http://bisnis.liputan6.com/read/3025513/bps-tingkat-kemiskinan-di-ri-makin-parah-selama-6-bulan


BPS: Tingkat Kemiskinan di RI Makin Parah Selama 6 Bulan

[image: Fiki Ariyanti] <http://www.liputan6.com/me/fiki.ariyanti>

Fiki Ariyanti <http://www.liputan6.com/me/fiki.ariyanti>

17 Jul 2017, 15:50 WIB

   -

[image: 20161031-Penduduk-Indonesia-Jakarta-IA]
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025513/bps-tingkat-kemiskinan-di-ri-makin-parah-selama-6-bulan#>Deretan
rumah semi permanen di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta
(31/10). Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini terdapat
13,5 juta penduduk Indonesia yang hidup miskin di lingkungan kumuh.
(Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan Indeks Kedalaman Kemiskinan dan
Indeks Keparahan Kemiskinan
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025479/orang-miskin-ri-banyak-habiskan-uang-untuk-beli-beras-dan-rokok>
di Indonesia meningkat masing-masing 1,83 dan 0,48 di Maret 2017 dibanding
realisasi September 2016 yang sebesar 1,74 dan 0,44. Jumlah penduduk miskin
di bulan ketiga ini sebanyak 27,77 juta orang dengan persentase 10,64
persen.



Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk
miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan
mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.



Kepala BPS, Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk mengungkapkan, Indeks
Kedalaman Kemiskinan naik dari 1,74 pada September 2016 menjadi 1,83 pada
Maret 2017.



*Liputan6.com, Jakarta* Baca Juga

   -

   Orang Miskin RI Banyak Habiskan Uang untuk Beli Beras dan Rokok
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025479/orang-miskin-ri-banyak-habiskan-uang-untuk-beli-beras-dan-rokok>
   -

   Orang Miskin Paling Banyak Tinggal di Provinsi Ini
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025410/orang-miskin-paling-banyak-tinggal-di-provinsi-ini>
   -

   Naik 6.900 Orang, Jumlah Orang Miskin di RI Capai 27,77 Juta
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025205/naik-6900-orang-jumlah-orang-miskin-di-ri-capai-2777-juta>



"Kalau indeks kedalaman meningkat, berarti tingkat kedalaman kemiskinan
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025410/orang-miskin-paling-banyak-tinggal-di-provinsi-ini>semakin
dalam. Jarak antara rata-rata pengeluaran orang miskin dengan garis
kemiskinan semakin jauh, sehingga upaya mengentaskan penduduk miskin
menjadi lebih sulit lagi," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin
(17/7/2017).



Indeks Kedalaman Kemiskinan di wilayah perkotaan pada Maret 2017 sebesar
1,24, sedangkan di wilayah perdesaan mencapai 2,49. Masing-masing meningkat
dibanding September tahun lalu yang sebesar 1,21 dan 2,32.



"Ini menunjukkan persoalan kemiskinan di desa lebih bermasalah dibanding
perkotaan," tegasnya.



Sementara untuk Indeks Keparahan Kemiskinan, tutur Kecuk, trennya hampir
sama dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan, yakni naik dari 0,44 di September
2016 menjadi 0,48 di Maret 2017. Indeks keparahan kemiskinan ini
menunjukkan bahwa variasi pengeluaran penduduk miskin menjadi semakin
lebar.



"Paling curam peningkatan indeks keparahan kemiskinan di desa dari 0,59
menjadi 0,67. Sedangkan di kota dari 0,29 menjadi 0,31," ia menjelaskan.



xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


http://bisnis.liputan6.com/read/3027887/20-juta-rumah-tangga-ri-tak-punya-wc


20 Juta Rumah Tangga RI Tak Punya WC

[image: Septian Deny] <http://www.liputan6.com/me/septian.deny>

Septian Deny <http://www.liputan6.com/me/septian.deny>

19 Jul 2017, 12:45 WIB

   -

   0
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3027887/20-juta-rumah-tangga-ri-tak-punya-wc#>

352

[image: 20151224-Puncak macet]
<http://bisnis.liputan6.com/read/3027887/20-juta-rumah-tangga-ri-tak-punya-wc#>Jalur
puncak macet membuat sejumlah pengendara memanfaatkan WC umum untuk
membuang hajat mereka. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)


*Liputan6.com, Jakarta -* Tingkat kesenjangan sosial antara perkotaan dan
pedesaan masih cukup tinggi. Salah satu faktanya yaitu soal ketersediaan
fasilitas sanitasi di desa yang masih rendah.

Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Pedesaan Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Ahmad Erani Yustika
mengatakan, hingga saat ini, masih ada sekitar 20 juta rumah tangga di desa
yang belum memiliki WC.

"Saat ini ada 20 juta rumah tangga di desa tidak punya WC. Ini kalau
dikalikan 4 (anggota keluarga) ada 80 juta orang tidak mendapatkan ini
(fasilitas sanitasi yang baik)," ujar dia di kawasan Kalibata, Jakarta,
Rabu (19/7/2017).

Menurut Erani, contoh kasus ini tidak hanya terjadi di desa-desa yang
berlokasi di daerah pedalaman. Akan tetapi, kasus ini juga bisa ditemui di
wilayah pinggiran ibu kota.

Baca Juga

   -

   Ketimpangan Orang Miskin dan Kaya Stagnan, Ini Daerah Tertinggi
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025688/ketimpangan-orang-miskin-dan-kaya-stagnan-ini-daerah-tertinggi>
   -

   Buat Danai Infrastruktur, Utang RI Belum Bisa Kurangi Kemiskinan
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025846/buat-danai-infrastruktur-utang-ri-belum-bisa-kurangi-kemiskinan>
   -

   Jumlah Orang Miskin RI Bertambah, Ini Penyebabnya
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/3025733/jumlah-orang-miskin-ri-bertambah-ini-penyebabnya>

"Itu bukan isu di Papua NTT, Maluku, NTB, tapi di belakang (Bandara)
Soekarno-Hatta kenyataan itu bisa kita temui," kata dia.

Erani menyatakan, salah satu penyebab kurangnya fasilitas sanitasi di desa
lantaran tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Hal ini lantaran masyarakat
desa tidak memiliki kewenangan dan akses untuk mengelola sumber daya alam
(SDA) yang ada di desanya.

"Memang di desa surplus SDA tapi defisit penguasaan. Jadi desa itu
Lumbung SDA tapi warga desa tidak memegang itu. Dorongan agar pembatasan
lahan untuk korporasi harus diteruskan, tapi di DPR selalu mental," tandas
dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rasio gini atau
ketimpangan pengeluaran penduduk turun tipis menjadi 0,393 di Maret 2017.
Ketimpangan paling tinggi terjadi di Yogyakarta, sedangkan yang terendah di
Bangka Belitung.

Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk mengungkapkan, rasio
gini di Maret 2017 sebesar 0,393 menurun 0,001 poin dibanding realisasi
0,394 di September 2016. Sedangkan dibanding rasio gini Maret 2016 yang
sebesar 0,397, capaian di Maret 2017 merosot 0,004 poin.

"Rasio gini stagnan, hampir nyaris sama atau tidak mengalami perubahan.
Karena menurunkan ketimpangan bukan upaya yang mudah, perlu roadmap jangka
panjang, idealnya pergerakan tiga tahun sekali," jelas Kecuk.

Lebih jauh Kecuk menambahkan, dari realisasi rasio gini 0,393, paling
tinggi di wilayah perkotaan dengan rasio 0,407 dan perdesaan 0,320 di Maret
ini. "Ketimpangan pengeluaran di kota jauh lebih buruk dibanding di desa.
Persoalannya gap masyarakat bawah dan kalangan atas di kota lebar sekali,"
dia menjelaskan.

Kirim email ke