Home Nasional Berita Peristiwa

Istri Eks Petinggi Lekra Sesalkan Sikap Jokowi soal G30S
Suriyanto , CNN Indonesia | Jumat, 25/09/2015 07:43 WIBBagikan :     Jakarta, 
CNN Indonesia -- Istri mantan petinggi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Oey 
Hay Djoen, Jane Luyke, menyayangkan penolakan permintaan maaf Presiden Joko 
Widodo mewakili pemerintah RI atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

Menurut Jane, permintaan maaf negara atas G30S sangat penting, terutama bagi 
keluarga dan korban G30S. Meski demikian Jane paham kesulitan Jokowi untuk 
sekadar minta maaf mewakili negara.

"Dia hati-hati dan tidak sembrono," kata Jane kepada CNN Indonesia di 
kediamannya.


Jane yang kini berusia 81 tahun mengatakan, Jokowi berhati-hati karena 
orang-orang di sekitarnya masih banyak yang tidak mendukung permintaan maaf 
tersebut.

Permintaan maaf menyangkut tragedi G30S yang sempat diklaim didalangi oleh 
Partai Komunis Indonesia, menurut Jane, adalah peristiwa sangat sensitif. 
Itulah yang diyakini Jane membuat Jokowi tak mudah memutuskan untuk meminta 
maaf.

Namun meski tak sekarang, kata Jane, suatu saat nanti negara tetap harus minta 
maaf secara resmi atas G30S.

| 
Lihat juga:
Jokowi Tak Akan Minta Maaf kepada Korban Tragedi G30S |

G30S ialah tragedi berdarah yang terjadi pada 30 September malam, di mana tujuh 
perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh. 
Peristiwa itu memicu pembunuhan massal di berbagai daerah di Indonesia.


| PILIHAN REDAKSI   
   -    
Kisah Kuburan Massal Korban G30S di Semarang

   -    
Tolak Minta Maaf ke Korban G30S, Pemerintah Jokowi Dikecam

   -    
Projo: Jokowi Tak Pernah Janji Minta Maaf soal G30S

   -    
Menko Luhut: Pemerintah Upayakan Rekonsiliasi Korban G30S

 |

Sementara Lekra merupakan organisasi yang kerap dihubungkan dengan Partai 
Komunis Indonesia. Meski tak memiliki hubungan langsung secara struktural, PKI 
dan Lekra dekat karena anggota Lekra banyak yang jadi angggota PKI.

Oleh karena kedekatan itu, mereka yang aktif di Lekra turut menjadi korban 
pasca-peristiwa G30S, baik ditahan ataupun dibunuh.

Oey Hay Djoen, suami Jane, adalah salah satu contohnya. Anggota Sekretariat 
Pusat Lekra ini pernah menjadi anggota DPR dari PKI. Ia ditangkap beberapa hari 
setelah peristiwa G30S dan dipenjara selama 14 tahun.

Oey ditahan tanpa diadili. Masa penahanan Oey paling lama di Pulau Buru, 
Maluku. Di sana Oey mendapat nomor 001. Bersama sastrawan Pramoedya Ananta 
Toer, Oey dibebaskan tahun 1979.

Jokowi menyampaikan ketiadaan niatnya untuk minta maaf soal G30S saat bertemu 
dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

"Sama sekali tak ada agenda, bahkan terpikir pun tidak, sehingga isu yang 
berkembang bahwa pemerintah akan meminta maaf (soal G30S), sudah 
terklarifikasi. Presiden tak akan membuat permintaan maaf," kata Haedar usai 
bertemu Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Apapun keputusan Presiden terkait hal itu, ujar Haedar, PP Muhammadiyah sebagai 
organisasi masyarakat mendukung penuh.

| 
Lihat juga:
Tolak Minta Maaf G30S, Jokowi Dibandingkan dengan Habibie |

Meski pemerintah RI saat ini tak berniat minta maaf soal G30S, Menteri 
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan 
pemerintah akan mengupayakan rekonsiliasi terkait dugaan pelanggaran hak asasi 
manusia berat dalam tragedi berdarah tersebut.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Setengah Abad Selepas G30SBagikan :     

Kirim email ke