Sudah umur 70 tahun, masih dipangku ? 2017-09-30 17:51 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > ' > > *70 tahun miskin. Apakah akan menjadi seabad miskin di pangkuan dan asuhan > ibu Pertiwi? hehehehe* > > > http://kupang.tribunnews.com/2017/09/21/provinsi-terkorup- > ketiga-dan-kemiskinan?page=all > > > > Provinsi Terkorup Ketiga dan Kemiskinan > > Kamis, 21 September 2017 22:08 > > > [image: Provinsi Terkorup Ketiga dan Kemiskinan]*Oleh: Markus Tulu, SVD* > *Biarawan Pastor dan tinggal di Ende* > > *POS KUPANG.COM <http://KUPANG.COM> -* Provinsi Nusa Tenggara Timur > <http://kupang.tribunnews.com/tag/nusa-tenggara-timur> (NTT) dalam > sejarah kehidupan berbangsa dikenal dengan banyak label. Beberapa di > antaranya saya sebut yakni, NTT artinya Nanti Tuhan Tolong. NTT bisa > berarti juga Negeri Tetap Tandus. > > Banyak label turunan dari negeri tetap tandus itu; seperti provinsi panas > menantang, provinsi kering kerontang, provinsi kesulitan air, provinsi > gagal tanam dan gagal panen, provinsi busung lapar, provinsi wabah malaria > dan demam berdarah, provinsi maraknya gigitan anjing rabies, provinsi yang > ternaknya seperti sapi dan babi terserang wabah yang tak teratasi, provinsi > dengan mutu pendidikan yang diukur dengan angka kelulusan yang masih di > bawah standar, provinsi yang angka kematian ibu dan anak masih tergolong > tinggi, provinsi yang wilayah-wilayah pedalaman banyak yang belum diterangi > listrik, provinsi dengan infra struktur jalan yang belum sungguh > diperhatikan dan berbagai label minus lainnya yang seakan tetap merenda > secara tidak elok pada provinsi yang terkorup ke tiga itu yang akhirnya > melahirkan label kemiskinan itu. > > Secara kasat mata membaca judul dan paragraf pembuka dari tulisan ini > seakan membuat pemilik provinsi ini merasa geram, tersinggung dan apa pun > yang senada lainnya. > > Tetapi jika semua kita bersikap jujur dan kritis-obyektif, tentu kita > mengakui dan menyesal mengapa NTT sebagai sebuah provinsi tidak pernah > terjadi perubahan secara signifikan dari waktu ke waktu walau > berganti-ganti gubernur. > > Bukan tidak mungkin kalau secara umum kondisi riil alam wilayah provinsi > NTT ini sering dilihat dan dipakai sebagai alasan pembenar bahwa provinsi > NTT itu memang provinsi yang miskin. Tetapi apakah benar bahwa fakta > obyektifnya demikian? > > Sebuah pertanyaan kritis mendesak pemilik provinsi ini untuk bersikap > tegas obyektif mengatakan tidaklah demikian. > > Karena realitas, NTT sebagai sebuah provinsi dari sisi kewilayahannya dan > segala yang ada di dalamnya terkandung berbagai sumber daya dan > potensi-potensi andal yang bila diteropong secara tepat dan dikelola secara > benar akan terjadi transformasi sosial secara signifikan. > > Dengan mengatakan demikian berarti tidak benar apabila NTT diberi label > sebagai provinsi yang miskin. Bahwa kesejahteraan hidup masyarakat NTT bila > dinilai seturut statistik nasional berada sedikit di bawah garis standar, > itu tidak secara otomatis membenarkan NTT sebagai provinsi yang miskin. > > Dikatakan demikian karena fakta obyektifnya NTT sebagai provinsi memiliki > sumber daya-sumber daya unggulan dan kaya seperti sumber daya manusia dan > sumber daya alam; laut dan darat. Siapa yang meragukan kualitas > manusia-manusia NTT? Apa yang kurang dari sumber daya alam; laut dan darat > yang ada di wilayah NTT? > > Fakta obyektif yang tak terbantahkan inilah yang mestinya mendesak pemilik > provinsi ini untuk dengan tegas dan berani menolak label bahwa NTT itu > provinsi yang miskin. > > Bahwa sejak lama dan sampai dengan sekarang issu kemiskinan itu hadir > secara marak di provinsi ini, menurut saya hal itu tidak lebih dari sebuah > kampanye politik kepentingan. Karena berganti-ganti gubernur dengan > kampanye-kampanye politik untuk memberantas kemiskinan tetapi fakta tingkat > kesejahteraan masyarakat sampai dengan sekarang tetap saja dan tidak pernah > berubah secara signifikan. Mengapa demikian? > > Kalau memang fakta obyektifnya sudah sebagaimana dijelaskan terdahulu maka > isu kemiskinan yang sering tampil marak selama ini sesungguhnya hanya > akal-akalan politik kepentingan. Di sini pemilik provinsi ini didesak untuk > bersikap kritis-obyektif dan tegas menyatakan bahwa isu kemiskinan itu > terjadi hanya karena para elit provinsi tidak tulus mengurus dan tidak > fokus membangun provinsi ini. > > Para elit provinsi mengelola provinsi ini selama ini dinilai hanya lebih > mengandalkan kualitas intelektual. Fakta itu ditunjukkan lewat > kebijakan-kebijakan politik tanpa hati nurani sehinggah kualitas moral > hilang lenyap di peredaran argumentasi atas nama pembangunan. > > Kenyataan yang aneh di NTT ini adalah sejak lama dicap sebagai provinsi > terkorup ketiga tetapi tidak cukup banyak koruptor yang ditangkap, > diperiksa, ditahan dan dipidanakan. > > Kalau pun ada segelintir pejabat negara dan mantan pejabat yang sampai > dipidanakan selama ini itu pun hanya pejabat-pejabat rendah yang tidak > punya kuasa untuk mempengaruhi daya kerjanya aparat penegak hukum demi > menghentikan proses hukum. > > Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa daya kerja aparat penegak hukum > di provinsi NTT ini sering kali dikendalikan oleh kekuasaan politik dan > ekonomi kelompok elit provinsi. Itulah sebabnya maka wala pun secara > nasional NTT ini dicap sebagai provinsi terkorup ketiga dan melahirkan > label kemiskinan tetapi tetap tidak ada pejabat tinggi provinsi yang > dipidanakan. > > Berhadapan dengan kenyataan bahwa kelompok elit provinsi ini baik di > jajaran eksekutif, legislatif dan yudikatif semuanya seakan terkena krisis > moral dan krisis iman maka patut sebagai pemilik provinsi ini kita bersikap > kritis dan tegas membangun kerja sama untuk mengontrol berjalannya roda > pembangunan di NTT ini. > > Di samping itu hendaknya berbagai stake holders yang ada di provinsi ini > terus dan tetap saja melakukan upaya-upaya pencerahan dan pendidikan kritis > kepada kelompok masyarakat yang ada agar masyarakat pada akhirnya tidak > lagi dibohongi dan diinjak-injak martabat dirinya dengan kampanye-kampanye > politik murahan seperti dengan money politics misalnya. > > Pilkada gubernur sudah di ambang pintu. Banyak figur dengan berupa-rupa > cara dan pelbagai bentuk mendatangi masyarakat. Itulah masa atau rentang > waktu politik pilkada gubernur provinsi ini. Tentu saja tidak satu pun di > antara figur-figur yang ada mengakui sebagai yang tidak mampu, yang tidak > pernah berjasa, yang tidak dikenal, yang tidak bercacat hanya demi mau maju > menjadi orang nomor satu di provinsi ini. > > Karena itu maka sebagai pemilik provinsi ini kita harapkan bahwa untuk ke > depannya kita perlu menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan obyektif. Dalam > arti kita perlu memilih pemimpin yang memiliki integritas diri yang andal > berdasarkan pengetahuan dan pengenalan kita tentang figur tertentu dengan > belajar dari rekam jejaknya selama ini. > > Kita perlu menyeleksi secara ketat dengan sikap kritis dan nurani yang > tajam soal integritas diri yang andal dari calon seorang pemimpin. Karena > diyakini bahwa hanya dengan sikap yang demikian akhirnya kita bersama > pemimpin terpilih itu mengakhiri cap NTT sebagai provinsi terkorup ketiga > dan menghapus label kemiskinan pada provinsi NTT tercinta ini. > > Jika demikian yang terjadi niscaya transformasi sosial hadir menyata di > provinsi ini. Transformasi sosial itu menyata dalam kesejahteraan hidup > masyarakat NTT. * > > > >
