Kemiskinan Jadi Masalah Serius di Jakarta


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Kemiskinan Jadi Masalah Serius di Jakarta - VIVA.co.id
 By PT. VIVA MEDIA BARU - VIVA.co.id Banyak pekerja di sektor formal dibayar di 
bawah UMP.  |   |

  |

  |

 


Ririn Aprilia
Jumat, 15 September 2017 | 00:00 WIB


Ilustrasi Kawasan di Meikarta /Istimewa

VIVA.co.id – Berbicara tentang keamanan, lebih baik jangan sebut Jakarta. 
Kejahatan di kota ini makin merajalela dan sudah menjadi perbincangan 
internasional. Tahun lalu, survei oleh Economist Intelligence Unit (EIU) bahkan 
menempatkan Jakarta sebagai kota paling berbahaya di Asia.Fakta ini seiring 
dengan kenyataan hidup yang makin pahit di ibukota Indonesia ini. Orang miskin 
harus siap lebih menderita.
Kalau miskin jangan tinggal di Jakarta. Anda akan makin menderita meski upah 
naik setiap tahun. Di kota ini biaya hidup sering melejit lebih cepat ketimbang 
daya beli warganya. Jadi jangan heran bila kaum miskin hidup dalam lingkaran 
setan dan tiada berujung.Tahun ini tampaknya mereka lebih menderita meski upah 
minimum provinsi (UMP) dipatok Rp3.350.000 per bulan, naik dari Rp3.100.000 
dari tahun lalu. Survei oleh Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPSI) dan 
Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik, dan Mesin (FSP LEM) menemukan bahwa 
kebutuhan hidup layak (KHL) di Jakarta adalah Rp3.831.690.Lebih memprihatinkan 
adalah kenyataan bahwa banyak pekerja di sektor formal juga dibayar di bawah 
UMP. Lihat saja, banyak pelayan toko di pusat-pusat perbelanjaan mewah dibayar 
di bawah UMP. Penderitaan yang sama juga dialami oleh kebanyakan pekerja di 
perusahaan berskala kecil.Hanya saja mereka-mereka memilih diam meski menderita 
karena takut kehilangan pekerjaan.
Bagi mereka yang bekerja di sektor informal alias kaki lima jelas lebih 
mengenaskan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dapat bayaran setengah dari UMP 
saja sudah beruntung. Runyamnya lagi, jumlah mereka makin banyak karena 
keterbatasan daya tampung sektor formal.Kenyataan ini membuat kaum miskin rawan 
terhadap penyakit. Maklum, mereka makan dengan prinsip asal kenyang. Soal gizi, 
kebersihan, dan racun urusan belakang. Mereka juga terpaksa tinggal di rumah 
dan lingkungan yang sarat dengan polusi. Mereka sadar bahwa lingkungan tempat 
tinggal dan bekerja mereka dikepung oleh polusi air, tanah, dan udara yang jauh 
di atas ambang batas normal.Sungguh makin mengenaskan bila dikaitkan dengan 
kenyataan bahwa sektor kaki lima tak pernah tergoyahkan oleh bermunculannya 
gedung-gedung pencakar langit, pusat belanja mewah, dan kawasan industri 
modern. Sampai sekarang 60 persen pekerja di Jakarta bekerja di sektor ini 
tanpa tahu kapan bisa bernasib lebih baik.Masalah ketenagakerjaan di Jakarta 
pada dasarnya sama dengan yang terjadi di tingkat nasional.Sebagian besar 
pekerja terperangkap dalam kemiskinan. Menurut Badan Pusat statistik, sampai 
Februari lalu sekitar 58,35 persen tenaga kerja, bekerja di sektor 
informal.Puncak Gunung Es
Jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan, menurut BPS sampai Maret lalu, 
berjumlah 27,77 juta jiwa dari total jumlah 261 juta penduduk Indonesia. Di 
Jakarta saja, jumlah mereka tercatat 380 ribu jiwa dari 10,1 juta 
penduduk.Hanya saja kalau dikaitkan KHL, jumlah kaum miskin di Jakarta seperti 
puncak gunung es. Garis kemiskinan yang dipakai oleh BPS adalah penghasilan 
kurang dari Rp11.000 per hari, sementara KHL adalah Rp126.000. Maka, jumlah 
sesungguhnya kaum miskin di Jakarta adalah sekitar 4.000.000 orang.Fakta di 
atas menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan masalah sangat serius di Jakarta 
karena hampir separuh penduduknya berpenghasilan di bawah standar hidup layak. 
Bila tak cepat teratasi, seluruh penduduk Jakarta bakal makin menderita karena 
kualitas hidup memburuk dan kriminalitas makin mengerikan.Maka tak perlu kaget 
bila suatu saat nanti Jakarta menjadi kota paling berbahaya di dunia, dan 
menjadi kota gagal. (webtorial)

Kirim email ke