Tidak sedikit orang yang menilai “persahabatan” dan “rekonsiliasi”antara
anak-anak pahlawan revolusi dengan anak-anak beberapa penggede PKIsebagai
contoh yang patut ditiru oleh para korban dan dianggap sebagai satu-satunya
cara yang tepatuntuk menuntaskan pelanggaran HAM berat yang dikategorisasi
sebagai genosida oleh IPT.
Soemini dan Tarup dibawa ke makampahlawan revolusi. Soemini tenggelamdalam
keharuan yang dalam. Sesuatu yang manusiawi. Yang perlu diingat adalahsampai
hari ini masih ada ribuan, atau puluhan ribu atau ratusan ribu bahkanjutaan
orang yang dibunuh dan dihilangkan dengan paksa yang tidak diketahui dimana
jasadnya dikubur, atau dibuang.
Yang menyolok adalah sikap AgusWijoyo yang konsisten dengan kenyataan bahwa dia
adalah TENTARA (walaupun sudahpurnawirawan). Ia tidak lupa
menggunakanpertemuan ini untuk menarik perhatian orang kepada kejahatan PKI. Di
bawah inikata-katanya.
Di samping itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKIpernah
terlibat konflik berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan.Seperti
terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh.
Saat itu, kata Agus, PKIpernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan
aksi teror kepadamasyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu
menanamkankebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan
darat.Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden
Soekarnoterus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat.
Selain ada kepentinganpolitik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas
Soekarno. Ini setelahdiketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini
masalahnya politikberebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang akan
merebutnya,"ujar Agus.
Sama sekali tidakdisinggung siapa yang membunuh 6 jenderal dan seorang kapten.
BUKAN PKI! BAGIANDARI TENTARA LAH YANG MEMBUNUH MEREKA!!! Heran fakta ini
ingin dilupakan dandihapus!!!!
Agus tidak maumembicarakan lagi siapa yang salah dan siapa yang bertanggung
jawab!! Karena sudah begitu banyak bukti akan kejahatan dan tanggung jawab
rezim fasis Suharto serta aparat militernyaatas GENOSIDA itu, maka enak sekali
dan mudah banget bilang tidak adalagi gunanya membicarakan siapa yang salah dan
siapa yang bertanggung jawab!!!
Sikap Agus Wijoyoyang menyinggung peristiwa Madiun, aksi sepihak, dsb. sungguh
normal dan sayamengerti sepenuhnya! Sikapnya adalah pencerminan bahwa justru
Letjenpurnawirawan ini tidak lupa pada kenyataan dan fakta adanya perjuangan
kelas!!!Nah, ironisnya, justru orang-orang ex-PKI yang ingin melupakan
perjuangankelas!! Dianggapnya dengan rekonsiliasi, berdamai dengan dirinya
sendiri(heran, ngapain saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, emangnya
sayapunya kontradiksi dengan diri saya sendiri yang menyangkut peristiwa G30S
danpembantaian??!!), maka selesailah masalahnya!
Sikap saya jelas.Persahabatan dan rekonsiliasi antara individu-individu adalah
hal yangsyah-syah saja, tidak seharusnya dipolitisasi. Namun itu sama sekali
tidak bisamenggantikan tuntutan keadilan bagi para korban yang sekarang sudah
tidak bisalagi bersuara dan menuntut keadilan.
International People’sTribunal mengkategorisasi peristiwa 65 sebagai GENOSIDA.
Dan salah satutuntutannya adalah proses judicial, proses hukum. Karena sudah
terjadipembunuhan secara sewenang-wenang terhadap orang yang tidak pernah
dibuktikankesalahannya.
Keluarga Munir,keluarga Wiji Thukul, keluarga korban pembunuhan Trisakti terus
menuntutdituntaskannya masalah kejahatan itu. Di negeri hukum, pembunuhan
terhadap satuorangpun diselesaikan melalui hukum. Apalagi ini pembunuhan
terhadap ratusanribu bahkan jutaan manusia tak berdosa.
Sebaliknya orangrevisionis dan renegad seperti Chan, karena otaknya sudah
dipenuhi olehpengkhianatan, malah menuduh saya mengobarkan DENDAM tiada
berkesudahan! Dan munafikya lagi masih nggak punya malumenyinggung ajaran Mao
Tse dong yang sudah lama dia kentutin!!! Mencampuradukkan politik Mao terhadap
tawanan dengan proses hukum terhadap penjahat!!! Apakahtidak ada tuan tanah
kejam dan punya hutang darah yang dihukum mati oleh pengadilan rakyat
selamaberkembang revolusi nasional demokratis di Tiongkok??!!! Yang tidak boleh
dilakukanadalah tindakan anarkis, didorong oleh dendam karena penderitaannya
untukmelakukan balas dendam TANPA melalui proses pengadilan!!!
Apakah menuntutpenyelesaian hukum berarti kita ingin MEMBUNUH mereka yang telah
melakukankejahatan menyiksa dan membunuh!! Sungguh PICIK!! Memang tidak bisa
diharapkanpikiran sehat dan logis dari seorang remo dan renegad!!!
Ingat Pramudya AnantaToer??? Permintaan maaf Gus Dur pun bagi Pramudya tidak
ada artinya!!! Itulahsikap orang yang berani dan konsekwen dengan keyakinannya
sampai akhirhayatnya!!! Apakah dengan menolak permintaan maaf Gus Dur berarti
Pramudya ingin membunuh orang-orang yang telah merampas dan membakar
perpustakaannya, yang telah menjebloskannya ke Pulau Buru??
Sudah dibuktikandalam sejarah bahwa orang remo adalah sekutu imperialisme dan
kaum reaksioner! Siapa yang mau belajarsejarah dengan jujur tak terhindarkan
akan mengakui Partai dan Negara Sovietsejak dibawah Khrustjov dengan politk
koeksistensi damainya telah bertekuklutut dan kerja sama dengan imperialisme
AS. Makanya PKUS tidak pernah mengutukpembantaian 65-66. Sebaliknya dengan
Tiongkok, Vietnam, Republik DemokratisRakyat Korea, dan Kuba yang menolak
menaikkan bendera setengah tiang. Sekarangsaksikan sendiri sikap PKT remo dan
Tiongkok kapitalis terhadap ancaman perangdan sanksi kaum imperialis AS
terhadap RDRK. Mereka mendukung sepenuhnya sanksidan menekan Korea untuk tunduk
pada ancaman AS!!!
Nah, si Chan remo takketinggalan!! Dengan setia mengikuti strategi dan scenario
para jenderal untukmeletakkan PKI sejajar dengan rezim fasis ORBA: sama-sama
salah, sama-sama harusbertanggung jawab!!
Karena sudah begitubanyak tulisan, buku, penelitian yang membuktikan kejahatan
rezim Suharto danaparat militer dalam pembantaian 65-66, maka mereka
mengalihkan perhatian orangkepada peristiwa Madiun, Aksi Sepihak dan
sebagainya. Bayangkan menuduh PKImelakukan TEROR!!!
Ini kan sama denganalasan NAZI membunuh orang-orang yahudi karena mereka
menguasai/berpengaruhdalam ekonomi Jerman ketika itu. Nah, bagaimana dengan
alasan orang-orang rasisdi Indonesia yang mengejar-ngejar dan membunuh orang
tionghoa karena merekamelihat orang-orang tionghoa menguasai ekonomi
Indonesia?? Apakah kita bisajuga bilang, salahnya sendiri orang-orang tionghoa
itu maka dimusuhi orangIndonesia pribumi. Coba pikir, bukankah itu juga logika
yang dipakai paratentara untuk membenarkan kejahatan pembantaiannya??? Karena
PKI juga salah,karena bikin terror, karena Aksi Sepihak, karena berontak, ya
makanyadibunuh!!!
Maka itu saya bilangdi antara ex. anggota PKI tidak sedikit yang sudah
menyeberang dan menempatkan dirinya di barisankaum reaksioner dan turut memutar
balik fakta sejarah dan mengatakan PKI berontak diMadiun!!!!
Pernah saya dengarada orang yang menggunakan wawancaranya dengan pak Soemarsono
tapi kemudian dibukunya ia mengubah atau memutarbalik fakta dan berkesimpulan
PKI berontak diMadiun. Makanya pak Soemarsono marah besar!!! Hati-hati dengan
orang yang sukabikin wawancara!! Bisa digunakan untuk kepentingannya sendiri!!
On Wednesday, October 4, 2017 6:46 AM, "'Chan CT' [email protected]
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
Entah bagaimana cara memilih dan menemukan 2 KORBAN yang akan dipertemukan
2 anak Pahlawan Revolusi ini, saya tidak tahu. Tapi, menurut saya, ada
baguuusnya juga membuktikan KESERAMPANGAN Pemerintah ketika itu, bukan saja
main FITNAH PKI DALANG G30S, tapi juga serampangan dalam menangkap orang! Jelas
Soemini sekalipun anggota GERWANI, tapi saat 1 Oktober 1965 sedang berada di
Bogor! Jadi, menangkapi orang hanya karena tokoh bahkan anggota GERWANI adalah
KESALAHAN serius yang merupakan kekejaman kemanusiaan, ... menangkap Moh. Tarup
yang bukan apa-apa tentu lebih salah lagi! Entah kekejaman apa namanya yang
dilakukan Pemerintah jenderal Suharto ketika itu! Dan, ... ternyata setelah
lewat 52 tahun Pemerintah berikut yang berkuasa boleh saja menghindari
tanggungjawab yg harus dilakukan! Tanpa keharusan mengakui Pemerintah
terdahulu pernah melakukan kejahatan, KESALAHAN pelanggaran HAM, bahkan TIDAK
HENDAK menyatakan minta maaf pada KORBAN, ...! Dan, ... sampai sekarang BELUM
PERNAH ada sikap TEGAS Pemerintah untuk MEREHABILITASI para KORBAN-KORBAN yg
jumlahnya ratusan ribu kalau tidak hendak dibilang jutaan yang diperlakukan
semena-mena, dianiaya, dipenjarakan bahkan dibantai, dan semua dilakukan TANPA
proses hukum! Sungguh KETERLALUUAAAN, ...! Salam,ChanCT From:
[email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, October 4, 2017 12:34 AM
Dia memulai dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa
dirinya tahun 1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang
dulu hanya mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga
anggota PKI hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu
ditangkap. Karena dituduh sebagai bagian dari PKI.
Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh
bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap
pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET,
berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat
negara.
...
Makan malam bersama Gerwani dan anak Pahlawan Revolusi
Minggu, 1 Oktober 2017 08:00Reporter : Anisyah Al Faqir, Angga Yudha Pratomo
Gerwani bertemu anak jenderal. ©2017 Merdeka.com/dwi narwoko
Merdeka.com - Pandangan Soemini sesekali menengok ke arah jendela. Dua
tangannya mendekap. Diletakkan di atas paha. Jari-jemarinya tak bisa diam.
Tatapannya agak sendu. Di dalam mobil lebih banyak diam. Hanya sesekali
menanggapi pembicaraan.
Dia mantan anggota Gerakan Wanita (Gerwani), organisasi dimiliki Partai Komunis
Indonesia (PKI). Kami mengajaknya ke Jakarta dari Pati, Jawa Tengah. Tujuannya
sederhana. Mempertemukan dia dengan anak Pahlawan Revolusi untuk rekonsiliasi.
Pertemuan diatur rapih. Di sebuah restoran kawasan Jakarta Pusat. Kami
memfasilitasi.
Soemini datang didampingi Moh Tarup, eks tahanan politik. Usia mereka sudah
sepuh. Di atas 70 tahun. Kami menjemput mereka di Pati. Selanjutnya menuju
Semarang, memakan waktu tiga jam. Kami lalu naik kereta dari Stasiun Semarang
Tawang menuju Ibu Kota.
Dua anak jenderal Pahlawan Revolusi sebelumnya sudah bersedia menemui. Adalah
Agus Widjojo dan Catherine Panjaitan. Mereka anak Brigjen Sutoyo Siswomihardjo
dan Donal Issac (DI) Pandjaitan. Agus dan Catherine memang sudah dikenal lebih
terbuka dalam masalah ini. Hari Kamis, 28 September 2017 pada jam 5 sore,
akhirnya dipilih. Keduanya sepakat bertemu Soemini.
Tanggal 28 September 2017, pukul 4 pagi. Soemini dan Moh Tarup tiba di Jakarta.
Kami menjemput di Stasiun Gambir. Mereka langsung kami antar ke hotel bintang
dua bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Melanjutkan istirahat.Pukul 1 siang, kami
kembali menjemput Soemini dan Moh Tarup di hotel. Lalu mengajak keduanya ziarah
ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Siang itu Soemini
mengenakan batik cokelat dan celana panjang berwarna cokelat. Sebuah selendang
dikalungkan ke lehernya. Rambutnya diikat sebagian. Meski sudah berusia lanjut
namun tak banyak uban terlihat di rambutnya. Langkahnya pun pelan memasuki
tempat pertemuan. Sedangkan Moh Tarup memakai batik hijau lengan panjang.
Tujuh makam Pahlawan Revolusi kami sambangi. Tangisan mendadak pecah dari mata
Soemini di depan makam Jenderal Ahmad Yani. Dia mengirim doa. Lalu berdiri
menaburkan bunga. Kemudian melanjutkan ke makam para Pahlawan Revolusi lainnya.
Ini pengalaman pertama mereka mendatangi makam para Pahlawan Revolusi korban
peristiwa 30 September 1965. Selama ziarah, Soemini mengaku tak kuat menahan
kesedihan. "Seperti merasakan ada sosoknya dekat di diri kita," ucap Soemini
kepada kami.
Langkah Soemini sebenarnya mulai lemah. Dia sudah diingatkan dokter agar tidak
berjalan terlalu lama. Tapi tidak ketika berziarah. Dia begitu semangat. Mesti
harus dipandu bila tengah menaiki anak tangga.
Setengah jam kemudian, ziarah usai. Kami sengaja beristirahat sejenak. Mencari
tempat makan di sekitar Tebet, Jakarta Selatan. Karena siang itu cuaca cukup
cerah. Sambil menunggu waktu pertemuan dengan para anak jenderal Pahlawan
Revolusi. Sekitar pukul 3 sore, kami langsung menuju lokasi pertemuan.Soemini
dan Moh Tarup tiba di lokasi setengah jam lebih awal. Kami kembali mengajaknya
beristirahat. Sambil minum teh manis hangat. Wajah Soemini terlihat mulai
gugup. Waktu pertemuan semakin dekat. Kami lantas mengajak mereka ruangan
pertemuan. Naik lift ke lantai 3. Namun, keduanya tiba-tiba berpapasan dengan
Agus Widjojo. Mereka kaget. Ini pertemuan pertama mereka. Kami memperkenalkan
keduanya kepada Agus. Sedangkan Catherine sudah menunggu di ruangan.
Tepat pukul 5 sore pertemuan berlangsung. Tiba di ruangan, Soemini kembali
kaget. Dia senang bisa bertemu dengan Catherine. Mereka berpelukan. Suasana
semakin hangat dan cair. Dalam ruangan, Soemini dan Moh Tarup duduk
bersebelahan. Mereka satu meja makan berbentuk bulat bersama Agus dan
Catherine. Selain itu juga hadir Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB)
Suryo Susilo dan Mayang Pandjaitan, putri Catherine sekaligus cucu DI
Pandjaitan. Hadir pula Pemimpin Redaksi merdeka.com, Wens Manggut di tengah
mereka.
Soemini diberikan kesempatan pertama berbicara. Hanya satu keinginannya bertemu
anak jenderal Pahlawan Revolusi. Menjelaskan bahwa dirinya tak pernah ikut
membunuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya ketika peristiwa kelam 1 Oktober
1965.
"Saya dituduh ikut membunuh jenderal, mencungkil mata dan menyayat penis
mereka. Itu tidak benar," kata Soemini dalam pertemuan itu. Selanjutnya
pembicaraan berlangsung santai. Soemini mengaku tak percaya bisa bertemu dengan
anak para Jenderal. Suasana pun menjadi haru.
Dia melanjutkan menceritakan kehidupannya dulu dan sekarang. Masa kelamnya
ketika itu, Soemini mengaku pernah ditahan tanpa diadili selama 6,5 tahun.
Sebagai anggota Gerwani, dia pernah menjabat Ketua ranting Gerwani Desa
Ngerandu, Pati.
Keterlibatannya dalam organisasi Gerwani membuatnya ikut dituduh sebagai pelaku
pembunuhan enam jenderal dan satu perwira. Padahal saat kejadian, Soemini
tengah berada di Bogor untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Saya memang ikut Gerwani, jujur. Saya ikut Gerwani itu tidak karena paksaan,"
ungkap Soemini.
Mendapatkan kesempatan bertemu dan berbincang dengan Agus dan Catherine,
Soemini pun tak kuasa menahan air mata. Tangisannya kembali pecah. Sebab selama
ini dia hanya bisa membayangkan bertemu sedekat ini.
Meski merasa korban, namun dari kaca matanya, Soemini merasa para anak jenderal
senasib. Apalagi mereka menyaksikan bagaimana ayahnya dibunuh di depan mata.
"Mari kita bersama-sama mengisi kemerdekaan itu bersama-sama. Mari kita selalu
bergandengan tangan, kita lepaskan dan kita merajut kembali kebersamaan dan
kita lepaskan itu hal-hal yang dulu, itu harapan kami," ujar Soemini mengakhiri
pernyataannya sambil mengelap tisu ke mata.Selanjutnya satu per satu diberikan
kesempatan berbicara. Moh Tarup giliran selanjutnya. Sebelum berbicara, Tarup
membenarkan posisi duduk. Kedua tangannya mendekap di atas meja.Dia memulai
dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa dirinya tahun
1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang dulu hanya
mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga anggota PKI
hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu ditangkap.
Karena dituduh sebagai bagian dari PKI.
Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh
bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap
pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET,
berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat
negara."Kemarin-kemarin itu saya didatangi intel, katanya (punya) kaos palu
arit. Saya bilang di desa saya tidak ada palu arit," cerita Moh Tarup. Meski
terus mendapatkan pengawasan, namun dirinya sempat beberapa kali mendapatkan
bantuan sembako dari tentara.
Usai Soemini dan Tarup menyampaikan pernyataannya, kini anak para jenderal
mendapat giliran. Kesempatan pertama diberikan kepada Agus. Namun, dia menolak.
Agus melempar kesempatan kepada Suryo Susilo untuk memberikan tanggapan.
Dalam kesempatan itu, Suryo menerangkan bahwa proses rekonsiliasi sebenarnya
sudah berjalan dengan hadirnya FSAB. Forum ini digagas almarhum Taufik Kemas,
suami Megawati Soekarnoputri saat menjabat sebagai ketua MPR. Suryo juga
menjelaskan bahwa dalam proses rekonsiliasi sudah tak lagi mencari pihak salah
atau benar.
Lalu giliran Catherine. Dia juga memberikan tanggapan dari kisah Soemini dan
Moh Tarup. Putri DI Pandjaitan itu meminta keduanya tidak rendah diri lantaran
pernah menjadi tahanan politik dan dituduh membunuh para jenderal. Dengan
bijak, Catherine mengajak Soemini dan Tarup tak lagi kembali terjebak dengan
masa lalu.
"Kalau menurut saya ibu sudah jangan terlalu rendah diri. Kita berpikirnya maju
ke depan," ucap Catherine.Catherine lalu menceritakan kehidupannya setelah
menyaksikan ayahnya tewas di rumahnya sendiri. Dia menjelaskan bahwa
kehidupannya pun hancur setelah kematian ayahnya. Bahkan dia mengaku sering
berusaha untuk bunuh diri dengan cara menyilet kedua lengannya. Hingga
mengalami depresi selama 20 tahun.
Trauma berkepanjangan itu membuat Catherine tak bisa mengendalikan diri. Dia
kerap meledak-meledak. Bahkan lupa bahwa dirinya adalah seorang perempuan,
seharusnya bersikap lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap. Sebab
sebelum kematian ayahnya, Catherine muda dikenal periang. Dia pun membenci
perubahan sikapnya itu.
"Saya sendiri susah sama diri saya sendiri, mengontrol diri saya dan saya tahu
saya menyakiti orang," kata Catherine sambil menepuk-nepuk dada.
Sebagai sulung, kata Catherine, belum semua adiknya telah selesai dengan masa
lalu tersebut. Hingga kini salah satu adiknya itu masih memiliki luka dan
kebencian terhadap para pelaku pembunuhan ayahnya. Catherine juga menceritakan
bagaimana ibunya setiap pekan selama 10 tahun selalu mendatangi makam ayahnya
dan menangis. Sebab, di rumah ibunya berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan
di hadapan semua anaknya. Meski begitu Catherine mengaku telah memaafkan masa
lalunya.
Kini giliran Agus angkat bicara. Dia hanya menjelaskan bahwa dirinya berupaya
untuk bersikap rasional setelah kematian sang Ayah, Brigjen Sutoyo
Siswomihardjo. Sebab, putra sulung dan menggantikan posisi ayahnya di keluarga.
Berbicara soal kabar penyiksaan dialami ayahnya di Lubang Buaya, Agus berusaha
untuk rasional. Terlebih di awal tahun 2000 saat hasil visum et repertum
menyatakan bahwa penyiksaan berupa pemotongan alat kelamin tidak pernah ada.
Hanya ada luka tembak dan tusukan benda tajam di tubuh para Pahlawan Revolusi.
"Saya percaya itu, Saya percaya bahwa tidak ada pencukilan mata, pemotongan
alat kelamin itu tidak ada," kata Agus.
Hasil visum tersebut menurutnya sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ayahnya
mati karena pembunuhan. Agus mengaku tak perlu lagi mengetahui bagaimana
kematian sang ayah 52 tahun silam. Termasuk mencari tahu siapa melakukan itu
kepada ayahnya.
Di samping itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKI pernah
terlibat konflik berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan. Seperti
terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh.
Saat itu, kata Agus, PKI pernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan
aksi teror kepada masyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu
menanamkan kebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan
darat. Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden
Soekarno terus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat.
Selain ada kepentingan politik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas
Soekarno. Ini setelah diketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini
masalahnya politik berebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang
akan merebutnya," ujar Agus.
Terlepas dari berebut kekuasaan di masa lalu, Agus menilai sudah tak perlu lagi
memperdebatkan siapa harus bertanggung jawab atas praha telah menelan ribuan
korban. Sebagai generasi penerus, Agus justru mengajak menatap masa depan dan
menanggalkan perjalanan pahit masa lalu.Agus mengaku sudah selesai dengan masa
lalunya. Pelbagai upaya rekonsiliasi telah dilakukan. "Tantangannya sekarang
adalah menggulirkan perdamaian ini untuk menjadi gerakan nasional. Rekonsiliasi
harus menjadi gerakan sosiokultural."
Rekonsiliasi, dalam pandangan Agus, merupakan bentuk rasa saling percaya.
Caranya dengan melakukan pengakuan dari tiap pihak tentang kesalahan pernah
dilakukan dan mengambil tanggung jawab atas semua kejadian. Hal ini tidak akan
mencapai titik temu bila semua masih menempatkan posisi sebagai korban tanpa
mengakui kesalahan.
Lebih kurang 1,5 jam mereka berbincang. Sambil menyantap hidangan pembuka roti
cane kuah kari. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Perbincangan mereka selesai
untuk sementara. Sebagian izin melakukan ibadah salat Magrib.Tepat pukul 7
malam, pertemuan dilanjutkan. Sekaligus menutup pertemuan mereka dengan
menyantap hidangan utama. Mereka makan satu meja dengan menu nasi goreng, udang
goreng, ikan kerapu hingga ayam. Hidangan malam itu terlihat menggugah selera.
Selama makan malam, mereka tampak berbincang ringan. Bahkan Catherine sempat
memberikan resep obat herbal kepada Soemini untuk mengobati asam urat. Resep
itu segera dicatat. Catherine mengaku sudah bertahun mengonsumsi ramuan herbal
itu. Hasilnya tidak lagi mengalami penyakit tersebut.
Setelah itu mereka saling bertukar nomor telepon dan foto bersama. Pada sesi
foto bersama, mereka tampak akrab. Bahkan Catherine dan Soemini berpose sambil
rangkulan. Keduanya tampak bahagia. Hal serupa terlihat pada tamu undangan
lainnya. Mereka menutup pertemuan ini dengan suasana hangat dan diselingi tawa
antar mereka. [ang]
#yiv3810829442 #yiv3810829442 -- #yiv3810829442ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-mkp #yiv3810829442hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mkp #yiv3810829442ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mkp .yiv3810829442ad
{padding:0 0;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mkp .yiv3810829442ad p
{margin:0;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mkp .yiv3810829442ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-sponsor
#yiv3810829442ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-sponsor #yiv3810829442ygrp-lc #yiv3810829442hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-sponsor #yiv3810829442ygrp-lc .yiv3810829442ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3810829442 #yiv3810829442actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3810829442
#yiv3810829442activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3810829442
#yiv3810829442activity span {font-weight:700;}#yiv3810829442
#yiv3810829442activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3810829442 #yiv3810829442activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3810829442 #yiv3810829442activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3810829442 #yiv3810829442activity span
.yiv3810829442underline {text-decoration:underline;}#yiv3810829442
.yiv3810829442attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3810829442 .yiv3810829442attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3810829442 .yiv3810829442attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3810829442 .yiv3810829442attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3810829442 .yiv3810829442attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3810829442 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3810829442 .yiv3810829442bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3810829442
.yiv3810829442bold a {text-decoration:none;}#yiv3810829442 dd.yiv3810829442last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3810829442 dd.yiv3810829442last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3810829442
dd.yiv3810829442last p span.yiv3810829442yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3810829442 div.yiv3810829442attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3810829442 div.yiv3810829442attach-table
{width:400px;}#yiv3810829442 div.yiv3810829442file-title a, #yiv3810829442
div.yiv3810829442file-title a:active, #yiv3810829442
div.yiv3810829442file-title a:hover, #yiv3810829442 div.yiv3810829442file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3810829442 div.yiv3810829442photo-title a,
#yiv3810829442 div.yiv3810829442photo-title a:active, #yiv3810829442
div.yiv3810829442photo-title a:hover, #yiv3810829442
div.yiv3810829442photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3810829442
div#yiv3810829442ygrp-mlmsg #yiv3810829442ygrp-msg p a
span.yiv3810829442yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3810829442
.yiv3810829442green {color:#628c2a;}#yiv3810829442 .yiv3810829442MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3810829442 o {font-size:0;}#yiv3810829442
#yiv3810829442photos div {float:left;width:72px;}#yiv3810829442
#yiv3810829442photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3810829442
#yiv3810829442photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3810829442
#yiv3810829442reco-category {font-size:77%;}#yiv3810829442
#yiv3810829442reco-desc {font-size:77%;}#yiv3810829442 .yiv3810829442replbq
{margin:4px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-mlmsg select, #yiv3810829442 input, #yiv3810829442 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-mlmsg pre, #yiv3810829442 code {font:115%
monospace;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-mlmsg #yiv3810829442logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-msg
p#yiv3810829442attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-reco #yiv3810829442reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-sponsor
#yiv3810829442ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-sponsor #yiv3810829442ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-sponsor #yiv3810829442ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3810829442 #yiv3810829442ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3810829442
#yiv3810829442ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3810829442