*Mungkin saja otak separuh penduduk sudah penuh dengan berbagai persoalan
kehidupan se-hari yang perlu solusi, dan oleh karena itu tidak sempat dan
tidak ada tempat di otak untuk menghafalkan ”IR” jadi mereka anngap tidak
perlu, karena sudah ada banyak orang yang tahu dan bisa menyanyikannya
dengan suara merdu. hehehehehe*


http://www.suarakarya.id/detail/47128/Ironis-Separuh-Penduduk-Indonesia-Tidak-Hafal-Indonesia-Raya



Ironis, Separuh Penduduk Indonesia Tidak Hafal "Indonesia Raya"

[image: Ironis, Separuh Penduduk Indonesia Tidak Hafal]

Foto: Istimewa

Dari 100 orang yang ditanya 18 orang tidak tahu judul lagu kebangsaan, dari
100 orang, 24 orang tidak paham sila Pancasila dan 53 persen penduduk tidak
hafal lagu kebangsaan, ini sesuatu yang ironis namun perlu disikapi
serius".

PADANG (Suara Karya): Kementerian Dalam Negeri mengungkapkan bahwa
berdasarkan survei satu lembaga, sekitar 53 persen warga Indonesia atau
separuh dari total penduduk tidak hafal lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

"Dari 100 orang yang ditanya 18 orang tidak tahu judul lagu kebangsaan,
dari 100 orang, 24 orang tidak paham sila Pancasila dan 53 persen penduduk
tidak hafal lagu kebangsaan, ini sesuatu yang ironis namun perlu disikapi
serius," kata Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri
Soedarmo di Padang, Sumatera Barat, Selasa malam (26/9).

Ia menyampaikan hal itu pada temu ramah dengan Gubernur, Bupati dan Wali
Kota serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah se-Sumbar, Anggota DPRD
Provinsi serta perangkat daerah hingga Lurah se-Kota Padang bersama Menteri
Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Menurutnya, dari survei tersebut sebanyak 61 persen generasi muda tidak
peduli dengan kondisi negara.

"Ini perlu jadi perhatian bersama para kepala daerah agar memahami kondisi
ini dan menumbuhkembangkan nasionalisme melalui ideologi Pancasila," kata
dia.

Ia menekankan salah satu tanggung jawab kepala daerah adalah menjaga
ketenteraman, ketertiban dan memelihara persatuan dan kesatuan di
masyarakat.

"Hal ini harus dilakukan dengan memberdayakan seluruh komponen yang ada di
daerah mulai dari forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh masyarakat dan
ormas," kata dia.

Di sisi lain ia mengakui karena sistem politik yang belum berjalan dengan
baik berdampak pada belum lahirnya pemimpin yang amanah dan memperjuangkan
masyarakat.

"Persoalan ini juga menyangkut kaderisasi partai yang belum maksimal karena
terkendala anggaran serta mahalnya ongkos pilkada menjadikan oknum kepala
daerah mendahulukan kepentingan pribadi sehingga melakukan korupsi,"
katanya seperti dikutip Antara. **

Kirim email ke