Tanpa menentang didirikannya patung Raden Wijaya di Tuban bahkan di alun2 
sekalipun, saya rasa sekalipun patung Raden Wijaya mempunyai peluang besar 
untuk diprotes, didemo, dan dihancurkan. Dari berita pembakaran patung Arjuna 
di Purwokerto tahun lalu terbetik sebuah alasan kenapa patung2 dihancurkan:
kutipan berita:Alasan yang muncul manakala para pelaku menghancurkan 
patung-patung itu adalah karena keberadaannya tidak merepresentasikan keislaman 
dan menyamakannya sebagai tindakan musyrik.
http://regional.kompas.com/read/2016/02/11/11235841/Giliran.Patung.Arjuna.Memanah.yang.Dibakar.

ini foto patung Arjuna yg dibakar itu:

Jangankan patung Kwan Kong, patung Amitaba Budha uga diprotes dan diturunkan, 
gambar dibawah waktu diturunkan:





---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

Sesuai dengan catatan sejarah agresinya dimulai dan diakhiri di situ.




Am Mon, 21 Aug 2017 01:51:13 +0200
schrieb "kh djie djiekh@... [GELORA45]"
<[email protected]>:


> Kalau mau dirikan patung Raden Wijaya, mengapa diusulkan di Tuban ?
> Kok bukan di Daha, tempat Raden Wijaya menyerang tiba2 tentara Mongol
> yang sedang mabok, berpesta kemenangan mengalahkan Jayakatwang , dan
> memperoleh kemenangan ?
> Atau mengapa tidak di Trowulan ( perbatasan Mojokerto - Jombang).
> Kerajaannya namanya Mojopahit, dari buah maja yang rasanya pahit.
> Kerto berarti kota. Mojokerto = kota Maja. Apa dari nama Mojokrto dan
> banyaknya
> peninggalan di Trowulan, mestinya paung Raden Wijaya didirikan di
> Trowulan ?
> 
>http://kelasbelajarku.blogspot.nl/2013/10/menelusuri-sejarah-dan-letak-kerajaan.html
> 
> 2017-08-20 3:33 GMT+02:00 'Chan CT' SADAR@... [URECA_SGT] <
> [email protected]>: 
> 
> >
> >
> > Saya sulit memastikan apakah judul tulisan: “Di Tuban Seharusnya
> > Berdiri Patung Raden Widjaja, Bukan Yang Lain!” merupakah jawaban
> > PERTANYAAN diakhir tulisan: *“**Pertanyaannya, bagaimana kita
> > memaknai kehadiran patung Kwan Kong di Tuban, wilayah yang tidak
> > pernah ditaklukan pasukan Cina-Mongol?”* Mengapa?
> >
> > 1. Apa benar kehadiran patung Kwan Kong di Indonesia itu sehubungan
> > dengan invasi tentara Cina-Mongol di Nusantara, sebagai rasa
> > syukur? Sampai dimana kebenarannya, kita serahkan saja pada
> > ahli-ahli sejarah yang menelusuri lebih lanjut. Saya tidak hendak
> > menyangkal begitulah asal mula masuknya patung “Kwan Kong” di
> > Nusantara begitu, tapi adalah kenyataan selanjutnya, yang berlaku
> > umum di Nusantara, khususnya bagi komunitas Tionghoa di Indonesia,
> > tokoh legendaris Dewa “Kwan Kong” ini benar-benar sudah dipuja
> > sebagai salah satu DEWA mereka! Disamping dipuja sebagai DEWA
> > KESETIAAN dan KEJUJURAN, Guan Yu juga dipuja sebagai Dewa Pelindung
> > Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung rakyat
> > dari malapetaka peperangan yang mengerikan.
> >
> > Menurut saya, kenyataan sejarah yang berlaku umum dalam masyarakat
> > inilah yang nyata terjadi turun-temurun selama lebih 2 ribu tahunan
> > terakhir ini, sekali lagi, khususnya juga bagi Tionghoa yang hidup
> > di Nusantara ini. Yang menarik seharusnya menjadi perhatian,
> > kenyataan DEWA Kwan Kong bisa dipuja oleh Taoisme, Konfusianisme
> > dan juga Bhudisme! Kaum Taoist memujanya sebagai Dewa pelindung
> > dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusiius menghormati
> > sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum Buddhist memujanya sebagai Hu
> > Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma. Dan harus diakui pemujaan
> > Dewa Kwan Kong sudah nmenjadi salah satu adat-budaya Tionghoa yang
> > masih dipertahankan oleh banyak komunitas Tionghoa di Nusantara
> > ini! Dan untuk mewujudkan pujaan pada Dewa Kwan Kong, mereka urunan
> > dibawah klenteng Kwan Sing Bio di Tuban untuk membangun patung Kwan
> > Kong dihalaman klenteng Kwan Sing Biao itu! Dan mereka menyatakan
> > mendirikan patung Kwan Kong murni masalah Agama Konghuchu yang
> > mereka yakini, ...! Tidak ada kaitan dengan politik!
> >
> > 2. Seandainya saja benar seperti dinyatakan penulis, Teguh
> > Setiawan, dalam penelitian sejarah yang justru pernah terjadi di
> > Tuban , Rakyat Indonesia dibawah Raden Wijaya melawan dan
> > mengalahkan invasi tentara Cina-Mongol, agar KEBESARAN,
> > KEPAHLAWANAN dan keheibatan Raden Wijaya TIDAK TERLUPAKAN anak
> > bangsa, pemerintah sudah seharusnya juga mendirikan PATUNG Raden
> > Wijaya di Tuban bahkan tegakkan patung Raden Wijaya itu ditempat
> > strategis dan lebih megah, lebih tinggi dari patung Kwan Kong yang
> > sudah beridiri itu, ...!
> >
> > 3. Apa salahnya patung Kwan Kong di Tuban yang dikatakan tertinggi
> > di Asia-Tenggara didampingi oleh patung Raden Wijaya yang lebih
> > megah, lebih perkasa dan loebih tinggi? TIDAK SALAH!!! Bukankah
> > ke-2 patung itu saling melengkapi! Yang jelas kedua patung itu
> > melambangkan jiwa POSITIP sekalipun berbeda, Kwan Kong yang
> > didewakan menjadi lambangkan KESETIAAN dan KEJUJURAN, Dewa
> > Pelindung RAKYAT dari malapetaka perang yang mengerikan, ... tentu
> > akan menjadi LENGKAP kalau dipadu dengan jiwa PATRIOTISME Raden
> > Wijaya yang TEGUH membela tanahairnya dari serangan asing itu
> > dengan gagah-perkasa, ... Agar kehadiran 2 patung raksasa ini,
> > benar-benar menjadi lambang jiwa besar Kwan Kong dan Raden Wijaya
> > bisa menjadi teladan baik setiap anak bangsa di negeri ini! Menjadi
> > lambang keBHINEKA TUNGGAL-IKA, menjiwai prinsip kebersamaan dengan
> > toleransi tinggi, bisa menerima dan menghormati segala perbedaan
> > yang nyata ada dalam masyarakat majemuk ini, untuk bersama-sama
> > bekerja dan berjuang membela TANAHAIR dengan semangat jiwa
> > KESETIAAN dan KEJUJURAN, ...!
> >
> > Tuntutannya bukan merusak, merobohkan yang sudah TEGAK BERDIRI, tapi
> > melengkapi untuk maju bersama lebih baik, lebih kokoh dalam usaha
> > mencapai TUJUAN BERSAMA, KEMENANGAN BERSAMA, ... dalam membangun
> > satu masyarakat adil dan makmur!
> >
> >
> > Salam,
> > ChanCT
> >
> >
> >
> > *From:* Sunny ambon ilmesengero@... [GELORA45]
> > *Sent:* Sunday, August 20, 2017 12:03 AM
> > *To:* Gelora 45 ; Yahoo! Inc.
> > *Subject:* [GELORA45] Di Tuban Seharusnya Berdiri Patung Raden
> > Wijaya, Bukan Yang Lain
> >
> >
> >
> >
> >
> > https://www.eramuslim.com/berita/nasional/di-tuban-
> > seharusnya-berdiri-patung-raden-wijaya-bukan-yang-lain.htm#.WZhcQtFLd2E
> >
> >
> >
> >
> > Di Tuban Seharusnya Berdiri Patung Raden Wijaya, Bukan Yang Lain!
> >
> > 5
> > <https://www.eramuslim.com/berita/nasional/di-tuban-seharusnya-berdiri-patung-raden-wijaya-bukan-yang-lain.htm#>
> >
> > Redaksi – Sabtu, 27 Zulqa'dah 1438 H / 19 Agustus 2017 16:00 WIB
> >
> >
> > Eramuslim.com – Pagi ini saya mendapat WA dari Ibrahim Ajie, yang
> > menanyakan pendapat saya soal kehadiran patung Kwan Kong, atau Dewa
> > Perang dalam kepercayaan Tao, di Tuban. Saya tidak langsung
> > menjawab, tapi bertanya-tanya bukankah yang biasa bertanya soal ini
> > adalah Muhammad Subarkah.
> >
> > Akhirnya saya jawab saja. Dulu, di era Dinasti Yuan, tentara
> > Cina-Mongol — saat itu daratan Cina dikuasai Mongol — kerap membawa
> > patung Kwan Kong ke wilayah yang diinvasi. Mereka mendirikan kuil
> > di wilayah taklukan, dan meletakan patung Kwan Kong di dalamnya,
> > sebagai rasa syukur.
> >
> > Saat menyerang Jepang, Pulau Jawa, dan Vietnam, mereka juga membawa
> > patung Kwan Kong. Namun, mereka tidak sempat mendirikan kuil untuk
> > Kwan Kong.
> >
> > Di Jepang, dua serangan Cina-Mongol digagalkan topan Kamikaze. Di
> > Vietnam, tiga kali invasi Cina-Mongol digagalkan Jendral Tran Hung
> > Dao. Di Jawa, tepatnya di Tuban, bala tentara Jawa menghalau
> > serangan Cina-Mongol.
> >
> >
> >
> > Orang Jepang mengabadikan kamikaze untuk banyak hal, sebagai wujud
> > terima kasih kepada peristiwa alam yang melindungi mereka dari
> > serangan Cina-Mongol. Salah satunya menjadi nama operasi serangan
> > bunuh diri saat Jepang menghadapi AS di Perang Pasifik.
> >
> > Di Ho Chi Minh City, patung Tran Hung Dao berdiri gagah — dengan
> > tangan menunjuk ke bawah dan dagu lurus — menghadap ke daratan
> > Cina. Jenderal Tran adalah ‘dewa perang’ Vietnam. Ia menginspirasi
> > rakyat Vietnam untuk melawan Prancis dan memerdekakan diri, melawan
> > AS untuk menyatukan Vietnam.
> >
> > Di Jawa, figur pemimpin yang mengalahkan pasukan Cina-Mongol seolah
> > terlupa. Tidak ada patung Ronggolawe, Raden Wijaya, atau siapa pun
> > yang terlibat dalam pengusiran pasukan Cina-Mongol.
> >
> > Sejarah serangan Cina-Mongol ke Jawa hanya dinarasikan, menjadi
> > sumber penelitian sarjana sejarah, tapi masyarakat yang mewariskan
> > cerita itu tidak pernah mengenal sosok pahlawan yang dibadikan.
> > Terjadi ‘kekosongan’ sejarah, yang coba diisi oleh orang lain.
> >
> > Kekalahan di Tuban, seperti kegagalan invasi ke Vietnam, adalah
> > peristiwa memalukan bagi Cina-Mongol. Anehnya, orang Jawa seakan
> > tidak pernah bangga bahwa mereka pernah mengalahkan satu kekuatan
> > besar.
> >
> > *Pertanyaannya, bagaimana kita memaknai kehadiran patung Kwan Kong
> > di Tuban, wilayah yang tidak pernah ditaklukan pasukan
> > Cina-Mongol?* [kl/rol]
> >
> > Oleh: Teguh Setiawan, mantan jurnalis Republika dan peminat kajian
> > budaya China di Indonesia
> >
> > 
> >

Kirim email ke