Kok Habib Riziek, Imam Besar FPI lupa disebut...

2017-10-05 15:42 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
> https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/pak-haji-
> dulu-vs-pak-haji-sekarang.htm#.WdYxZTBx12E
> Bedanya Pak Haji Dulu dengan Haji Sekarang
>
> zahid – Selasa, 6 Muharram 1439 H / 26 September 2017 21:00 WIB
>
> Eramuslim – Sejak berabad-abad lampau, Kota Makkah memainkan posisi
> strategis sebagai mercusuar aktifitas intelektual Muslim. Di musim haji,
> kota ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi pikiran para ulama yang
> datang dari berbagai belahan dunia. Hijaz, Kufah, Bashrah, Yaman,
> Samarqand, Khurasan, Mesir, India, serta negeri-negeri lainnya.
>
> Tak heran jika kemudian banyak jamaah haji yang memanfaatkan momentum
> tersebut sebagai kesempatan untuk belajar di tanah suci. Talaqi kepada para
> ulama di sana. Dari tradisi intelektual inilah, khususnya di era kolonial,
> ide-ide pembaruan Islam di kalangan para penuntut ilmu Melayu Nusantara
> mulai tumbuh, bersemi dan disebarluaskan.
>
> Tercatat sejak abad ke 18, gerakan pembaruan Islam mulai digelorakan oleh
> orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali selepas berhaji dan menuntut
> ilmu di Makkah. Tak semuanya kembali ke Nusantara. Sebagian dari mereka
> memilih menetap dan mengajar di tanah suci, menjadi oase ilmu di tengah
> umat. Sebut saja; Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi
> Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, dan Syekh Junaid Al-Batawi.
>
> Di masa kini peran tersebut diteruskan oleh syekh Yasin Al-Fadani, Syekh
> Anis Thahir Al-Indunisi, serta Syekh Amir Bahjat (cicit dari Syekh Ahmad
> Khatib Al-Minangkabawi) yang masih memiliki garis keturunan Indonesia.
>
>
> 
>

Kirim email ke