----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected]
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: @ <undefined>Terkirim:
Minggu, 8 Oktober 2017 18.46.09 GMT+2Judul: [nasional-list] Imam Besar
Istiqlal: Trinitas Tidak Berbenturan Dengan Ketuhanan Yang Maha Esa (!?)
Imam Besar Istiqlal: Trinitas Tidak BerbenturanDengan Ketuhanan Yang Maha Esa
(!?)
54
Redaksi – Minggu, 8 Oktober 2017 05:11 WIB
Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guruspiritual), bagaimana
saudara kita yang beragama Kristen mengakuberketuhanan YME tetapi memiliki
doktrin Trinitas, atau saudara kitayang beragama Hindu memiliki doktrin
Trimurti? Sang mursyid menjawab,di situlah kelirunya mereka karena membatasi
Tuhan hanya tiga,padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud)
selainDia.
Sang mursyid mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq waal-magrib fa ainama
tuwallu fa tsamma wajh Allah (Dan kepunyaanAllah-lah timur dan barat, maka
kemana pun kamu menghadap di situlahwajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya) lagi MahaMengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115).
Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulahmurid itu lega.
Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadikeliru karena hanya
membatasi Tuhan hanya tiga, bagaimana dengan sayayang hanya membatasi Tuhan
hanya satu.
Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah,termasuk anda,
karena yang banyak itu ialah yang satu itu dan yangsatu itulah yang memiliki
wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrahwa al-katysrah fi al-wahdah/the one
in te many and the many in theone).
Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggukonsep
kemahaesaan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luarKristen sering sulit
memahami Tuhan mempunyai anak, karena dalambenak masyarakat kata “Anak” masih
selalui dihubungkan dengananak biologis. Padahal dalam Bahasa Arab kata “Ibn”
atau “Son”dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak biologis.
Kata“anak” bisa berarti simbol kedekatan atau representatif, sepertikata
“anak-anak Indonesia di luar negeri” berarti anak-anak yangmenampilkan ciri
khas dan karakteristik bangsa Indonesia.
Seorang anak lebih mencirikan karakter bapaknya seringdiistilahkan “anak
bapaknya”. Begitu dekatnya hubungan danbanyaknya persamaan sifat dan karakter
seseorang dengan sesuatusering diistilahkan anak dari sesuatu itu. Persoalan
semantik seringkali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar,
bahkanmenjadi sumber konflik.
Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal
(dz/rmol/suaraislam)
Berarti semua agama benar menurut anda, pak Nasar !?