----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: Tatiana Lukman <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>Cc: DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Gol <[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>Terkirim: Kamis, 5 Oktober 2017 16.33.39 GMT+2Judul: Re: [temu_eropa] Fw: [GELORA45] Makan malam bersama Gerwani dan anak Pahlawan Revolusi
Menurut saya, Prinsip yang seharusnya dipegang TEGUG adalah, Jangan lakukan pada orang lain apa yang kita sendiri menentang dan tidak hendak dilakukan pada kita sendiri! Jadi, kekejaman kemanusiaan yang terjadi, siapapun pelakunya dan siapapun korbannya, ... adalah KESALAHAN yang harus dikecam bahkan dikutuk! Jangan teruskan lakukan kekejaman kemanusiaan begitu, ...lagi! KESALAHAN PKI ketika itu, sekalipun berkeras menyatakan G30S adalah urusan intern AD, tapi PKI tetap MENDUKUNG G30S yang jelas melakukan kekejaman kemanusiaan yang terkutuk itu! Dukungan kuat PKI pada G30S inilah yg memperkuat tuduhan Suharto, PKI adalah dalang G30S, ...! Menuduh PKI lah yang menggerakkan perwira muda, melalui Biro Khususnya, sekalipun dalam KENYATAAN yang bergerak hanya segelintir tokoh saja, dari Aidit, Syam, Nyono, Pono, Bono dll. Sedang Sudisman yang pimpinan ke-4 saja TIDAK TAHU apa itu G30S! Yaa, memang, ... seandainya saja PKI itu benar-benar Partai revolusioner, SETIAP GERAKAN yang dilancarkan adalah gerakan RAKYAT yang bersandar sepenuhnya pada kekuatan RAKYAT, ... BUKAN dan tentunya TIDAK akan melakukan satu gerakan culik menculik semacam kudeta-istana yg hanya diketahui dan dilancarkan oleh segelintir orang saja! Jadi JELAS G30S itu bukan permainan PKI! PKI secara partai TIDAK terlibat! Tapi, katakanlah tidak dapat disangkal ada peran Aidit, Syam Cs disitu, namun, ... sekalipun Sudisman tidak tahu menahu masalah G30S, sebagai pimpinan PKI tertinggi yang masih hidup dan diajukan kedepan Mahlilub, dengan gagah-berani mengambil oper tanggungjawab dan atas nama PKI menyatakan minta MAAF atas kejadian G30S itu! Sungguh sikap terpuji Sudisman yang TETAP pegang TEGUH pimpinan kolektif, "Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih 'jalan mati'." dan lebih lanjut Sudisman menyatakan: “Bagaimana pun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Kenyataan yang terjadi dan dilakukan oleh pimpinan PKI yang masih hidup ketika itu, jauh ditahun 1978, ... Sudisman mewakili PKI SUDAH dengan TANDAS menyampaikan rasa tanggungjawabnya yang harus dipikul dan minta maaf atas apa yang terjadi! Sedang Pemerintah yang berkuasa sampai sekarang setelah lewat 52 tahun, TETAP tidak bertanggungjawab atas KEJAHATAN NEGARA yang pernah terjadi dilakukan jenderal Suharto! Ini pertama. Kedua, pada saat kita menentang keras bahkan mengutuk jenderal Suharto yang merasa tidak puas dengan menangkap dan membunuh tokoh-utama PKI dan juga tanpa proses HUKUM, lalu berlanjut dengan pengejaran, penangkapan dan pembantaian terhadap jutaan orang yang dituduh PKI, simpatisan komunis dan Soekarnois. Mengapa tidak berlakukan seperti Presiden Soekarno saat menghadapi Pemberontakan PRRI/Permesta, yang jelas didalangi Masyumi, PSI, dan berakibat ke-2 partai ini dibubarkan. Tapi pemerintah Soekarno ketika itu cukup menangkap tokoh-utama yang harus bertanggungjawab saja, sedang tokoh dan anggota yang tidak terlibat pemberontakan tidak diapa-apakan. Bisa tetap bekerja secara normal! Namun jenderal Suharto tidak berhenti sampai disitu, dengan lebih kejam lagi berlakukan “DOSA TURUNAN”, sehingga melibatkan keluarga TAPOL, suami, istri, anak-anak, suadara menjadi orang-orang yang “tidak bersih lingkungan” dan berakibat puluhan juta warga menjadi warga klas-kambing yag tersisihkan dalam masyarakat bagaikan orang kena sakit lepra, sulit mendapatkan pekerjaan, anak-anak kesulitan mendapatkan sekolah, ... Jadi, sudah seharusnya kita sendiri juga berlakukan “DOSA TURUNAN” itu pada anak-anak jenderal yg dituduh Dewan Jenderal itu! Harus memusuhi mereka hanya karena anak-anak Dewan Jenderal, ... Jangankan anak-anaknya yg PASTI ketika itu tidak terlibat bahkan tidak tahu apa-apa dengan G30S itu, lalu kenapa hanya karena anak-anak jenderal harus dimusuhi??? Hanya karena jenderal-jenderal itu dikategorikan MUSUH oleh PKI dan harus diculik atau dibunuh? Apa ketika itu sudah menjadi garis PKI? Kenapa TIDAK BERANI berlakukan kebijakan ketua Mao yang kemarin saya ajukan dalam memperlakukan tawanan perang, ditindak saja komandannya, jenderal yg kejam itu saja yg diadili dan kalau perlu ditembak mati! Sedang perajuritnya tidak perlu dimusuhi, bahkan harus diperlakukan sebagai manusia yang patut dihormati! Tentu, boleh-boleh saja beda pandangan ideologi-politik dengan anak-anak jenderal itu, ... mau dianggap politik-kanan sekalipun, selama mereka bersikap bersahabat kenapa harus dimusuhi? Sudah bagus mereka, jenderal Agus Widjojo, Amelia Yani, Catherine Cs, ... bersedia menerima, bersalaman bahkan bersahabat dengan Ilham Aidit, Svetlana cs, bahkan perlukan menerima dan makan bersama dengan korban2 G30S itu, dari Bedjo Untung sampai Soemini, Moh Tarup kemarin ini, baik mendengarkan kisah maupun pendapat mereka. Kalau belum bisa jalankan rekonsiliasi, ya dimulailah adanya pendekatan-pendekatan. Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan hendak dimulai? Tentu kita juga tidak bisa mengharapkan sekaligus bisa selesai dalam waktu cepat, apalagi pihak Pemerintah belum bisa membuat KESIMPULAN yang baik dan secara RESMI MINTA MAAF pada KORBAN kejahatan negara yang telah terjadi, ... biarlah proses pendekatan itu berlangsung sebisanya saja, tidak perlu dipaksakan. Bukankah diantara bersaudara, seperti adiknya Catherine juga ada yang belum bisa menerima, ... ! Yaa, biarkan saja dahulu, tidak perlu dipaksakan. Berlakukan saja HUKUM yang ada, jatuhkan sanksi sesuai kesalahan pada orang yang harus bertanggungjawab saja, jangan libatkan atau menyeret-nyeret orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan KESALAHAN itu! Tidak perlu melibatkan apalagi menyeret anak-anaknya yang jelas ketika itu masih kanak-kanak, ...! Urusan bapak dengan bapak yg bertengkar bahkan bermusuhan itu, tidak harus diteruskan dan nurun pada anak-anaknya! Apalagi kalau ternyata yg membunuh ayah2nya, jenderal-jenderal itu bukan PKI! Dengan bermunculannya data-data yang lebih masuk akal dan akurat, tentu orang yang waras akan meragukan tuduhan PKI dalang G30S yang direncanakan menculik 7 jenderal itu. Akan lebih masuk akal seperti Kesaksian Dr. Soebandrio, G30S ini langkah awal kudeta-merangkak yang dijalankan jenderal Suharto! Dan, ... lebih CELAKA lagi seperti kata Soebandrio, Suharto itu memang PKI! Ketiga, SETUUUJUUUUU kekurangan jenderal Agus Widjojo, ... belum BERANI maju selangkah lagi, TETAP berusaha keras menemukan siapa sesungguhnya yang perintahkan membunuh ayahnya itu! Siapa sesungguhnya dalang G30S yang harus bertanggungjawab penuh atas jatuhnya jutaan korban, ... dengan maksud menatap kedepan, bersama-sama bisa membangun bangsa ini lebih baik! Boleh-boleh saja jenderal Agus berpendapat begitu, tapi kan juga tetap bisa bersama-sama maju kedepan, bekerja bersama, berjuang bersama untuk membangun masyarakat terus maju lebih baik! Kan tidak mungkin kita menuntut segala persoalan dijernihkan dahulu baru kerja-sama, maju bersama dan persahabatan itu digalang! Kenapa kita tidak bisa belajar dari cara berjuang Ketua Mao, yang berani bersalaman dengan Presiden Nixon dan PM Tanaka, sekalipun masih banyak soal belum bisa dijernihkan. Cukup satu prinsip saja yg dipegang teguh, akui RRT satu-satunya Tiongkok didunia ini! Dan sampai 40 tahun terakhir ini juga bisa kita lihat terus terjadi perjuangan antara RRT-AS, RRT-Jepang, dan seringkali juga cukup sengit, tegang, kok! Itulah bentuk persatuan sekaligus perjuangan yang terjadi, BERSATU dan BERJUANG untuk merebut kesempatan lebih baik mengembangkan dan memperkuat diri sendiri! Bukan cuma taunya HARUS MELAWAN, musuh harus dihujat, diserang dengan main seruduk, ... tidak bedanya dengan benturkan kepala pada BATU! Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, October 5, 2017 4:48 AMTo: [email protected] ; GELORA_In Cc: DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Gol ; Harry Singgih ; Farida Ishaja ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; [email protected] ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo Subject: Re: [temu_eropa] Fw: [GELORA45] Makan malam bersama Gerwani dan anak Pahlawan Revolusi Tidak sedikit orang yang menilai “persahabatan” dan “rekonsiliasi” antara anak-anak pahlawan revolusi dengan anak-anak beberapa penggede PKI sebagai contoh yang patut ditiru oleh para korban dan dianggap sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk menuntaskan pelanggaran HAM berat yang dikategorisasi sebagai genosida oleh IPT. Soemini dan Tarup dibawa ke makam pahlawan revolusi. Soemini tenggelam dalam keharuan yang dalam. Sesuatu yang manusiawi. Yang perlu diingat adalah sampai hari ini masih ada ribuan, atau puluhan ribu atau ratusan ribu bahkan jutaan orang yang dibunuh dan dihilangkan dengan paksa yang tidak diketahui di mana jasadnya dikubur, atau dibuang. Yang menyolok adalah sikap Agus Wijoyo yang konsisten dengan kenyataan bahwa dia adalah TENTARA (walaupun sudah purnawirawan). Ia tidak lupa menggunakan pertemuan ini untuk menarik perhatian orang kepada kejahatan PKI. Di bawah ini kata-katanya. Di samping itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKI pernah terlibat konflik berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan. Seperti terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh. Saat itu, kata Agus, PKI pernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan aksi teror kepada masyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu menanamkan kebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan darat. Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden Soekarno terus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat. Selain ada kepentingan politik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas Soekarno. Ini setelah diketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini masalahnya politik berebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang akan merebutnya," ujar Agus. Sama sekali tidak disinggung siapa yang membunuh 6 jenderal dan seorang kapten. BUKAN PKI! BAGIAN DARI TENTARA LAH YANG MEMBUNUH MEREKA!!! Heran fakta ini ingin dilupakan dan dihapus!!!! Agus tidak mau membicarakan lagi siapa yang salah dan siapa yang bertanggung jawab!! Karena sudah begitu banyak bukti akan kejahatan dan tanggung jawab rezim fasis Suharto serta aparat militernya atas GENOSIDA itu, maka enak sekali dan mudah banget bilang tidak ada lagi gunanya membicarakan siapa yang salah dan siapa yang bertanggung jawab!!! Sikap Agus Wijoyo yang menyinggung peristiwa Madiun, aksi sepihak, dsb. sungguh normal dan saya mengerti sepenuhnya! Sikapnya adalah pencerminan bahwa justru Letjen purnawirawan ini tidak lupa pada kenyataan dan fakta adanya perjuangan kelas!!! Nah, ironisnya, justru orang-orang ex-PKI yang ingin melupakan perjuangan kelas!! Dianggapnya dengan rekonsiliasi, berdamai dengan dirinya sendiri (heran, ngapain saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, emangnya saya punya kontradiksi dengan diri saya sendiri yang menyangkut peristiwa G30S dan pembantaian??!!), maka selesailah masalahnya! Sikap saya jelas. Persahabatan dan rekonsiliasi antara individu-individu adalah hal yang syah-syah saja, tidak seharusnya dipolitisasi. Namun itu sama sekali tidak bisa menggantikan tuntutan keadilan bagi para korban yang sekarang sudah tidak bisa lagi bersuara dan menuntut keadilan. International People’s Tribunal mengkategorisasi peristiwa 65 sebagai GENOSIDA. Dan salah satu tuntutannya adalah proses judicial, proses hukum. Karena sudah terjadi pembunuhan secara sewenang-wenang terhadap orang yang tidak pernah dibuktikan kesalahannya. Keluarga Munir, keluarga Wiji Thukul, keluarga korban pembunuhan Trisakti terus menuntut dituntaskannya masalah kejahatan itu. Di negeri hukum, pembunuhan terhadap satu orangpun diselesaikan melalui hukum. Apalagi ini pembunuhan terhadap ratusan ribu bahkan jutaan manusia tak berdosa. Sebaliknya orang revisionis dan renegad seperti Chan, karena otaknya sudah dipenuhi oleh pengkhianatan, malah menuduh saya mengobarkan DENDAM tiada berkesudahan! Dan munafikya lagi masih nggak punya malu menyinggung ajaran Mao Tse dong yang sudah lama dia kentutin!!! Mencampur adukkan politik Mao terhadap tawanan dengan proses hukum terhadap penjahat!!! Apakah tidak ada tuan tanah kejam dan punya hutang darah yang dihukum mati oleh pengadilan rakyat selama berkembang revolusi nasional demokratis di Tiongkok??!!! Yang tidak boleh dilakukan adalah tindakan anarkis, didorong oleh dendam karena penderitaannya untuk melakukan balas dendam TANPA melalui proses pengadilan!!! Apakah menuntut penyelesaian hukum berarti kita ingin MEMBUNUH mereka yang telah melakukan kejahatan menyiksa dan membunuh!! Sungguh PICIK!! Memang tidak bisa diharapkan pikiran sehat dan logis dari seorang remo dan renegad!!! Ingat Pramudya Ananta Toer??? Permintaan maaf Gus Dur pun bagi Pramudya tidak ada artinya!!! Itulah sikap orang yang berani dan konsekwen dengan keyakinannya sampai akhir hayatnya!!! Apakah dengan menolak permintaan maaf Gus Dur berarti Pramudya ingin membunuh orang-orang yang telah merampas dan membakar perpustakaannya, yang telah menjebloskannya ke Pulau Buru?? Sudah dibuktikan dalam sejarah bahwa orang remo adalah sekutu imperialisme dan kaum reaksioner! Siapa yang mau belajar sejarah dengan jujur tak terhindarkan akan mengakui Partai dan Negara Soviet sejak dibawah Khrustjov dengan politk koeksistensi damainya telah bertekuk lutut dan kerja sama dengan imperialisme AS. Makanya PKUS tidak pernah mengutuk pembantaian 65-66. Sebaliknya dengan Tiongkok, Vietnam, Republik Demokratis Rakyat Korea, dan Kuba yang menolak menaikkan bendera setengah tiang. Sekarang saksikan sendiri sikap PKT remo dan Tiongkok kapitalis terhadap ancaman perang dan sanksi kaum imperialis AS terhadap RDRK. Mereka mendukung sepenuhnya sanksi dan menekan Korea untuk tunduk pada ancaman AS!!! Nah, si Chan remo tak ketinggalan!! Dengan setia mengikuti strategi dan scenario para jenderal untuk meletakkan PKI sejajar dengan rezim fasis ORBA: sama-sama salah, sama-sama harus bertanggung jawab!! Karena sudah begitu banyak tulisan, buku, penelitian yang membuktikan kejahatan rezim Suharto dan aparat militer dalam pembantaian 65-66, maka mereka mengalihkan perhatian orang kepada peristiwa Madiun, Aksi Sepihak dan sebagainya. Bayangkan menuduh PKI melakukan TEROR!!! Ini kan sama dengan alasan NAZI membunuh orang-orang yahudi karena mereka menguasai/berpengaruh dalam ekonomi Jerman ketika itu. Nah, bagaimana dengan alasan orang-orang rasis di Indonesia yang mengejar-ngejar dan membunuh orang tionghoa karena mereka melihat orang-orang tionghoa menguasai ekonomi Indonesia?? Apakah kita bisa juga bilang, salahnya sendiri orang-orang tionghoa itu maka dimusuhi orang Indonesia pribumi. Coba pikir, bukankah itu juga logika yang dipakai para tentara untuk membenarkan kejahatan pembantaiannya??? Karena PKI juga salah, karena bikin terror, karena Aksi Sepihak, karena berontak, ya makanya dibunuh!!! Maka itu saya bilang di antara ex. anggota PKI tidak sedikit yang sudah menyeberang dan menempatkan dirinya di barisan kaum reaksioner dan turut memutar balik fakta sejarah dan mengatakan PKI berontak di Madiun!!!! Pernah saya dengar ada orang yang menggunakan wawancaranya dengan pak Soemarsono tapi kemudian di bukunya ia mengubah atau memutarbalik fakta dan berkesimpulan PKI berontak di Madiun. Makanya pak Soemarsono marah besar!!! Hati-hati dengan orang yang suka bikin wawancara!! Bisa digunakan untuk kepentingannya sendiri!! On Wednesday, October 4, 2017 6:46 AM, "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: Entah bagaimana cara memilih dan menemukan 2 KORBAN yang akan dipertemukan 2 anak Pahlawan Revolusi ini, saya tidak tahu. Tapi, menurut saya, ada baguuusnya juga membuktikan KESERAMPANGAN Pemerintah ketika itu, bukan saja main FITNAH PKI DALANG G30S, tapi juga serampangan dalam menangkap orang! Jelas Soemini sekalipun anggota GERWANI, tapi saat 1 Oktober 1965 sedang berada di Bogor! Jadi, menangkapi orang hanya karena tokoh bahkan anggota GERWANI adalah KESALAHAN serius yang merupakan kekejaman kemanusiaan, ... menangkap Moh. Tarup yang bukan apa-apa tentu lebih salah lagi! Entah kekejaman apa namanya yang dilakukan Pemerintah jenderal Suharto ketika itu! Dan, ... ternyata setelah lewat 52 tahun Pemerintah berikut yang berkuasa boleh saja menghindari tanggungjawab yg harus dilakukan! Tanpa keharusan mengakui Pemerintah terdahulu pernah melakukan kejahatan, KESALAHAN pelanggaran HAM, bahkan TIDAK HENDAK menyatakan minta maaf pada KORBAN, ...! Dan, ... sampai sekarang BELUM PERNAH ada sikap TEGAS Pemerintah untuk MEREHABILITASI para KORBAN-KORBAN yg jumlahnya ratusan ribu kalau tidak hendak dibilang jutaan yang diperlakukan semena-mena, dianiaya, dipenjarakan bahkan dibantai, dan semua dilakukan TANPA proses hukum! Sungguh KETERLALUUAAAN, ...! Salam,ChanCT From: [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, October 4, 2017 12:34 AM Dia memulai dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa dirinya tahun 1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang dulu hanya mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga anggota PKI hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu ditangkap. Karena dituduh sebagai bagian dari PKI. Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET, berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat negara. ... Makan malam bersama Gerwani dan anak Pahlawan Revolusi Minggu, 1 Oktober 2017 08:00Reporter : Anisyah Al Faqir, Angga Yudha PratomoGerwani bertemu anak jenderal. ©2017 Merdeka.com/dwi narwoko Merdeka.com - Pandangan Soemini sesekali menengok ke arah jendela. Dua tangannya mendekap. Diletakkan di atas paha. Jari-jemarinya tak bisa diam. Tatapannya agak sendu. Di dalam mobil lebih banyak diam. Hanya sesekali menanggapi pembicaraan. Dia mantan anggota Gerakan Wanita (Gerwani), organisasi dimiliki Partai Komunis Indonesia (PKI). Kami mengajaknya ke Jakarta dari Pati, Jawa Tengah. Tujuannya sederhana. Mempertemukan dia dengan anak Pahlawan Revolusi untuk rekonsiliasi. Pertemuan diatur rapih. Di sebuah restoran kawasan Jakarta Pusat. Kami memfasilitasi. Soemini datang didampingi Moh Tarup, eks tahanan politik. Usia mereka sudah sepuh. Di atas 70 tahun. Kami menjemput mereka di Pati. Selanjutnya menuju Semarang, memakan waktu tiga jam. Kami lalu naik kereta dari Stasiun Semarang Tawang menuju Ibu Kota. Dua anak jenderal Pahlawan Revolusi sebelumnya sudah bersedia menemui. Adalah Agus Widjojo dan Catherine Panjaitan. Mereka anak Brigjen Sutoyo Siswomihardjo dan Donal Issac (DI) Pandjaitan. Agus dan Catherine memang sudah dikenal lebih terbuka dalam masalah ini. Hari Kamis, 28 September 2017 pada jam 5 sore, akhirnya dipilih. Keduanya sepakat bertemu Soemini. Tanggal 28 September 2017, pukul 4 pagi. Soemini dan Moh Tarup tiba di Jakarta. Kami menjemput di Stasiun Gambir. Mereka langsung kami antar ke hotel bintang dua bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Melanjutkan istirahat.Pukul 1 siang, kami kembali menjemput Soemini dan Moh Tarup di hotel. Lalu mengajak keduanya ziarah ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Siang itu Soemini mengenakan batik cokelat dan celana panjang berwarna cokelat. Sebuah selendang dikalungkan ke lehernya. Rambutnya diikat sebagian. Meski sudah berusia lanjut namun tak banyak uban terlihat di rambutnya. Langkahnya pun pelan memasuki tempat pertemuan. Sedangkan Moh Tarup memakai batik hijau lengan panjang. Tujuh makam Pahlawan Revolusi kami sambangi. Tangisan mendadak pecah dari mata Soemini di depan makam Jenderal Ahmad Yani. Dia mengirim doa. Lalu berdiri menaburkan bunga. Kemudian melanjutkan ke makam para Pahlawan Revolusi lainnya. Ini pengalaman pertama mereka mendatangi makam para Pahlawan Revolusi korban peristiwa 30 September 1965. Selama ziarah, Soemini mengaku tak kuat menahan kesedihan. "Seperti merasakan ada sosoknya dekat di diri kita," ucap Soemini kepada kami. Langkah Soemini sebenarnya mulai lemah. Dia sudah diingatkan dokter agar tidak berjalan terlalu lama. Tapi tidak ketika berziarah. Dia begitu semangat. Mesti harus dipandu bila tengah menaiki anak tangga. Setengah jam kemudian, ziarah usai. Kami sengaja beristirahat sejenak. Mencari tempat makan di sekitar Tebet, Jakarta Selatan. Karena siang itu cuaca cukup cerah. Sambil menunggu waktu pertemuan dengan para anak jenderal Pahlawan Revolusi. Sekitar pukul 3 sore, kami langsung menuju lokasi pertemuan.Soemini dan Moh Tarup tiba di lokasi setengah jam lebih awal. Kami kembali mengajaknya beristirahat. Sambil minum teh manis hangat. Wajah Soemini terlihat mulai gugup. Waktu pertemuan semakin dekat. Kami lantas mengajak mereka ruangan pertemuan. Naik lift ke lantai 3. Namun, keduanya tiba-tiba berpapasan dengan Agus Widjojo. Mereka kaget. Ini pertemuan pertama mereka. Kami memperkenalkan keduanya kepada Agus. Sedangkan Catherine sudah menunggu di ruangan. Tepat pukul 5 sore pertemuan berlangsung. Tiba di ruangan, Soemini kembali kaget. Dia senang bisa bertemu dengan Catherine. Mereka berpelukan. Suasana semakin hangat dan cair. Dalam ruangan, Soemini dan Moh Tarup duduk bersebelahan. Mereka satu meja makan berbentuk bulat bersama Agus dan Catherine. Selain itu juga hadir Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) Suryo Susilo dan Mayang Pandjaitan, putri Catherine sekaligus cucu DI Pandjaitan. Hadir pula Pemimpin Redaksi merdeka.com, Wens Manggut di tengah mereka. Soemini diberikan kesempatan pertama berbicara. Hanya satu keinginannya bertemu anak jenderal Pahlawan Revolusi. Menjelaskan bahwa dirinya tak pernah ikut membunuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya ketika peristiwa kelam 1 Oktober 1965. "Saya dituduh ikut membunuh jenderal, mencungkil mata dan menyayat penis mereka. Itu tidak benar," kata Soemini dalam pertemuan itu. Selanjutnya pembicaraan berlangsung santai. Soemini mengaku tak percaya bisa bertemu dengan anak para Jenderal. Suasana pun menjadi haru. Dia melanjutkan menceritakan kehidupannya dulu dan sekarang. Masa kelamnya ketika itu, Soemini mengaku pernah ditahan tanpa diadili selama 6,5 tahun. Sebagai anggota Gerwani, dia pernah menjabat Ketua ranting Gerwani Desa Ngerandu, Pati. Keterlibatannya dalam organisasi Gerwani membuatnya ikut dituduh sebagai pelaku pembunuhan enam jenderal dan satu perwira. Padahal saat kejadian, Soemini tengah berada di Bogor untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. "Saya memang ikut Gerwani, jujur. Saya ikut Gerwani itu tidak karena paksaan," ungkap Soemini. Mendapatkan kesempatan bertemu dan berbincang dengan Agus dan Catherine, Soemini pun tak kuasa menahan air mata. Tangisannya kembali pecah. Sebab selama ini dia hanya bisa membayangkan bertemu sedekat ini. Meski merasa korban, namun dari kaca matanya, Soemini merasa para anak jenderal senasib. Apalagi mereka menyaksikan bagaimana ayahnya dibunuh di depan mata. "Mari kita bersama-sama mengisi kemerdekaan itu bersama-sama. Mari kita selalu bergandengan tangan, kita lepaskan dan kita merajut kembali kebersamaan dan kita lepaskan itu hal-hal yang dulu, itu harapan kami," ujar Soemini mengakhiri pernyataannya sambil mengelap tisu ke mata.Selanjutnya satu per satu diberikan kesempatan berbicara. Moh Tarup giliran selanjutnya. Sebelum berbicara, Tarup membenarkan posisi duduk. Kedua tangannya mendekap di atas meja.Dia memulai dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa dirinya tahun 1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang dulu hanya mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga anggota PKI hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu ditangkap. Karena dituduh sebagai bagian dari PKI. Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET, berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat negara."Kemarin-kemarin itu saya didatangi intel, katanya (punya) kaos palu arit. Saya bilang di desa saya tidak ada palu arit," cerita Moh Tarup. Meski terus mendapatkan pengawasan, namun dirinya sempat beberapa kali mendapatkan bantuan sembako dari tentara. Usai Soemini dan Tarup menyampaikan pernyataannya, kini anak para jenderal mendapat giliran. Kesempatan pertama diberikan kepada Agus. Namun, dia menolak. Agus melempar kesempatan kepada Suryo Susilo untuk memberikan tanggapan. Dalam kesempatan itu, Suryo menerangkan bahwa proses rekonsiliasi sebenarnya sudah berjalan dengan hadirnya FSAB. Forum ini digagas almarhum Taufik Kemas, suami Megawati Soekarnoputri saat menjabat sebagai ketua MPR. Suryo juga menjelaskan bahwa dalam proses rekonsiliasi sudah tak lagi mencari pihak salah atau benar. Lalu giliran Catherine. Dia juga memberikan tanggapan dari kisah Soemini dan Moh Tarup. Putri DI Pandjaitan itu meminta keduanya tidak rendah diri lantaran pernah menjadi tahanan politik dan dituduh membunuh para jenderal. Dengan bijak, Catherine mengajak Soemini dan Tarup tak lagi kembali terjebak dengan masa lalu. "Kalau menurut saya ibu sudah jangan terlalu rendah diri. Kita berpikirnya maju ke depan," ucap Catherine.Catherine lalu menceritakan kehidupannya setelah menyaksikan ayahnya tewas di rumahnya sendiri. Dia menjelaskan bahwa kehidupannya pun hancur setelah kematian ayahnya. Bahkan dia mengaku sering berusaha untuk bunuh diri dengan cara menyilet kedua lengannya. Hingga mengalami depresi selama 20 tahun. Trauma berkepanjangan itu membuat Catherine tak bisa mengendalikan diri. Dia kerap meledak-meledak. Bahkan lupa bahwa dirinya adalah seorang perempuan, seharusnya bersikap lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap. Sebab sebelum kematian ayahnya, Catherine muda dikenal periang. Dia pun membenci perubahan sikapnya itu. "Saya sendiri susah sama diri saya sendiri, mengontrol diri saya dan saya tahu saya menyakiti orang," kata Catherine sambil menepuk-nepuk dada. Sebagai sulung, kata Catherine, belum semua adiknya telah selesai dengan masa lalu tersebut. Hingga kini salah satu adiknya itu masih memiliki luka dan kebencian terhadap para pelaku pembunuhan ayahnya. Catherine juga menceritakan bagaimana ibunya setiap pekan selama 10 tahun selalu mendatangi makam ayahnya dan menangis. Sebab, di rumah ibunya berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan di hadapan semua anaknya. Meski begitu Catherine mengaku telah memaafkan masa lalunya. Kini giliran Agus angkat bicara. Dia hanya menjelaskan bahwa dirinya berupaya untuk bersikap rasional setelah kematian sang Ayah, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo. Sebab, putra sulung dan menggantikan posisi ayahnya di keluarga. Berbicara soal kabar penyiksaan dialami ayahnya di Lubang Buaya, Agus berusaha untuk rasional. Terlebih di awal tahun 2000 saat hasil visum et repertum menyatakan bahwa penyiksaan berupa pemotongan alat kelamin tidak pernah ada. Hanya ada luka tembak dan tusukan benda tajam di tubuh para Pahlawan Revolusi. "Saya percaya itu, Saya percaya bahwa tidak ada pencukilan mata, pemotongan alat kelamin itu tidak ada," kata Agus. Hasil visum tersebut menurutnya sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ayahnya mati karena pembunuhan. Agus mengaku tak perlu lagi mengetahui bagaimana kematian sang ayah 52 tahun silam. Termasuk mencari tahu siapa melakukan itu kepada ayahnya. Di samping itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKI pernah terlibat konflik berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan. Seperti terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh. Saat itu, kata Agus, PKI pernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan aksi teror kepada masyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu menanamkan kebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan darat. Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden Soekarno terus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat. Selain ada kepentingan politik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas Soekarno. Ini setelah diketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini masalahnya politik berebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang akan merebutnya," ujar Agus. Terlepas dari berebut kekuasaan di masa lalu, Agus menilai sudah tak perlu lagi memperdebatkan siapa harus bertanggung jawab atas praha telah menelan ribuan korban. Sebagai generasi penerus, Agus justru mengajak menatap masa depan dan menanggalkan perjalanan pahit masa lalu.Agus mengaku sudah selesai dengan masa lalunya. Pelbagai upaya rekonsiliasi telah dilakukan. "Tantangannya sekarang adalah menggulirkan perdamaian ini untuk menjadi gerakan nasional. Rekonsiliasi harus menjadi gerakan sosiokultural." Rekonsiliasi, dalam pandangan Agus, merupakan bentuk rasa saling percaya. Caranya dengan melakukan pengakuan dari tiap pihak tentang kesalahan pernah dilakukan dan mengambil tanggung jawab atas semua kejadian. Hal ini tidak akan mencapai titik temu bila semua masih menempatkan posisi sebagai korban tanpa mengakui kesalahan. Lebih kurang 1,5 jam mereka berbincang. Sambil menyantap hidangan pembuka roti cane kuah kari. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Perbincangan mereka selesai untuk sementara. Sebagian izin melakukan ibadah salat Magrib.Tepat pukul 7 malam, pertemuan dilanjutkan. Sekaligus menutup pertemuan mereka dengan menyantap hidangan utama. Mereka makan satu meja dengan menu nasi goreng, udang goreng, ikan kerapu hingga ayam. Hidangan malam itu terlihat menggugah selera. Selama makan malam, mereka tampak berbincang ringan. Bahkan Catherine sempat memberikan resep obat herbal kepada Soemini untuk mengobati asam urat. Resep itu segera dicatat. Catherine mengaku sudah bertahun mengonsumsi ramuan herbal itu. Hasilnya tidak lagi mengalami penyakit tersebut. Setelah itu mereka saling bertukar nomor telepon dan foto bersama. Pada sesi foto bersama, mereka tampak akrab. Bahkan Catherine dan Soemini berpose sambil rangkulan. Keduanya tampak bahagia. Hal serupa terlihat pada tamu undangan lainnya. Mereka menutup pertemuan ini dengan suasana hangat dan diselingi tawa antar mereka. [ang]
