Pada Senin, 21 Agustus 2017 3:41, "'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
 

     Satu sajak Noroyono yang menyejukkan dan JITUUU! Dijaman globalisasi, 
dijaman makin dekatnya jarak negara-negara didunia ini, bahkan bisa dikatakan 
tanpa jarak dengan adanya jaringan internet, ... masih saja ada orang yang 
selalu mempermasalahkan “PRIBUMI” dan “Non-PRIBUMI”, masih saja menekankan 
perbedaan yang nyata ada dan bukan mengutamakan kesamaan umat manusia yang 
hidup didunia ini untuk membangun masyarakat adil dan makmur, ...! Sudah jelas, 
istilah "Pribumi" menjadi masalah justru karena dipolitisir untuk menyudutkan 
sekelompok warga, khususnya kelompok etnis Tionghoa. Juga jelas, istilah 
Pribumi dan Non Pribumi adalah istilah politis yang digunakan Pemerintah 
Kolonial  Belanda dan Pemerintah Orde baru dengan maksud untuk memecah belah 
golongan penduduk di negara Indonesia dan melanggengkan kekuasaanya. Siapa 
sesungguhnya yang berhak menyandang "Pribumi" di Nusantara ini? Karena 
kenyataan mayoritas mutlak penghuni Nusantara ini adalah juga "pendatang" dari 
daerah Yunan sana, sedang penghuni yang masih bisa dikatakan "Pribumi", yang 
masih asli adalah kelompok Negroid dan Wedoid yang berkulit kehitam-hitaman dan 
berambut keriting dan sekarang menetap di Nusatenggara dan Irian itu. Jadi, 
dalam pengertian dimana kita semua sama-sama "pendatang", hanya berbeda waktu, 
sebagian lebih dahulu dan yang datang lebih belakangan, pengkategorian 
"Pribumi" dan "Non-Pribumi" selama ini jelas tentu saja tentu saja TIDAK BENAR, 
atau tegasnya SALAH! Lalu, kalau sudah tahu salah, kenapa masih saja harus 
diteruskan? Apalagi jelas, penggunaan istilah "Pribumi" dan "Non-Pribumi" ini 
sebagai salah satu alasan untuk mendiskriminasi sekelompok warga yang etnis 
Tionghoa, dengan puncaknya TRAGEDI Mei '98 itu.     Begitu juga, seandainya 
saja selalu mempertentangkan yang "Pribumi" dan "Non-Pribumi", pasti akan 
menimbulkan perpecahan bangsa Indonesia karena :-       Orang-orang Aceh akan 
mengatakan bahwa Aceh mereka adalah Pribumi sedangkan pendatang dari luar Aceh 
seperti suku Batak, Minang, Jawa, dan lain-lain adalah Non Pribumi. -       
Orang-orang Betawi akan mengaatakan bahwa di Jakarta mereka adalah Pribumi 
sedangkan pendatang dari luar Jakarta seperti suku Aceh, Batak, Minang, Jawa, 
Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya adalah Non Pribumi. -       Orang-orang 
Papua akan mengatakan bahwa di Papua mereka adalah Pribumi sedangkan pendatang 
dari luar Papua seperti suku Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain adalah 
Non Pribumi. -       Orang-orang Dayak di Kalimantan akan mengatakan di 
Kalimantan Barat mereka adalah Pribumi sedangkan pendatang dari luar Kal-Bar 
seperti suku Jawa, Madura, dan lain-lain adalah non Pribumi. Bukankah telah 
terjadi TRAGEDI SAMBAS di tahun 1999 yang sangat mengerikan, pertarungan suku 
Dayak (“PRIBUMI”) dengan suku Madura (“non-PRIBUMI”) dan lebih 1000 jiwa jatuh 
korban, ...! Masih juga belum cukup banyak melihat tapak berdarah dan sangat 
MERUGIKAN ekonomi nasional dengan terjadinya setiap kerusuhan tragedi dalam 
perjalanan sejarah bangsa ini, ...? Untuk apa membuat masyarakat kita yang 
kenyataan plural dan majemuk di Nusantara ini  terpecah-pecah dengan selalu 
mengkotak-kotakan menjadi "Pribumi" dan "Non-Pribumi"? Siapa sesungguhnya yang 
"Pribumi", siapa yang "Non-Pribumi"? Bukankah jauh lebih baik dan akan lebih 
sehat, seandainya kita semua yang berbeda-beda itu, baik beda warna kulit, beda 
suku, beda etnis dan beda agama, semua bisa hidup rukun ber-damai-damai, 
bersama-sama membangun masyarakat ini lebih baik lagi, bersama-sama memusatkan 
segenap energi dan perhatian mendorong maju ekonomi yang nyaris bangkrut ini.  
Bukankah ditahun 1998, Presiden Habibie pernah keluarkan instruksi Presiden 
No.26/1998, untuk “MENGHENTIKAN PENGUNAAN ISTILAH PRIBUMI DAN NON PRIBUMI”, 
http://www.gelora45.com/news2/Pribumi_InstrukHabibie26Tahun1998.pdf  yang jelas 
bertujuan mengakhiri diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia, ... 
bahkan Presiden SBY dipenghujung masa jabatan I, tahun2008 sempat mensahkan UU 
No.40 anti-Diskriminasi Ras-Etnis, sebagai kelanjutan disahkannya UU 
Kewarganegaraan No.12/2006, yang berlakukan Indonesia hanya mengenal SATU macam 
Warganegara, dimana setiap WARGA mempunyai HAK dan KEWAJIBAN yang sama dan 
tidak bisa dibeda-bedakan berdasarkan RAS, Suku, Etnik dan Agama seseorang! 
Tapi, sekalipun secara HUKUM sudah dipakukan begitu kokoh dan TEGAS nya, 
kenyataan dalam kehidupan masyarakat masih saja ada sekelompok warga menjadikan 
kelompok warga Tionghoa sebagai MUSUH, 
http://www.gelora45.com/news2/KAMMI_MemandangTionghoaSebagaiMusuh.pdf, ... 
sampai-sampai saat pilkada DKI-Jakarta yang baru saja usai beberapa bulan yl, 
disana-sini masih juga tercium aroma anti Ahok karena keTionghoa-annya! Hanya 
saja aparat HUKUM negeri ini nampaknya masih tenggelam dalam kesibukan 
membenahi siluman-siluman, pejabat korup yang sangat merugikan negara-rakyat 
banyak, belum berkesempatan menangani dan menindak tegas kelompok rasialis, 
anti-Tionghoa, ... Jadi, yang nampak terjadi didalam masyarakat ini sekelompok 
warga yang masih saja berteriak keras menghasut KEBENCIAN terhadap CINA 
ddibiarkan tidak terjamah HUKUM, bahkan parpol dengan Predikat PRIBUMI pun 
tetap saja dibiarkan meresmikan pembentukkannya dan tentu melakukan kegiatan 
politiknya di Nusantara ini, ... Nampaknya kita semua masih harus BERSABAAAR, 
berjuang lebih keras untuk mencapai pada kesadaran kehidupan bermasyarakat yang 
tentram dan tertib sebagaimana HUKUM yang berlaku!  Salam,ChanCT 
 From: Noroyono 1963 [email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, August 20, 
2017 11:03 PM   
Aku dan Kho Sing Po
 
Aku
Lahir di Nganjuk
Besar di Jakarta
Oleh sementara orang
Diklasifikasi sebagai “pribumi”
Atas dasar argumentasi
Yang tak pernah ku mengerti
 
Kho Sing Po
Sahabatku di SMA
Lahir dan besar di Blora
Oleh sementara orang
Digolongkan sebagai “non-pribumi”
Hanya lantaran dia Tionghoa
 
Aku dan Kho Sing Po
Tak ayal lagi adalah “pribumi”
Karena kami berdua sama
Lahir dan tumbuh mendewasa
Di bumi tercinta Indonesia
 
Namun
Aku dan Kho Sing Po
Sekaligus adalah “non-pribumi”
Karena menurut berbagai teori
Para pakar Antropologi
Kakek-nenek moyang kami
Merupakan kelompok pendatang
Dari kawasan nun jauh di sana
Di luar kepulauan Nusantara
 
Ah, ya
“Pribumi” dan “non-pribumi”
Klasifikasi tanpa klarifikasi ilmiah batasannya
Hanya akan menuai petaka semata
Bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
 
 
Noroyono
Hari Natal Pertama 2014    #yiv9011739799 #yiv9011739799 -- 
#yiv9011739799ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp #yiv9011739799hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp #yiv9011739799ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp .yiv9011739799ad 
{padding:0 0;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp .yiv9011739799ad p 
{margin:0;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mkp .yiv9011739799ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-sponsor 
#yiv9011739799ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-sponsor #yiv9011739799ygrp-lc #yiv9011739799hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-sponsor #yiv9011739799ygrp-lc .yiv9011739799ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9011739799 #yiv9011739799actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9011739799
 #yiv9011739799activity span {font-weight:700;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9011739799 #yiv9011739799activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9011739799 #yiv9011739799activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9011739799 #yiv9011739799activity span 
.yiv9011739799underline {text-decoration:underline;}#yiv9011739799 
.yiv9011739799attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9011739799 .yiv9011739799attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9011739799 .yiv9011739799attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9011739799 .yiv9011739799attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9011739799 .yiv9011739799attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9011739799 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9011739799 .yiv9011739799bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9011739799 
.yiv9011739799bold a {text-decoration:none;}#yiv9011739799 dd.yiv9011739799last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9011739799 dd.yiv9011739799last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9011739799 
dd.yiv9011739799last p span.yiv9011739799yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9011739799 div.yiv9011739799attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9011739799 div.yiv9011739799attach-table 
{width:400px;}#yiv9011739799 div.yiv9011739799file-title a, #yiv9011739799 
div.yiv9011739799file-title a:active, #yiv9011739799 
div.yiv9011739799file-title a:hover, #yiv9011739799 div.yiv9011739799file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9011739799 div.yiv9011739799photo-title a, 
#yiv9011739799 div.yiv9011739799photo-title a:active, #yiv9011739799 
div.yiv9011739799photo-title a:hover, #yiv9011739799 
div.yiv9011739799photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9011739799 
div#yiv9011739799ygrp-mlmsg #yiv9011739799ygrp-msg p a 
span.yiv9011739799yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9011739799 
.yiv9011739799green {color:#628c2a;}#yiv9011739799 .yiv9011739799MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9011739799 o {font-size:0;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799photos div {float:left;width:72px;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9011739799
 #yiv9011739799reco-category {font-size:77%;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799reco-desc {font-size:77%;}#yiv9011739799 .yiv9011739799replbq 
{margin:4px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-mlmsg select, #yiv9011739799 input, #yiv9011739799 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-mlmsg pre, #yiv9011739799 code {font:115% 
monospace;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-mlmsg #yiv9011739799logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-msg 
p#yiv9011739799attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-reco #yiv9011739799reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-sponsor 
#yiv9011739799ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-sponsor #yiv9011739799ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-sponsor #yiv9011739799ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9011739799 #yiv9011739799ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9011739799 
#yiv9011739799ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9011739799 

   

Kirim email ke