#Pernyataan jujur dari seorang "Saksi Hidup" yang terdekat dalam "hidup" 
Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang sangat berharga menjadi 
bagian pelengkap serpihan-serpihan Pelurusan sejarah Gestapu 1965 Yang 
Dihitamkan untuk "jernih" dari objectifitas Tonggak Sejarah Bangsa Republik 
Indonesia  kedepannya 🇲🇨 😘 sebagai Rakyat Indonesia yang sedang meniti 
masadepan lebih tangguh, berdikari, damai dan berperikemanusiaan yang adil dan 
beradab baik ke-dalam maupun ke kancah internasional... 🌹 

Verzonden via Yahoo Mail op Android 
 
  Op vr, sep. 29, 2017 om 15:57 schreef 'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]<[email protected]>:       
Surat Terbuka Ny. Ratna Sari Dewi Soekarno Kepada Soeharto (Terjemahan Bebas 
Dari Vrij Nederland)
Posted on 19 Juli 2013 by Kolektor Sejarah

https://kolektorsejarah.wordpress.com/2013/07/19/surat-terbuka-ny-ratna-sari-dewi-soekarno-kepada-soeharto-terjemahan-bebas-dari-vrij-nederland/

Tuan Presiden Suharto

Bersama ini saya ingin mengingatkan Tuan terhadap segala sesuatu yang nampaknya 
oleh Tuan akan dilupakan. Hal hal yang akan dikemukakan ini saya anggap sebagai 
kewajiban bagi saya untuk menjelaskannya secara benar karena saya justru 
mengikuti peristiwa-peristiwa di In­donesia itu dari dekat.

Barangkali sementara orang akan berpendapat akan lebih baik kalau saya diam 
seribu bahasa seperti Sphinks (arca batu di Mesir) dalam hal ini. Akan tetapi 
karena saya tanggung jawab maka saya harus melakukan hal ini biar membawa 
resiko betapapun besarnya terhadap diri saya. Inipun karena makin lama di 
seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri banyak tersebar cerita-cerita palsu 
yang disebarkan tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia itu sehingga 
membeberkan keadaan yang sebenarnya itu merupakan kewajiban saya.

Karena itulah saya kirimkan surat terbuka ini kepada Tuan dalam kedudukan saya 
sebagai warga negara Indonesia. Selain itu surat terbuka yang saya kirimkan 
kepada tuan ini termasuk segala isinya adalah sepenuhnya tanggung jawab saya 
dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang 
terdahulu.

Sebenarnya agaknya sudah terlambat untuk mempersoalkan kembali tentang para 
Perwira yang telah dinyatakan sebagai “kontra revolusi” atau pemberontak 
pemberontak terhadap Negara dimana mereka telah sama dihukum mati.

Selama ini saya selalu berpendirian tidak sependapat dengan adanya dalil bahwa 
”yang berkuasa itu selalu benar” (power can do no wrong). Sikap inipun sama 
sewaktu Presiden Soekarno berkuasa Saya berpendapat bahwa seorang Kepala Negara 
itu mesti dikerumuni oleh orang orang yang mendukungnya. Begitu juga halnya 
dengan Tuan bahwa di sekeliling Tuan itu, banyak orang-orang berkerumun yang 
pada umumnya tidak berani membuka mulutnya, berpura-pura taat dan tunduk bahkan 
ada yang menjilat yang pada hakekatnya mereka bertujuan untuk mendapatkan 
kesempatan berkuasa lebih banyak. Karena itulah apa yang sebenarnya terjadi di 
sekitar Tuan sulit akan terungkap.

Pertama-tama dalam surat terbuka saya ini, saya ingin mengemukakan apa yang 
disebut “proses” dimana banyak orang telah dibunuh karena dituduh melakukan 
kejahatan terhadap Negara. “proses” ini yang sebenamya terjadi di luar 
norma-norma Hukum dan Keadilan, lebih tepat untuk disebut “teror dan kekerasan”

Dan mereka orang-orang yang tidak puas dan tidak mau bicara sewaktu kekuasaan 
Soekarno, maka setelah situasi berubah lalu bersikap tidak bertanggung jawab 
dan turut serta melakukan pembunuhan dan teror. Dalam hal ini Tuan telah 
membiarkahnya. Andai kata nanti pada suatu ketika kedudukan Tuan diganti oleh 
orang lain sudah tentu akan terjadi hal yang sama dimana pembantu-pembantu Tuan 
yang penting, sipil maupun militer, termasuk mungkin Tuan sendiri akan mendapat 
perlakuan yang sama di mana mereka dituduh dan dituntut dengan hukuman mati 
dengan berbagai dalih misal “karena melakukan korupsi”.

Dalam hubungan ini saya ingin bertanya kepada Tuan: “Mengapa Tuan membiarkan 
dan memberi kesempatan semua itu berlalu, yang dapat menjadi contoh (preseden) 
jelek bagi suatu Negara yang masih muda dan rakyatnya sedang berkembang yaitu 
Indonesia ?”

Bukan maksud saya untuk mencela kebijaksanaan politik yang Tuan lakukan. Akan 
tetapi perhatian tertumpah kepada mereka yang dibunuh dan diteror dengan 
memakai dalih “pembersihan terhadap golongan merah” sejak peristiwa G30S itu 
terjadi. Padahal kebanyakan dari mereka itu hanyalah pengikut-pengikut Soekarno 
yang tidak tahu menahu tentang peristiwa G30S.

Bahkan saya memperoleh berita bahwa tidak kurang dari 800.000 Rakyat Indonesia 
yang telah terbunuh diantaranya terdapat kaum wanita dan anak-anak karena hanya 
sebagai simpatisan PKI.

Harian ”London Times” membuat berita pada Januari 1966 sebagai berikut: “Bahkan 
sejak pecahnya peristiwa G30S itu, dalam 3 bulan telah ratusan ribu kaum 
komunis yang dibunuh, jumlah mana menurut para diplomat barat angka tersebut 
masih terlalu rendah.

Sementara itu menurut sementara pengusaha-pengusaha dan turis-turis dari Eropa, 
yang pulang dari Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan dan teror itu begitu 
hebatnya, sehingga mereka melihat sementara di sungai-sungai penuh dengan 
hanyutnya mayat- mayat tanpa kepala dan sementara anak-anak di desa-desa 
katanya bermain sepak bola dengan kepala-kepala manusia yang terbunuh. Pokoknya 
dalam tempo 3 bulan sesudah peristiwa G30S itu situasi di Indonesia dicekam 
dengan ketakutan dan ketegangan, dimana banyak darah mengalir yang belum pernah 
terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.

Seorang wartawan dari “Washington Post” memberitakan dari Jakarta bahwa di Jawa 
Timur saja telah terbunuh 250.000 orang, demikian menurut sumber dari golongan 
Islam. Lebih lanjut “Washington Post” memberitakan bahwa puncak pembunuhan dan 
teror itu pada bulan November 1965. Kepala-kepala manusia telah dijadikan 
hiasan (decorasi) pada suatu jembatan. Di tempat lain orang melihat bahwa 
mayat-mayat tanpa kepala dihanyutkan di sungai-sungai di atas rakit dalam 
deretan yang panjang. Sungai bengawan Solo yang indah permai ketika itu penuh 
dengan mayat-mayat sehingga di sementara tempat kadang-kadang airnya tidak 
terlihat tertutup oleh mayat-mayat itu. Sungai-sungai itu airnya menjadi merah 
karena darah Rakyat. Pokoknya ketika itu Indonesia seperti neraka demikian 
tulis Washington Post.

Sementara itu harian Inggris “Economist” memperkirakan bahwa korban yang jatuh 
karena pembunuhan dan teror itu mencapai 1.000.000 orang.

Saya ingin bertanya kepada Tuan: mengapa pertumpahan darah itu sampai terjadi 
atas mereka yang belum tentu berdosa? Dan mengapa masyarakat dunia diam seribu 
bahasa? Padahal dipihak lain kalau seorang manusia terbunuh di sepanjang tembok 
Berlin saja, maka seluruh dunia Barat ramai dan geger. Tapi mengapa dunia Barat 
itu diam dimana 800.000 Bangsa Asia (Indonesia) telah dibunuh dan diteror 
dengan darah dingin, bahkan dalam situasi Dunia sedang damai??

Saya tahu pasti bahwa diantara yang terbunuh itu ada orang komunis. Tapi apa 
artinya kemerdekaan dan hak azasi manusia kalau Tuan membenarkan pembunuhan 
besar-besaran itu sekedar karena mereka melakukan gerakan di bawah tanah yang 
tidak diketahui oleh Pemerintah Tuan?

Sebenamya Tuan akan lebih bijaksana kalau Tuan mengambil langkah-langkah 
pencegahan terjadinya pembunuhan besar-besaran itu sebelunm PKI dinyatakan 
dilarang oleh undang-undang.

Akan tetapi Tuan ternyata tidak berbuat demikian dan hal ini dianggap sebagai 
pelanggaran terhadap hal-hal azasi manusia dan Tuan tidak mendapatkan respek. 
Lepas dari ideologi apa yang sudah terjadi itu merupakan “kejahatan nasional”, 
Tuan Suharto.

Meskipun Tuan akan menolak dengan berbagai dalih untuk bertindak dan mencegah 
terhadap “kejahtan nasional” yang telah berlangsung itu — dimana telah ratusan 
ribu orang tak berdaya telah dibantai — bagaimanapun saya juga bersikap tidak 
membenarkan bahkan mengutuk peristiwa itu. Bukankah telah menjadi kenyataan 
bahwa pemerintah Orde Baru yang Tuan pimpin memakai slogan demi “penumpasan 
terhadap PKI”? Ataukah Tuan amat kuatir kalau kekuasaan Soekarno bangkit 
kembali beserta pendukung-pendukungnya karena Tuan tahu pasti bahwa lebih dari 
50% Rakyat Indonesia itu masih setia pada Soekano? Hal ini pasti Tuan tidak 
lupa bukan ? 

Ataukah barangkali Tuan berpendapat bahwa peristiwa G30S itu sudah lampau dan 
harus dilupakan? Bagi saya hal itu bukan soal. Akan tetapi yang menjadi 
masalah: masih terlalu banyak hal-hal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak 
terjawab dan bahkan sengaja disembunyikan. Walaupun begitu saya masih merasa 
beruntung dan bangga bahwa saya dalam peristiwa 1965 itu tahu dari dekat dan 
mendapat pelajaran yang bermanfaat. Bahwa fakta-fakta yang benar dalam sejarah 
itu kadang-kadang memang diputar balikkan oleh karena mereka yang berkuasa 
dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan tujuan politknya. Begitu juga 
dengan berita-berita dalam pers (koran-koran) telah dibuat demikian rupa oleh 
penguasa sebagai suatu Propaganda untuk kepentingan politik pemerintah.

Sebagai misal yang paling mudah kita ambil contoh peristiwa G30S. Peristiwa ini 
sebenamya terjadi pada tanggal l Oktober 1965 dinihari yang didukung oleh dewan 
revolusi dengan dipimpin oleh salah seorang perwira penanggung jawab pengawal 
istana Presiden Soekarno yaitu Letnan-Kolonel Untung. Pengumuman dewan revolusi 
itu berbunyi sebagai berikut:

“Sekelompok (grup) Jenderal merencanakan untuk mengambil oper kekuasaan (coup) 
dari Pemerintah Presiden Soekarno dan beliau akan dibunuh. Mereka membentuk 
dewan Jenderal dengan tujuan untuk membentuk kekuasaan Militer. Rencana coup 
tersebut akan dilakukan pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 yang akan datang. 
Untuk mencegah itu maka dewan revolusi mendahului mengambil langkah dengan 
menangkap 6 Jenderal diantaranya Jenderal A Yani”, 

Dalam hal ini Tuan ternyata telah meyakinkan orang banyak (menfitnah) dengan 
melancarkan berita bahwa G30S itu dilakukan oleh PKI. Hal ini jelas tidak 
benar. Bukankah yang melakukan gerakan ini adalah orang-orang militer? Dan saya 
meragukan kalau mereka yang melakukan gerakan itu orang komunis.

Saya ingin bertanya kepada Tuan lalu siapakali yang berbuat menyebarkan isyu 
sehingga timbul situasi dimana masa dibakar dan digerakkan. dengan menuduh G30S 
itu didalangi oleh PKI ?

Menteri Pertahanan sendiri yaitu Jenderal Nasution sebagai salah seorang 
anggauta Dewan Jenderal yang menurut rencana seharusnya juga ditangkap oleh 
gerakan G30S telah berkata pada upacara penguburan 6 Jenderal yang terbunuh itu 
pada HUT ABRI tanggai 5 Oktber 1965 sebagai berikut:

“Sampai hari ini pun HUT ABRI kita masih tetap penuh khitmat dan kebanggaan 
meskipun ditandai oleh peristiwa yang merupakan noda bagi kita ABRI. Yaitu 
bahwa telah terjadi suatu fitnah dan pengkhianatan serta kekejaman atas 
perwira-perwira tinggi kita. Walaupun bagitu saudara saudara kita yang menjadi 
korban itu adalah tetap merupakan pahlawan-pahlawan di hati kita Bangsa 
Indonesia. Yang pada akhirnya nanti kebenaran pasti akan menang meskipun kita 
telah difitnah oleh pengkhianat-pengkhinat intern. Hal mana pada waktunya nanti 
kita akan memperhitungkannya.”

Dalam pidato Jenderal Nasution itu sama sekali tidak nampak ada kesan bahwa 
terbunuhnya 6 Jenderal itu telah didukung apalagi dilakukan oleh PKI. Bahkan 
sebaliknya dari kalimat-kalimat yg diucapkan oleh Jenderal Nasution itu jelas, 
bahwa peristiwa G30S itu adalah akibat pertentangan yg ada di kalangan ABRI 
sendiri.

Tuan Suharto, dapatkah saya bertanya kepada Tuan, siapakan yang dimaksud dengan 
kata-kata Nasution “fitnah dan pengkhianat pengkhianat” itu dan apakah yang 
dimaksud dengan kalimat “kita akan memperhitungkan mereka”.

Sebenarnya yang penting diperhitungkan dalam peristiwa itu adaiah: siapa dan 
apa tujuan dari 50 orang “yang berseragam seperti pengawal Presiden Soekarno” 
itu. Dan ketika mereka menyerbu rumah dan kediaman Jenderal Nasution dengan 
senjata lengkap diketahui jelas oleh beliau bahwa mereka itu (penyerbu) adalah 
mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang anti komunis. Justru karena mereka 
tidak kenal Jenderal itulah maka mereka menyangka Letnan Tendean sebagai 
Komandan Jaga, dikira Jenderal Nasution dan terus menembaknya.

Dari fakta ini jelas menurut penilaian saya bahwa andaikata para penyerbu itu 
benar-benar pengawal Presiden Soekarno pasti mereka akan tahu dan kenal betul 
pada Jenderal Nasution. Jadi tidak masuk akal pula kalau para penyerbu itu 
adalah orang-orang komunis yang mendapat tugas khusus, tapi tidak kenal pada 
Jenderal Nasution sehingga terjadi kegagalan itu.

Apakah Tuan tahu – bahwa banyak orang di Indonesia ini telah membicarakan bahwa 
timbul tanda tanya yang besar yang penuh prasangka kepada Tuan.

Yalah: mengapa Tuan sebagai komandan tertinggi pada Kostrad justru malah tidak 
diserbu untuk dibnnuh dengan dalih, katanya ”karena mereka (penyerbu) tidak 
tahu alamat Tuan”? Dan yang menarik perhatian lagi – justru Tuanlah yang pada 
tanggal l Oktober 1965 pada dinihari sudah memainkan peranan dan ambil oper 
pimpinan ABRI dengan memberikan perintah-perintah sehingga dengan mudah sekali 
Tuan telah bisa menguasai dan menumpas Dewan Revolusi dalam waktu yang singkat.

Setelah Presiden Soekarno kehilangan Jenderal A. Yani maka beliau terus 
mengangkat Tuan sebagai Menteri Hankam, sekaligus sebagai Pangab ABRI. Ini 
terjadi pada tanggai 14 Oktober 1965 dimana Presiden Soekarno pada pengangkatan 
Tuan itu telah berpesan sebagai berikut:

“Adalah mendesak sekali agar keamanan dan ketertibann harus segera dipulihkan 
agar terciptanya keadaan, dimana emosi dari golongan kiri maupun golongan kanan 
dapat ditenangkan dan dikendalikan, sehingga peristiwa G30S itu dapat 
diselesaikan sambil kita mempelajari segala sesuatunya yang berkaitan dengan 
peristiwa tersebut. Kejadian itu tidak akan menenangkan saya sebelum segala 
sesuatunya jelas siapa yg bertanggung jawab entah dari pihak manapun, entah 
merah, hijau ataupun kuning”

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Tuan memikul tugas yang diberikan olch 
Presiden Soekarno untuk menghimpun segala data sekitar peristiwa G 30 S itu dan 
seharusnya Tuan segera memulai dengan penyelidikan dan pengusutan yang harus 
dilaporkan pada Presiden Soekarno. Akan tetapi Tuan ternyata tidak mentaati 
perintah-perintah itu bahkan Tuan telah memberikan tafsiran sendiri dan 
berkata: “Sekarang saya sudah memperoleh kepercayaan dari Presiden Soekarno. 
Dan saya akan terus menumpas sisa-sisa kekuatan dari peristiwa tersebut.” 
Pernyataan Tuan jelas mempunyai arti tersendiri.

Sebenarnya Presiden Soekarno mengharapkan dan mempercayakan pada Tuan agar Tuan 
tetap setia dan loyal untuk melaksanakan perintah-perintahnya. Dengan tujuan 
selanjutnya akan diambil tindakan-tindakan hukum oleh Presiden Soekarno 
terhadap siapa yang bersalah tanpa pandang bulu – apakah PKI atau pihak 
Militer. Akan tetapi Tuan ternyata tidak memberikan laporan apa-apa pada 
Presiden Soekarno. Bahkan Tuan telah menggerakkan ABRI tanpa persetujuan 
Presiden bersama-sama dengan beberapa Jenderal antara lain Sarwo Edhie. 

Dan sejak inilah dimulai pengejaran dan pembunuhan terhadap mereka yang belum 
tentu bersalah yaitu kaum komunis. Yang kemudian telah terkenal luas di seluruh 
negeri bahwa TNI di bawah pimpinan Tuan telah melakukan penganiayaan, 
pembakaran, perampokan dan pembunuhan terhadap orang PKI. TNI telah melakukan 
teror yang berselubung di bawah pimpinan Tuan, Rakyat yang hidup tenang 
dihasut/dibangkitkan untuk membenci dan mengamuk dengan dalih karena adanya 
kejadian terbunuhnya para Jenderal tersebut. Rakyat telah dihasut untuk anti 
PKI yang dikaitkan dengan negeri Cina yang dituduh memberikan dukungan terhadap 
G30S tersebut. Dan rakyat telah dibikin sedemikian rupa sehingga tidak percaya 
bahwa “Dewan Revolusi” itu ada.

Selanjutnya Presiden Soekarno dipaksakan untuk menyatakan PKI dilarang dan di 
luar hukum karena dianggap partai itu terlibat pada G30S. Selama setahun 
lamanya mahasiswa-mahasiswa dan kelompok-kelompok yang tidak puas diorganisasi 
untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi terhadap Soekarno dengan 
tuntutan-tuntutan termaksud. Akan tetapi Presiden Soekarno menolak untuk 
membubarkan PKI sebab tidak ada data-data dan bukti-bukti yang menyakinkan yang 
sudah dilaporkan pada Presiden.

Yang menarik perhatain ialah, bahwa “pemimpin-pemimpin” demonstrasi tersebut 
yang katanya adalah “mahasiswa-mahasiswa” kenyataannya umumya kebanyakan lebih 
dari 30 tahun dan bahkan pengikut-pengikutnya demonstrasi itu memakai pakaian 
seragam para troops (tentara payung) yang masih baru-baru. Sehingga perlu 
dipertanyakan apakah benar mereka itu mahasiswa-mahasiswa betul? Dan dari mana 
dana (keuangan) yang didapat untuk mengorganisasi demonstrasi-demnstrasi itu? 
Dan mengapa ternyata sekarang, tokoh-tokoh mereka yang menjadi 
pemimpin-pemimpin” demonstrasi itulah kini menempati kedudukan-kedudukan 
penting dalam Pemerintahan Tuan?

Semua kekacauan dan tidak tenang yang nampaknya dibikin (artificial) telah 
berlangsung se-lama satu tahun. Sementara itu telah dilancarkan Propaganda 
secara luas bahwa segala kesulitan dan keburukan diberbagai bidang itu 
ditimpakan pada PKI? Dan hal ini sampai hari inipun masih berlangsung walaupun 
peristiwa G30S itu telah 4 tahun berlalu.

Akan tetapi tentang hal ini sebenarnya dapat dimengerti sebab dalam politik 
yang berkuasa itu harus membuat Rakyat yang tidak tahu apa-apa itu sedemikian 
rupa sehingga rakyat merasa tidak tenteram dan aman dengan menimpakan kesalahan 
dan ancaman itu pada PKI. yang kemudian diarahkan bahwa penguasa (pemerintah) 
itu adalah satu-satunya pelindung rakyat yang sebenarnya.

Kalau demikian halnya maka jelas bahwa Tuan telah mengabaikan perintah dan 
peringatan Presiden Soekarno pada sidang kabinet tanggal 2 Januari 1966 di 
Bogor yang meminta kepada Tuan agar situasi yang tidak menentu itu harus segera 
diakhiri dan dipulihkan sehingga rasa kesatuan dan persatuan bangsa lIndonesia 
dapat tercipta kembali. Bukan saling membunuh diantara sebangsa dan setanah 
air. Apabila pembunuhan besar-besaran itu berlangsung terus menerus maka 
perjuangan kita selama ini akan sia-sia, karena dalam hai ini Tuan ternyata 
telah menempuh jalan sendiri.

Saya tidak akan mengatakan bahwa G30S itu baik. Tapi saya tidak akan 
menyalahkan siapa-pun dan belum memberikan penilaian terhadap peristiwa itu.

Andaikata sebagai orang komunis atau simpatisan. maka yang pertama-tama menjadi 
pertanyaan dan yang tidak masuk akal apa perlunya dan apa keuntungannya PKI itu 
melibatkan diri dalam G30S itu. Padahal PKI itu merupakan partai yang besar? 
Selain itu kalau memang benar PKI itu adalah pengacau? Mengapa TNI tidak 
mengetahui atau mencegah bahkan yang membakar Markas CC PKI itu dibiarkan untuk 
selanjutnya diselidiki kalau-kalau bisa diperoleh data yang penting? Dan kalau 
benar PK1 itu terlibat apakah tidak lebih baik kalau para pemimpinnya yang 
bertanggung jawab diadili di depan umum untuk diketahui oleh seluruh Rakyat 
Indonesia? Dan mengapa Tentara yang menangkap DN Aidit itu justru telah 
membunuhnya dengan diam-diam baru kemudian melapor pada Presiden Soekarno. Dan 
apa pula sebabnya ketua I dan wakil ketua II PKI. yaitu Sdr. Nyoto dan Lukman 
juga diperlakukan yang sama dengan cara dibunuh dengan diam-diam dan tanpa 
proses hukum?

Kata orang bahwa NU itu mempunyai anggota sebanyak 6 juta. Tapi mengapa 
orang-orang di kalangan partai tersebut terlalu takut kepada PKI. yang jumlah 
angggotanya lebih kecil hanya 3 juta orang? Memang terlalu banyak soal-soal dan 
pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa terjawab bahkan sengaja ditutup 
disembunyikan.

Komunisme yang begitu Tuan takutkan itu sebenarnya akan tidak berdaya, apabila 
kesengsaraan dapat ditiadakan. Hakekat ideologi PKI di bawah pimpinan DN Aidit 
sebenarnya berdasarkan Pancasila (Soekarnoisme). Dan PKI telah memainkan 
peranan yang penting dalam kebangkitan dan kebangunan Bangsa Indonesia serta 
berjuang untuk sosialisme Indonesia.

Juga Nasution pimpinan MPRS. telah menyalahkan PKI karena telah melakukan 
aksi-aksi di bidang ekonomi. Dia juga menyalahkan PKI bahwa sebab terjadinya 
inflasi dewasa ini karena adanya hutang pada luar negeri sebanyak $ 2.5 milyard 
dan diantaranya berupa pembelian senjata-senjata seharga $ l milyard pada Uni 
Sovyet. Yang aneh dalam hal ini justru hutang-hutang pada Uni Sovyet ini 
bukankah Jenderal Nasution sendiri yang menandatangani kontrak-kontraknya? 
Bahkan dia sendiri sudah 2 kali berkunjung ke Moskow. Apakah dengan begitu 
ucapan Jenderal Nasution itu dapat dipertanggung jawabkan?

Tuan Suharto.

Saya ingin mengajukan banyak data-data yang Tuan sendiri berharap akan 
menjadikan data-dala itu sebagai bukti terlibatnya PKI. Tapi mengapa Tuan tidak 
membuka penyelidikan untuk menghimpun sesungguhnya? Sudah tentu bukan data-data 
yang bersifat sepihak. Saya kira seluruh Negeri dan rakyat Indonesia berhak 
untuk tahu dan mengerti yang sebenarnya. Sekali biar seluruh rakyat tahu juga 
bagaimana pendapat Tuan tentang peristiwa tersebut. Hal ini penting sekali 
karena telah diisukan bahwa bukan hanya PKI yang terlibat tapi juga Presiden 
Soekarno yang ikut dituduh merestui dewan revolusi.”

Selain itu juga dikatakan bahwa beberapa ribu orang PKI sebelum peristiwa G30S 
itu telah dipersiapkan dengan mengadakan latihan militer di daerah lapangan 
udara Halim. Dimana Presiden Soekarno pada tengah malam ketika peristiwa itu 
terjadi juga diamankan disitu. Dengan adanya berita-berita itu orang pada 
bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi adnya suatu latihan militer yang 
diikuti oleh ribuan orang dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi? Dan apa 
perlunya Presiden Soekarno itu mencari perlindungan di tempat yang tidak 
menguntungkan baginya?

Kenyataan berita-berita lain yang saya peroleh dari lapangan udara Halim adalah 
bahwa : peristiwa G30S itu adalah cetusan dari suatu konflik dalam angkatan 
Darat. Oleh karena itu mereka menggunakan dalih pribadi Soekarno itu dibawa 
kesana karena saya sebagai istri merasa khawatir akan keselamatan suami saya. 
Sampai di Halim saya malah jadi bingung karena ketika saya tanyakan pada 
sementara orang tenyata tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi. 
Bahkan ketika itu kita tidak tahu bahwa Jenderal A.Yani telah terbunuh. 
Pokoknya ketika itu kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Hampir 
semuanya dalam kebingungan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Tidak 
seorang pun tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.

Dalam mengenang peristiwa G30S itu, kembali saya kira persoalannya akan lain 
andaikata Jenderal A.Yani masih hidup. Presiden Soekarno sendiri sangat sedih 
bagaimana sampai terjadi dia jadi korban dan bagaimana tempat tinggalnya sampai 
diketahui.

Selain hal diatas dengan ini saya ingin mengajukan pertanyaan yang penting 
kepada Tuan yang kiranya Tuan perlu perhatikan. Yalah tentang adanya ”dewan 
jenderal” yang Tuan telah tentang keras tidak mengetahuinya. Orang hanya tahu 
bahwa Jenderal A. Yani dan jenderal-jenderal lain yang terbunuh itu yang hanya 
mengetahui tentang persoalan “dewan jenderal” tersebut.

Akan tetapi 2 minggu sebelum peristiwa tersebut Presiden Soekarno bertanya 
kepada Jenderal A. Yani: bagaimna sebenamya duduk persoalan dewan jenderal 
tersebut. Yang dijawab oleh Jenderal A. Yani dengan tegas: Bapak Presiden 
serahkan kepada saya saja, segala hal yang bersangkutan dengan anak buah saya 
tersebut” (maksudnya D.D.)

Dari dialog tersebut bagi saya timbul pertanyaan yang besar: bagaimana bisa 
terjadi Jenderal A. Yani itu ikut terbunuh? (jelas karena justru ada 
kontradiksi dalam ABRI sendiri=penyalin). Jadi andai kata Tuan benar-benar 
obyektif maka pasti Tuan akan yakin bahwa Soekarno itu benar-benar tidak 
terlibat dan tidak tahu apa-apa tentang G30S tersebut.

Tuan Suharto.

Dengan mengetahui tentang hal-hal di atas maka lalu timbul pertanyaan saya: 
apakah kiranya jawaban Tuan ada seluruh rakyat Indonesia yang menduga bahwa 
dengan adanya tindakan cepat dari Tuan untuk membentuk kekuasaan “orde baru” 
dalam situasi yang kacau balau itu bukankah justru sebenarnya Tuanlah yang 
mempunyai semua rencana dan melaksanakan rencana “dewan jenderal”

Bukti-bukti kemudian menunjukkan bahwa dalam situasi yang kacau di Indonesia 
itu, Tuan telah membangun tentara yang berorientasi ke kanan, bergandengan 
tangan dengan sementara mahasiswa-mahasiswa (yang tidak puas) yang kemudian 
didorong dan bekerja sama dengan pimpinan-pimpinan partai islam serta politisi 
yang kanan untuk menghancurkan PKI. Yang selanjutnya terjadilah pembunuhan dan 
pertumpahan darah yang terencana. Bagaimana hal ini sampai terjadi bahwa sikap 
ABRI malah lebih dekat dengan Pentagon (markas Besar Departemen Pertahanan 
Amerika Serikat) dimana hampir semua kegiatan militer didunia dikendalikan dari 
sana? Apakah dalam situasi demikian itu orang bisa mengharapkan lain kecuali 
PKI itu menjadi hancur berantakan karenanya dan hubungan dengan RRC dengan 
sendirinya putus.

Presiden Soekarno telah berulang kali mengatakan bahwa tidak benar untuk hanya 
menyalahkan PKI. Beliau berkata: “Kita jangan melemparkan semua kesalahan itu 
kepada PKI saja. Tapi persoalannya terletak pada hal-hal lain.”

Saya sangat menghargai akan sikap Bung Karno yang begitu tegas itu meskipun 
beliau harus mengorbankan nasibnya sendiri. Beliau telah menolak untuk tunduk 
pada tekanan pihak ABRI untuk menyatakan PKI itu dilarang dan di luar hukum. 
Ideenya meskipun telah mengalami tekanan yang berat dari pihak ABRI. Andaikata 
Bung Karno itu tidak bersikap teguh sedemikian rupa, barangkali situasi dan 
posisi beliau tidak akan seburuk seperti sekarang, apalagi kalau beliau 
melakukan langkah-langkah kompromis. Tapi beliau tidak demikian dan tetap 
berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.

Adam Malik, Menteri Luar Negri Republik Indonesia pada tahun 1966 telah 
berbicara di depan mahasiswa-mahasiswa di Tokyo dengan penuh kebohongan dan 
kebodohan. la menerangkan bahwa Soekarnolah yang bertanggung jawab atas 
terjadinya pembunuhan massal terhadap kaum komunis di Indonesia itu. Andaikata 
Soekarno tepat pada waktunya menentukan sikapnya terhadap PKI maka pembunuhan 
massal itu dapat dihindari.

Dengan pidatonya Adam Malik itu maka orang-orang yang tidak tahu tentang apa 
sebenarnya yang telah terjadi di Indonesia itu akan menanggapinya dengan benar. 
Sementara itu Bung Karno masih terus secara terbuka berbicara dan menjelaskan 
duduk persoalan yang sebenarnya tentang PKI itu. Hal ini pun telah ditafsirkan 
oleh sementara mereka itu, bahwa Presiden Soekarno telah merestui 
tindakan-tindakan lebih lanjut dari PKI yang ternyata kemudian berakibat 
terjadinya pembunuhan yang lebih kejam.

Seperti kata pepatah Latin”Cui Bono” yang artinya: yang penting bukan siapa 
yang benar akan tetapi siapa yang memperoleh keuntungan. Bukankah kemudian 
ternyata terbukti, bahwa Amerika Serikatlah yang memperoleh keuntungan dengan 
peristiwa G30S itu. Kini terbukti bahwa Jakarta telah dibanjiri oleh 
Investor-Investor asing (penanam modal) yaitu Amerika Serikat. Tentang inipun 
tidak menjadi soal andaikan dengan kegiatan- kegiatan ekonomi itu Indonesia dan 
rakyatnya yang pertama-tama memperoleh keuntungan. Bung Karno sejak semula 
sebenarnya selalu menolak untuk dibuatkan patung untuk dirinya. Baru setelah 22 
tahun kemudian beliau mengabdi kepada Revolusi Indonesia dengan enggan beliau 
baru menerima untuk dituliskan autobiografinya (riwayat hidupnya).

Akan tetapi bagi Tuan Suharto sendiri segera setelah tidak lama memegang 
kekuasaan telah dibuatkan buku riwayat hidup Tuan dengan memakai judul “The 
Smiling General” (Jenderal yang suka senyum). Selain itu Tuan telah 
mengabadikan potret Tuan pada uang kertas Republik Indonesia yang sudah tentu 
agar Tuan cepat dikenal. Semua itu tentunya dengan advis (pertimbangan) para 
pembantu yang mengelilingi Tuan.

Tetapi sebaliknya – Tuan sama sekali telah meniadakan foto-foto Bung Karno pada 
kedutaan-kedutaan di Luar Negeri yang mempunyai kebiasaan memancangkan foto 
tokoh-tokoh dari bangsa di Dunia. Dalam hal ini tidak satu gambar Presiden 
Soekarno nampak

Tuan Suharto.

Tuan yang pernah mengkritik tentang kediktatoran Presiden Soekarno dan bahkan 
Tuan telah berjanji akan memulihkan demokrasi di Indonesia, ternyata sekarang 
Tuan telah berbuat melebih apa yang diperbuat oleh bung Karno. Langkah pertama 
yang seharusnya Tuan lakukan untuk men-demokratisir keadaan/situasi antara lain 
tentang pemilihan Presiden. Ternyata tentang hal inipun oleh Tuan selalu 
ditunda-tunda. Selain itu Tuan telah melarang untuk mencantumkan nama Bung 
Karno dalam buku-buku sejarah Indonesia yang harus diterbitkan. 

Sementara itu Tuan telah menahan Bung Karno dengan dalih untuk melindungi 
keselamatannya yang hakekatnya Tuan telah mengisolir beliau dari dunia luar. 
Tindakan Tuan yang tidak benar dan tidak adil inilah yang menyebabkan Bung 
Karno itu menjadi sakit. Beliau tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. 
Dokter-dokter yang disediakan hanya proforma saja. Malah dokter gigi yang 
sangat diperlukan oleh beliau Tuan tidak berikannya. Bahkan pernah ada orang 
yang mengingatkannya agar Bung Karno itu jangan selalu diberi obat-obat injeksi 
sebab ada kemungkinan obat-obat in justru membahayakan kesehatannya.

Disamping itu saya juga berharap mudah-mudahan makanan yang dibuat dan dikirm 
oleh Putra/Putri Bung Soekarno itu benar-benar akan sampai ke tangan beliau 
selama beliau dalam isolasi tahanan benar-benar dalam keadaan sangat berat 
dalam hidupnya. Bahkan hak-hak ke manusiannya yang paling azasipun beliau tidak 
memperolehnya. Satu-satunya kesempatan yang diberikan kepada beliau selama 
beliau untuk meninggalkan isolasinya ialah ketika menghadiri-perkawinan salah 
satu putrinya. Untuk itu mobil Bung Karno dikawal dengan ketat dengan kendaraan 
panser dan tidak boleh didekati oleh siapapun. Ketika beliau berdiri dan 
mendekati putrinya yang sedang menjadi temanten guna memberikan ciuman selamat 
dari seorang ayah pada anaknya inipun telah dicegah oleh Polisi Militer yang 
mengawalnya dan beliau didorong secara kasar sehingga terjatuh duduk di atas 
sofa. Selain itu wajah beliau ditutupi dan dihalang-halangi agar tidak dapat 
diambil fotonya.

Andaikata saya yang mendapat perlakuan demikian, mungkin jiwa saya akan 
terpukul keras. Akan tetapi karena Bung Soekarno itu mempunyai jiwa yang besar 
dan mentalnya kuat perlakuan demikian itu dianggapnya sebagai pengorbanan yang 
harus dideritanya. Saya benar-benar sangat khawatir bahwa mungkin perlakuan 
alat-alat kekuasaan Tuan kepada Bung Karno itu kalau sedang sendirian lebih 
kasar karena di depan umurn pun alat-alat kekuasaan Tuan itu sampai berani 
berbuat demikian terhadap beliau. Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung 
Karno tetapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya 
dalam membela keadilan dan kebenaran Jiwa dan semangat Bung Karno itu tak akan 
pernah mati!

Bung Karno telah berjasa membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda yang 350 
tahun lamanya. Setelah 13 tahun di penjara dan dibuang pemerintah Belanda dan 
memimpin perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan Indonesia selama tahun 1945 
sampai tahun 1949. Bung Karno itu pasti tahu apa yang harus diperbuat untuk 
mengisi kemerdekaan negerinya.

Tanpa kepemimpinan Bung Soekarno, Tuan pasti tidak akan punya kedudukan sebagai 
Presiden seperti sekarang ini. Bung Soekarno itu telah meletakkan Undang-undang 
dasar yang demokratis untuk Indonesia dan telah mendirikan “Lingua Franca”.

Dibidang seni dan budaya beliau adalah promotor. Beliaulah orangnya yang telah 
meletakkan dasar untuk pembangunan Bangsa Indonesia. Apakah dengan jasa-jasanya 
itu tidakkah pantas beliau mendapatkan imbalan?!.

Andaikan Bung Soekarno tahu bahwa akan terjadi suatu pengkhianatan yang 
berakibat pembunuhan antar sesama Bangsa seperti peristiwa G30S itu, pasti 
beliau tidak akan menyetujuinya.

Dan sayapun tidak akan tinggal diam apabila sampai suami saya terlibat dalam 
tindakan kekerasan itu. Didepan mata saya Bung Karno itu sangat terpuji dengan 
sifat-sifatnya yang luhur! Saya sangat yakin bahwa kalau ada seseorang yang 
berbuat dengan cara sadar dan sistematis membunuh sesama manusia, maka 
perbuatan itu adalah yang paling keji dan tak beradab. Saya kenal pepatah 
Jepang yang berbunyi “mencekek seseorang dengan kain sutra: Sehubungan dengan 
inilah Tuan Suharto. Tuan telah memperkenankan Bung Karno itu diperlakukan 
sedemikian rupa tersiksa baik lahir maupun batinnya.

Selama ini saya belum pernah mengeluarkan suara atau pernyataan apa-apa karena 
saya sadar bahwa Tuan sedang menghadapi persoalan-persoalan yang cukup gawat. 
Tapi kali ini saya harus berbicara secara terbuka kepada Tuan karena: 
pertama-pertama untuk menjaga keselarnatan dan nama baik Presiden Soekarno.

Ketika Presiden Soekarno menyerahkan wewenangnya kepada Tuan sebagai pejabat 
Presiden pada tanggal 7 Maret 1967 telah diberikan 3 syarat oleh beliau kepada 
Tuan. Salah satu diantaranya yalah: bahwa Tuan harus menjaga keselamatan 
keluarga Presiden Soekarno. Ternyata Tuan tidak memperhatikan permintaan beliau 
itu.

Sewaktu Tuan diwawancarai oleh wartawan Jepang tentang banyaknya korupsi di 
Indonesia dewasa ini. Tuan telah memberikan keterangan sebagai berikut: 
“Tentang masalah korupsi itu saya kira selamanya akan ada. Dan soal korupsi ini 
sebenarnya adalah sisa-sisa dari pemerintah Soekarno dulu. Sementara ini akan 
tetap demikian karena memang sedemikian sejak semula”

Kalau ucapan Tuan itu benar maka ucapan Tuan itu seakan-akan ucapan seorang 
yang tidak bertanggung jawab. Sikap Tuan itu adalah licik dan tidak jantan 
karena Tuan ternyata berlindung dibelakang nama Soekarno tentang apa yang 
sekarang terjadi. Ketika Tuan berbicara demikian didepan wartawan itu maka 
habislah segala rasa hormat saya pada Tuan sampai yang terakhirpun!

Memang selama masih disebut manusia, biasanya siapa yang menang akan selalu 
menganggap dirinya benar dan sebaliknya mereka yang kalah pasti segala 
sesuatunya akan ditimpakan kepadanya

Apabila Tuan memang bersedia dan benar-benar mau menyelidiki serta memberantas 
korupsi sebagai seorang warga negara Indonesia saya sepenuhnya bersedia untuk 
menjadi saksi dan hadir pada setiap sidang-sidang pengadilan yang dilakukan 
secara terbuka. Sudah tentu pelaksanaanya harus sesuai dengan norma-norma dan 
hukum yang berlaku dan tidak ditutup-tutup serta tidak boleh (…?? Sambungan 
kalimat tidak jelas, oleh penyebar, Enje)

Bung Karno adalah Pahlawan Revolusi Indonesia. Dengan kerendahan hati ingin 
saya katakan bahwa beliau memang belum tentu bisa menjadi pemimpin diwaktu 
damai. Akan tetapi saya kira andaikata Bung Karno itu sewaktu menjadi mahasiswa 
sempat belajar di luar negeri beliau pasti akan lebih banyak mengenal 
masalah-masalah ekonomi yang akan melengkapi kepemimpinanya. Saya katakan 
demikian karena mungkin “Nasionalisasi” perusahaan–perusahaan asing di 
Indonesia yang telah dilakukanya itu sebagai suatu kekhilafan.

Selain itu Bung Karno itu sebenarnya tak pernah mengalami dan berada dalam 
kehidupan keluarga yang stabil. (Sebagai seorang pejuang pasti tidak mungkin ! 
penyalin). Andaikata beliau lebih lama mengenal kehidupan rumah-tangga yang 
harmonis seperti halnya kebanyakan orang mungkin beliau ini akan menjadi 
Presiden yang lebih baik dalam suatu pemerintahan yang terpimpin dan sosiaiis 
dinegeri ini. Sayangnya tidak memungkinkan sehingga beliau itu lebih cenderung 
pada sifat-sifat seorang kaisar. Dan beliau jadi korban dari kekuasaan yang 
dikuasainya sendirian secara-penuh.

Saya dapat mengatakan demikian kepada Tuan karena saya memang menganggap dan 
menghomati Soekarno itu sebagai orang besar. Akan tetapi kiranya Tuan tahu, 
bahwa saya tidak selalu menyetujui setiap pendapatnya.

Sebagai misal terhadap Pancasila yang beliau gali dan ciptakan itu, menunrt 
pendapat saya adalah sepenuhnya terlalu idealistis. Meskipun idealisme itu 
perlu akan tetapi dalam abad ke 21 ini tidak sepenuhnya idealisme itu dapat 
dilaksanakan dalam praktek.

Indonesia sebenarnya belum matang untuk dibawa pada sistem demokrasi ala barat. 
Oleh karena itulah maka Bung Karno memberikan konsep pemikiran: “Demokrasi 
Terpimpin”. Lebih-lebih karena Rakyat Indonesia kebanyakan masih banyak yang 
buta huruf dan taraf pendidikan maupun kemampuan ekonominya tidak sama. Dalam 
hal ini saya sependapat dengan Bung Karno.

Akan tetapi dipihak lain beliau itu telah meletakan dasar politik yang terlalu 
tinggi dan terlalu ideal. Karena itu dapatlah dimengerti kalau beliau mendapat 
kritik yang begitu keras terutama dengan cita-citanya untuk mengadakan 
perbaikan atas nasib seluruh rakyat Indonesia secara rnasal dan serentak. 
Beliau sebetulnya harus lebih realistis dengan ide-idenya itu. Pada saat-saat 
beliau mempunyai posisi yang cukup kuat sebagai penguasa tertinggi mestinya 
bliau akan mendapatkan dukungan dari pembantu- pembantunya atas ide-idenya 
tersebut. 

Akan tetapi kebanyakan dari Rakyat Indonesia itu hanya mengharapkan perubahan- 
perubahn dalam kebutuhan hidup sehari-harinya. Rakyat hanya menginginkan 
pemenuhan material yang nyata dan mereka sudah mulai jenuh dengan idealisme 
yang sering dipidatokan. Bung Karno itu mengemukakan bahwa dunia ini dikuasai 
oleh 2 blok kekuasaan adi kuasa. Dan ide beliau ingin membentuk kekuatan ke 3 
sebagai imbangan. Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita ini Indonesia dapat 
mempengaruhi dan menggerakkan dunia ke 3 seperti negara- negar di Asia, Afrika 
dan Amerika Latin. Ini berarti bahwa Indonesia sekaligus harus bisa berdikari 
disegala bidang. Demikian yang dicita-citakan oleh Bung Karno.

Kalau kemerdekan penuh dapat diberikan kepada semua negeri dan bangsa-bangsa 
yang terjajah. Akan sikap politik Indonesia yang mengisolasi diri itu 
menyebabkan Indonesia menarik diri dari keanggotaan P.B.B, dari Bank Dunia 
tidak ikut dalam Olympiade di Tokyo. Hal ini terjadi dalam rangka ketegangan 
dan perjuangan pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.

Bung Karno berpendapat bahwa P.B.B telah bersikap tidak adil terhadap 
anggota-anggotanya. Indonesia yang belum pernah mendapat pinjaman dari Bank 
Dunia (Yang dikuasai oleh Amerika Serikat) telah menolak bantuan itu, kalau 
memakai syarat-syarat politik. Sebelum olympiade Tokyo dimulai Indonesia telah 
dituduh mempolitisir olah-raga seluruh bangsa-bangsa Asia-Afrika di Jakarta 
(Ganefo). Karena Indonesia lalu ditolak untuk ikut dalam Olympiade Tokyo itu. 
Dalam hal ini Bung Karno menolak tuduhan tersebut kerena ternyata 
pertandingan-pertandingan Olympiade selama inipun juga tidak mengikut sertakan 
semua negeri khususnya negara-negara komunis.

Tuan Suharto.

Apabila Tuan juga mencoba memikirkan tentang hari depan Indonesia pada 
hari-hari yang gawat itu tuan pun akan pasti mempunyai pendapat-pendapat lain 
mengenai ide-ide Bung Karno itu, yang mempunyai akibat tantangan angin taufan. 
Saya sendiripun ikut prihatin dengan hati yang berdebar-debar memperhatikan 
bahwa diplomasi Indonesia itu makin hari makin bergeser kekiri.

Memang tak ada orang yang sempurna! Begitu juga dengan diri Bung Karno menurut 
saya apa yang dikerjakan oleh beliau itu sama sekali tidak terselip untuk 
keuntungan diri sendiri tetapi sepenuhnya segala sesuatunya itu diabdikan pada 
Indonesia dan rakyatnya satu-satunya yang dicintainya dan hendak diabdinya. 
Dalam perjalanan hidupnya Bung Karno itu selalu berusaha untuk mencegah dan 
menghindari ada pertentangan dalam negeri yang bisa berakibat adanya 
korban-korban.

Dibanding dengan sikap Tuan dan pembantu-pembantu Tuan ternyata jauh berbeda 
dimana Tuan atau pembantu-pembantu Tuan telah memerintah Indonesia dengan 
perampokan dan pertum-pahan darah. Tuan dan pembantu-pembantu Tuan kelak akan 
dituntut dengan tuduhan telah melaksanakan pembunuhan yang disengaja terhadap 
ratusan ribu orang PKI yang tidak bersalah, dengan dalih “penumpasan PKI sampai 
ke akar-akarnya”

Siapa dapat percaya bahwa Tuan percaya kepada Tuhan ? Dalam hal ini Indonesia 
seharusnya tidak memerlukan Presiden dimana tangannya penuh berlumuran darah.

Tuan Suharto.

Bung Karno itu saya tahu benar-benar sangat mencintai Indonesia dengan 
Rakyatnya. Sebagai bukti bahwa meskipun ada lawannya yang berkali-kali hendak 
menteror beliau beliau pun masih mau memberikan pengampunan kalau yang 
bersangkutan itu mau mengakui kesalahannya. Dibanding dengan Bung Karno maka 
dibalik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam. Tuan telah 
membiarkan ratusan ribu orang orang PKI dibantai. Kalau saya boleh bertanya : 
apakah Tuan tidak mampu dan tidak berkuasa untuk mencegah dan melindungi mereka 
agar tidak terjadi pertumpahan darah?

Mungkin Tuan kelupaan bahwa ketika peristiwa tahun 1965 itu berlangsung Bung 
Karno tidak juga Tuan suruh bunuh pula. Tuan pasti mudah amat untuk 
mempersalahkan dan menuduh PKI itu bersalah sehingga terjadinya tragedi 
tersebut. Kalau Tuan mau berbuat demikian maka pasti rakyat banyak yang menjadi 
pengagum dan menganut Bung Karno itu akan tetap hidup tenang. Tidak seperti 
sekarang dimana mereka tidak dapat berbuat apa-apa sementara mereka tidak tahu 
bagai-mana nasib pemimpinnya.

Semestinya Tuan tidak perlu memperlakukan Bung Karno itu sedemikian rupa, yang 
rnungkin karena perasaan kerdil Tuan. Sebenarnya Tuan akan lebih terhormat 
apabila Bung Karno itu sebagai Pemimpin Besar Revolusi dapat meninggal secara 
wajar bukan karena tersiksa dalam tahanan. Adalah suatu kerugian besar sekali 
bagi Indonesia bahwa Bung Karno itu telah mendapat perilakuan yang tidak wajar 
seperti itu setelah beliau mengabdi selama hidupnya untuk Negara Indo­nesia dan 
bangsanya.

Pada akhir surat terbuka ini saya akan tutup surat ini dengan mengenang kembali 
akan kecintaan dan kemesraan saya terhadap Bung Karno dengan seruan!!!

Paris tgl 16-4-1970
Tertanda
Ratna Sari Dewi Soekarno

[Non-text portions of this message have been removed]


  #yiv7155726841 #yiv7155726841 -- #yiv7155726841ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-mkp #yiv7155726841hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mkp #yiv7155726841ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mkp .yiv7155726841ad 
{padding:0 0;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mkp .yiv7155726841ad p 
{margin:0;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mkp .yiv7155726841ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-sponsor 
#yiv7155726841ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-sponsor #yiv7155726841ygrp-lc #yiv7155726841hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-sponsor #yiv7155726841ygrp-lc .yiv7155726841ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7155726841 #yiv7155726841actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7155726841
 #yiv7155726841activity span {font-weight:700;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7155726841 #yiv7155726841activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7155726841 #yiv7155726841activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7155726841 #yiv7155726841activity span 
.yiv7155726841underline {text-decoration:underline;}#yiv7155726841 
.yiv7155726841attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7155726841 .yiv7155726841attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7155726841 .yiv7155726841attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7155726841 .yiv7155726841attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7155726841 .yiv7155726841attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7155726841 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7155726841 .yiv7155726841bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7155726841 
.yiv7155726841bold a {text-decoration:none;}#yiv7155726841 dd.yiv7155726841last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7155726841 dd.yiv7155726841last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7155726841 
dd.yiv7155726841last p span.yiv7155726841yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7155726841 div.yiv7155726841attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7155726841 div.yiv7155726841attach-table 
{width:400px;}#yiv7155726841 div.yiv7155726841file-title a, #yiv7155726841 
div.yiv7155726841file-title a:active, #yiv7155726841 
div.yiv7155726841file-title a:hover, #yiv7155726841 div.yiv7155726841file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7155726841 div.yiv7155726841photo-title a, 
#yiv7155726841 div.yiv7155726841photo-title a:active, #yiv7155726841 
div.yiv7155726841photo-title a:hover, #yiv7155726841 
div.yiv7155726841photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7155726841 
div#yiv7155726841ygrp-mlmsg #yiv7155726841ygrp-msg p a 
span.yiv7155726841yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7155726841 
.yiv7155726841green {color:#628c2a;}#yiv7155726841 .yiv7155726841MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7155726841 o {font-size:0;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841photos div {float:left;width:72px;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7155726841
 #yiv7155726841reco-category {font-size:77%;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841reco-desc {font-size:77%;}#yiv7155726841 .yiv7155726841replbq 
{margin:4px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-mlmsg select, #yiv7155726841 input, #yiv7155726841 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-mlmsg pre, #yiv7155726841 code {font:115% 
monospace;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-mlmsg #yiv7155726841logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-msg 
p#yiv7155726841attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-reco #yiv7155726841reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-sponsor 
#yiv7155726841ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-sponsor #yiv7155726841ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-sponsor #yiv7155726841ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7155726841 #yiv7155726841ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7155726841 
#yiv7155726841ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7155726841   

Kirim email ke