https://ekbis.sindonews.com/read/1221394/33/gawat-kemiskinan-di-indonesia-makin-parah-1500285300



Gawat! Kemiskinan di Indonesia Makin Parah

Lily Rusna Fajriah
<https://index.sindonews.com/blog/2209/lily-rusna-fajriah>

Senin, 17 Juli 2017 - 17:17 WIB [image: Gawat! Kemiskinan di Indonesia
Makin Parah] BPS menyatakan, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks
keparahan kemiskinan Indonesia periode September 2016 hingag Maret 2017
mengalami kenaikan. Grafis/Istimewa

A+ A-

*JAKARTA* - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, indeks kedalaman
kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan Indonesia pada periode September
2016 hingag Maret 2017 mengalami kenaikan. Hal tersebut menandakan, usaha
pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan akan semakin sulit.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, indeks kedalaman kemiskinan pada
September 2016 adalah 1,74 dan pada Maret 2017 mengalami kenaikan menjadi
1,83. Demikian juga indeks keparahan kemiskinan yang mengalami kenaikan
dari 0,44 menjadi 0,48 pada periode sama.

Menurutnya, persoalan kemiskinan bukan hanya dilihat dari jumlah dan
persentase penduduk miskin semata, melainkan juga tingkat kedalaman dan
keparahan kemiskinan. Sebab, semakin parah tingkat kemiskinan di sebuah
negara maka semakin sulit mengentaskan kemiskinan tersebut.

"Kalau indeks kedalaman naik, maka tingkat kemiskinan semakin dalam, jarak
antara pengeluaran penduduk miskin dan garis kemiskinan akan semakin jauh
dan semakin sulit entaskan kemiskinan," terang dia di Gedung BPS, Jakarta,
Senin (17/7/2017).

Jika dilihat antara daerah perkotaan dan pedesaan, nilai indeks kedalaman
kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan di daerah pedesaan lebih tinggi
dari perkotaan. Pada Maret 2017, nilai indeks kedalaman kemiskinan untuk
daerah perkotaan sebesar 1,24 dan di pedesaan jauh lebih tinggi mencapai
2,49.

"Sementara nilai indeks keparahan kemiskinan untuk perkotaan adalah 0,31,
sedangkan di pedesaan mencapai 0,67," tutur dia.

(*Baca: Enam Bulan, Jumlah Orang Miskin di Indonesia Naik Jadi 27,77 Juta
<https://ekbis.sindonews.com/read/1221328/33/enam-bulan-jumlah-orang-miskin-di-indonesia-naik-jadi-2777-juta-1500275326>*
)

Sebelumnya, BPS merilis jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai
27,77 juta orang pada Maret 2017. Jumlah tersebut bertambah sekitar 10.000
orang dibanding kondisi September 2016 yang mencapai 27,76 juta orang.

27,77 juta orang tersebut merupakan penduduk dengan pengeluaran per kapita
per bulan di bawah garis kemiskinan. Salah satu yang menyebabkan
bertambahnya jumlah masyarakat miskin di Indonesia adalah terlambatnya
penyaluran beras sejahtera (ranstra).


'xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


https://ekbis.sindonews.com/read/1244959/34/ri-masuk-tiga-besar-negara-berpenduduk-miskin-di-kota-1507009819
RI Masuk Tiga Besar Negara Berpenduduk Miskin di Kota

Yanuar Riezqi Yovanda
<https://index.sindonews.com/blog/2316/yanuar-riezqi-yovanda>

Selasa, 3 Oktober 2017 - 12:46 WIB

Tiga negara menjadi penyumbang sebagian besar penduduk miskin kota yakni
China, Indonesia, dan Filipina. Foto/Ilustrasi/Istimewa

A+ A-

*JAKARTA* - Saat ini sebanyak 75 juta orang di kawasan Asia Timur dan
Pasifik hidup di bawah USD3,10 per hari. Tiga negara menjadi penyumbang
sebagian besar penduduk miskin kota yakni China, Indonesia, dan Filipina.

Pada 2018, separuh dari populasi kawasan Asia Timur akan menjadi perkotaan.
Sejumlah lebih dari 1,2 miliar orang atau sepertiga dari populasi perkotaan
di dunia akan menjadi bagian dari hal tersebut.

(*Baca: Mencari Jalan Keluar dari Kemiskinan Lewat Urbanisasi
<https://ekbis.sindonews.com/read/1244950/34/mencari-jalan-keluar-dari-kemiskinan-lewat-urbanisasi-1507007569>*
)

Beberapa tantangan yang dihadapi kaum miskin kota adalah kurangnya akses
terhadap pekerjaan, transportasi umum dan infrastruktur lainnya, serta
perumahan yang terjangkau. Di Ulan Bator, Mongolia, komuter dengan
penghasilan rendah bisa menghabiskan 36% dari pengeluaran bulanan mereka
untuk ongkos bus akibat rute yang tidak efisien.

"Sebanyak 27% penduduk perkotaan di Indonesia den 21% di Filipina tidak
memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang baik. Penduduk di area
kumuh juga lebih berisiko terhadap bencana, karena kebanyakan dari mereka
tinggal di daerah rawan banjir," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia
Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa di Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Laporan ini mendorong pemerintah kota untuk melakukan pendekatan multi
dimensi terhadap perencanaan, menggabungkan aspek inklusi ekonomi, spasial,
dan sosial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.

Sementara, Lead Urban Specialist Bank Dunia Judy Baker menyampaikan,
urbanisasi yang pesat merupakan tantangan dan peluang. Dengan menyediakan
layanan transportasi atau perumahan yang terjangkau, masyarakat
berpenghasilan rendah dapat menabung untuk pendidikan anak-anak mereka.

"Program perlindungan sosial harus dipastikan tersedia untuk membantu
keluarga mengatasi masa-masa sulit seperti paska bencana alam," imbuh dia.

Kirim email ke