Kalau mau membandingkannya, ya harus relatif terhadap suku bunga deposito
negeri2 tersebut :
http://apindo.or.id/id/publikasi/referensi/tabel-2-suku-bunga-deposito-berbagai-bank-di-negara-di-asia-tenggara

2017-08-16 1:24 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:

>
>
>
> Tapi, tetap saja SMI mengobral bunga supertinggi untuk obligasi bertenor 1
> dan 10 tahun. *Bunga kita yang 6,17% untuk setahun dan 7,08% untuk
> obligasi 10 tahun*. Bandingkan dengan Filipina (2,9% dan 5,4%), Vietnam
> (3,9% dan 5,76%), dan Thailand (1,57% dan 2,6%).
> ...
> BERBAGI
> Facebook
>
> <http://www.facebook.com/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmediaharapan.com%2Fsri-mulyani-utang-negara-dan-kartu-kredit%2F>
>
> Twitter
>
> <https://twitter.com/intent/tweet?text=Sri+Mulyani%2C+Utang+Negara+dan+Kartu+Kredit%C2%A0&url=https%3A%2F%2Fmediaharapan.com%2Fsri-mulyani-utang-negara-dan-kartu-kredit%2F&via=Media+Harapan>
>
>
> <http://plus.google.com/share?url=https://mediaharapan.com/sri-mulyani-utang-negara-dan-kartu-kredit/>
>
>
> <http://pinterest.com/pin/create/button/?url=https://mediaharapan.com/sri-mulyani-utang-negara-dan-kartu-kredit/&media=https://mediaharapan.com/wp-content/uploads/2017/08/14/wp-1502718953436.jpg>
>
> <https://i2.wp.com/mediaharapan.com/wp-content/uploads/2017/08/14/wp-1502718953436.jpg?fit=1080%2C593&ssl=1>
> *Oleh: Edy Mulyadi*
>
> *MEDIAHARAPAN.COM <http://MEDIAHARAPAN.COM>* – “Sri Mulyani Ibaratkan
> Utang dengan Kartu Kredit” begitu judul sejumlah media pekan silam setelah
> Menkeu Sri Mulyani Indrawati (SMI) tampil di acara *talkshow* televisi
> swasta.
> Menurut dia, bila pendapatan seseorang Rp10 juta, maka mintalah kartu
> kredit yang *limit* maksimalnya Rp1 juta. Kemudian, bila pendapatan
> mencapai Rp 25 juta, maka batas maksimal yang seharusnya diajukan adalah Rp
> 5 juta.
> Mencermati pernyataan Menkeu yang seperti ini sungguh benar-benar membuat
> miris. Bagaiman mungkin Bendahara Negara bergelar doktor ekonomi
> mengibaratkan utang yang dibuatnya seperti kartu kredit? Tidakkah Ani,
> begitu dia biasa disapa, tahu bahwa bunga kartu kredit amat tinggi, yaitu
> 3% per bulan atau 36% per tahun?
> Tamsil seperti ini agaknya menjelaskan kepada publik, mengapa saat dua
> kali menjadi Menkeu (era SBY Desember 2005-Mei 2010 dan kabinet Jokowi Juli
> 2016-sekarang) dia rajin membuat utang dengan bunga supermahal. Dalam dua
> periode itu, Ani memaksa Indonesia membayar bunga lebih tinggi ketimbang
> negara-negara yang punya *rating* lebih rendah.
> Obligasi Indonesia di masa Sri adalah yang tertinggi dibandingkan 10
> negara Asia Timur lainnya. Padahal, dari sisi pertumbuhan ekonomi Indonesia
> (5,04%%) adalah keempat tertinggi. Kita mengalahkan Malaysia (4,5%),
> Singapura (1,8%), Thailand (3,2%), Korsel (2,3%), Taiwan (1,4%),  dan Hong
> Kong (1,9%).
> Tapi, tetap saja SMI mengobral bunga supertinggi untuk obligasi bertenor 1
> dan 10 tahun. Bunga kita yang 6,17% untuk setahun dan 7,08% untuk obligasi
> 10 tahunl. Bandingkan dengan Filipina (2,9% dan 5,4%), Vietnam (3,9% dan
> 5,76%), dan Thailand (1,57% dan 2,6%).
> Jika dilihat selisih bunga itu sepertinya kecil, hanya 2-4%. Tapi dengan
> asumsi bertenor 10 tahun, nilai nominalnya sangat luar biasa. Angkanya
> berkisar Rp56 triliun lebih tinggi setiap tahun sejak 2016-2020. Kenapa
> sampai 2020? Karena sebagian besar utang berbunga supertinggi itu terjadi
> saat Ani menjadi Menkeu di era Presiden SBY, yaitu 2006-2010. Dalam periode
> itu, dia menjaring utang tidak kurang dari Rp476 triliun.
> Akibatnya, APBN temehek-mehek membayar cicilan pokok dan bunga utang yang
> menjulang. Tahun ini saja, negara mengalokasikan anggaran Rp486 triliun
> untuk pembayaran utang. Dari jumlah itu, Rp221 triliun di antaranya hanya
> untuk membayar bunganya.
> Satu lagi, bank penerbit kartu kredit biasa memberi batas pinjaman tiga
> kali pendapatan. Jadi, kalau gaji seseorang Rp10 juta, ya tidak bisa minta
> *limit *cuma Rp1 juta seperti dikatakan Ani. Bank bakal memberi limit
> yang bersangkutan Rp30 juta. Begitu juga kalau pendapatannya Rp25 juta,
> maka batas pinjamannya mencapai Rp75 juta. Begitu lho, bu menteri…
> Oya, sekadar mengingatkan Menkeu, dalam sistem pembayaran kartu kredit
> dikenal istilah interest free period, atau periode bebas bunga. Maksudnya,
> nasabah akan dibebaskan dari bunga jika melakukan pembayaran penuh sebelum
> tanggal jatuh tempo pada tiap bulan.
> Sebaliknya, bila nasbah terlambat melakukan pembayaran melewati tanggal
> jatuh tempo, maka akan dikenai bunga harian terhadap selisih hari pembukuan
> dan tagihan untuk setiap aktivitas. Misalnya, bu Menteri belanja dengan
> berutang Rp 1,5 juta. Sayangnya, karena kesibukan luar biasa mengurus
> keuangan negara, dia tidak sempat membayar tagihan sebelum jatuh tempo.
> Katakanlah, telat empat hari. Karena itu, Ani dikenai bunga 36% x 4 hari x
> Rp1.500.000 :  365 hari = atau Rp5.916. Jadi, dia harus membayar
> Rp1.505.916 saat melunasi pembayaran pada empat hari setelah jatuh tempo.
> *Siapa yang gratisan?*
> Tapi, sudahlah. Mana Ani paham dengan tetek-bengek kartu kredit semacam
> itu. Bukannya dia tidak punya kartu kredit. Saya yakin pasti punya. Tapi
> untuk apa kartu kredit untuk seorang menteri? Lha wong semua pengeluarannya
> dibiayai negara. Terbang dengan pesawat *first class *dibayar negara.
> Menginap di kamar *presidential suite* yang di Jakarta saja bertarif
> US$5.000-US$13.000 atau sekitar Rp65 juta hingga Rp170 juta/malam, juga
> dibayar negara. Padahal Menteri yang satu ini rajin melawat ke Eropa,
> Amerika, dan negara-negara maju lain yang pasti harga hotelnya jauh lebih
> mahal lagi.
> Rumah tinggal, gratis karena milik negara. Termasuk biaya bulanan untuk
> listrik, telepon, kebutuhan dapur dan lainnya semuanya gratis tis tis.
> Mobil yang bagus dan mewah juga dibayar negara. BBM, parkir, tol, bahkan
> supir pun yang bayar negara. Kalau sakit, berobat atau dirawat, juga
> dibayari negara. Dengan nyaris semua pengeluaran menteri dibayar oleh
> negara, kartu kredit memang tidak diperlukan lagi. Kalau pun digunakan,
> lagi-lagi pasti yang melunasi tagihannya adalah negara.
> Jadi, keliru besar saat Ani menuding rakyat Indonesia maunya gratisan
> karena APBN terus mensubsidi. Jangan lupa, rakyat tetap membayar listrik,
> membeli gas untuk memasak, membayar biaya kesehatan, dan lainnya. Jadi,
> ucapan Ani yang menuduh rakyat maunya serba gratisan bukan saja ngawur,
> tapi juga sangat menyakiti hati. Jauh lebih sakit daripada ada maling
> berteriak maling…
> Sejatinya, perkara subsidi tidak semata-mata soal angka-angka di APBN. Ia
> adalah wujud keberpihakan negara kepada rakyatnya. Bukankah para pendiri
> bangsa ketika memerdekakan Indonesia dan membentuk suatu pemerintahan untuk
> melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
> untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa? Tujuan
> mulia inilah yang dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945.
> Lalu, bagaimana kita harus menilai seorang Menkeu yang sibuk memangkas
> berbagai anggaran, khususnya belanja sosial? Menkeu seperti apakah yang
> dengan kalap memalaki rakyatnya dengan berbagai pajak? Begitu kalapnya dia,
> hingga perlu menggandeng Polri untuk mendatangi rumah-rumah rakyatnya yang
> menunggak pajak kendaraan bermotor, bermaksud menurunkan pendapatan tidak
> kena pajak (PTKP) menjadi senilai upah minimum provinsi (UMP), dan nyaris
> mengenakan PPN untuk gula tebu rakyat?
> Menkeu seperti apakah yang bernafsu mengintip Rp200 juta simpanan
> rakyatnya untuk diuber pajaknya? Menkeu bagaimanakah pula yang mengutamakan
> membayar utang dan tetap tidak mengurangi anggaran pembayaran utang, walau
> hanya serupiah pun? Bendahara Negara seperti apa yang terus menambah utang
> baru sehingga jumlahnya jadi amat menakutkan dengan dalih sumber daya alam
> (SDA) Indonesia berlimpah ruah? Tidakkah dia tahu, bahwa SDA kita saat ini
> mayoritas sudah dikuasai asing?
> Pada akhirnya, kita bertanya, kepada siapakah sesungguhnya pengabdian sang
> Menkeu diberikan?
> *Menyenangkan asing*
> Puja-puji dan seabrek penghargaan yang diperolehnya dari dunia
> internasional, tidak lebih dari ‘balas jasa’ atas kemurahan hatinya
> mengguyur para *bond holder* dan kreditor dengan keuntungan supergede.
> Kumpulan investor inilah yang dalam mazhab neolib sering disebut sebagai
> “pasar”. Jadi, kalau mereka berkata Sri adalah Menkeu yang disukai pasar,
> artinya Menkeu kita disenangi investor alias para pemegang obligasi dan
> kreditor.
> Penghargaan Menkeu Terbaik Asia diberikan harian ekonomi Emerging
> Markets pada 2008. Majalah Euromoneybahkan mengganjar SMI sebagai Menkeu
> Terbaik Dunia. Setiap tahun Emerging Markets memang selalu memberi
> penghargaan bertepatan dengan sidang tahunan IMF dan Bank Dunia. Responden
> yang menjadi sumber penilaiannya adalah para bankir, analis, dan investor.
> Menurut Emerging Markets, salah satu alasan utama Sri dipilih sebagai
> Menteri Keuangan Terbaik di Asia karena dia merupakan figur utama yang
> mendorong reputasi Indonesia sebagai outstanding borrower of the year untuk
> kawasan Asia. Tuh, kaaan…
> Dilihat dari nara sumber yang jadi responden dan kriteria penilaian yang
> ditetapkan, Sri Mulyani menyandang Menkeu Terbaik Asia/Dunia karena bisa
> “menyenangkan” pasar. Bukan karena pertimbangan bagi perbaikan dan kemajuan
> ekonomi Indonesia.
> Pujian dan penghargaan pasar tidak jatuh kepada Menkeu yang sukses membawa
> ekonomi negaranya terbang ke langit. China, misalnya, hanya dalam tempo 20
> tahun telah menjadi raksasa ekonomi terdahsyat dengan jumlah cadangan
> devisa mencapai USD3,2 triliun. Tapi, tidak seorang pun Menkeu China yang
> meraih “anugrah” sebagai Menkeu terbaik Asia, apalagi dunia.
> Begitu juga dengan para Menkeu yang berhasil membawa rakyat mereka menjadi
> sejahtera. Jepang, Korsel, atau Malaysia, misalnya. Bahkan, jangan pernah
> berharap penghargaan serupa akan jatuh kepada Menkeu Brasil, Venezuela atau
> Bolivia yang garang terhadap kepentingan kapitalisme global namun sukses
> mendongkrak kesejahteraan rakyatnya. Padahal, Brazil mampu mengerek
> perekonomiannya hanya dalam tempo delapan tahun!
> Menyederhakanan utang negara sama dengan kartu kredit, sekali lagi menjadi
> bukti bahwa Ani memang hanya gemerlap media. Faktanya, kemampuan Ani dalam
> mengenali dan menyelesaikan masalah dengan tepat dan cepat, nyaris nihil.
> Terlebih lagi, berbagai persoalan keuangan negara itu justru merupakan buah
> dari konsep dan resep neolib yang secara ugal-ugalan diterapkannya di sini.
> Dua kali menjadi Menkeu, apa prestasi Sri Mulyani bagi perekonomian negeri
> ini? Adakah kebijakannya yang berfungsi mendorong pertumbuhan, membuka
> lapangan kerja, mendongkrak daya beli/konsumsi, menurunkan angka
> kemiskinan, mendorong investasi dan pada akhirnya membaiknya kesejahteraan
> rakyat? Ada?
> Yang ada justru sebaliknya. Dia mendisain APBN yang sarat dengan aroma
> neolib. Pajak terus digenjot, subsidi dipangkas hingga titik nol, utang
> baru yang lebih besar terus dibuat dan dialokasikan untuk membayar utang
> lama. Di negeri ini, kemiskinan terjadi bukan semata-mata karena rakyat
> malas, tapi lebih karena kebijiakan yang memiskinkan.
> Ani menyamakan utang negara dengan kartu kredit. Ini juga yang
> menjelaskan, Sri Mulyani Menkeu, Indonesia menjadi seperti karyawan dengan
> kartu kredit. Negara ngos-ngosan. Negara sempoyongan… (***)
> *Jakarta*, 14 Agustus 2017
> *Edy Mulyadi*, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies
> (CEDeS)
>
> 
>

Kirim email ke