'

*70 tahun miskin. Apakah akan menjadi seabad miskin di pangkuan dan asuhan
ibu Pertiwi? hehehehe*


http://kupang.tribunnews.com/2017/09/21/provinsi-terkorup-ketiga-dan-kemiskinan?page=all



Provinsi Terkorup Ketiga dan Kemiskinan

Kamis, 21 September 2017 22:08


[image: Provinsi Terkorup Ketiga dan Kemiskinan]*Oleh: Markus Tulu, SVD*
*Biarawan Pastor dan tinggal di Ende*

*POS KUPANG.COM <http://KUPANG.COM> -* Provinsi Nusa Tenggara Timur
<http://kupang.tribunnews.com/tag/nusa-tenggara-timur> (NTT) dalam sejarah
kehidupan berbangsa dikenal dengan banyak label. Beberapa di antaranya saya
sebut yakni, NTT artinya Nanti Tuhan Tolong. NTT bisa berarti juga Negeri
Tetap Tandus.

Banyak label turunan dari negeri tetap tandus itu; seperti provinsi panas
menantang, provinsi kering kerontang, provinsi kesulitan air, provinsi
gagal tanam dan gagal panen, provinsi busung lapar, provinsi wabah malaria
dan demam berdarah, provinsi maraknya gigitan anjing rabies, provinsi yang
ternaknya seperti sapi dan babi terserang wabah yang tak teratasi, provinsi
dengan mutu pendidikan yang diukur dengan angka kelulusan yang masih di
bawah standar, provinsi yang angka kematian ibu dan anak masih tergolong
tinggi, provinsi yang wilayah-wilayah pedalaman banyak yang belum diterangi
listrik, provinsi dengan infra struktur jalan yang belum sungguh
diperhatikan dan berbagai label minus lainnya yang seakan tetap merenda
secara tidak elok pada provinsi yang terkorup ke tiga itu yang akhirnya
melahirkan label kemiskinan itu.

Secara kasat mata membaca judul dan paragraf pembuka dari tulisan ini
seakan membuat pemilik provinsi ini merasa geram, tersinggung dan apa pun
yang senada lainnya.

Tetapi jika semua kita bersikap jujur dan kritis-obyektif, tentu kita
mengakui dan menyesal mengapa NTT sebagai sebuah provinsi tidak pernah
terjadi perubahan secara signifikan dari waktu ke waktu walau
berganti-ganti gubernur.

Bukan tidak mungkin kalau secara umum kondisi riil alam wilayah provinsi
NTT ini sering dilihat dan dipakai sebagai alasan pembenar bahwa provinsi
NTT itu memang provinsi yang miskin. Tetapi apakah benar bahwa fakta
obyektifnya demikian?

Sebuah pertanyaan kritis mendesak pemilik provinsi ini untuk bersikap tegas
obyektif mengatakan tidaklah demikian.

Karena realitas, NTT sebagai sebuah provinsi dari sisi kewilayahannya dan
segala yang ada di dalamnya terkandung berbagai sumber daya dan
potensi-potensi andal yang bila diteropong secara tepat dan dikelola secara
benar akan terjadi transformasi sosial secara signifikan.

Dengan mengatakan demikian berarti tidak benar apabila NTT diberi label
sebagai provinsi yang miskin. Bahwa kesejahteraan hidup masyarakat NTT bila
dinilai seturut statistik nasional berada sedikit di bawah garis standar,
itu tidak secara otomatis membenarkan NTT sebagai provinsi yang miskin.

Dikatakan demikian karena fakta obyektifnya NTT sebagai provinsi memiliki
sumber daya-sumber daya unggulan dan kaya seperti sumber daya manusia dan
sumber daya alam; laut dan darat. Siapa yang meragukan kualitas
manusia-manusia NTT? Apa yang kurang dari sumber daya alam; laut dan darat
yang ada di wilayah NTT?

Fakta obyektif yang tak terbantahkan inilah yang mestinya mendesak pemilik
provinsi ini untuk dengan tegas dan berani menolak label bahwa NTT itu
provinsi yang miskin.

Bahwa sejak lama dan sampai dengan sekarang issu kemiskinan itu hadir
secara marak di provinsi ini, menurut saya hal itu tidak lebih dari sebuah
kampanye politik kepentingan. Karena berganti-ganti gubernur dengan
kampanye-kampanye politik untuk memberantas kemiskinan tetapi fakta tingkat
kesejahteraan masyarakat sampai dengan sekarang tetap saja dan tidak pernah
berubah secara signifikan. Mengapa demikian?

Kalau memang fakta obyektifnya sudah sebagaimana dijelaskan terdahulu maka
isu kemiskinan yang sering tampil marak selama ini sesungguhnya hanya
akal-akalan politik kepentingan. Di sini pemilik provinsi ini didesak untuk
bersikap kritis-obyektif dan tegas menyatakan bahwa isu kemiskinan itu
terjadi hanya karena para elit provinsi tidak tulus mengurus dan tidak
fokus membangun provinsi ini.

Para elit provinsi mengelola provinsi ini selama ini dinilai hanya lebih
mengandalkan kualitas intelektual. Fakta itu ditunjukkan lewat
kebijakan-kebijakan politik tanpa hati nurani sehinggah kualitas moral
hilang lenyap di peredaran argumentasi atas nama pembangunan.

Kenyataan yang aneh di NTT ini adalah sejak lama dicap sebagai provinsi
terkorup ketiga tetapi tidak cukup banyak koruptor yang ditangkap,
diperiksa, ditahan dan dipidanakan.

Kalau pun ada segelintir pejabat negara dan mantan pejabat yang sampai
dipidanakan selama ini itu pun hanya pejabat-pejabat rendah yang tidak
punya kuasa untuk mempengaruhi daya kerjanya aparat penegak hukum demi
menghentikan proses hukum.

Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa daya kerja aparat penegak hukum di
provinsi NTT ini sering kali dikendalikan oleh kekuasaan politik dan
ekonomi kelompok elit provinsi. Itulah sebabnya maka wala pun secara
nasional NTT ini dicap sebagai provinsi terkorup ketiga dan melahirkan
label kemiskinan tetapi tetap tidak ada pejabat tinggi provinsi yang
dipidanakan.

Berhadapan dengan kenyataan bahwa kelompok elit provinsi ini baik di
jajaran eksekutif, legislatif dan yudikatif semuanya seakan terkena krisis
moral dan krisis iman maka patut sebagai pemilik provinsi ini kita bersikap
kritis dan tegas membangun kerja sama untuk mengontrol berjalannya roda
pembangunan di NTT ini.

Di samping itu hendaknya berbagai stake holders yang ada di provinsi ini
terus dan tetap saja melakukan upaya-upaya pencerahan dan pendidikan kritis
kepada kelompok masyarakat yang ada agar masyarakat pada akhirnya tidak
lagi dibohongi dan diinjak-injak martabat dirinya dengan kampanye-kampanye
politik murahan seperti dengan money politics misalnya.

Pilkada gubernur sudah di ambang pintu. Banyak figur dengan berupa-rupa
cara dan pelbagai bentuk mendatangi masyarakat. Itulah masa atau rentang
waktu politik pilkada gubernur provinsi ini. Tentu saja tidak satu pun di
antara figur-figur yang ada mengakui sebagai yang tidak mampu, yang tidak
pernah berjasa, yang tidak dikenal, yang tidak bercacat hanya demi mau maju
menjadi orang nomor satu di provinsi ini.

Karena itu maka sebagai pemilik provinsi ini kita harapkan bahwa untuk ke
depannya kita perlu menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan obyektif. Dalam
arti kita perlu memilih pemimpin yang memiliki integritas diri yang andal
berdasarkan pengetahuan dan pengenalan kita tentang figur tertentu dengan
belajar dari rekam jejaknya selama ini.

Kita perlu menyeleksi secara ketat dengan sikap kritis dan nurani yang
tajam soal integritas diri yang andal dari calon seorang pemimpin. Karena
diyakini bahwa hanya dengan sikap yang demikian akhirnya kita bersama
pemimpin terpilih itu mengakhiri cap NTT sebagai provinsi terkorup ketiga
dan menghapus label kemiskinan pada provinsi NTT tercinta ini.

Jika demikian yang terjadi niscaya transformasi sosial hadir menyata di
provinsi ini. Transformasi sosial itu menyata dalam kesejahteraan hidup
masyarakat NTT. *

Kirim email ke