http://aceh.tribunnews.com/2017/09/05/aplikasi-ayopoligami-untuk-yang-mau-beristri-lagi



Aplikasi "AyoPoligami" untuk Yang Mau Beristri lagi?

Selasa, 5 September 2017 15:11


*SERAMBINEWS.COM <http://SERAMBINEWS.COM>, JAKARTA* - Poligami
<http://aceh.tribunnews.com/tag/poligami> selalu menjadi isu kontroversial.
Tema ini ramai dibicarakan dari berbagai perspektif, dari landasan agama
hingga gosip cekcok rumah tangga artis akibat poligami.

Belakangan, topik ini kembali `panas' dengan munculnya aplikasi
AyoPoligami. Dari yang melihat sisi positif, hingga mengecam dan
menyayangkan adanya aplikasi ini.

Menurut otak di balik aplikasi AyoPoligami, Lindu Cipta Pranayama,
perangkat lunak ini dibuat sebagai solusi bagi mereka yang ingin mencari
tambahan istri tanpa harus berbohong, seperti di aplikasi jodoh pada
umumnya.

"Saya melihat ada sesuatu yang kurang dari puluhan situs jodoh yang ada di
Indonesia, tidak ada pilihan membolehkan unsur poligami. Tidak ada platform
bagi suami yang sudah beristri untuk menikah lagi," terangnya.

Saat tulisan ini dibuat, AyoPoligami sudah diunduh sekitar 10.000 orang di
Google Play, 7.800 di antaranya masih menyimpan aplikasi ini di ponsel
pintarnya. Angka ini terbilang banyak untuk perangkat yang baru diluncurkan
April lalu, tanpa melakukan promosi komersial.

Meski begitu, bagi pembuatnya, kesuksesan tak sekadar diukur dari jumlah
pengguna, melainkan dari jumlah pasangan yang berhasil dipertemukan atau
dinikahkan.

Lindu sendiri, mengaku masih jomblo. Namun dalam waktu dekat, setelah 34
tahun melajang ia akan menjadi salah satu `success story' aplikasi
AyoPoligami dengan menikahi salah satu wanita yang mendaftar di aplikasi
bikinannya itu.

Aplikasi AyoPoligami jelas berbeda dengan aplikasi jodoh lainnya yang
memberikan pilihan `perempuan' atau `laki-laki' saja. Pada AyoPoligami,
pengguna bisa memilih dari `pria beristri (memiliki izin menikah lagi)',
`pria beristri (belum memiliki izin menikah lagi)', `duda', `perjaka',
`gadis', atau `janda'.

Pengguna juga diminta mencantumkan informasi mengenai pekerjaan, gaji
bulanan, dan kesanggupan mahar.

Semua itu, kata Lindu, untuk menghalau pengguna tidak serius dan memastikan
mereka bisa adil menjalankan rumah tangga dengan lebih dari satu istri.

Keadilan memang menjadi salah satu syarat yang paling dasar bagi mereka
yang ingin berpoligami. Pakar hukum syariah terkemuka di Indonesia,
Huzaemah Tahido Yanggo, mengatakan ada pedoman poligami dalam Al-Quran.
"Tapi dengan syarat, mereka [lelaki] harus bisa adil terhadap
istri-istrinya dan bisa membiayai mereka," katanya.

Huzaemah mendukung penerapan poligami sesuai syariat Islam, namun dia
menepis alasan-alasan yang dianggapnya kurang masuk akal tapi sering
digunakan untuk pembenaran niat poligami. Seperti ketimpangan jumlah
laki-laki dan perempuan di Indonesia.

Berdasarkan survei BPS tahun 2010, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak
daripada perempuan, yaitu 50,17 persen laki-laki dan 49.83 persen
perempuan. Begitu pula populasi manusia di dunia, terdapat 50,4 persen
laki-laki dan 49,6 persen perempuan.



Huzaemah juga menganjurkan kalau mau berpoligami sebaiknya dengan perempuan
yang menjanda, bukan dengan mereka yang belum menikah, seperti dicontohkan
Nabi Muhammad.

Trauma anak korban poligami

Semisal laku adil sudah diterapkan pada istri kedua, ketiga dan keempat,
tetap saja keadilan sulit diterapkan pada anak-anak keluarga
<http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga> poligami.

Psikolog Asep Haerul Gani memiliki pengalaman langsung sebagai anak dalam
keluarga <http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga> poligami. Dari
pengalaman serta penelitiannya, dia menyimpulkan peran ayah sangat krusial
dalam menciptakan kondisi ideal itu.

"Namun sangat sulit bagi ayah untuk mampu memenuhi kebutuhan fisik, materi,
ekonomi, sosial dan psikologis bagi ibu, ibu tiri, dan para anak. Sering
kali itu yang susah dikelola oleh mereka yang berpoligami, sehingga
berpotensi meninggalkan dampak pada anak," jelas Kang Asep.

"Dampak itu bermacam-macam, bisa jadi trauma dan kebencian akibat sang ayah
hanya fokus pada keluarga <http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga>
tertentu dan lupa mengurus atau bertanggung jawab untuk keluarga
<http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga> lainnya."

Predikat `korban' sering disematkan bagi anak-anak keluarga
<http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga> poligami, khususnya bagi mereka
yang menderita luka batin mendalam karena pengalaman panjangnya.

Kang Asep mengatakan, keluarga <http://aceh.tribunnews.com/tag/keluarga>
yang berpoligami mungkin saja hidup rukun dan bahagia, namun pelaku perlu
membuat rencana rinci pengelolaan kebutuhan fisik dan emosi semua pihak
yang terlibat. "Dan itu sulit sekali," katanya.

Terlepas pro-kontranya, topik poligami tidak akan sepenuhnya hilang dari
pembicaraan publik. Topik ini selalu menarik karena mencakup agama,
sejarah, urusan kamar tidur, dan juga elemen `harem fantasy', seperti
diurai dalam buku Rethinking Orientalism: Women, Travel and the Ottoman
Harem yang ditulis Reina Lewis.

Bukan hanya di Indonesia saja, poligami juga menjadi debat panas di AS
karena praktik itu dianut jemaat Kristen Mormon yang berbasis di negara
bagian Utah. *(http://aa.com.tr <http://aa.com.tr>)*

Kirim email ke