Pertempuran di Surabaya itu terjadi dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bukan urusan orang-orang beragama Islam atau tidak. Itu adalah peristiwa sejarah yang menyangkut persatuan dan kegiatan seluruh lapisan rakyat Indonesia. Rupanya pengetahuan sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia sang jendral ini terlalu terbatas sekali.
Mengenai kematian Jendral Mallaby yah tentu saja bukan jasanya TNI karena TNI belum lahir. Nah menurut catatan sejarah mengenai kematian Jenderal Mallaby sampai sekarang ada tiga versi sbb.: << Brigadir Jenderal Mallaby Tertembak Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tertembak mati ketika baru keluar dari mobilnya menuju masuk ke gedung Internatio, salah satu markas dari tentara Sekutu. Tentang siapa yang menembaknya sampai sekarang masih tetap merupakan tandatanya. Mengenai hal ini ada tiga versi, yaitu: Versi pertama, menurut keterangan dan kesaksian Muhammad (lh. Kronik Revolusi Indonesia Jilid I, hlm 107, Kepustakaan Gramedia 1999) seorang wakil dari Kontak Biro yang waktu itu berada di dalam gedung Internatio, yang terletak di dekat Jembatan Merah. Pada saat itu memang sedang terjadi tembak-menembak antara pihak Sekutu yang berada di dalam gedung Internatio dan pihak pemuda yang berada di luar gedung Internatio. Tentara Sekutu melancarkan tembakannya lewat jendela-jendela gedung Internatio. Para pemuda membalasnya dari luar gedung Internatio. Setelah Brigjen Mallaby tertembak mati, pihak Sekutu menuduh bahwa para pemudalah yang menembaknya. Versi kedua, sebaliknya dari pihak pemuda menuduh bahwa Brigjen Mallaby justru tertembak oleh gencaran tembakan tentara Sekutu sendiri. Versi ketiga, menurut analisa Greg Poulgrain, Ph.D., Brigjen Mallaby memang sengaja dibunuh sendiri oleh pihak Sekutu dengan tujuan untuk dijadikan sebagai tuduhan provokatif, bahwa para pemudalah yang menembaknya. Dengan demikian bisa dijadikan dalih oleh pihak Sekutu untuk mengadakan tindakan serangan “punishment” - “hukuman” - terhadap pemuda-pemuda di kota Surabaya. >> Catatan sejarah ini bisa dibaca dari buku Revolusi Agustus 1945, hlm. 49-50, Pen.Hasta Mitra Jkt,th.2008 yang dituturkan oleh Pak Soemarsono, salah seorang Saksi Sejarah yang menjadi salah seorang pimpinan langsung dalam Pertempuran di Surabaya pada bulan November 1945 ketika itu dan yang langsung mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk menghormati dan mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran itu dan menjadikan tanggal 10 November 1945 itu sebagai Hari Pahlawan. Am Thu, 21 Sep 2017 10:34:08 +0200 schrieb "Sunny ambon [email protected] [nasional-list]" <[email protected]>: > *Diperlukan lebih banyak santri dan oleh sebab itu anggaran belanja > untuk kementrian Agama dibuat dua kali lebih besar dari Kementrian > Agraria*. > > > http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23616/-Panglima-TNI-Yang-Bunuh-Jendera-Mallaby-bukan-TNI-tapi-Santri > > > > Panglima TNI: Yang Bunuh Jendera Mallaby bukan TNI, tapi Santri > > 19 September 10:03 | Dilihat : [email protected], > "[email protected]" <[email protected]> > > [image: Panglima TNI: Yang Bunuh Jendera Mallaby bukan TNI, tapi > Santri] Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto berziarah ke makam KH > Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng, Jombang. > > *Jakarta (SI Online) -* Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto > kembali melakukan rangkaian peringatan HUT TNI ke-72 dengan melakukan > ziarah ke makam pahlawan. Menurut Gatot, tradisi ziarah dimaksudkan > untuk mengingatkan para prajurit, agar mencontoh jiwa juang yang > diwariskan oleh para pahlawan. > > "Kami mentradisikan ziarah ke makam para mantan presiden Republik > Indonesia yang merupakan Panglima Tertinggi > [email protected], "[email protected]" > <[email protected]>I dan juga Jenderal Soedirman. Kita > juga berdoa agar beliau semua menjadi pahlawan dan syuhada," ujar > Jenderal Gatot dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/9) pagi > seperti dilansir *Republika.co.id <http://Republika.co.id>. * > > Didampingi seluruh Panglima Komando Utama (Pangkotama), Gatot > berziarah ke makam Ir Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Blitar, dan > KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, Jombang, pada > Senin (18/9). Selain ke makam Gus Dur, ia juga mengingatkan santri > bahwa di Pesantren Tebuireng juga ada makam KH Hasyim Asy'ari yang > sangat berjasa kepada Indonesia. > > "Saat mendapatkan informasi bahwa sekutu akan mendarat di Surabaya, > Pak Dirman melapor kepada Bung Karno dan meminta solusi kepada Kiai > Hasyim. Kiai Hasyim tidak langsung menjawab, tapi beliau shalat > istikharah dulu. Lalu ditetapkanlah fatwa (Resolusi) Jihad," cerita > mantan Pangkostrad itu tentang jasa KH Hasyim > > Kemudian, Jenderal Gatot melanjutkan ceritanya, semua alumni Pesantren > Tebuireng yang sudah menyebar di berbagai daerah dan berjumlah > sekitar 20 ribuan orang, datang lagi dan berkumpul untuk bersama-sama > melakukan perlawanan terhadap sekutu. Perlawanan rakyat yang dipimpin > oleh Kyai Abbas dari Buntet, Jawa Barat, atas perintah Kyai Hasyim, > berlangsung pada 10 November 1945 dan dikenal sebagai Hari Pahlawan. > > "Seharusnya serangan dilakukan pada 9 November. Tapi Kyai Hasyim > meminta semuanya menunggu kedatangan Singa dari Jawa Barat (julukan > untuk Kyai Abbas)," tutur pria kelahiran 1960 ini. Dari cerita ini > tentu bisa dilihat, jasa kaum santri dan kiai dalam perjuangan > kemerdekaan sangatlah besar. > > "Sebagai Panglima TNI, saya ingatkan, yang membunuh Jenderal Mallaby > bukan TNI. Yang membunuh (Mallaby) itu santri. Yang menurunkan > bendera (Belanda) di Hotel Orange juga santri, bukan TNI," ujar > mantan kepala staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu. > > Karena itu, menurut Gatot, tema HUT ke-72 TNI kali ini adalah 'Bersama > Rakyat, TNI Kuat', karena memang sejarahnya rakyat ikut mengerjakan > tugas TNI. Tradisi ziarah ini sudah memasuki tahun ke-2 yang dijalani > Jenderal Gatot setiap kali peringatan HUT TNI. Dalam kunjungan ziarah > tersebut, Jenderal Gatot didampingi oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo > dan Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab. > > Kehadiran Panglima TNI dan seluruh jajaran Pangkotama disambut oleh > Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz dan Ketua > Majelis Keluarga Tebuireng KH. Mohammad Hasyim Karim. Tampak hadir > juga adik kandung mendiang Gus Dur Hj. Lily Wahid dan seluruh > keluarga besar Pesantren Tebuireng.
