http://www.viva.co.id/berita/nasional/955484-kemiskinan-jadi-masalah-serius-di-jakarta
Kemiskinan Jadi Masalah Serius di Jakarta
Jumat, 15 September 2017 | 00:00 WIB
*VIVA.co.id <http://VIVA.co.id>* – Berbicara tentang keamanan, lebih
baik jangan sebut Jakarta. Kejahatan di kota ini makin
merajalela dan sudah
menjadi perbincangan internasional. Tahun lalu, survei oleh Economist
Intelligence Unit (EIU) bahkan menempatkan Jakarta sebagai kota paling
berbahaya di Asia.
Fakta ini seiring dengan kenyataan hidup yang makin pahit di ibukota
Indonesia ini. Orang miskin harus siap lebih menderita.
Kalau miskin jangan tinggal di Jakarta. Anda akan makin menderita meski
upah naik setiap tahun. Di kota ini biaya hidup sering melejit
lebih cepat
ketimbang daya beli warganya. Jadi jangan heran bila kaum miskin hidup
dalam lingkaran setan dan tiada berujung.
Tahun ini tampaknya mereka lebih menderita meski upah minimum
provinsi (UMP) dipatok Rp3.350.000 per bulan, naik dari Rp3.100.000 dari
tahun lalu. Survei oleh Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPSI) dan
Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronik, dan Mesin (FSP LEM) menemukan
bahwa kebutuhan hidup layak (KHL) di Jakarta adalah Rp3.831.690.
Lebih memprihatinkan adalah kenyataan bahwa banyak pekerja di sektor
formal juga dibayar di bawah UMP. Lihat saja, banyak pelayan toko di
pusat-pusat perbelanjaan mewah dibayar di bawah UMP. Penderitaan
yang sama
juga dialami oleh kebanyakan pekerja di perusahaan berskala kecil.
Hanya saja mereka-mereka memilih diam meski menderita karena takut
kehilangan pekerjaan.
Bagi mereka yang bekerja di sektor informal alias kaki lima jelas
lebih mengenaskan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dapat
bayaran setengah
dari UMP saja sudah beruntung. Runyamnya lagi, jumlah mereka makin banyak
karena keterbatasan daya tampung sektor formal.
Kenyataan ini membuat kaum miskin rawan terhadap penyakit. Maklum,
mereka makan dengan prinsip asal kenyang. Soal gizi, kebersihan,
dan racun
urusan belakang. Mereka juga terpaksa tinggal di rumah dan
lingkungan yang
sarat dengan polusi. Mereka sadar bahwa lingkungan tempat tinggal dan
bekerja mereka dikepung oleh polusi air, tanah, dan udara yang
jauh di atas
ambang batas normal.
Sungguh makin mengenaskan bila dikaitkan dengan kenyataan bahwa
sektor kaki lima tak pernah tergoyahkan oleh bermunculannya gedung-gedung
pencakar langit, pusat belanja mewah, dan kawasan industri modern. Sampai
sekarang 60 persen pekerja di Jakarta bekerja di sektor ini tanpa tahu
kapan bisa bernasib lebih baik.
Masalah ketenagakerjaan di Jakarta pada dasarnya sama dengan yang
terjadi di tingkat nasional.
Sebagian besar pekerja terperangkap dalam kemiskinan. Menurut Badan
Pusat statistik, sampai Februari lalu sekitar 58,35 persen tenaga kerja,
bekerja di sektor informal.
*Puncak Gunung Es*
Jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan, menurut BPS sampai Maret
lalu, berjumlah 27,77 juta jiwa dari total jumlah 261 juta penduduk
Indonesia. Di Jakarta saja, jumlah mereka tercatat 380 ribu jiwa
dari 10,1
juta penduduk.
Hanya saja kalau dikaitkan KHL, jumlah kaum miskin di Jakarta seperti
puncak gunung es. Garis kemiskinan yang dipakai oleh BPS adalah
penghasilan
kurang dari Rp11.000 per hari, sementara KHL adalah Rp126.000.
Maka, jumlah
sesungguhnya kaum miskin di Jakarta adalah sekitar 4.000.000 orang.
Fakta di atas menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan masalah sangat
serius di Jakarta karena hampir separuh penduduknya
berpenghasilan di bawah
standar hidup layak. Bila tak cepat teratasi, seluruh penduduk Jakarta
bakal makin menderita karena kualitas hidup memburuk dan
kriminalitas makin
mengerikan.
Maka tak perlu kaget bila suatu saat nanti Jakarta menjadi kota
paling berbahaya di dunia, dan menjadi kota gagal. (webtorial)