Berutang Demi Beli Divestasi Saham Freeport?


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Berutang Demi Beli Divestasi Saham Freeport?
 By metrotvnews developer Kementerian BUMN akan menggunakan segala cara untuk 
dapat membeli saham yang dilepas oleh PT Freeport Indonesia ...  |   |

  |

  |

 

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 05 Sep 2017 12:35 WIBfreeportEkonomi  Energi 
  
   - TWITTER
   - FACEBOOK
   - GOOGLE+
Ilustrasi tambang Freeport. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)Metrotvnews.com, 
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan menggunakan segala 
cara untuk dapat membeli saham yang dilepas oleh PT Freeport Indonesia sebesar 
51 persen meskipun harus berutang.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian 
BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan, penerbitan obligasi dan melakukan 
pinjaman akan dilakukan jika pendanaan dari holding pertambangan tidak cukup 
untuk membeli saham Freeport Indonesia.BACA JUGA   
   - Menteri Jonan: Divestasi Freeport Simbol Kedaulatan Negara
   - Konsorsium BUMN Bakal Beli Divestasi Freeport
   - Jokowi soal Freeport: Kalau enggak Ngotot Dapat 9 Persen Lagi
   - Brandconnect3 Langkah Mendapatkan Wajah Tampak Awet Muda
"Kan skemanya sudah jelas, ada pinjaman, ada obligasi, dan macam-macam," kata 
Fajar saat ditemui di Komplek Parlementer Senayan, Jakarta, seperti diberitakan 
Selasa 5 September 2017.

Holding BUMN pertambangan terdiri dari perusahaan tambang nasional, yakni PT 
Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Indonesia Asahan 
Aluminium.

Berdasarkan informasi laporan keuangan perusahaan BUMN holding tambang yang 
dirangkum Metrotvnews.com, pada kuartal II-2017 tercatat total aset dari PT 
Aneka Tambang sebesar Rp30,2 triliun dengan porsi liabilitas sebesar dan 
ekuitas masing-masing Rp12,3 triliun dan Rp17,8 triliun. Lalu, total aset PT 
Bukit Asam di kuartal II-2017 sebesar Rp18,6 triliun terdiri dari porsi 
liabilitas sebesar Rp6,6 triliun dan ekuitas sebesar Rp11,9 triliun.

Sementara, pada kuartal II-2017, Timah mencatat total aset sebesar Rp10,1 
triliun terdiri dari porsi liabilitas Rp4,4 triliun dan ekuitas Rp5,6 triliun. 
Kemudian, total aset PT Inalum sebesar Rp21,2 triliun setelah melakukan 
revaluasi aset pada awal tahun.

Jika dijumlahkan, jumlah aset perusahaan holding BUMN tambang sekitar Rp80,1 
triliun. Jumlah ini masih kecil dibandingkan dengan harga saham yang akan 
ditawarkan oleh Freeport Indonesia.




Tahun lalu, Freeport menawarkan saham 10,64 persen seharga USD1,7 miliar. Harga 
tersebut dinilai sangat mahal. Pasalnya, melalui perhitungan pemerintah yang 
mengacu pada replacement cost atau biaya penggantian atas kumulatif investasi 
yang dikeluarkan sejak tahap eksplorasi sampai tahun kewajiban divestasi hanya 
USD630 juta.

Lantas, jika di 2016 saja Freeport Indonesia menawarkan 10,64 persen sahamnya 
seharga USD1,7 miliar. Artinya, taksiran harga untuk harga 51 persen saham bisa 
sekitar USD8,8 miliar.

Oleh karena itu, jika pendanaan pembeliaan saham PT Freeport Indonesia masih 
kurang, maka BUMN akan melibatkan perbankan untuk melakukan pinjaman dana. 
Namun saat dikonfirmasi apakah melakukan pinjaman dari luar negeri atau tidak, 
Fajar tidak mengelak. Justru ia menuturkan pembelian saham Freeport akan mirip 
dengan PT Newmont Nusa Tenggara yang saat ini PT Amman Mineral Nusa Tenggara.

"Enggak ada (pinjaman luar negeri). Iya (libatkan perbankan) seperti Newmont," 
ucap Fajar.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan akan mengupayakan mencari 
dana untuk dapat membeli saham Freeport Indonesia langsung 51 persen.

"Kita cari pendanaan banyak dari mana-mana," ucap Rini beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, dalam menghitung divestasi saham Freeport Indonesia, 
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menekankan agar tidak 
memasukan cadangan emas dan tembaga yang terkandung didalamnya.

Sementara, pihak Freeport Indonesia menghitung cadangan saat penandatangan 
Kontrak Karya (KK) di 1991 yang ditaksir mencapai 3,8 miliar ton. Sampai 
kontrak berakhir pada 2021, perusahaan mengklaim hanya bisa mengeruk emas dan 
tembaga di Grasberg sekitar 1,7 miliar ton. Jadi sisa cadangan emas dan tembaga 
hingga 2041 masih mencapai 2,1 miliar ton.

 


(AHL)

Kirim email ke