Daripada sibuk mempermasalahkan patung Kwan Kong yang kalian anggap 
representasi Cina dan non-Islam, Ha mbok bikin riset othak-athik gathuk agar 
punya bukti bahwa Kwan Kong itu Islam. Itu pasti lebih berfaedah dan 
bermanfaat, sekaligus bisa bikin Kanjeng Sunan Bonang bangga. Ya siapa tahu, 
tho? Wong Gajah Mada saja bisa diislamkan kok https://mojok.co/gaj-ahmada/, 
masa Kwan Kong tidak?

 ...
 
 KALAU GAJAH MADA BISA DIISLAMKAN, KENAPA KWAN KONG TIDAK? 
https://mojok.co/agus-mulyadi/esai/patung-kwan-kong/ AGUS MULYADI 
https://mojok.co/author/agus-mulyadi/ 1 AGUSTUS 2017
 ESAI https://mojok.co/esai/ 42


 
 Sebagai Redaktur Mojok, hampir setiap hari saya “dipaksa” memantau isu, gosip, 
dan aneka kabar heboh yang berseliweran di media sosial. Dari perkembangan 
politik tingkat tinggi 
https://mojok.co/jokowi-belum-tentu-terpilih-jadi-presiden-lagi/ sampai kabar 
Inces Syahrini https://mojok.co/aku-syahrini-maka-aku-ada/. Dari berita 
berlabel investigatif sampai yang berembel-embel “Nomor 6 Bikin Netizen Salto”. 
Dari seputar beras Maknyuss https://mojok.co/status-beras-maknyuss/ dan impor 
garam https://mojok.co/memilih-garam-sesuai-kepribadian/ sampai kabar siapa 
yang turun dari panggung Bintang Pantura 4 Indosiar.
 Salah satu kabar heboh sedang naik daun adalah polemik patung Dewa Perang Cina 
Kwan Sing Tee Koen alias Kwan Kong di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa 
Timur, yang dianggap melecehkan Tuban.
 Pembangunan patung yang tingginya mencapai 30 meter dan tercatat sebagai 
patung Kwan Kong tertinggi di Asia Tenggara ini dinilai tidak pantas, karena 
berdiri di atas tanah kota Tuban, kota yang terkenal dengan sebutan Bumi Wali, 
dan masyarakatnya yang mayoritas muslim. Bahkan, sampai ada yang 
meksomembandingkan tinggi patung ini dengan patung Jenderal Sudirman di Jakarta 
yang hanya 12 meter.
 Aduuuh … bodhol bakule slondok!
 Beberapa kawan saya yang asli Tuban justru mengaku ayem-ayem saja atas 
keberadaan patung Kwan Kong tersebut. Orang-orang Tuban sendiri mengaku selama 
ini tidak pernah ada masalah. Ealah, lha kok mendadak muncul isu soal Patung 
Kwan Kong yang dianggap melecehkan masyarakat Tuban. Kan wagu.
 Lebih wagu lagi, ada yang mengatakan bahwa keberadaan patung ini dikhawatirkan 
akan menjadi trademark kota Tuban dan bisa mengalahkan pamor Sunan Bonang.
 Andai Sunan Bonang masih hidup dan mendengar itu, saya yakin belio akan sangat 
sedih. Atau bisa jadi malah geli.
 Sebagai penggemar Kisah Tiga Kerajaan (San Guo Yan Yi), saya merasa punya 
kewajiban moral untuk (((angkat barbel bicara))). Lha gimana ya, ini menyangkut 
pendekar favorit dan idola saya: Kwan Kong.
 (Kemudian ada yang komentar: “Masya Alloh, Mas, ngefens kok sama orang kafir. 
Mbok ya ngefens sama Teuku Wisnu atau Dude Herlino, yang sudah jelas Islam, 
cakep, pinter jualan oleh-oleh lagi.”)
 Buat belum tahu Kwan Kong, belio ini nama aslinya Guan Yunchang. Sering 
dipanggil Guan Yu. (Yang sering main Dinasty Warrior pasti tahu sosok ini). 
Belio penduduk asli kabupaten Hedong, tapi maaf, saya nggak tahu pasti 
kecamatannya apa.
 Mas Kwan Kong ini hidup di zaman pengujung Dinasti Han, zaman yang populer 
dengan nama Samkok, saat Cina terpecah menjadi tiga kerajaan besar (Wu, Shu, 
Wei). Nah, Kwan Kong ini salah satu pendekar besar dari kerajaan Shu. Ia 
dikenal sebagai pendekar pilih tanding yang pokoknya paling pendekar di antara 
semua pendekar. Belio tangguh, kuat, setia, jujur, dan tidak pernah ingkar 
janji. Jika ada kriteria pendekar yang benar-benar mengamalkan Dasa Dharma 
Pramuka, Kwan Kong inilah orangnya.
 Ketika idola saya itu disebut-sebut ikut dalam usaha pelecehan masyarakat 
Tuban, tentu saja saya merasa harus membuat pembelaan. terlalu banyak alasan 
yang membuat keberadaan patung Kwan Kong ini tidak layak untuk 
dipermasalahkan—selain tentu saja blas nirfaedah dan seperti orang kurang 
gawean.
 Pertama, patung ini bukan berada di halaman Kantor Wali Kota, alun-alun, atau 
simpang jalanan utama, melainkan di beranda klenteng. Sehingga keberadaannya 
memang sudah jelas hanya mewakili kelompok Tionghoa, bukan keseluruhan 
masyarakat Tuban.
 Kedua, patung ini bukan patung berhala. Sedari awal, pembangunannya memang 
sekadar sebagai penghias klenteng. “Tidak ada ritual apa pun di sana, kita 
hanya menampilkan figur Kwan Kong sebagai lambang tauladan kesatria sejati yang 
selalu menempati janji setiap sumpahnya,” begitu kata Gunawan, kepala Klenteng 
Kwan Sing Bio akhir tahun lalu, jauh sebelum polemik nggak mutu ini bergulir.
 Ketiga, patung ini sama sekali tidak merusak identitas keindonesiaan atau 
keislaman warga Tuban. Yang Indonesia tetap Indonesia, yang Islam juga nggak 
berubah jadi Konghucu.
 Nah, ketiga alasan ini sebenarnya sudah cukup untuk menangkis argumen 
orang-orang yang mempermasalahkan patung Kwan Kong. Namun… ah, rasanya memang 
percuma. Sebab di Indonesia ini, terutama setelah heboh kasus Ahok, banyak hal 
yang berbau Cina (apalagi yang nonmuslim) seolah menjadi simbol penjajahan baru 
atas eksistensi pribumi, dan selalu dipermasalahkan dengan macam-macam alasan.
 Lha Kwan Kong ini ndilalah kok ya paket lengkap dan empuk. Sudah Cina, tidak 
Islam, mukanya sangar, tentengannya senjata tajam lagi. Pas.
 Inilah yang kemudian membuat saya sadar, sebenarnya sia-sia saja saya membela 
Mas Kwan Kong.
 Meski begitu, saya tak ingin menyerah. Kalaupun saya tidak bisa membela Mas 
Kwan Kong, setidaknya izinkan saya berpesan kepada orang-orang yang 
mempermasalahkan patung idola saya itu.
 Pesan saya sederhana:
 Daripada sibuk mempermasalahkan patung Kwan Kong yang kalian anggap 
representasi Cina dan non-Islam, Ha mbok bikin riset othak-athik gathuk agar 
punya bukti bahwa Kwan Kong itu Islam. Itu pasti lebih berfaedah dan 
bermanfaat, sekaligus bisa bikin Kanjeng Sunan Bonang bangga. Ya siapa tahu, 
tho? Wong Gajah Mada saja bisa diislamkan kok https://mojok.co/gaj-ahmada/, 
masa Kwan Kong tidak?
 Atau, jika memang tetap ingin mempermasalahkan dunia perpatungan, sekalian 
saja permasalahkan saudara-saudara saya warga Muntilan 
https://mojok.co/tag/muntilan/; mereka itu agamanya Islam, baca syahadat, bayar 
zakat, tapi kerjaannya bikin patung Bunda Maria, Yesus, dan Buddha.
 

 

Kirim email ke