Koran HTI adalah Harian Terbit

2017-10-02 0:05 GMT+02:00 kh djie [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
>
>
> HTI GIGIT JARI..
>
> Persis seperti apa yang saya ungkapkan dalam tulisan "Jakarta mulai panas,
> pakde Jokowi", demo 299 itu sejatinya adalah demo HTI..
>
> HTI mempunyai kepentingan utama bukan karena masalah kebangkitan PKI, tapi
> karena Perppu pembubaran ormas. Seperti kita tahu, HTI masih menjadi korban
> satu2nya ormas yang dibubarkan karena perppu itu.
>
> Dan HTI ini ormas militan. Kerja mereka adalah demo dan demo.
>
> Demo yang sering mereka lakukan sebenarnya bukan karena mereka perduli
> tethadap situasi lokal maupun internasional, tetapi lebih besifat dagang.
>
> Dengan sering turun ke jalan, mereka mencari nama - dengan diliput media -
> dan dengan nama itu mereka merekrut banyak kader maupun simpatisan. Yang
> ujungnya adalah "dana perjuangan".
>
> Nah, yang menarik bagi saya, ternyata ada di keberhasilan pemerintah -
> terutama aparat kepolisian - dalam meredam aksi demo tersebut.
>
> Cara polisi memang aduhai. Mereka membuktikan profesionalitas dalam
> mengawal aksi massa. Mereka melebur di tengah peserta demo, dan mengawal
> dari dalam dengan pakaian yang sama dengan pendemo.
>
> Begitu juga barisan polisi penghadang. Mereka memakai sorban yang sama dan
> shalat Jumat bersama.
>
> Ada yang lebih menarik, yang tidak terlihat di permukaan.
>
> Para peserta demo yang awalnya diperkirakan berjumlah 30ribu sampai
> 50ribu, tiba2 mundur lebih dari separuhnya. Mereka menarik diri di saat
> terakhir.
>
> Saya lalu mencoba mencari informasi, kenapa mereka akhirnya mundur dari
> aksi massa itu ?
>
> Dari info yang saya dapat, ternyata kepada peserta demo "diingatkan" bahwa
> aksi 299 dinilai akan berpotensi rusuh. Ada potensi "kudeta" yang akan
> dilancarkan dengan menduduki DPR. Dan kudeta ini dilakukan HTI dengan
> menunggangi ormas-ormas yang memang niat awalnya hanya demo tentang
> kebangkitan PKI.
>
> Mendengar bahwa demo akan ditunggangi HTI untuk melakukan kudeta, banyak
> ormas yang takut. Mereka - para pentolan ormas yang nama namanya sudah
> dipegang polisi - langsung mundur teratur, karena perkara kudeta itu bukan
> perkara biasa. Itu kejahatan luar biasa.
>
> Begitu juga dengan para sponsor. Mereka langsung menarik diri bersamaan,
> ketika diingatkan untuk tidak terlibat dalam aksi demo karena berarti
> mereka mendukung kudeta. Dengan begitu logistik berkurang jauh dan hanya
> bergantung pada logistik dari HTI yang jelas tidak memungkinkan untuk
> membuat skala demo menjadi lebih besar.
>
> Begitu juga media massa diminta untuk tidak meliput demo secara massif.
> Dengan begitu, aksi massa tidak mendapat dukungan luas hanya berupa
> pemberitaan kecil yang tidak menarik.
>
> Disinilah pentingnya perang kontra intelijen.
>
> Permainan pikiran sangat menentukan dalam memperoleh kemenangan. Untuk itu
> saya harus mengangkat secangkir kopi kepada "pasukan senyap" operasi
> intelijen dari gabungan BIN, TNI dan Polri yang bermain tanpa terlihat.
>
> Saya juga harus angkat secangkir kopi untuk Kapolri Tito Karnavian yang
> mampu berfikir 10 langkah ke depan dalam menghadapi potensi rusuh di aksi
> massa. Dan semua itu tentu karena latar belakang beliau yang sangat kuat
> dalam ilmu terorisme.
>
> Pada akhirnya, diperkirakan demo kemarin hanya diikuti 5 sampai 10ribu
> massa saja. Malah mungkin lebih kecil. Mereka tidak bisa mengulang
> kesuksesan di 411 dan 212. Polisi sudah belajar banyak bagaimana
> menghadapinya..
>
> HTI pun gigit jari...
>
> Tidak banyak orasi yang membakar di demo tersebut. Bang Thoyib yang
> biasanya suka membakar2, tidak mau pulang kalau demo belum sukses. Yang ada
> hanya orasi si kwetiaw yang menyamakan Jokowi dengan firaun.
>
> Seharusnya situasi ini bisa dimanfaatkan betul oleh ormas Islam moderat
> seperti NU melalui organ pemudanya Ansor dan Banser.
>
> Ansor dan Banser harus muncul dalam bentuk aksi besar ke jalan, mendukung
> Perppu Ormas. Gerakan massa Ansor dan Banser akan merebut panggung jalanan
> yang selama ini dipakai kelompok fundamental untuk promosi dirinya.
>
> Ansor dan Banser harus menjadi leader dalam mempromosikan "Islam rahmat
> yang cinta NKRI". Dan sudah pasti ketika mereka muncul, para silent
> majority akan terwakili. Tidak boleh ada ormas yang mengatas-namakan agama
> untuk kepentingan politik yang haus kekuasaan..
>
> Ah, jajaran pakde Jokowi masih terlalu tangguh buat kaum radikal sampai
> saat ini.
>
> Meski begitu, saya terus bertanya "sampai kapan ?".  Karena jika polisi
> belajar, merekapun akan belajar untuk menyempurnakan isu dan aksinya.
>
> Sudah saatnya berfikir "mencegah" daripada satu waktu kita harus
> "mengobati".
>
> Seruput dulu ah...
>
> www.dennysiregar.com
>
>
> Von meinem iPhone gesendet
>
> --
> You received this message because you are subscribed to the Google Groups
> "Chinese Indonesian Discussion Group" group.
> To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an
> email to [email protected].
> To post to this group, send email to [email protected].
> Visit this group at https://groups.google.com/group/chindodiscuss.
> To view this discussion on the web visit https://groups.google.com/d/ms
> gid/chindodiscuss/B2D6BA0A-8DB3-46BC-A58C-B68FE52C4EE7%40gmail.com.
> For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
>
> 
>

Kirim email ke