----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Kamis, 5 Oktober 2017 00.09.23
GMT+2Judul: [GELORA45] Soepardjo, Jenderal Angkatan Darat dalam G30S
Soepardjo, Jenderal Angkatan Darat dalam G30S
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Soepardjo, Jenderal Angkatan Darat dalam G30S
Soepardjo adalah satu-satunya jenderal Angkatan Darat yang aktif dalam G30S.
|
|
|
Brigjen Soepardjo (tengah), dikawal oleh polisi militer keluar dari pengadilan.
Ia adalah Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat yang memiliki peran penting
dalam peristiwa Gerakan 30 September. FOTO/Istimewa2.1k Shares
-
Sukarno
tiMeter: +33
-
DN Aidit
tiMeter: -33
-
Untung Samsuri
tiMeter: -33
Reporter: Petrik Matanasi28 September, 2017dibaca normal 3:30 menit
- Supardjo pulang mendadak ke Jakarta dari tempat tugasnya dan terlibat G30S
- Dalam kejaran Aparat Supardjo menulis evaluasi soal gagalnya G30S
Soepardjo adalah satu-satunya jenderal Angkatan Darat yang aktif dalam
G30S.tirto.id - Tak banyak yang dikerjakan Brigadir Jenderal Mustafa Sjarif
Soepardjo di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia. Sebagai Panglima Komando
Tempur II dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga), ia tidak bisa banyak berbuat
karena memang belum ada pasukan untuk disusupkan ke Malaysia dalam kampanye
"Ganyang Malaysia" itu.
Sebelum mengisi jabatan itu, Soepardjo pernah belajar setahun di Sekolah Staf
Tentara Pakistan di Quetta. Menurut Victor M. Fic dalam Kudeta 1 Oktober 1965:
Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005), ia adalah “mantan Komandan Resimen
Divisi Siliwangi, yang ditempatkan di Jawa Barat […] Pada awal 1965 Soepardjo
telah digeser dari pos ini karena aktivitasnya dianggap memberontak dan pro
komunis.”
Hari itu, Soepardjo begitu ngebet ingin kembali ke Jakarta. Menurut catatan
John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2008), Soepardjo pulang mendadak
setelah mendapat pesan radiogram dari istrinya bahwa anak bungsunya sakit keras
dan kritis.
Baca juga: Persinggungan Soeharto dengan Para Pahlawan Revolusi
Menurut catatan Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI (1997), di bandar udara
Pontianak, bertemulah Soepardjo dengan Chalimi Imam Santoso, komandan Batalyon
I Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang juga akan ke Jakarta.
Santoso bertanya: “Loh, katanya Pak Pardjo akan kembali ke Bengkayang, mengapa
malah di sini?”
Soepardjo hanya menjawab ada panggilan mendadak di Jakarta. Setiba di Jakarta,
Soepardjo ikut serta kendaraan yang juga menjemput Mayor CI Santoso. Saat itu
sudah memasuki akhir September, tepatnya 28 September 1965.
Setelah di Jakarta, Soepardjo melaporkan diri kepada atasannya di Kolaga,
Marsekal Omar Dhani. Menurut John Roosa, Soepardjo melapor bahwa dia akan
kembali ke Kalimantan sebelum 1 Oktober 1965. Namun, Omar Dhani minta Soepardjo
bertahan di Jakarta hingga 3 Oktober 1965. Selain bertemu Omar Dani, Soepardjo
langsung menuju rumah Sjam Kamaruzaman hanya beberapa jam setelah mendarat.
Sjam dianggap sebagai orang PKI dan intel tentara.
Soepardjo pun jadi satu-satunya jenderal dari Angkatan Darat yang duduk dalam
pimpinan Gerakan 30 September 1965 (G30S) itu. Walau jenderal, bukan dia yang
menjadi pemimpin G30S, melainkan seorang Letnan Kolonel yang hanya dipandang
sebagai jago tempur tapi secara ilmu kemiliteran di bawah Soepardjo. Letnan
Kolonel Untung, si penerima Bintang Sakti atas aksinya di Irian Barat, yang
menjadi pemimpin gerakan itu. Begitu pun dalam Dewan Revolusi yang diumumkan
pada 1 Oktober 1965, Untung menjadi Ketua Dewan, sementara Soepardjo hanya jadi
Wakil Ketua Dewan.
Baca Juga: Di mana Mereka Di Malam Jahanam Itu
Di dalam gerakan itu, Soepardjo menjadi perwira yang banyak mengamati bagaimana
pergerakan pasukan penculik. Karena itulah Soepardjo dapat melihat sejumlah
kekurangan dalam gerakan itu. Mulai dari terlihat lelahnya tokoh-tokoh penting
gerakan seperti Untung.
“Kawan Untung tiga hari berturut-turut mengikuti rapat-rapat Bung Karno di
Senayan dalam tugas pengamanan,” tulis Soepardjo dalam dokumen yang dijuduli
Beberapa Pendapat Jang Mempengaruhi Gagalnya G30S Dipandang Dari Sudut
Militernya (1966).
Baca juga: Bintang Sakti untuk Letkol Untung
Selain itu, beberapa pasukan mengaku siap bergerak tapi nyatanya tidak. Terkait
Hari-H pelaksanaan aksi, Soepardjo menemukan masalah yang tidak diatasi oleh
pemimpin gerakan dan jajarannya. Efeknya sangat fatal berupa kemacetan dalam
gerakan.
“Semua kemacetan gerakan pasukan disebabkan di antaranya tidak makan. Mereka
tidak makan semenjak pagi, siang dan malam,” tulis Soepardjo. Sudah pasti hal
itu disebabkan, menurut Soepardjo, “tiada pembagian kerja.”
Baca juga: Mayjen Magenda dan Penculik Para Jenderal
Soepardjo dikenal sebagai ahli teori militer. Dia bahkan punya firasat G30S
bakal gagal, tetapi dia tetap ikut serta dengan segala risikonya. Laki-laki
kelahiran Gombong, 23 Maret 1923 ini, menurut catatan Julius Pour dalam
Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul (2011), termasuk calon bintara
Angkatan Laut Jepang (Kaigun) dalam sekolah pelayaran di Cilacap bersama
Pahlawan Nasional Slamet Rijadi dan Menteri Orde Baru Sudomo.
Setelah Indonesia merdeka, Soepardjo ikut Republik dengan jadi tentara yang
ikut melawan tentara Belanda. “Ia mencegat kereta api, diam-diam menaikkan tiga
ratus prajurit ke gerbong-gerbongnya, dan selanjutnya mengejutkan pasukan
Belanda yang jauh lebih besar ketika kereta api itu lewat dekat kubu pertahanan
mereka,” tulis John Roosa.
Setelah tentara Belanda angkat kaki, dia terus berkarier di militer. “Sebagai
komandan distrik militer di Jawa Barat pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, ia
memainkan peranan sangat penting dalam perang pengikisan,” tulis John Roosa.
Disimpulkan sebagai serdadu yang doyan teori, Soepardjo adalah perwira militer
berpengalaman. Dan G30S pun jadi pengalaman militer terburuk dalam hidupnya.
Gagalnya G30S membuatnya jadi incaran Operasi Kalong.
Baca juga: Genjer-Genjer yang Terus Ditakuti
share infografik
Meski dalam kejaran aparat, dia masih sempat menulis sebab-sebab kegagalan
G30S. Menurut John Roosa, “Dokumen itu dimaksudkan untuk dibaca orang-orang
yang mempunyai hubungan dengan G30S agar mereka dapat belajar dari kesalahan
yang mereka lakukan.”
Harapan itu mustahil terealisasi. Pertama, karena Letnan Kolonel Untung sudah
keburu dieksekusi. Kedua, tokoh-tokoh gerakan lain banyak yang sudah ditahan di
tempat berbeda-beda.
Baca juga: Tentang Pasokan Ribuan Senjata dari Cina pada Tragedi 1965
Soepardjo baru ditangkap pada 12 Januari 1967 dalam Operasi Kalong di sekitar
Jakarta Timur. Buku Soepardjo Direnggut Kalong (1967) yang disusun M. Nurdin
A.S. menyebut: "Brigadir Jenderal Soepardjo setelah 15 bulan jadi buronan,
akhirnya petualang itu ada awal dan akhirnya, yaitu dengan tertangkapnya dia
pada satu Hari Raya Idul Fitri 1386 Hijriah, hari kamis tanggal 12 Januari 1967
jam 05.03 pagi, dekat sumur maut Lubang Buaya."
Lebaran 1967 adalah lebaran terakhir Soepardjo. Dari sisi waktu, penangkapan
Soepardjo mirip dengan penangkapan Pangeran Diponegoro: di hari lebaran.
Baca Juga: Lebaran Terakhir Diponegoro di Tanah Jawa
Anggota TNI dengan NRP 11867 ini diadili dua bulan setelah ditangkap. Vonis
untuknya adalah: mati. Akhir hidup Soepardjo terekam dalam Memoar Oei Tjoe Tat:
Pembantu Presiden Soekarno (1995).
Beberapa orang mengenangnya dengan baik. Oei, misalnya, mengenang Soepardjo
sebagai sosok yang ”sangat mengesankan, jantan, benar-benar bermutu jenderal,
namun tetap sopan, ramah kepada siapa pun”.
Soepardjo tak mau diperlakukan berbeda dengan tahanan lain meski dia jenderal.
Selain itu, Soepardjo suka berbagi makanan dengan tahanan lain. Kenang-kenangan
kepada keluarganya hanyalah sepasang sepatu. Begitupun makanan terakhirnya.
Dalam acara makan malam bersama, dia berkata: ”Kalau saya malam nanti menemui
ajal saya, ajal Saudara-Saudara tak diketahui kapan. Itu perbedaan saya dengan
kalian.”
Tak lupa dia menyanyikan 'Indonesia raya', seperti halnya Amir Sjarifuddin
menjelang dieksekusi pada 1948. Bedanya dengan Amir: beberapa jam menjelang
eksekusi mati, dari dalam selnya, Soepardjo sempat mengumandangkan azan.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik
Matanasi
(tirto.id - pet/zen)