*Tentu saja para jenderal harus berpolitik sebab politik itu fulus, tanpa politik dompet kempis. Berpolitik adalah jalan ke sumber berkat bin rejeki. Sial bagi para prajurit krocok-krocok di lapangan, mereka dilarang berpolitik*
http://indobisnis.indopos.co.id/read/2017/09/29/111879/Moeldoko-Kalau-Semua-Jenderal-Berpolitik-Siapa-yang-Akan-Memikirkan-Petani Moeldoko: Kalau Semua Jenderal Berpolitik, Siapa yang Akan Memikirkan Petani Menurut dia, para petani Indonesia masih mengalami banyak persoalan *Jumat, 29 September 2017 | 17:15* Share: Jenderal (TNI) purn. Moeldoko *INDOPOS.CO.ID <http://INDOPOS.CO.ID> - *Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko mengungkapkan alasannya memilih bertani daripada terjun ke dunia politik setelah pensiun dari jabatannya sebagai Panglima. Menurut Moeldoko, jika semua jenderal berpolitik, tidak akan ada jenderal yang fokus pada sektor pertanian. "Kalau semua, para jenderal berpikir tentang politik, siapa yang akan berpikir tentang kesejahteraan petani," kata dia saat menghadiri Dies Natalis ke-9 Politeknik Kota Malang. Dikatakan Moeldoko, sistem pertanian di Indonesia masih tertinggal. Penggunaan teknologi pertanian masih minim sehingga hasil pertanian belum optimal. "Kita masih cara-cara tradisional. Buktinya adalah harga padi kita itu masih terlalu mahal. Kenapa begitu, berarti proses produksinya tinggi. Berarti ada yang salah. Di mana salahnya, di teknologi," dia menegaskan. Moeldoko menjelaskan, cara-cara tradisional petani membuat dia harus kehilangan hasil pertaniannya sebesar 10 persen. Terutama pada pertanian padi. Karenanya, ia menganggap harus ada sentuhan teknologi. Mulai dari pengolahan lahan, tanam, sampai pada pasca-panen. "Pasca-panen yang dijalankan secara trandisional, petani akan kehilangan padinya 10 persen. Kelihatannya kecil 10 persen, tapi kalau kita nanamnya 10 hektar, 10 persen itu berapa," jelasnya. Moeldoko mengatakan, para petani di Indonesia masih banyak mengalami persoalan. Mulai dari pengolahan lahan hingga proses pasca-panen. Mengenai pengolahan lahan, Moeldoko menyebutkan, lahan pertanian sudah rusak akibat pestisida berlebih. Hal itu salah satunya ditunjukkan oleh hilangnya ekosistem di lahan tersebut. "Ekosistem sekarang tidak berjalan dengan baik. Ular sudah tidak ada di sawah. Kenapa, karena tidak ada kodok. Kenapa tidak ada kodok karena pestisida. Yang datang hanya tikus," katanya. Karenanya, Moeldoko menyebut harus ada upaya untuk mengembalikan kondisi lahan pertanian. Salah satunya adalah dengan mengelola lahan menggunakan bahan-bahan organik. "Semuanya kita kelola dengan bahan-bahan yang organik. Harapan kita, kita menghasilkan makanan yang sehat. Sehingga Indonesia memiliki manusia yang unggul karena memakan makanan-makanan yang sehat," papar dia menambahkan. Editor : Redjo Prahananda
