Dari milis lain :
Saudi memang menghadapi kesulitan yang terkait dengan harga minyak yang
anjlok sehingga dana untuk pembiayaan kesejahteraan sosial rakyatnya
terancam defisit. Karenanya Saudi perlu mencari sumber pemasukan baru
melalui investasi. Di Indonesia mereka menanam modal USD 6 milyard dan di
RRT USD 65 milyard.
AS dibawah Trump memang mengendorkan cekalannya terhadap Saudi karena
prioritasnya kini dialihkan kepada peningkatan kegiatan ekonomi domestik.
Buat Saudi untuk menaikkan harga minyaknya mereka harus menurunkan jumlah
produksinya dulu dan ini akan menimbulkan dampak berantai secara global
yang konsekwensinya terlalu besar.
Saudi kini merasa menjadi korbannya politik AS sehingga mereka perlu
menciptakan keseimbangan baru melalui peningkatan hubungan dengan RRT dan
Rusia tanpa menyinggung AS. Apalagi suatu saat persediaan minyaknya juga
akan habis seperti yang dialami oleh RI.
Sebetulnya, dengan Saudi berinvestasi di RI, kaum Wahabi akan mendapatkan
angin dan ini menjadi alasan untuk kecemasan. Beberapa tahun lalu di
pameran buku di Jakarta, Saudi membuka stand yang amat besar dengan jumlah
personil asingnya  banyak sekali. Jumlah pengunjungnya yang khusus datang
ke stand itu juga sangat banyak. Apa investasi Saudi akan dikaitkan dengan
penyebaran faham yang tidak kompatibel dengan Pancasila. Dulu, kolonialisme
Barat tujuannya mendapatkan rempah2 tetapi kegiatan itu dibarengi dengan
proliferasi agama. Sekarang juga bisa terjadi keadaan seperti itu.
Bahkan juga di RRT bila investasi Saudi dibiarkan masuk ke Xinjiang.

Kirim email ke