From: B.DORPI P. 
Sent: Wednesday, October 4, 2017 4:34 PM




Nasionalisme, Sosialisme, dan Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro 
Djojohadikusumo
by faisal basri

Posted on September 18, 2017

https://faisalbasri.com/2017/09/18/nasionalisme-sosialisme-dan-pragmatisme-pemikiran-ekonomi-politik-sumitro-djojohadikusumo/
 



Catatan: Pagi ini (18/9), saya diundang sebagai salah satu pembahas dalam acara 
bedah buku “Nasionalisme, Sosialisme, dan Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi 
Politik Sumitro Djojohadikusumo,” karya M. Dawam Rahardjo. Acara digelar di 
Auditorium Widjojo Nisisastro, Gedung Dekanat FEB-UI. Berikut adalah catatan 
pendek yang saya persiapkan untuk acara itu.

***

Saya bersyukur bisa menikmati dua mata kuliah yang diasuh oleh Prof Sumitro 
Djojohadikusumo. Pertama, mata kuliah Perekonomian Indonesia. Prof Sumitro 
merupakan salah satu dosen yang mengasuh mata kuliah ini bersama dengan Prof 
Sadli dan Prof Arsjad Anwar. Kedua, mata kuliah Seminar Perekonomian Indonesia 
yang diasuhnya seorang diri.

Seingat saya, tidak sekalipun mereka berhalangan mengajar walaupun ketiganya 
tergolong sangat sibuk. Dedikasi mereka luar biasa.

Boleh jadi, saya adalah generasi terakhir yang sempat diajar oleh senior 
generasi pertama FEUI. Mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa yang 
memilih jurusan Studi Pembangunan (sekarang program studi ekonomi) sangat sarat 
dengan dimensi teori dan kebijakan pembangunan. 

Prof Emil Salim mengasuh mata kuliah Masalah dan Kebijakan dalam Pembangunan. 
Prof Sarbini Somawinata mengasuh mata kuliah Koperasi dan Pembangunan 
Masyarakat Desa. Ada pula mata kuliah Faktor-faktor Non-ekonomi dalam 
Pembangunan yang diasuh Prof Selo Sumardjan dan Prof Kartomo. 

Mata kuliah Ekonomi Pembangunan diasuh oleh Prof. Dorodajtun Kuntjoro-Jakti. 
Tak terbilang dosen yang menduduki jabatan eselon I, seperti DR. Dono Iskandar 
(Keuangan Negara), Ibu Wanda Aswita Mulia (Ekonomi Internasional), Bapak Sri 
Hadi (Ekonomi Internasional Lanjutan dan Seminar Ekonomi Internasional), Ibu 
Kadariah (Evaluasi Proyek), Prof. Sri-Edi Swasono (Pengantar Mikroekonomi dan 
Pengantar Makroekonomi), DR. Hasudungan Tampubolon (Ekomometrika), Prof Suhadi 
Mangkusuwondo (Sistem Ekonomi).

Ciri khas Prof Sumitro sewaktu mengajar adalah mengenaka pakaian sipil lengkap 
(berjas dan berdasi), sangat necis. Secangkir kopi tubruk racikan Pak Cas dan 
asbak menemani di podium. Prof Sumitro merokok Dunhill ketika mengajar di runag 
3. Begawan ekonomi Indonesia ini jarang menggunakan papan tulis (kala itu masih 
menggunakan kapur tulis).

***

Membaca buku ini membuka ingat-ingatan saya akan isi kuliah Prof Sumitro. Yang 
paling saya ingat adalah teori konjungtur. Sedari awal, Prof Sumitro sangat 
peduli kepada nasib rakyat kebanyakan yang mengandalkan hidupnya dari sektor 
pertanian. 

Kebanyakan negara berkembang kerap menderita akibat fluktuasi harga komoditas. 
Perhatian terhadap harga komoditas dan perdagangan internasional membuatnya 
diangkat sebagai anggota tim Top Five Experts yang diperbantukan pada 
Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammersskjold (hal.171).

Industrialisasi merupakan keharusan agar terhindar dari petaka komoditas. 

Ketika menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Natsir, 
Prof Sumitro meluncurkan Program Urgensi Industrialisasi (hal. 197). Di mata 
Prof Sumitro, industrialisasi tidak sekedar tahapan transformasi dari 
ketergantungan pada sektor pertanian dan perdagangan komoditas, melainkan juga 
untuk menumbuhkan kelas menengah yang tangguh. 

Belakangan, Prof Sumitro mengakui bahwa pandangannya yang terkesan ingin 
melompat tidak bisa dipaksakan. Dalam polemiknya dengan Sjafruddin 
Prawiranegara,  Prof Sumitro mengakui bahwa pemikiran Sjafruddinlah yang betul. 
“Untuk membangun perekonomian Indonesia, kita tidak bisa langsung melompat, 
melainkan harus dimulai dari desa dan pertanian dulu.” (hal. xxxix)

“Prof Sumitro menyadari sepenuhnya bahwa perkembangan ekonomi hanyalah 
merupakan satu segi saja dari perkembangan masyarakat. Segi-segi lain di luar 
bidang ekonomi turut mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu 
perkembangan ekonomi.” 

Keyakinan itu tidak hanya diterapkan dalam merumuskan kebijakan pembangunan, 
melainkan juga tercermin dari kurikulum FEUI, khususnya jurusan Studi 
Pembangunan. Pengantar Sosiologi dan Pengantar Ilmu Politik merupakan mata 
kuliah wajib, bahkan untuk semua jurusan. 

Ditambah dengan bekal mata kuiah teori ekonomi dan ekonomi terapan seperti 
ekonomi moneter, ekonomi internasional, keuangan negara, administrasi negara, 
ekonomi kependudukan, mahasiswa telah memiliki dasar yang cukup kuat untuk 
menerima mata kuliah lanjutan di tingkat sarjana yang mengupas kebijakan 
pembangunan seperti Masalah & Kebijakan dalam Pembangunan, Perekonomian 
Indonesia, Seminar Perekonomian Indonesia, Faktor-faktor Non-ekonomi dalam 
Pembangunan, dan mata kuliah seminar sesuai dengan konsentrasi.

Apakah pandangan Prof Sumitro tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu? 
Saya sepakat bahwa Prof Sumitro menganut paham sosialis-nasionalis atau 
sosialisme-negara, yang berbeda dengan pendiri PSI, Sjahrir, yang menganut 
paham atau varian sosialisme-liberal, bersifat pragmatis sehingga terkesan 
Neo-Keynesian (hal. 172).

Perjalanan panjang sebagai pendidik, penulis produktif, dan Menteri Perdagangan 
& Perindustrian (Kabinet Natsir) dan Menteri Keuangan di Era Soekarno (Kabinet 
Wilopo dan Kabinet Burhanuddin Harahap), serta Menteri Perdagangan dan Menteri 
Riset di era Orde Baru, menjadikan Prof Sumitro sebagai sosok ekonom yang 
paling lengkap dalam sejarah Indonesia. 

Satu yang tidak dimiliki oleh ekonom mana pun adalah keterlibatannya yang 
mendalam di partai politik, bahkan sempat terpilih sebagai ketua PSI dalam 
kongres 1952, dengan selisih satu suara dengan Sjahrir yang tidak hadir dalam 
kongres itu (hal. 172).

Ketika kian bersinggungan dengan dunia nyata, langsung menghadapinya dan harus 
mengambil keputusan, maka pragmatisme bukanlah hal tercela. Pilihan kebijakan 
tidak bisa hanya berdasarkan teori yang abstrak dan tuntunan ideologi yang 
kaku. Pilihan-pilihan begitu terbatas dan pertimbangan politik menuntut 
kompromi, asalkan nilai-nilai intilah yang tidak berubah. Itulah pelajaran dari 
Prof Sumitro.

Sejauh ingatan saya, selama dua semester perkualiahan yang saya ikuti, 
pandangan Prof Sumitro sangat terbuka dan berwawasan jauh ke depan. Tidak ada 
kesan sedikit pun mendukung proteksionisme, anti-asing, apalagi anti-pasar.

Pelajaran

Banyak pemikiran Prof Sumitro yang masih relevan sampai sekarang. 

Pertama, tidak ada jalan pintas atau melompat dalam pembangunan. Rasanya kaidah 
ini dipegang oleh semua guru besar generasi pertama dan kedua FEUI, setidaknya 
yang pernah saya nikmati perkuliahannya.

Kedua, menjadi ekonom harus berwawasan luas dan memiliki landasan filosofi, 
menguasai teori dengan baik, dan keberpihakan. Prof Sumitro mengingatkan bahwa 
ekonomi pada dasarnya adalah political economy. 

Ketiga, ilmu baru bermakna jika bisa menjawab tantangan nyata yang dihadapi 
bangsa dan setiap langkah kebijakan didasarkan pada analisis yang kredibel, 
bukan coba-coba, bukan just do it.












Attachment: Nasionalisme sosialisme dan pragmatisme.pdf
Description: Adobe PDF document

Kirim email ke