*Tentu sekali ”kebijakan pemerintah” dimengerti oleh wakil ketua DPR,karena
beliau termasuk lapisan masyarakat atas dan mempunyai hubungan erat dengan
pemerintah dan oleh sebab itu bisa terus terang mempersalahkan kebijakan
mereka. Semoga pernyataan beliau bukan untuk kampanye Pemilu yang akan
datang. *


https://www.eramuslim.com/berita/nasional/wakil-ketua-dpr-rakyat-susah-karena-kebijakan-pemerintah-sendiri.htm



Home <https://www.eramuslim.com/> » Berita
<https://www.eramuslim.com/berita> » Berita Nasional
<https://www.eramuslim.com/berita/nasional>
Wakil Ketua DPR: Rakyat Susah Karena Kebijakan Pemerintah

zahid – Minggu, 8 Oktober 2017 16:00 WIB


Eramuslim – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyayangkan pernyataan Presiden
Joko Widodo menanggapi isu penurunan daya beli masyarakat yang disebutnya
sengaja dipolitisasi oleh lawan-lawan politik untuk kepentingan 2019.

Menurutnya, penurunan daya beli adalah isu ekonomi yang telah lama
digaungkan, baik oleh kalangan pengusaha maupun para ekonom. Bahkan terjadi
sejak akhir 2014, saat pemerintahan Jokowi mulai mencabuti subsidi BBM dan
berbagai subsidi untuk rakyat lainnya.

“Isu tersebut makin mengemuka sesudah pemerintah mencabut juga subsidi
listrik untuk 23 juta pelanggan rumah tangga golongan 450 volt ampere dan
900 VA pada Januari 2017 lalu. Jadi itu sebenarnya adalah isu ekonomi
lama,” kata Fadli kepada wartawan, Minggu (8/10).



Dia menjelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi rumah
tangga kuartal II-2017 hanya tumbuh 4,95 persen, padahal pada periode yang
sama tahun lalu mencapai 5,07 persen. Indikator lainnya juga tidak bagus.
Pertumbuhan konsumsi listrik kita bahkan penurunnya lebih besar lagi.
Sepanjang 2017, konsumsi listrik di semua golongan hanya tumbuh 1,37
persen, padahal periode yang sama tahun lalu pertumbuhannya mencapai 7,8
persen.

“Sebelumnya tak ada yang pernah menjadikan persoalan ekonomi ini sebagai
persoalan politik. Justru pernyataan presiden kemarin lah yang telah
menjadikan isu ekonomi itu kemudian seolah menjadi isu politik,” kata Fadli.

Politisi Partai Gerindra itu melihat lucu dan memprihatinkan jika Jokowi
mengingkari penurunan daya beli masyarakat. Karena data penurunan daya beli
berasal dari BPS. Sejak Juli 2017, isu itu juga telah dibahas dan diakui
sejumlah menteri, termasuk gubernur Bank Indonesia. Bahkan, pada 4 Agustus
lalu, Jokowi sendiri mengumpulkan 18 menteri di istana untuk membahas cara
mengatasi persoalan tersebut.

“Lho kok sekarang tiba-tiba disangkal jika persoalan itu tidak pernah ada,
dan disebut hanyalah merupakan gorengannya lawan-lawan politiknya saja.
Bagi saya pernyataan itu luc

Kirim email ke