Istri Sutradara Arifin C Noer Buka Suara Soal Pembuatan Film G 30 S/PKI


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Istri Sutradara Arifin C Noer Buka Suara Soal Pembuatan Film G 30 S/PKI
 SURATKABAR.ID – Dalam acara Indonesian Lowyers Club yang disiarkan salah satu 
televise swasta pada Selasa (19/9/...  |   |

  |

  |

 

Penulis Ahmad Fauzi -21 September 2017 9:11 am


SURATKABAR.ID – Dalam acara Indonesian Lowyers Club yang disiarkan salah satu 
televise swasta pada Selasa (19/9/2017) malam, Istri Sutradara Arifin C. Noer, 
Jajang C. Noer mengatakan bahwa pembuatan film G 30 S/PKI tidak diawasi atau 
dikontrol oleh rezim Orde Baru. “Tapi tidak benar kami diawasi,” katanya.

Jajang tidak membantah jika film tersebut memang betul pesanan pemerintah. 
Namun, menjawab spekulasi yang beredar bahwa film itu diawasi dengan ketat, 
dirinya membantah hal tersebut. Dilansir dari laman republika.co.id, Jajang 
menceritakan bahwa pada saat itu ada dua kandidat sutradara untuk pembuatan 
filmnya. Akhirnya yang terpilih adalah suaminya.“Memang pesanan dari pemerintah 
yang sebelumnya telah bertanya ke Mas Gunawan (GM), GM bilang sutradaranya ada 
Teguh Karya dan Jajang C Noer. Lalu Pak Dipa pilih Jajang,” ucapnya.Lebih 
lanjut Jajang mengungkapkan bahwa suaminya menggarap film pengkhianatan G 30 
S/PKI itu dengan kecintaannya terhadap negeri ini. Meski demikian, dirinya 
tidak menyangka jika kemudia film tersebut dijadikan propaganda yang dipaksa 
pemerintah saat itu untuk ditoton masyarakat. “Mas Arifin tak mungkin 
mengerjakan sesuatu yang tak ia yakini,” katanya.
Baca Juga: Sikapi Isu PKI, Mahfud MD: Tidak Perlu Membuka Luka LamaHal senada 
juga disampaikan seorang pengamat Salim Said yang menyebut bahwa dirinya merasa 
ragu jika Arifin C Noer dikontrol ketika membuat film tersebut. Hal ini, ucap 
Salim, mengingat sosok Arifin yang cukup keras. Bahkan Arifin dibujuk beberapa 
kali agar mau menyutradarai film tersebut. “Dia keras, tak mungkin dikontrol. 
Mari kita menghormati almarhum sebagai seniman,” ujar Salim.Di acara yang sama 
juga hadir Ilham Aidit yang merupakan putera dari DN Aidit. Pada kesempatan 
itu, ia memgungkap keraguannya atas keakuratan dari film tersebut. Ia menyebut 
Aidit tidak merokok. Namun, katanya, dalam film itu Aidit digambarkan sebagai 
perokok berat dengan asap yang mengepul ketika memimpin rapat.Padahal, lanjut 
Ilham, pernah dalam sebuah rapat bersama petinggi-petinggi Aidit diminta untuk 
merokok. Aidit lantas mencoba mengisap dan batuk. “Pakar-pakar itu mem-bully 
Aidit,” kata Ilham.Kemudian Insiden di lubang buaya, ucap Ilham, adalah sebuah 
kebohongan. “Tak ada tari-tari seperti digambarkan dalam film,” katanya. Yang 
ada kondisi di sana sepi. Ilham pun menilai sutradara film itu kurang riset.

Kirim email ke