G 30 S/PKI - Kisah Anak Jendral Achmad Yani dan Anak DN Aidit yang Sekarang 
Berteman


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
G 30 S/PKI - Kisah Anak Jendral Achmad Yani dan Anak DN Aidit yang Sekarang...
 Mereka mampu duduk semeja, tertawa bersama, berpelukan, dan saling 
menyemangati. Suatu keadaan yang sungguh suli...  |   |

  |

  |

 

Jumat, 22 September 2017 00:06

Rekonstruksi G30S/PKI

TRIBUN-TIMUR.COM - Era Reformasi yang ditandai dengan mundurnya Presiden 
Soeharto pada Mei 1998, membawa angin segar bagi iklim politik di Indonesia. 
Hawa sejuknya berhembus juga di kalangan anak-anak korban konflik masa lalu. 
Sebagai anak manusia yang sudah merasakan pahitnya menjadi korban konflik, 
timbul keinginan untuk berkumpul dan melupakan masa lalu yang kelam.Awalnya 
beberapa anak korban konflik seperti Sarjono Kartosoewirjo (anak tokoh DI/TII 
Kartosoewirjo), Nani Nurachman, dan Agus Widjojo (anak Letjen. Sutojo), dan 
Sugiarto, mulai saling kontak dan menggagas suatu wadah silaturahmi. Belakangan 
disepakati namanya Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Perkumpulan ini 
merangkul keturunan dari pihak yang terlibat konflik-konflik lain seperti 
DI/TII Aceh dan PRRI/Permesta yang berasal dari keluarga militer, serta 
keturunan dari tokoh sipil seperti Syarifuddin Prawiranegara, HOS 
Tjokroaminoto, H Agus Salim, dan Yap Thiam Hien.Dalam ikrar perdamaian di Hotel 
Hilton Jakarta, 5 Maret 2004, FSAB antara lain menyatakan menghargai kesetaraan 
di antara mereka dan terhadap segenap bangsa Indonesia. Sebuah kesetaraan tanpa 
diskriminasi diharapkan menjadi upaya awal menuju rekonsiliasi di antara semua 
pihak yang pernah bertikai. Rekonsiliasi seperti apa? Bentuknya memang masih 
terus dibicarakan.

Amelia Yani dan Achmad Yani (repro Tribun Jambi)

FSAB ternyata membawa hikmah tersendiri bagi anak-anak korban konflik 1965 - 
1966. Pertemuan-pertemuan rutin forum ini memecahkan kebekuan antara anak-anak 
Pahlawan Revolusi, antara lain Amelia  Yani (putri Achmad Yani) dengan 
anak-anak tokoh yang berseberangan, seperti Sugiarto, Ferry Umar Dhani (putra 
Marsekal Umar Dhani), dan belakangan Ilham Aidit (anak DN Aidit).Ilham Aidit 
(int)Mereka mampu duduk semeja, tertawa bersama, berpelukan, dan saling 
menyemangati. Suatu keadaan yang sungguh sulit dibayangkan terjadi di masa 
lalu.Memaafkan dengan tulus memang gampang diucapkan, tapi sungguh bukanlah 
sesuatu yang mudah dilakukan. Namun, Amelia Yani merasa perlu melakukannya 
karena tidak ingin mewariskan dendam kepada anak cucunya sehingga mereka tumbuh 
menjadi pembenci. “Tapi mereka tidak tahu yang dibenci itu apa. Marah tapi 
tidak tahu marah pada siapa,” tutur ibu dari seorang putra, Dimas Tjahyono 
Dradjat.Amelia mengakui belum seluruh anggota keluarganya sanggup melakukan 
itu. Seorang adiknya, hingga sekarang masih bergetar dan menangis jika 
berbicara masalah pembunuhan ayahnya. “Semua tergantung kepekaan masing-masing. 
Saya menghormati sikap adik saya,” katanya.Anak DN Aidit Ilham Aidit (kanan) 
dan putri Jendral Achmad Yani Amelia Yani (tengah) (intisari)Sugiarto yang juga 
sempat mendapat pertanyaan dari keluarga soal keterlibatannya di FSAB, mengakui 
memang tidak mudah untuk melupakan kepedihan masa lalu. Tapi karena menyadari 
bahwa semua ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa, ia dengan ikhlas bisa 
melakukannya.“Saya tidak benci militer. Saya juga tidak ingin hidup ini 
tersiksa hanya karena dendam,” demikian prinsipnya. Ia mengaku cukup bahagia 
jika FSAB bisa menjadi gerakan moral yang mampu mengajak semua berdamai, dan 
tidak perlu menuntut terlalu jauh.Hingga hampir 40 tahun sejak peristiwa itu 
terjadi, tak satu pun anak-anak korban konflik 1965 - 1966 mengetahui latar 
belakang peristiwa hingga mereka harus kehilangan ayah tercinta. Tak terkecuali 
anak-anak Pahlawan Revolusi. Yang mereka tahu hanyalah bentuk-bentuk kekerasan 
yang disaksikan dengan mata kepala sendiri. Sungguh, suatu luka batin yang tak 
mudah dilupakan, namun dapat disembuhkan dengan kebesaran jiwa.Tulisan ini 
sudah dipublikasikan di intisari: Mengenang G30S: Anak-Anak Tokoh 1965 Sudah 
Saling Memaafkan (6)

Kirim email ke