REFLEKSI : Dialam suatu masyarakat yang masih kental diwarnai oleh budaya KKN, dan yang didominasi oleh kekuatan Oligarki Ekonomi,seperti keadaan di Indonesia seperti sekarang ini, maka setiap ucapan dari para birokrat pendukung rezim Neolibearal Jokowi, selalau didasarkan pada upaya untuk tetap melanggengkan kekuasaan neoliberal, yang sangat menggantungkan kehidupannya pada pemompaan (utang luar negeri), yang dilakukan oleh kaum kapitalisme yang sudah menggelobal yaitu kaum Neoliberal. Dalam konteks ini omongan Luhut hanya berkapasitet untuk menyenang-nyenangkan Jokowi, dan untuk membodoh-bodoho rayat. Jadsi jangan dilebih-lebihkan.
Roeslan. Von: [email protected] [mailto:[email protected]] Gesendet: Montag, 21. August 2017 13:09 An: Yahoo! Inc.; Jaringan Kerja Indonesia; Yahoo! Inc.; DISKUSI FORUM HLD; Gelora 45; Yahoo! Inc.; LISI; Ib Gerpindo Cc: Md Kartaprawira Betreff: [nasional-list] Fw: Luhut ungkap keengganan putra Presiden Jokowi terlibat proyek pemerintah Luhut ungkap keengganan putra Presiden Jokowi terlibat proyek pemerintah Senin, 21 Agustus 2017 15:46 WIB | 913 Views Pewarta: Yashinta Difa Luhut ungkap keengganan putra Presiden Jokowi terlibat proyek pemerintah <http://img.antaranews.com/new/2017/04/ori/20170406antarafoto-sosialisasi-kebijakan-kelautan-indonesia-050417-maritim-2.jpg> Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso) ...kita mau cari manusia seperti apa lagi? Presiden kita ini sudah berani, tegas, dan mau mendengar terhadap berbagai masukan Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap keengganan putra pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, untuk terlibat dalam proyek-proyek pemerintah. Pada Ramadan lalu, Luhut yang hadir dalam acara buka puasa dengan Presiden, mengaku sempat bertemu Gibran dan menawarinya membantu suplai makanan katering untuk proyek-proyek penambangan dan pengolahan minyak lepas pantai. "Oh tidak makasih om, saya tidak mau berbisnis dengan pemerintah," ujar Luhut menirukan ucapan Gibran saat menjadi pembicara dalam Pertemuan Diaspora Indonesia ke-4 (IDN-4 Global Summit) di Jakarta, Senin. Alih-alih tertarik dengan tawaran Luhut, Gibran justru menceritakan bisnis kulinernya yang semakin berkembang, termasuk Martabak Kota Barat (Markobar) yang telah memiliki 21 gerai di 13 kota besar Tanah Air. Bahkan Presiden Jokowi menceritakan bahwa Gibran sudah menolak tawaran-tawaran katering untuk acara pemerintah sejak dirinya masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Pengakuan tersebut, menurut Luhut, menunjukkan bahwa Presiden Jokowi dan keluarganya terbiasa hidup jujur, bersih, dan sederhana. Saat menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM selama dua bulan, Luhut juga mengatakan tidak melihat sedikit pun keterlibatan Presiden Jokowi ataupun keluarganya dalam proyek-proyek energi dan sumber daya mineral. "Jadi kita mau cari manusia seperti apa lagi? Presiden kita ini sudah berani, tegas, dan mau mendengar terhadap berbagai masukan. Dia juga berani memutuskan sesuatu dan bertanggungjawab atas keputusannya," ujar Menko Luhut. Prinsip transparansi, profesionalitas, dan kerja keras itulah yang menurut Luhut membawa perubahan bagi Indonesia semenjak pemerintahan Jokowi. Bukan hanya pemerataan pembangunan di berbagai daerah di Tanah Air dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat hingga lebih dari lima persen, tetapi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah juga semakin bertambah. "Negeri ini kaya, dengan mekanisme pemerintahan yang semakin baik dan aset luar biasa termasuk dari diaspora Indonesia, saya yakin sinergi ini akan membantu Indonesia berkembang lebih baik lagi," tutur Luhut. Editor: AA Ariwibowo COPYRIGHT © ANTARA 2017
