---------- Forwarded message ----------

HTI GIGIT JARI..

Persis seperti apa yang saya ungkapkan dalam tulisan "Jakarta mulai panas,
pakde Jokowi", demo 299 itu sejatinya adalah demo HTI..

HTI mempunyai kepentingan utama bukan karena masalah kebangkitan PKI, tapi
karena Perppu pembubaran ormas. Seperti kita tahu, HTI masih menjadi korban
satu2nya ormas yang dibubarkan karena perppu itu.

Dan HTI ini ormas militan. Kerja mereka adalah demo dan demo.

Demo yang sering mereka lakukan sebenarnya bukan karena mereka perduli
tethadap situasi lokal maupun internasional, tetapi lebih besifat dagang.

Dengan sering turun ke jalan, mereka mencari nama - dengan diliput media -
dan dengan nama itu mereka merekrut banyak kader maupun simpatisan. Yang
ujungnya adalah "dana perjuangan".

Nah, yang menarik bagi saya, ternyata ada di keberhasilan pemerintah -
terutama aparat kepolisian - dalam meredam aksi demo tersebut.

Cara polisi memang aduhai. Mereka membuktikan profesionalitas dalam
mengawal aksi massa. Mereka melebur di tengah peserta demo, dan mengawal
dari dalam dengan pakaian yang sama dengan pendemo.

Begitu juga barisan polisi penghadang. Mereka memakai sorban yang sama dan
shalat Jumat bersama.

Ada yang lebih menarik, yang tidak terlihat di permukaan.

Para peserta demo yang awalnya diperkirakan berjumlah 30ribu sampai 50ribu,
tiba2 mundur lebih dari separuhnya. Mereka menarik diri di saat terakhir.

Saya lalu mencoba mencari informasi, kenapa mereka akhirnya mundur dari
aksi massa itu ?

Dari info yang saya dapat, ternyata kepada peserta demo "diingatkan" bahwa
aksi 299 dinilai akan berpotensi rusuh. Ada potensi "kudeta" yang akan
dilancarkan dengan menduduki DPR. Dan kudeta ini dilakukan HTI dengan
menunggangi ormas-ormas yang memang niat awalnya hanya demo tentang
kebangkitan PKI.

Mendengar bahwa demo akan ditunggangi HTI untuk melakukan kudeta, banyak
ormas yang takut. Mereka - para pentolan ormas yang nama namanya sudah
dipegang polisi - langsung mundur teratur, karena perkara kudeta itu bukan
perkara biasa. Itu kejahatan luar biasa.

Begitu juga dengan para sponsor. Mereka langsung menarik diri bersamaan,
ketika diingatkan untuk tidak terlibat dalam aksi demo karena berarti
mereka mendukung kudeta. Dengan begitu logistik berkurang jauh dan hanya
bergantung pada logistik dari HTI yang jelas tidak memungkinkan untuk
membuat skala demo menjadi lebih besar.

Begitu juga media massa diminta untuk tidak meliput demo secara massif.
Dengan begitu, aksi massa tidak mendapat dukungan luas hanya berupa
pemberitaan kecil yang tidak menarik.

Disinilah pentingnya perang kontra intelijen.

Permainan pikiran sangat menentukan dalam memperoleh kemenangan. Untuk itu
saya harus mengangkat secangkir kopi kepada "pasukan senyap" operasi
intelijen dari gabungan BIN, TNI dan Polri yang bermain tanpa terlihat.

Saya juga harus angkat secangkir kopi untuk Kapolri Tito Karnavian yang
mampu berfikir 10 langkah ke depan dalam menghadapi potensi rusuh di aksi
massa. Dan semua itu tentu karena latar belakang beliau yang sangat kuat
dalam ilmu terorisme.

Pada akhirnya, diperkirakan demo kemarin hanya diikuti 5 sampai 10ribu
massa saja. Malah mungkin lebih kecil. Mereka tidak bisa mengulang
kesuksesan di 411 dan 212. Polisi sudah belajar banyak bagaimana
menghadapinya..

HTI pun gigit jari...

Tidak banyak orasi yang membakar di demo tersebut. Bang Thoyib yang
biasanya suka membakar2, tidak mau pulang kalau demo belum sukses. Yang ada
hanya orasi si kwetiaw yang menyamakan Jokowi dengan firaun.

Seharusnya situasi ini bisa dimanfaatkan betul oleh ormas Islam moderat
seperti NU melalui organ pemudanya Ansor dan Banser.

Ansor dan Banser harus muncul dalam bentuk aksi besar ke jalan, mendukung
Perppu Ormas. Gerakan massa Ansor dan Banser akan merebut panggung jalanan
yang selama ini dipakai kelompok fundamental untuk promosi dirinya.

Ansor dan Banser harus menjadi leader dalam mempromosikan "Islam rahmat
yang cinta NKRI". Dan sudah pasti ketika mereka muncul, para silent
majority akan terwakili. Tidak boleh ada ormas yang mengatas-namakan agama
untuk kepentingan politik yang haus kekuasaan..

Ah, jajaran pakde Jokowi masih terlalu tangguh buat kaum radikal sampai
saat ini.

Meski begitu, saya terus bertanya "sampai kapan ?".  Karena jika polisi
belajar, merekapun akan belajar untuk menyempurnakan isu dan aksinya.

Sudah saatnya berfikir "mencegah" daripada satu waktu kita harus
"mengobati".

Seruput dulu ah...

www.dennysiregar.com


Von meinem iPhone gesendet

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"Chinese Indonesian Discussion Group" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an
email to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/chindodiscuss.
To view this discussion on the web visit https://groups.google.com/d/
msgid/chindodiscuss/B2D6BA0A-8DB3-46BC-A58C-B68FE52C4EE7%40gmail.com.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke