ISLAM SEDANG MENUJU JURANG KE-BANKROTT-AN
Semenjak hampir 1/4 Abad ini berlagsung konflik yang takterdamaiankan di Dunia
Islam negeri-negeri Arab, dimana Para Pemeluk Islam: Islam Sunnit, Islam
Schiit(Schia); Islam Sufis, Islam Ismailis, Islam Alewit, Islam Wahhabit dan
Islam Salafis satusama lainn saling bakuhantam, saling bunuh-membunuh, yang
mereka namakan untuk mencari kebenaran dan kebersihan Islam, dan lebih dari
untuk Kekuasaan dan Pengaruh.
Agresi USAmerika ke Iraq, Afghanistan dan Libya mendorong mempercepat
pertarungan diantara berbagai bentuk aliran Islam tsb. (7 Aliran) menjadi
Perang terbuka dalam skala ke Negaraan dan Regional, seperti di Iraq, di
Suriah, di Libanon, di Somalia, di Nigeria dengan Bako Haram,etc. dan terjadi
Blok-Blok Islam seperti Blok Arab Saudi dengan Turki, Mesir, Sudan. Jordania,
Kuweit dan Oman bertempur melawan Blok Islam Iran dengan Irak, Suriah, Libanon
Jemen, Afghanistan, etc.
Didalam Wilayah Arab Saudi masih berlangsung situasi relatif "Damai", karena di
Arab Saudi berada Pangkalan Militer USAmerika dengan 12.000 Sedadau USA, yang
membantu menghancurkan musuh-musuh Arab Saudi, seperi menBom Afghanistan, Iraq
dan Suriah, mengancam Iran,etc. untuk kebutuhan kehadiran Pangkalan Militer USA
di Arab Saudi, untuk menguasai Timur Dekat dan Timur Tengah.
Akibat dari pertarungan yang sangat Ganas, saling bunuh-membunuh satusama lain,
ratusan ribu Manusia-Manusia Islam Negeri-Negeri Arab yang mati terbunuh.
Dalam situasi yang Ganas dan Kejam tsb. muncul Abu Bakr al Bagadadi, yang
menamakan dirinya Kalifah Ibrahim dengan apa yang dia namakan "Islam State"
(IS), "Negara Islam", yang dibantu sepenuhnya oleh USAmerika ( CIA ) untuk
keperluan menyerang dan menghancurkan Pemerintahan Suriah, Presiden Baschar
al-Assad, yang anti Politik Luarnegeri USA yang Agresiv.
"Negara Islam" (IS) Abu Bakr al-Bagdadi alias Kalifah Ibrahim melakukan Teror
yang luabiasa kejam, membunuh siapa saja yang tidak menyetujui Konsep "Negara
Islam"IS) yang dia pimpin, dan penculikan, pembunuhan Manusia dengan memenggal
leher mereka sampai putus, yang dilakukan dedepan Umum.
"Negara Islam" (IS) Abu Bakr al-Bagdadi alias Kalifah Ibrahim berambisi untuk
merebut ROM/Vatikan dan Europa. Dengan Konsep tsb. berdatangan Pemudan-Pemuda
Islam dari berbagai Negeri kedalam
"Negara Islam"(IS) seperti 4000 Orang Jihadis dari Tunis, 750 Orang Jihadis
dari Jerman (Warganegara Jerman keturunan Turki), dari Maroko, dari Aljazair,
Libya, Mesir, Afghanistan, dan Terrorgroup "Abu Sayyat" dari Philippina, etc.
untuk membunuh semua yang Kafir, yang bukan Islam.
Kekuatas "Negara Islam" (IS) dari Kalifah Ibrahim ini dipersenjatai dan
dipergunakan oleh USAmerika (CIA) untuk mendestabilisasi dan menguasai Timur
Dekat dan Timur Tengah.
Dipihak lain, adanya Pasukan Bersenjata Islam Kurdistan, yang bernama PESMARGA,
dibagian Utara Iraq dan Suriah, yang berjuang untuk sebuah Republik Kurdistan.
PESMARGA dipersenjatan dan dilatih oleh para Militer Spesialis Jerman dan
bertempur melawan "Negara Islam" (IS) Abu Bakr al Bagdadi alias Kalifah Ibahim,
yang dipersenjatai dan dibantu USAmerika.
Turki sebagai Partner USA dalam NATO meBom PESMARGA (dengan pesetujuan USA)
untuk melumpuhkan Gerakan Kurdistan untuk sebuah Republik Kurdistan.
Kelihatannya sepintas lalu, Perang yang dahsyat di Regioal Arab-Islam, adalah
Perang antara negara-negara Islam dari berbagai aliran Islam, yang
sesungguhnya, mereka semua, "para Islam Ideot" dipergunakan oleh permaian
Politk USA yang kotor, untuk USA menguasai Timur Dekat dan Timur Tengah
sepenunya. Pada final nanti, mereka (para Islam Ideot ), kalau fungsi mereka
seperti yang diinginkan oleh USA, selesai, maka mereka semua akan dilikwidasi
habis oleh USA dan NATO, seperti nasib Taliban di Afghanistan.
Dari situasi yang sedang berjalan di Regioanl Arab Islam, dimana Islam sedang
menuju kejurang ke- Bankrott-an, dan USAmerika mendestabilisai Regional Timur
Tengah, terjadi Urbanisasi/Pelarian besar-besaran (sampai hari ini sekiatar
hampir 1 Juta Manusia) dari Manusia-Manusia Islam Suriah, Iraq, etc. ke Europa,
terutama ke Jerman, mecari perlindungan dan syarat-syarat hidup pada Masyarakat
dan Negara yang bukan Islam alias Kafir, yang menurut Kalifah Ibrahim "Negara
Islam" (IS) semuanya""Europa" harus direbut dan dihancurkan alias dibunuh.
Islam( sebuah Agama archais) sedang menuju ke jurang ke-Bankrott-an yang
serius: Arab Saudi/Mekka, Tanah Suci Islam, dikuasai oleh USAmerika dengan
12.000 Serdadu USA dan Pemerintah Arab Saudi taklebih dari Boneka USA; dan
dari Arab Saudi berterbangan Pesawat-Pesawat Tempur USA memBom negeri Islam
lainya, seperti Afghanistan, Iraq dan Suriah. Dengan demikian Arab Saudi sudah
kehilangan kepercayaan, kewibawaan dari hampir semua penganut aliran Islam yang
ada didalam Islam.
Islam sedang menuju ke jurang ke-Bankrot-an atas Kontradiksi Antagonistis
diantara aliran-aliran Islam yang takterdamaikan, dan dipergunakan sedemikian
rupa oleh USA (CIA) untuk kepentingan Politik Luarngeri USA di Timur Dekat dan
di Timur Tengah!
XXXXX
Dibawah ini dipublikasi kembali Tulisan =Rakyat Indonesia Mengutuk Pembunuhan
Massal=, untuk pembaca melihat kekejaman Penganut Islam NU-ANSOR, DII, TII,
etc. yang membunuh Wraganegara R.I. diluar ketentuan Hukum ;Ethik dan Peradaban
Mansia..
RAKYAT INDONESIA MENGUTUK PEMBUNUHAN
MASSAL
Keputusan Militer/para Jendral TNI pada 5 Oktober 1965 akan menghancurkan
Partai Komunis Indonesia ( PKI ) dan akan mengambil kekuasaan Negara dari
Presiden Soekarno dapat ditemukan diantaranya dalam Dokument CIA 8 Oktober 1965
(Sumber:Gabriel Kolko,"United States Foreign Policy,1945-1980",New York 1988);
justru itu, pada Tanggal 28 September 1965, dua hari sebelum Peristiwa
30September1965, datang Pimpinan NU/Wakil Ketua NU-Zainuri Echsan Subchan
menghadap Jendral A.H.Nasution dengan menyampaikan proposal untuk Kementrian
Pertahanan, supaya TNI segera mempersenjatai Pemuda Ansor dan seluruh Pemuda
Islam dan semua yang anti-PKI, untuk menghancurkan PKI dan NASAKOM.
1 Oktober 1965 berlangsung Pertemuan Pimpinan NU dengan 38 Organisasi Massa
Islam, terutama Ansor,HMI,DII & TII, di Kantor KOTI, dibawah Pimpinan
Jendralmayor Sutjipto, yang membentuk suatu KOALISI antara para Jendral TNI
dengan NU dan 38 Ormas Islam lainnya, yang kemudian dinamakan Front-Pancasila,
yang melahirkan keputusan pokok: Menghancurkan PKI sebagai Partai dan
melikwidasi/membunuh seluruh Pimpinan-Pimpinan dan Anggota-Anggota PKI dan
Organisasi Massa, seperti SOBSI, BTI,GERWANI,Pemuda
Rakyat,CGMI,HSI,etc.,melikwidasi NASAKOM dan menjatuhkan Pemerintahan Presiden
Soekarno [Sumber: Brian May,"The Indonesian Tragedy",London 1978; Ulf
Sundhausen, "The Road of Power.Indonesian Military Politics1945-1967",Kuala
Lumpur 1982; Iwan Gartono Sudjatmiko, "The Destruction of the Indonesian
Communist Party (PKI) (a comperative analysis of East Java and Bali),Ph.D
Thesis,Harvard University,1992; Andre Feillard,"Islam et Arme dans L'Indonesie
contemporaine",Paris 1995 ]
Wakil Ketua NU-Zainuri Echsan Subchan adalah ex-Pimpinan Partai terlarang
Masyumi, yang diantaranya membantu dan mengorganisasi Pemberontakan para
Perwira TNI AD di Provinsi, seperti PRRI,Permesta,etc. dan NU menjadi tempat
perlindungan semua Pimpinan-Pimpinan dan Anggota-Anggota dan Ormas
Masyumi,PSI,DII & TII, dimana Zainuri Echsan Subchan memegang hubungan dan
kerjasama yang erat dengan para Jendral TNI, terutama dengan Jendral
A.H..Nasution (Sumber: Andre Freillard,"Islam et Armee dans L'Indonesie
contemporaine",Paris 1995).
2 Oktober 1965 Komandan Militer Jakarta, Jendralmayor Umar Wirahadikusuma
menyampaikan kepada Pimpinan NU-Zainuri Echsan Subchan kesediaan Militer/TNI AD
segera mempersenjatai Ansor dan semua Pemuda dari Ormas Islam-FrontPancasila,
dan Komandan RPKAD,Letkol.Sarwo Edhie Wibowo melaksanakan keputusan tsb. dan
mempersenjatai serta melatih 25 000 Pemuda Ansor,HMI dan Front-Pancasila.
Jendral A.H.Nasution menyampaikan Amanatnya, dalam kedudukannya sebagai Mentri
Pertahanan kepada seluruh Aparat TNI dan Front-Pancasila untuk membunuh setiap
Komunis/Anggota PKI (Sumber:John Hughes, "Indonesian Upheaval",.New York 1967;
Herman Sulistyo, "The Forgotten Years. The Missing History of Indonesia's Mass
Slaughter (Jombang-Kediri 1965-1966), Ph.D.thesis, University of Arizona 1997).
Trompet NU-Suratkabar Duta Masyarakat dan Suratkabar Militer/TNI-Berita Yudha
tiaphari melakukan HateCrime, menghimbau Pemuda Ansor dan semua Ormas Islam
untuk membunuh Anggota-Anggota PKI dan menghancurkan semua PKI dan semua Ormas,
yang berhubungan dengan PKI secara keseluruhan, walaupn Statement PKI 2 Oktober
1965 menyatakan, bahwa apa yang dinamakan Gerakan 30September1965 adalah
masalah intern didalam TNI, tidak ada hubungannya dengan Partai Komunis
Indonesia (PKI).
(Sumber:Benedict Anderson/Ruth McVey,"A Preliminary Analysis of the October
1,1965. Coup in Indonesia,Ithaca 1971. Statement PKI 2.10.1965-8.10.1965,
in:Indonesia,1 April 1966).
4 Oktober 1965 pada penggalian mayat para Jendral yang terbunuh oleh Gerakan
30September-Letkol.Untung, di Lubang Buaya, Jendral Suharto melakukan
Propaganda Kotor, seolah-olah pembunuhan para Jendral tsb. dilakukan oleh
GERWANI, dengan menyiksa dan memotong-motong kemaluan mereka, walaupun AUTOPSY
dari Dr.med.Militer/TNI membuktikan kebohongan Jendral Suharto tsb. membantah
pernyataan Jendral Suharto yang bohong=>Kebohongan Jendral Suharto untuk
pembenaran Pembunuhan Massal !
Dan mulai dari 1 Oktober1965 TNI/RPKAD melakukan Penangkapan Pimpinan-Pimpinan
dan Aktivis PKI di Jakarta dan di Kota-Kota Besar di Jawa-Barat, dan dalam
waktu satu Minggu telah memenjarakan 5000 Orang Anggota PKI, dan didalam
Penjara disiksa secara baiadab, ditusuk-tusuk dan dibacok, dipotong-potong
Telinga para Tahanan dengan Parang oleh Pemuda Ansor dan HMI, dibawah Komando
RPKAD dan kemudian di "hilangkan" alias dibunuh.(Sumber: Eson R.E., "Suharto",
Cambridge 2001).
Marshall Green - US Ambassador, Jakarta, yang memberikan 5000 Daftar Nama
Pimpinan-Pimpinan PKI diseluruh R.I. yang harus dibunuh kepada Militer/para
Jendral TNI ( Laporan Marshall Green, 10.8.1966 "Foreign Relation of the United
States 1964-1968, Juilid XXVI,hal.387,Washinghton 2001).
5 Oktober 1965 Kantor Comite PKI di Yogyakarta diserang, dirampas dan dibakar
oleh Ansor, HMI dan Front-Pancasila; dan 8 Oktober 1965 di organisasi oleh
Komandan Militer Jakarta dan NU penyerangan Kantor CCPKI di Jakarta, perampasan
dan pembakaran Hakmilik CCPKI, penangkapan dan pembunuhan semua yang berada
dalam Kantor; dan dalam waktu yang sama, 2000 Orang Anggota Pemuda Rakyat
dibunuh secara kejam dan biadab oleh Ansor,HMI bersama TNI/RPKAD didaerah
Pelabuhan Udara Halim. (Sumber:CIA "Indonesia - 1965"; Wartawan ADN-Jakarta,
21.10.1065; Arnold Beckman,"The Communist Collaps in Indonesia", New York
1969)..
Jendralmayor Ibrahim Adjie-Komandan Divisi Siliwangi mulai mempersenjatai ex-DI
& TII, Ansor,HMI, untuk melakukan pembunuhan Pimpinan-Pimpinan PKI,SOBSI,BTI
dan Pemuda Rakyat, terutama di Daerah Cirebon dan Garut, dimana hampir 10 000
Manusia di jagal dalam waktu hanya Lima Hari, yang kemudian dinamakan oleh para
Jendral TNI AD "konflik horizontal" dalam Masyarakat. (Sumber:Harold Crouch,
"The Army and Politics in Indonesia", Ithaca/London 1978 ).
Pada wawancara dengan seorang Journalist UPI - H.E.Stannard,24.11.1966,
Komandan RPKAD-Letkol.Sarwo Edhie menyatakan, bahwa RPKAD telah mempersenjatai
dan melatih 25 000 Pemuda HMI dan Ansor untuk melakukan pembunuhan semua PKI
bersama TNI. Hanya di Solo mereka telah berhasil membunuh 10 000 PKI dan 15 000
lainnya dimasukkan dalam Tahanan, yang kemudian juga mereka bunuh semuanya (
Robert Shaplen: "Time out of Hand.Revolution and Reaction in Southeast Asia",
New York 1969)
TNI/RPKADA dibawah Komando Letkol.Sarwo Edhie Wibowo, Ansor dan HMI merupakan
kekuatan Teror utama dalam melakukan pembunuhan massal diseluruh Wilayah R.I.
Seperti di daerah Boyolali, Banyuwangi,Jember sampai ke Denpasar-Bali,
TNI/RPKAD menembaki,membrondong Penduduk dengan Senapan Mesin, semua, siapa
saja, Orang Dewasa maupun Anak-Anak, sampai satu Desa habispunah, mati, dan
Ansor, HMI, memenggal leher para Tahanan dengan Parang, dan dalam waktu pendek,
taklebih dari 48 Jam, mereka telah membunuh 4000 Manusia, suatu kebiadaban yang
luarbiasa. ( Sumber: Stanley Kernow,"Mass frency of killing" in Bali, New York
Times, 18.4.1966 ).
3 Oktober 1965 Jendral Kemal Idris di Sumatra-Utara memberikan Komando
pembunuhan semua yang berhubungan dengan PKI dan setiap Minggu sekitar 2000
Manusia yang di jagal secara Sadis dan biadab oleh TNI AD, Ansor dan
HMI.(Sumber:BRD-Botschaft-Jakarta, "Verluste der indonesischen Bevölkerung seit
1.Oktober d.J", 14.12.1965; John Hughes, "Indonesian Upheaval",New York 1967).
Di Gayo-Aceh atas Instruksi Jendral Ahmad Yunus Mokoginta-Komandan Territorium
Sumatra, telah melakukan pembunuhan sejumlah 6000 Manusia, November 1965; dan
seterusnya, setiap Minggu membunuh 3000 Manusia (PKI), 10 500 Tahanan PKI di
Sumatra-Utara, yang kemudian semua dibunuh. 40 000 Buruh Plantage Teh dan Karet
Tanjungmorawa dibunuhhabis beserta keluarga mereka, mereka PKI ( Sumber: Ann
Laura Stoler, "Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt,
1970-1979", Ann Arbor 1995).
Di Derah Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatra-Barat, atas Komando Letkol. Purnomo
Sipur, lebihdari 300 Tahanan Politik , dibunuh dengan cara yang sangat Sadis
dan biadab, para Tahanan dikubur Badan sampai Leher dan dibiarkan sampai mati.
Di Bukitpulai, sekitar 17 KM dari kota Painan, dilakukan oleh Letkol.Purnomo
Sipur pembunuhan Massal, 45 Orang Tanahan Politik , dibunuh dan dimasukkan
kedalam satu Lobang. Sejumlah 1037 Orang diseluruh Kabupaten Pesisir Selatan
yang dihilangkan/dibunuh dan tempat penghilangan/pembunuhan tersebar diseluruh
Kabupaten Pesisir Selatan (Laporan Bakri Ilyas MBA, Pimpinan PAKORBA Indonesia).
Diseluruh Wilayah KODAM di R.I. berlangsung pembunuhan Massal yang dilakukan
oleh Militer/TNIAD dan KOALISI TNIAD dengan NU, Ansor,HMI, dan Front-Pancasila,
dan mereka mendapat carte blanche dari para Jendral TNI untuk melakukan Operasi
Pembunuhan Manusia, semua yang diidentitaskan sebagai PKI, tanpa kehadiran para
Jendral TNI; dan mereka:Ansor,HMI, melakukan pembunuhan juga terhadap Anak-Anak
dibawah umur.Sumber: (New York Times, 18.4.1966; "Reign of terror in Java",
Time,13.4.1965).
10 Oktober 1965 para Jendral TNI mendirikan KOPKAMTIB dibawah Komando Jendral
Suharto, yang berfungsi Executive dan Yudicative. Penangkapan dan Pembunuhan
Massal yang diorganisasi oleh Aparat Negara Militer Fasis ORBA-Jendral Suharto.
Wilayah R.I. berubah menjadi Penjara Manusia terbesar di Dunia, dan para
Tahanan setiap hari diambil oleh Ansor dan HMI, disiksa dengan Sadis dan biadab
dan kemudian dipotong leher para Tahanan sampai mati (Sumber:"Laporan Politbiro
SED-GDR", in:Information Nr.6/66,19.1.1966).
Permulaan November 1965, di Flores, di Pulau Roti dekat Pulau Timor, 50
Keluarga PKI,semua, termasuk Anak-Anak, dibunuh secara Sadis dan biadab oleh
Ansor dan HMI, bersama TNIAD.(Sumber:Robert Goodfellow, "Forgetting what it was
remember the Indonesian killing of 1965/1977", in:Ghost at Table of
Demogracy.London 2002).
Pogrom/Teror atas Warganegara R.I. Ethnis China, dilakukan bukan hanya oleh
Militer/TNIAD atas Komando Mayor Syamsuddin, melainkan lebihbanyak dilakukan
Ansor dan HMI: di Makasar-Sulawesi 2000 Rumah dirampok, dan penghuninya
dibunuh, dengan tuduhan-Agen Komunis,RRT. Baperki di Medan, di Jakarta, di
obrak-abrik, Hakmilik dirampas. Di Jakarta, di Sumatra-Utara,Medan dan
Sulawesi, hampir 3000 Orang Warganegara R.I.Ethnis China dan diantaranya juga
Warganegara RRT, dibunuh.
Dari 5 s/d 14 Novemver1965 di organisasi Pogrom/teror terhadap Ethis China di
Ambon, di Makasar, di Bonthain, di Banjarmasin. Dan 29 November sampai 5
Desember1965 di Singaraja, di Denpasar; 6 dan 7 Desember1965 Pogrom di
Klungkung dan Hakmilik dirampas, para Wanita di Perkosa.(Sumber:Charles Coppel,
"Indonesian Chinese in crisis",Kuala Lumpur 1983; Hsinhua, "Protes Kedutaan
Besar RRT di Jakarta",4.11.1965
.
Pada Periode Oktober 1965 s/d Pertengahan 1966 menurut Agent CIA, John
Stockwell, yang mengikuti seluruh proses pembunuhan Manusia (PKI) atas perintah
Jendral TNI Suharto, terutama di Pulau Jawa, sejumlah 800 000 Manusia ( PKI )
telah terbunuh ( US Embassy,Jakarta.Telegramm 21.2.1966,NARA,RGH 59,250/7/s.Box
2319,POL.2/1/66);
kemudian Jendralmayor Ibrahim Adjie, Komandan Divisi Siliwangi dalam
wawancaranya dengan Militer Attache Australia memperbaiki Angka tsb. dan
menyatakan dengan bangga, Dua Juta Manusia ( PKI ) telah dibunuh ( Wawancara
T.Warren dengan Jendralmayor Ibrahim Adjie 20-22.6.1966, ANA,3034/1/1,Australia
Embassy,Jakarta);
dan Letkol TNI Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD menyatakan, bahwa Tiga Juta
PKI telah ditumpashabis,telah dibunuh ( Sarwo Edhie:Wieringa, "Sexual Politics
in Indonesia", New York 2002; Benedict Anderson "Petrus Dadi Ratu", New Left
Review, 3.Mail-Juni 2000).
Clifford Geertz, seorang penyelidik dari pembunuhan massal yang
kejam,mengingatkan dalam Tulisannya "After the Fact" cara pembunuhan Manusia
yang sangat Sadist dan Biadab, yang dilakukan oleh Pemuda Islam Ansor dan HMI,
yaitu dengan memotong leher para Korban, atau memotong-motong bagian dari Tubuh
para Korban dengan Kapak sampai mati, menusuk para Korban dengan benda tajam
sampai mati, atau memukul para Korban dengan Batu sampai mati, atau mengikat
para Korban dengan Tali dan diseret-seret sampai mati dan ada yang dikubur
hidup-hidup.(Clifford Geertz,"After the Fact", Two Centuries, Four Decades, One
Anthropologist. Cambridge Mass 196)
Malah Anak-Anak bersama seluruh anggota keluarga dibunuh dengan cara Sadist dan
Biadab. Atas pertanyaan dari Journalist Australia, "kenapa Anak-Anak juga
dibunuh?", HMI dan Ansor menyatakan "untuk nanti tidak ada yang akan melakukan
balasdendam". ( Australia Embassy, Jakarta, "Political Savingram",
No.10.25.2.1966.
J.M.Starey, "Note on anti-PKI Measures in Nusa Tenggara", 25.2.1966.
Stanley Karnow, "Mass frenzy of killing", in Bali, New York Times,18.4.1966.)
Secara resmi PNI bukan Anggota "KOALISI" dengan Militer/para Jendral TNI dan
dengan Front Pancasila, tetapi Geoffrey Robinson mengingatkan dalam Tulisannya
"Political Violence in Bali", bahwa PNI merupakan Organisator dari pembunuhan
Massal di Bali, dimana Pemuda Marhaen dengan memakai seragam hitam. dimalam
hari, bersama RPKAD, menyerang rumah-rumah Anggota-Anggota PKI, SOBSI, BTI,
GERWANI, PEMUDA RAKYAT dan membunuh semua keluarga, termasuk Anak-Anak, dengan
memotong leher mereka dengan Parang sampai putus dan mati. Dalam waktu hanya
satu Bulan, Pemuda Marhaen-PNI telah membunuh sekitar 80 000 sampai 100 000
Manusia ( PKI ). Hal yang sama mereka lakukan di Jawa-Timur, terutama di Daerah
Banyuwangi,
dalam seminggu membunuh lebih dari 3000 Manusia ( PKI ). ( Geoffrey Robinson,
"The Dark Side of Paradise. Political Violence in Bali", Ithaca/London 1965).
Wilayah Repuiblik Indonesia, hasil dari Proklamasi Kemerdekaan R.I. dijadikan
oleh para Jendral TNI tempat penjagalan/pembantai Jutaan Manusia-Warganegara
R.I., dan dijadikan Penjara Manusia terbesar di Dunia.Karena jumlah manusia
(PKI) yang dimasukkan kedalam Penjara Militer/TNI sangat banyak, lebih dari Dua
Juta Manusia, maka KOALISI Militer/TNI dengan HMI dan Ansor melakukan
pembunuhan para Tahanan, seperti Tahanan di Penjara Salemba-Jakarta, 1 sampai 4
Orang Tahanan tiap hari "dihilangkan" alias dibunuh; Tahanan di Nusakambangan
tiaphari 20 Orang di "hilangkan"; Tahanan di Kalisosok Surabaya 758 Orang di
bunuh, sekitar Tahun 1966-1969: Malah Tahanan yang dibuang ke Pulau Buru,
sejumlah 10 000 Orang, 315 Orang dari situ, periode 1969-1975, dibunuh, karena
"tidak kooperativ" dengan Militer.
Dengan demikian berlangsung pembunuhan para Tahanan politik yang dilakukan oleh
Militer/para Jendral TNI bersama dengan KOALISI mereka dari Parpol dan Ormas
Islam, HMI dan Ansor, diseluruh R.I. Dan kemudian sisanya, muncul Angka Resmi
para Tahanan Militer TNI sejumlah 1,8 Juta Manusia ( PKI ), yang dinamakan
TAPOL ( Carmel Budiardjo, "Surviving Indonesia's Gulag", London/New York,
1966.Harold Munthe-Kass, "Indonesia.Gestapu in jail",
Bulletin,25.11.1967.Stanley Karnow, "Suharto's worry. How to heal the wounds of
the anti Red holocaust?", Streits Times,Singapore,19.2.1970).
"INDONESIA NEGERI YANG GANAS, SADIST,KEJAM DAN BIADAB" komentar yang sangat
gusar dan mengutuk dari Thomas Lindblat, dalam Tulisannya "Roots of Violenve in
Indonesia", Singapore 2002.
Inilah Pengkhianatan atas Proklamasi Kemerdekaan R.I. yang dilakukan oleh para
Jendral TNI dari Jendral Suharto s/d Jendral Susilo Bambang Yudhoyono, dan
sampai hari ini, setengah abad berjalan, Militer/para Jendral TNI masih tetap
memugar KOALISI mereka dengan Partai-Partai dan Organisasi-Organisasi Islam,
terutama dengan FPI, yang dilaksanakan oleh Komandan KESBANGPOL dalam
mengintervensi kekuatan Demokratis dan melaksanakan Hate'sCrime ditengah-tengah
Masyarakat, yang berjuang untuk perubahan kekuasaan Negara, sesuai dengan Jiwa
Proklamasi Kemedekaaan R.I. dan UUD1945 ( Naskah Asli).
Teror kekuasaan Militer/para Jendral TNI dalam Negara, yang bernama Orde Baru,
yang Mahabesar selanjutnya yalah Tahun 1967, ketika kekuasaan Militer/para
Jendral TNI menerima dan mengUndangkan, Undang-Undang Penanaman (
baca:Perampokan) Modal Asing di R.I. Semenjak itu. tidak ada satupun dari
Cabang Perekonomian R.I., baik Pertambangan, Energie: Gas Bumi dan tenaga
Listrik, Transport, Infrastruktur, sampai dengan urusan Bahan Makanan dan Air
Minum, dikuasai semuanya oleh Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing, bersama
dengan Business TNI, yang tak dikenal dalam Konstitusi 1945 (Naskah Asli). TNI
merupakan Organisasi Cartel-Business para Jendral TNI dan Penguasa Negara,
bukan Aparat Negara, dan para Jendral TNI adalah para Managerial penjualan R.I.
kepada Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing.
Rakyat dan Bangsa Indonesia hanya budak dinegerinya untuk kepentingan
pembentukan Akkumulasi Kapital Perusahaan-Perusahaan Raksasa Asing.
Bangsa Indonesia, semenjak hampir setengah Abad ini, kembali berada didalam
kehidupan kekuasaan Kolonialisme Model Baru/Neokolonialisme.
BERSATULAH KORBAN KEBIADABAN REZIM FASIS ORBA SUHARTO, seruan Kawan Suar Suroso
, dan yang dimaksud dengan Korban Kebiadaban Rezim Fasis Orba-Jendral Suharto,
bukan hanya Keluarga Tiga Juta para Korban Pembunuhan Massal oleh TNIAD dan
NU-Ansor,HMI,DII&TII, bukan hanya 1,8 Juta ex-TAPOL OrBa Jendral Suharto yang
sempat hidup dengan semua syarat-syarat Diskriminatif oleh Penguasa Negara;
melainkan semua, Kaum Buruh, yang takpernah menerima Equivalent Upah yang Wajar
dari Kerja dan Jam Kerja yang dilakukan; Kaum Tani, yang dirampas Tanah Garapan
mereka oleh Penguasa untuk kepentingan Perusahaan-Perusahaan Asing;Pengusaha
Nasional, yang hancur-gulungtikar, karena tidakmampu bersaingan dengan Monopol
Raksasa Asing; Mahasiswa, yang takbisa belajar, karena beaya kehidupan yang
tinggi, Pemuda dan kaum Inteligensia, yang menjadi Penganggur, tidak mempunyai
Lapangan Kerja,; Kaum Miskin, yang kehilangan semua syarat-syarat Existensi,
para Prajurit TNI, yang ditipu
oleh atasan mereka untuk memusuhi dan membunuhi Saudara-Saudara mereka untuk
kepentingan Cartel-Business Para Jendral TNI, Kolaborator Penjualan R.I. kepada
Pengusaha-Pengusaha Raksasa Asing: Semua - Rakyat dan Bangsa Indonesia,
semenjak Setengah Abad ini, adalah Korban Kebiadaban Rezim Fasis ORBA-Jendral
Suharto, yang dilanjutlan seluruh LEGACYnya oleh Pemerintahan Jendral Susili
Bambang Yudhoyono.
Hanya dengan Persatuan seluruh kekuatan Demokratis dalam Skala Nasional,
Persatuan Seluruh kekuatan yang melawan Rezim Reaksioner yang anti-Rakyat, dan
anti-Nasional yang sedang berkuasa, untuk mengadakan Perubahan yang Prinsipil
kekuasaan Negara R.I., yaitu kekuasaan Negara yang akan mampu membentuk
Pemerintahan Nasional Demokrasi, Pemerintahan yang akan mampu melaksanakan
UUD1945, Pasal 33 dengan Konsekwen, Pemerintahan Nasional Demokrasi dari
seluruh kekuatan Demokratis, yang akan mampu memproteksi kepentingan Nasional
R.I., sesuai dengan Jiwa Proklamasi Kemerdekaan R.I. dan UUD1945 (Naskah Asli);
dan untuk sampai kesana:
BERSATULAH KORBAN KEBIADABAN REZIM FASIS ORBA JENDRAL SUHARTO & JENDRASL
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO:
Dr.Alexander Tjaniago
--------------------------------------------
Pada Sen, 2/10/17, Sunny ambon [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> menulis:
Judul: [GELORA45] PKI Menang Umat Islam Tak Akan Ada
Kepada: @
Tanggal: Senin, 2 Oktober, 2017, 2:30 AM
http://www.harianterbit.com/m/nasional/read/2017/09/30/87664/0/25/PKI-Menang-Umat-Islam-Tak-Akan-Ada
Wajar Masyarakat Khawatir
PKI Menang
Umat Islam Tak Akan Ada
Sabtu, 30 September 2017
13:28 WIB
Jakarta,
HanTer - Mantan Ketua MPR Amien Rais meminta
Presiden
Joko Widodo untuk tidak memberi angin dan kesempatan bagi
Partai
Komunis Indonesia (PKI) untuk bangkit lagi.
"Andai
kata dulu PKI menang mungkin umat Islam tidak akan ada.
Saya lihat
pemerintah seakan memberikan angin kuat untuk PKI bangkit
lagi,"
kata Amien saat berorasi dalam Aksi 299 yang digelar di
depan Gedung
DPR/MPR, Jakarta, Jumat (29/9/2017).
Sementara
itu
Wakil Ketua Komisi IX Fraksi PAN MPR RI, Saleh Partaonan
Daulay
mengatakan aksi 299 yang digelar dan telah berjalan aman
dan tertib
adalah hak penyampaian pendapat di muka umum adalah yang
dijamin di
dalam Undang-Undang.
"Aksi
seperti ini sudah sering dilaksanakan. Hasilnya bagus. Kita
sudah
sangat dewasa di dalam berdemokrasi, karena itu, saya kira
tidak ada
yang perlu dikhawatirkan," ujar Saleh kepada wartawan
di
Jakarta, Jumat (29/9/2017).
Namun
demikian, menurut Saleh, semua pihak diminta untuk tetap
mewaspadai
tindakan provokasi yang bisa saja dilakukan oleh
pihak-pihak yang
punya kepentingan tidak baik. Apalagi, isu yang diangkat
sampai hari
ini masih dianggap sensitif. Karena itu, diperlukan
kewaspadaan agar
aksi damai ini tidak disusupi.
"Kekhawatiran
bangkitnya kembali komunisme dinilai sebagai sesuatu yang
positif.
Itu menandakan bahwa ada kesadaran historis di tengah
masyarakat
akan bahaya komunisme dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Sejarah Indonesia telah mencatat pengalaman buruk dengan
ideologi
komunisme di masa lalu. Wajar jika kemudian setiap waktu
ada saja
masyarakat yang khawatir dan merasa was-was,"
paparnya
#yiv1824252498 #yiv1824252498 --
#yiv1824252498ygrp-mkp {
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp hr {
border:1px solid #d8d8d8;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp #yiv1824252498hd {
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp #yiv1824252498ads {
margin-bottom:10px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp .yiv1824252498ad {
padding:0 0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp .yiv1824252498ad p {
margin:0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mkp .yiv1824252498ad a {
color:#0000ff;text-decoration:none;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor
#yiv1824252498ygrp-lc {
font-family:Arial;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor
#yiv1824252498ygrp-lc #yiv1824252498hd {
margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor
#yiv1824252498ygrp-lc .yiv1824252498ad {
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498actions {
font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity {
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity span {
font-weight:700;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity span:first-child {
text-transform:uppercase;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity span a {
color:#5085b6;text-decoration:none;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity span span {
color:#ff7900;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498activity span
.yiv1824252498underline {
text-decoration:underline;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498attach {
clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498attach div a {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498attach img {
border:none;padding-right:5px;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498attach label {
display:block;margin-bottom:5px;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498attach label a {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 blockquote {
margin:0 0 0 4px;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498bold {
font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498bold a {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 dd.yiv1824252498last p a {
font-family:Verdana;font-weight:700;}
#yiv1824252498 dd.yiv1824252498last p span {
margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
#yiv1824252498 dd.yiv1824252498last p
span.yiv1824252498yshortcuts {
margin-right:0;}
#yiv1824252498 div.yiv1824252498attach-table div div a {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 div.yiv1824252498attach-table {
width:400px;}
#yiv1824252498 div.yiv1824252498file-title a, #yiv1824252498
div.yiv1824252498file-title a:active, #yiv1824252498
div.yiv1824252498file-title a:hover, #yiv1824252498
div.yiv1824252498file-title a:visited {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 div.yiv1824252498photo-title a,
#yiv1824252498 div.yiv1824252498photo-title a:active,
#yiv1824252498 div.yiv1824252498photo-title a:hover,
#yiv1824252498 div.yiv1824252498photo-title a:visited {
text-decoration:none;}
#yiv1824252498 div#yiv1824252498ygrp-mlmsg
#yiv1824252498ygrp-msg p a span.yiv1824252498yshortcuts {
font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498green {
color:#628c2a;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#yiv1824252498 o {
font-size:0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498photos div {
float:left;width:72px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498photos div div {
border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498photos div label {
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498reco-category {
font-size:77%;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498reco-desc {
font-size:77%;}
#yiv1824252498 .yiv1824252498replbq {
margin:4px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-actbar div a:first-child {
margin-right:2px;padding-right:5px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg {
font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg table {
font-size:inherit;font:100%;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg select,
#yiv1824252498 input, #yiv1824252498 textarea {
font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg pre, #yiv1824252498
code {
font:115% monospace;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg * {
line-height:1.22em;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-mlmsg #yiv1824252498logo {
padding-bottom:10px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-msg p a {
font-family:Verdana;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-msg
p#yiv1824252498attach-count span {
color:#1E66AE;font-weight:700;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-reco
#yiv1824252498reco-head {
color:#ff7900;font-weight:700;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-reco {
margin-bottom:20px;padding:0px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor #yiv1824252498ov
li a {
font-size:130%;text-decoration:none;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor #yiv1824252498ov
li {
font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-sponsor #yiv1824252498ov
ul {
margin:0;padding:0 0 0 8px;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-text {
font-family:Georgia;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-text p {
margin:0 0 1em 0;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-text tt {
font-size:120%;}
#yiv1824252498 #yiv1824252498ygrp-vital ul li:last-child {
border-right:none !important;
}
#yiv1824252498