Sebuah uraian sangat menarik dan layak untuk dipelajari.

     Pada Senin, 21 Agustus 2017 14:35, "Sie Tik Tan [email protected] 
[perhimpunanpersaudaraan]" <[email protected]> menulis:
 

     Sikap JK , yg pernah jadi wakilnya SBY, bahkan dulu dianggap dominan 
peranannya dibanding SBY sendiri dan juga King Maker-nya Anies ......PERJUANGAN 
MORAL JOKOWI....  Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)  dalam sambutan acara 
Simposium Ekonomi di gedung MPR, Senayan, mengatakan ada 2 kebijakan keliru 
yang dilakukan pemerintah sehingga menghabiskan anggaran Rp 6000 triliun. 
Kebijakan itu menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari 
negara-negara tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.

32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya 
dan barulah Soeharto jatuh ketika fundamental ekonomi yang di simpan rapat 
bertahun tahun terbuka lebar oleh aksi George Sorros. Nyatanya berpuluh tahun 
kita menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak ada sesungguhnya kekuatan 
ekonomi. Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana hebat kecuali menggali lubang 
sedalam dalamnya lewat hutang tanpa rencana real untuk merubah Indonesia 
menjadi lebih baik. Jumlah hutang yang digalinya hanya 30% yang digunakan untuk 
membangun. Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi 
penguasa selama 32 tahun. Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah 
menanda tangani LOI dengan IMF sebagai blank Cheque yang  harus diselesaikan 
oleh rezim setelahnya. Beban masalah yang di tinggalkan Soeharto kalau di kurs 
sekarang dan ditambah dengan bunga obligasi rekap mencapai mencapai Rp, 3000 
triliun.

Era Habibie, Gus Dur, Megawati adalah era tersulit bagi kita untuk berdamai  
dengan kenyataan. Indonesia dinyatakan negara insolvent dan semua financial 
resource tertutup. Pemasukan lebih kecil daripada pengeluaran. Kehidupan 
politik tidak jelas. Enam tahun proses transisi dari legislasi Era Soeharto ke 
era Reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada 
pembangunan real. Negara stuck. Namun akhirnya Indonesia bisa keluar dari 
proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai Presiden secara demokrasi 
langsung. Harapan di pagut dan masa depan disongsong dengan ceria. 

Tapi apa yang terjadi ? Selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk mempertahankan 
kekuasaanya dia membakar  uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk subsidi. Pada 
periode 2004-2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dari 
APBN dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%. Di dalam 
subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% 
dari seluruh subsidi energi. Dan menciptakan mega skandal dengan korupsi tak 
terbilang. Andaikan uang sebanyak itu dia gunakan untuk membangun jalan toll 
maka kita sudah punya jalan toll trans Sumatera dan trans Jawa, juga kereta 
cepat Jakarta Surabaya dan puluhan kawasan industri berskala international, 
puluhan bendungan dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar 
sudah punya MRT. SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang begitu 
saja untuk ongkos politik agar kekuasaanya stabil selama dua periode.

Era Soeharto kita abai karena salah memilih pemimpin dan takdir kita berhasil 
mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi tapi setelah demokrasi 
kita justru melahirkan gerombolan maling yang menjarah lebih dahysat dari 32 
tahun Soeharto berkuasa. Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat hendak 
menggulingkan Soeharto atau SBY. Tidak ada demo berjilid jilid hendak 
menjatuhkannya. Mengapa? Karena baik partron agama maupun politik mendapat 
berkah uang dan konsesi bisnis dari politik lendir tebar uang oleh penguasa. 

Di era Jokowi, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan jenderal 
yang berkaliber nasional, bukan konglomerat yang kaya dari bisnis rente, bukan 
pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis. Dia muncul ke panggung politik 
karena kehendak Tuhan. Tak ada satupun kekuatan yang menghentikannya ketika si 
tukang kayu yang krempeng itu masuk ke istana. Ini takdir Indonesia dan Tuhan 
berbuat sesukaNya. Ketika dia berkuasa, subsidi yang memanjakan rakyat di 
hentikan. Anggaran di reformasi secara fundamental dari berorientasi konsumsi 
ke produksi. Efisiensi anggaran dilakukan dengan keras. 

Walau diawali dengan fundamental ekonomi yang retak karena Current Account yang 
defisit, Jokowi tetap melaju dengan agenda besarnya. Menciptakan kemandirian , 
bukannya hanya lewat restruktur APBN dan hutang tapi juga revolusi mental 
dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini. Negeri 
para gangster diubahnya menjadi negeri para pekerja keras. Status quo 
didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup manja menipu 
rakyat. Dan apa hasilnya? Hanya dua tahun berkuasa semua rating international 
berkaitan dengan index korupsi, pembangunan, ekonomi membaik. Indonesia 
termasuk negara peringkat tiga terbaik ekonominya diantara anggota G20.

Saya membayangkan setiap langkah Jokowi tidaklah mudah dan penuh resiko. Karena 
semua elite politik yang kini ada adalah bagian dari kekuasaan Orde baru yang 
pernah merampok indonesia meninggalkan beban kerugian sebesar Rp. 3000 triliun 
dan juga bagian dari kekuasaan era SBY yang membakar uang negara sebesar Rp. 
3000 triliun demi melanggengkan kekuasaannya. Semua  ingin agar si tukang kayu 
ini dihentikan. Karena Jokowi bukan hanya menghancurkan kekuasaan sebagai 
ladang bisnis mendatangkan harta, tapi juga menjadikan rakyat cerdas berpolitik 
dan mempermalukan elite politik dengan banyaknya elite politik terancam masuk 
bui karena aksi KPK. Pesta usai.

Dulu Ahok dijadikan pintu gerbang menjatuhkan Jokowi dengan alasan menistakan 
agama. Dan dari keadaan ini Jokowi berhasil keluar dengan selamat. Dan kini 
PERPPU pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk menjatuhkannya karena 
dibilang anti demokrasi dan anti Islam. Padahal tidak ada ada dalam PERPPU itu 
yang menyebut Islam atau ormas tertentu. Namun oleh para gangster mafia 
meng-create semua kegaduhan ini agar pesta kekuasaan kembali marak. Dan karena 
itu emosi agama kembali dibenturkan. Andaikan PERPPU itu ditolak DPR maka 
tahulah kita bahwa agenda menjatuhkan Jokowi memang datang dari segala penjuru 
mata angin. Apakah jokowi akan jatuh? Tuhanlah yang berhak menentukan siapa 
yang pantas berkuasa dan setiap orang yang berkuasa adalah cobaan bagi rakyat. 

Usia saya lebih dari 50 tahun. Saya generasi yang gagal karena tak bisa berbuat 
banyak menghentikan Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY yang membakar 
uang ribuan triliun. Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha setiap hari 
berbuat kebaikan agar negara ini lebih baik.  lewat tulisan, lewat interaksi 
dengan teman- teman politisi dan aktifis , saya berusaha menyampaikan pesan 
moral bahwa bukan sistem yang jadi masalah tapi akhlak kita yang buruk. Mari 
perbaiki moral dan sudahilah niat mengubah sistem agar impian makmur jadi 
kenyataan. Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja maka rahmat Tuhan akan 
datang by the time. Mari kita bersama sama menjadi kekuatan moral menghadang 
semua niat mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan agama budaya atau 
apalah. Kita membela Jokowi bukan bertujuan politik tapi demi moral. Jadilah 
gerakan moral, mendukung orang baik agar berprestasi baik.

SEMOGA BERMANFAAT DAN MENAMBAH ILMU SERTA WAWASAN KITA BERSAMA.....
Verstuurd vanaf mijn iPad  #yiv6896175948 #yiv6896175948 -- 
#yiv6896175948ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp #yiv6896175948hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp #yiv6896175948ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp .yiv6896175948ad 
{padding:0 0;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp .yiv6896175948ad p 
{margin:0;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mkp .yiv6896175948ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-sponsor 
#yiv6896175948ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-sponsor #yiv6896175948ygrp-lc #yiv6896175948hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-sponsor #yiv6896175948ygrp-lc .yiv6896175948ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6896175948 #yiv6896175948actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6896175948
 #yiv6896175948activity span {font-weight:700;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv6896175948 #yiv6896175948activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6896175948 #yiv6896175948activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv6896175948 #yiv6896175948activity span 
.yiv6896175948underline {text-decoration:underline;}#yiv6896175948 
.yiv6896175948attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv6896175948 .yiv6896175948attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv6896175948 .yiv6896175948attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6896175948 .yiv6896175948attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6896175948 .yiv6896175948attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv6896175948 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv6896175948 .yiv6896175948bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6896175948 
.yiv6896175948bold a {text-decoration:none;}#yiv6896175948 dd.yiv6896175948last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6896175948 dd.yiv6896175948last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6896175948 
dd.yiv6896175948last p span.yiv6896175948yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv6896175948 div.yiv6896175948attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv6896175948 div.yiv6896175948attach-table 
{width:400px;}#yiv6896175948 div.yiv6896175948file-title a, #yiv6896175948 
div.yiv6896175948file-title a:active, #yiv6896175948 
div.yiv6896175948file-title a:hover, #yiv6896175948 div.yiv6896175948file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6896175948 div.yiv6896175948photo-title a, 
#yiv6896175948 div.yiv6896175948photo-title a:active, #yiv6896175948 
div.yiv6896175948photo-title a:hover, #yiv6896175948 
div.yiv6896175948photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6896175948 
div#yiv6896175948ygrp-mlmsg #yiv6896175948ygrp-msg p a 
span.yiv6896175948yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6896175948 
.yiv6896175948green {color:#628c2a;}#yiv6896175948 .yiv6896175948MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv6896175948 o {font-size:0;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948photos div {float:left;width:72px;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6896175948
 #yiv6896175948reco-category {font-size:77%;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948reco-desc {font-size:77%;}#yiv6896175948 .yiv6896175948replbq 
{margin:4px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-mlmsg select, #yiv6896175948 input, #yiv6896175948 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-mlmsg pre, #yiv6896175948 code {font:115% 
monospace;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-mlmsg #yiv6896175948logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-msg 
p#yiv6896175948attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-reco #yiv6896175948reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-sponsor 
#yiv6896175948ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-sponsor #yiv6896175948ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-sponsor #yiv6896175948ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv6896175948 #yiv6896175948ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6896175948 
#yiv6896175948ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv6896175948 

   

Kirim email ke