Tidak ada yang lucu! Inilah persoalan bangsa Indonesia yang dininabobokan oleh Orba begitu lama.
Inilah warisan Orba yang harus ditanggung oleh siapapun. Siapapun presidennya akan mewarisi persoalan Macet Total ini. John Sidel anak didik Ben Anderson sudah ngomong ttg Macet Total ini termasuk birokrasi antar lembaga pemerintah. John sudah tahu ini sejak dia masih sekolah di Cornel Univ. sampai sekarang ngajar di UK ya tetap begitu pandangannya. Yang lucu adalah ente pake’ isu ini untuk bashing Jokowi. Apakah ente pernah ngomong begini dan bashing presiden lainnya termasuk Gus Dur? Kalau gak pernah itu namanya tendensius dan personal. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, October 1, 2017 10:26 AM To: [email protected] Subject: [GELORA45] Polri Akui Impor Ratusan Senjata Lucu, disinyalir ada impor senjata yang dilakukan institusi di luar TNI dan Polri. Lalu pemerintah cq Menkopolhukam meredam kegaduhan dengan mengatakan senjata itu untuk kebutuhan badan intelijen (BIN). Terkesan pemerintah mengunci opini masyarakat bahwa hanya BIN-lah institusi di luar TNI & Polri yang mengimpor senjata. Sekarang, tiba-tiba Polri mengakui mereka yang mengimpor. Rasanya baru kali ini ada organisasi pemerintahan yang setiap anggotanya bukan cuma bebas bicara tapi juga punya kebijakan sendiri-sendiri. Yang masih hangat misalnya tabrakan antara Menkeu - PLN, atau antara Menteri BUMN dan Menko Maritim soal Freeport. Sebelumnya juga sudah panjang daftar kegaduhan yang dibikin pejabat-pejabat pemerintah. Lucu, mengingat para elit itu terus meminta Rakyat untuk bersatu, bertunggal-ika, bergotoroyong dsk. - Polri Akui Impor Ratusan Senjata Mesha Mediani , CNN Indonesia | Sabtu, 30/09/2017 20:20 WIB CNN Indonesia -- Polri mengakui adanya impor ratusan senjata untuk Korps Brimob Polri. Pengadaannya sudah melalui proses anggaran yang sah. Namun, perijinannya masih diurus kepada TNI. "Barang yang ada dalam Bandara Soetta yang dinyatakan dimaksud rekan-rekan senjata adalah betul milik Polri dan barang yang sah," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/9). Menurutnya, pengadaan senjata itu sudah melalui prosedur yang sah. Ia juga mengakui masuknya senjata itu membutukan ijin dari TNI. "Semua sudah sesuai prosedur, mulai dari perencaan, proses lelang dan kemudian proses berikutnya sampai kemudian di-review pengadaan dan pembeliannya oleh pihak ke-4 dan proses masuk ke Indonesia," jelasnya. Dari informasi yang dihimpun, impor senjata api dan amunisi untuk Korps Brimob Polri dilakukan oleh PT. Mustika Duta Mas. Kargo berisi senjata itu sendiri tiba pesawat maskapai Ukraine Air Alliance dengan nomor penerbangan UKL 4024, pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB. Kargo itu berisi senjata yakni 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm. Senjata itu dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak), dengan berat total 2.212 kg. Kedua, amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm, yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg. Kedua jenis senjata itu merupakan standar militer. SAGL, menurut situs arsenal-bg.com, merupakan senjata pelontar granat tipe M 406. Sementara, RLV-HEFJ adalah amunisi granat yang digunakan sebagai senjata serbu militer untuk menghancurkan kendaraan atau meterial lapis baja ringan. Sementara, alamat penerimanya adalah Bendahara Pengeluaran Korps Brimob Polri, Kesatriaan Amji Antak, Kelapa Dua, Cimanggis, Indonesia. Barang mulai diturunkan dari pesawat, pada pukul 23.45. Aktivitas bongkar muat itu rampung pada Sabtu (30/9) pukul 01.25 WIB. Barang kemudian digeser ke Kargo Unex. Kargo tersebut diakui masih membutuhkan rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan lolos proses kepabeanan. Pihak Korps Brimob Polri disebut tidak akan mengambil barang tersebut sebelum kedua proses itu rampung. Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), mengungkap, Polri memang melakukan pengadaan senjata jenis MAG 4 dalam APBN 2017. DPR pun sudah menyetujui pembeliannya sebanyak 20 ribu pucuk. "Polri perlu menjelaskan, apakah senjata dan amunisi ini bagian dari rencana Polri untuk membeli 20 ribu pucuk senjata api," kata dia, dalam siaran persnya. Menurutnya, hal itu terkait dengan kebutuhan peremajaan senjata api Polri. Sebab, sebagian besar senjata api yang dipegang personilnya tergolong senjata tua dan sebagian hasil kanibal. "Namun diharapkan senjata yang digunakan Polri adalah untuk melumpuhkan dan tidak sama dengan senjata TNI agar tidak muncul komplain atau protes dari kalangan militer," tambah Neta. Catatan Redaksi: Judul berita ini sebelumnya ditulis dengan judul 'Polri Akui Impor Ratusan Senjata Berat'. Informasi itu kami ralat. Polri mengklarifikasi tidak pernah menyatakan istilah senjata berat. Dengan demikian, kekeliruan ini telah kami perbaiki. (arh)
