https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/pak-haji-dulu-vs-pak-haji-sekarang.htm#.WdYxZTBx12E
Bedanya Pak Haji Dulu dengan Haji Sekarang

zahid – Selasa, 6 Muharram 1439 H / 26 September 2017 21:00 WIB

Eramuslim – Sejak berabad-abad lampau, Kota Makkah memainkan posisi
strategis sebagai mercusuar aktifitas intelektual Muslim. Di musim haji,
kota ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi pikiran para ulama yang
datang dari berbagai belahan dunia. Hijaz, Kufah, Bashrah, Yaman,
Samarqand, Khurasan, Mesir, India, serta negeri-negeri lainnya.

Tak heran jika kemudian banyak jamaah haji yang memanfaatkan momentum
tersebut sebagai kesempatan untuk belajar di tanah suci. Talaqi kepada para
ulama di sana. Dari tradisi intelektual inilah, khususnya di era kolonial,
ide-ide pembaruan Islam di kalangan para penuntut ilmu Melayu Nusantara
mulai tumbuh, bersemi dan disebarluaskan.

Tercatat sejak abad ke 18, gerakan pembaruan Islam mulai digelorakan oleh
orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali selepas berhaji dan menuntut
ilmu di Makkah. Tak semuanya kembali ke Nusantara. Sebagian dari mereka
memilih menetap dan mengajar di tanah suci, menjadi oase ilmu di tengah
umat. Sebut saja; Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi
Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, dan Syekh Junaid Al-Batawi.

Di masa kini peran tersebut diteruskan oleh syekh Yasin Al-Fadani, Syekh
Anis Thahir Al-Indunisi, serta Syekh Amir Bahjat (cicit dari Syekh Ahmad
Khatib Al-Minangkabawi) yang masih memiliki garis keturunan Indonesia.

Kirim email ke