengan berutang Rp 
1,5 juta. Sayangnya, karena kesibukan luar biasa mengurus keuangan negara, dia 
tidak sempat membayar tagihan sebelum jatuh tempo. Katakanlah, telat empat 
hari. Karena itu, Ani dikenai bunga 36% x 4 hari x Rp1.500.000 :  365 hari = 
atau Rp5.916. Jadi, dia harus membayar Rp1.505.916 saat melunasi pembayaran 
pada empat hari setelah jatuh tempo.Siapa yang gratisan?Tapi, sudahlah. Mana 
Ani paham dengan tetek-bengek kartu kredit semacam itu. Bukannya dia tidak 
punya kartu kredit. Saya yakin pasti punya. Tapi untuk apa kartu kredit untuk 
seorang menteri? Lha wong semua pengeluarannya dibiayai negara. Terbang dengan 
pesawat first class dibayar negara. Menginap di kamar presidential suite yang 
di Jakarta saja bertarif US$5.000-US$13.000 atau sekitar Rp65 juta hingga Rp170 
juta/malam, juga dibayar negara. Padahal Menteri yang satu ini rajin melawat ke 
Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lain yang pasti harga hotelnya jauh 
lebih mahal lagi.Rumah tinggal, gratis karena milik negara. Termasuk biaya 
bulanan untuk listrik, telepon, kebutuhan dapur dan lainnya semuanya gratis tis 
tis. Mobil yang bagus dan mewah juga dibayar negara. BBM, parkir, tol, bahkan 
supir pun yang bayar negara. Kalau sakit, berobat atau dirawat, juga dibayari 
negara. Dengan nyaris semua pengeluaran menteri dibayar oleh negara, kartu 
kredit memang tidak diperlukan lagi. Kalau pun digunakan, lagi-lagi pasti yang 
melunasi tagihannya adalah negara.Jadi, keliru besar saat Ani menuding rakyat 
Indonesia maunya gratisan karena APBN terus mensubsidi. Jangan lupa, rakyat 
tetap membayar listrik, membeli gas untuk memasak, membayar biaya kesehatan, 
dan lainnya. Jadi, ucapan Ani yang menuduh rakyat maunya serba gratisan bukan 
saja ngawur, tapi juga sangat menyakiti hati. Jauh lebih sakit daripada ada 
maling berteriak maling…Sejatinya, perkara subsidi tidak semata-mata soal 
angka-angka di APBN. Ia adalah wujud keberpihakan negara kepada rakyatnya. 
Bukankah para pendiri bangsa ketika memerdekakan Indonesia dan membentuk suatu 
pemerintahan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah 
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan 
bangsa? Tujuan mulia inilah yang dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945.Lalu, 
bagaimana kita harus menilai seorang Menkeu yang sibuk memangkas berbagai 
anggaran, khususnya belanja sosial? Menkeu seperti apakah yang dengan kalap 
memalaki rakyatnya dengan berbagai pajak? Begitu kalapnya dia, hingga perlu 
menggandeng Polri untuk mendatangi rumah-rumah rakyatnya yang menunggak pajak 
kendaraan bermotor, bermaksud menurunkan pendapatan tidak kena pajak (PTKP) 
menjadi senilai upah minimum provinsi (UMP), dan nyaris mengenakan PPN untuk 
gula tebu rakyat?Menkeu seperti apakah yang bernafsu mengintip Rp200 juta 
simpanan rakyatnya untuk diuber pajaknya? Menkeu bagaimanakah pula yang 
mengutamakan membayar utang dan tetap tidak mengurangi anggaran pembayaran 
utang, walau hanya serupiah pun? Bendahara Negara seperti apa yang terus 
menambah utang baru sehingga jumlahnya jadi amat menakutkan dengan dalih sumber 
daya alam (SDA) Indonesia berlimpah ruah? Tidakkah dia tahu, bahwa SDA kita 
saat ini mayoritas sudah dikuasai asing?Pada akhirnya, kita bertanya, kepada 
siapakah sesungguhnya pengabdian sang Menkeu diberikan?Menyenangkan 
asingPuja-puji dan seabrek penghargaan yang diperolehnya dari dunia 
internasional, tidak lebih dari ‘balas jasa’ atas kemurahan hatinya mengguyur 
para bond holder dan kreditor dengan keuntungan supergede. Kumpulan investor 
inilah yang dalam mazhab neolib sering disebut sebagai “pasar”. Jadi, kalau 
mereka berkata Sri adalah Menkeu yang disukai pasar, artinya Menkeu kita 
disenangi investor alias para pemegang obligasi dan kreditor.Penghargaan Menkeu 
Terbaik Asia diberikan harian ekonomi Emerging Markets pada 2008. Majalah 
Euromoneybahkan mengganjar SMI sebagai Menkeu Terbaik Dunia. Setiap tahun 
Emerging Markets memang selalu memberi penghargaan bertepatan dengan sidang 
tahunan IMF dan Bank Dunia. Responden yang menjadi sumber penilaiannya adalah 
para bankir, analis, dan investor.Menurut Emerging Markets, salah satu alasan 
utama Sri dipilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia karena dia merupakan 
figur utama yang mendorong reputasi Indonesia sebagai outstanding borrower of 
the year untuk kawasan Asia. Tuh, kaaan…Dilihat dari nara sumber yang jadi 
responden dan kriteria penilaian yang ditetapkan, Sri Mulyani menyandang Menkeu 
Terbaik Asia/Dunia karena bisa “menyenangkan” pasar. Bukan karena pertimbangan 
bagi perbaikan dan kemajuan ekonomi Indonesia.Pujian dan penghargaan pasar 
tidak jatuh kepada Menkeu yang sukses membawa ekonomi negaranya terbang ke 
langit. China, misalnya, hanya dalam tempo 20 tahun telah menjadi raksasa 
ekonomi terdahsyat dengan jumlah cadangan devisa mencapai USD3,2 triliun. Tapi, 
tidak seorang pun Menkeu China yang meraih “anugrah” sebagai Menkeu terbaik 
Asia, apalagi dunia.Begitu juga dengan para Menkeu yang berhasil membawa rakyat 
mereka menjadi sejahtera. Jepang, Korsel, atau Malaysia, misalnya. Bahkan, 
jangan pernah berharap penghargaan serupa akan jatuh kepada Menkeu Brasil, 
Venezuela atau Bolivia yang garang terhadap kepentingan kapitalisme global 
namun sukses mendongkrak kesejahteraan rakyatnya. Padahal, Brazil mampu 
mengerek perekonomiannya hanya dalam tempo delapan tahun!Menyederhakanan utang 
negara sama dengan kartu kredit, sekali lagi menjadi bukti bahwa Ani memang 
hanya gemerlap media. Faktanya, kemampuan Ani dalam mengenali dan menyelesaikan 
masalah dengan tepat dan cepat, nyaris nihil. Terlebih lagi, berbagai persoalan 
keuangan negara itu justru merupakan buah dari konsep dan resep neolib yang 
secara ugal-ugalan diterapkannya di sini.Dua kali menjadi Menkeu, apa prestasi 
Sri Mulyani bagi perekonomian negeri ini? Adakah kebijakannya yang berfungsi 
mendorong pertumbuhan, membuka lapangan kerja, mendongkrak daya beli/konsumsi, 
menurunkan angka kemiskinan, mendorong investasi dan pada akhirnya membaiknya 
kesejahteraan rakyat? Ada?Yang ada justru sebaliknya. Dia mendisain APBN yang 
sarat dengan aroma neolib. Pajak terus digenjot, subsidi dipangkas hingga titik 
nol, utang baru yang lebih besar terus dibuat dan dialokasikan untuk membayar 
utang lama. Di negeri ini, kemiskinan terjadi bukan semata-mata karena rakyat 
malas, tapi lebih karena kebijiakan yang memiskinkan.Ani menyamakan utang 
negara dengan kartu kredit. Ini juga yang menjelaskan, Sri Mulyani Menkeu, 
Indonesia menjadi seperti karyawan dengan kartu kredit. Negara ngos-ngosan. 
Negara sempoyongan… (***)Jakarta, 14 Agustus 2017Edy Mulyadi, Direktur Program 
Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Kirim email ke