*Apakah  benar gerak  orang yang banyak berhutang kurang leluasa?*

http://id.beritasatu.com/macroeconomics/agustus-2017-utang-pemerintah-bertambah-rp-4581-triliun/165804



*Agustus 2017, Utang Pemerintah Bertambah Rp 45,81 Triliun*
Rabu, 27 September 2017 | 18:50

*JAKARTA* – Penambahan utang neto pemerintah pusat selama Agustus 2017
tercatat Rp 45,81 triliun, berasal dari penarikan pinjaman sebesar Rp 2,87
triliun (neto) dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 42,94
triliun (neto). Semua itu dilakukan dalam rangka pembiayaan APBN-P 2017.

“Tambahan pembiayaan utang tersebut memungkinkan kenaikan belanja produktif
di bidang pendidikan, infrastruktur, kesehatan, transfer ke daerah dan dana
desa, serta belanja sosial,” tulis Direktorat Jenderal Pengelolaan
Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI dalam keterangan
tertulisnya, Senin (25/9).

Hingga akhir Agustus 2017, utang pemerintah pusat berjumlah Rp 3.825,79
triliun, terdiri atas Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 2.563,24 triliun
(67,0%), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 524,71 triliun
(13,7%), dan pinjaman sebesar Rp 737,85 triliun (19,3%).

“Utang tersebut didominasi oleh utang dalam mata uang rupiah (59%),” tandas
DJPPR. Sementara itu, utang dalam mata uang asing, terdiri atas dolar
Amerika Serikat (29%), yen Jepang (7%), euro (4%), *special drawing
right *(1%),
dan beberapa valuta asing lain (1%).

Sedangkan, berdasarkan kreditornya, utang pemerintah pusat didominasi oleh
investor SBN (80%), kemudian pinjaman dari Bank Dunia (6%), Jepang (5%),
Asian Development Bank atau ADB (3%), dan lembaga lainnya (6%).

Menurut DJPPR, indikator risiko utang pada Agustus 2017 masih terkendali,
dengan rasio *variable rate *berada di level 10,9% dan *refixing rate di *level
19,0%. Porsi utang dalam mata uang asing berada di level 41,2%,
sedangkan *average
time to maturity *(ATM) berada di level 8,8 tahun.

Di lain sisi, indikator jatuh tempo utang dengan tenor hingga lima tahun
naik dari 38,9% menjadi 39,2% dari total *outstanding *utang. Dalam
pengelolaan risiko utang, kata DJPPR, pemerintah senantiasa melakukannya
dengan hati-hati dan terukur, termasuk juga menjaga risiko pembiayaan
kembali, risiko tingkat bunga, dan risiko nilai tukar dalam posisi yang
terkendali.

DJPPR mengungkapkan, rata-rata perdagangan harian SBN pada Agustus 2017
cenderung meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Porsi kepemilikan oleh
asing atas SBN yang *tradable *pada bulan ini mencapai 39,01%. Adapun
sebagian besar investor asing masih memegang SBN yang bertenor
menengah-panjang (di atas lima tahun). Hal ini mendorong pemerintah untuk
terus berkomitmen dalam upaya pendalaman pasar SBN domestik.

*Sementara dalam keterangan terpisah disebutkan, pada Selasa (26/9),
p*emerintah
menggelar lelang SBSN untuk seri SPNS13032018 (*reopening*), PBS013 (
*reopening*), PBS014 (*reopening*), PBS011 (*reopening*) dan PBS012 (
*reopening*) melalui sistem lelang Bank Indonesia. Dari total penawaran
yang masuk sebesar *Rp 26,4 triliun lebih, *nominal yang dimenangkan dari
kelima seri SBSN tersebut adalah *Rp 7 triliun. (ns)*


Berita Terkait

   -

   Utang PLN <http://id.beritasatu.com/home/utang-pln/165894>
   -

   Rapor Utang Pemerintah Tiga Orde
   <http://id.beritasatu.com/home/rapor-utang-pemerintah-tiga-orde/165326>
   -

   Hingga Juli 2017, Utang Pemerintah Rp 3.779,98 Triliun
   
<http://id.beritasatu.com/home/hingga-juli-2017-utang-pemerintah-rp-377998-triliun/164068>
   -

   Darmin: Yang Penting Utang untuk Gerakkan Ekonomi
   
<http://id.beritasatu.com/home/darmin-yang-penting-utang-untuk-gerakkan-ekonomi/163453>
   -

   Menkeu: Utang Pemerintah Dikelola Hati-hati
   
<http://id.beritasatu.com/home/menkeu-utang-pemerintah-dikelola-hati-hati/163250>

Kirim email ke