Kalau Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang "menghukum dan menyiksa
tak berkesudahan" terhadap umat yang berdosa didalam kubur, masihkah
beliau akan disebut Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang?
------ Original Message ------
From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>
To:
Sent: Saturday, 7 Oct, 2017 At 8:28 PM
Subject: [GELORA45] Kematian Bukanlah Peristirahatan Terakhir
Oleh sebab itu ada hadiahnya di hari kemudian, misalnya disediakan 72
bidadari cantik lagi sangat sexy.
http://www.suara-islam.com/read/al-islam/akidah/23797/Kematian-Bukanlah-Peristirahatan-Terakhir
<http://www.suara-islam.com/read/al-islam/akidah/23797/Kematian-Bukanlah-Peristirahatan-Terakhir>
Kematian Bukanlah Peristirahatan Terakhir
07 Oktober 12:11 | Dilihat : 96
Kematian Bukanlah Peristirahatan Terakhir Ilustrasi mengantar jenazah
Kematian bukanlah tempat peristirahatan yang terakhir sebagaimana yang
dikatakan oleh sebagian orang, namun ia adalah awal pertanggung jawaban.
“Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis
sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau mengingat
surga dan neraka tidak menangis, namun untuk ini anda menangis?’ Ia
menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا
بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ
أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ
مِنْهُ.
‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat
darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya, dan jika tidak
selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat
pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan
darinya.’ (HR Ibnu Majah, no 4267)
Maka tanyakanlah pada dirimu, apa persiapanmu menuju hari itu ?
Perbekalan apa yang telah dipersiapkan??? Ataukah dirimu masih
dilalaikan dengan mengejar dunia dan perhiasannya? Padahal harta dunia
tidak akan kita bawa ke kuburan... yang kita bawa adalah amal shalih dan
ilmu yang bermanfaat.
Allah Ta'ala berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِلَعَلِّي
أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya
Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada
Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [al-Mukminun/23:100]
Bayangkan ketika engkau berada di hari, tatkala tak ada lagi ruang
kecuali liang lahat yang luasnya dua hasta sedang kan panjangnya empat
hasta. Keluarga yang konon tak bisa berpisah dengan mu hari itu
meninggalkanmu sendiri, kolegamu yang dulu membuat megah rumahmu kelak
akan menimbunmu dengan tanah lantas beranjak pergi darimu.
Saking mengerikannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan
mengajarkan umatnya untuk berlindung dari azab kubur dalam do’a setelah
tasyahud akhir sebelum salam. Do’a itu senantiasa Rasulullah ajarkan
kepada umatnya agar senantiasa dibaca setiap sebelum salam. Begitu
pentingnya hal ini sehingga disunnahkan setiap kali shalat untuk berdo’a
memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu :
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ
عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ
شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur,
siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari
kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari-Muslim)