Eko Kuntadhi soal Ahok ‘Nyantri‘ di Mako Brimob dan Hampir Khatam Al Quran 
http://www.netralnews.com/news/megapolitan/read/110241/eko.kuntadhi.soal.ahok....nyantri....di.
 

 Kamis, 26 Oktober 2017 | 13:59 WIB

 

 

 Ahok saat di LP Cipinang (istimewa)

 

 JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa hari terakhir, nama mantan Gubernur DKI 
http://www.netralnews.com/news/tag/gubernur%20dki Jakarta Basuki Tjahaja 
Purnama atau Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok kembali menjadi 
perbincangan hangat lantaran mengaku hampir tamat membaca (khatam) kitab suci 
Al Quran http://www.netralnews.com/news/tag/al%20quran.
 “Di sini gua juga hampir khatam baca Al Quran 
http://www.netralnews.com/news/tag/al%20quran loh. Gua kan SD sama SMP di 
sekolah Islam, jadi gua inget-inget dikit lah," kata Ahok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok kepada 10 penulis yang mengunjunginya 
rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada Selasa (24/10/2017).
 Pertemuan antara Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok dengan para 
penulis itu telah diulas oleh Ignasius Haryanto di dalam sebuah tulisannya 
dengan judul “Sebuah Selasa Siang Bersama BTP”. Ignasius sendiri merupakan 
salah satu dari 10 penulis yang telah mengunjungi Ahok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok.
 Atas apa yang diungkapkan Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok, 
mengundang penggiat media sosialEko Kuntadhi 
http://www.netralnews.com/news/tag/eko%20kuntadhi memberikan pandangannya lewat 
sebuah tulisan pendek berjudul 'Ahok Membaca Al Quran 
http://www.netralnews.com/news/tag/al%20quran.' Dalam tulisannya itu ia 
menyebut, hanya orang-orang yang rendah hati, memiliki jiwa merekah, dan 
perasaan lapanglah, yang mau menjelajah hikmah dari kitab suci orang lain.
 "Saya membayangkan Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok membaca 
Alquran dengan pikiran yang terbuka. Dengan bathin yang siap menerima hujan 
hikmah. Perasaan yang sama dialami ketika dia membaca Alkitab. Dengan rasa 
hormat yang sama. Dengan ketakjuban yang sama," kata Eko.
 "Sebab bahasa-bahasa langit itu hanya bisa dinikmati oleh jiwa-jiwa yang 
merekah. Oleh hati yang jembar dan perasaan yang lapang. Pencapaian kebeningan 
hati memang harus dimulai dengan kerendahatian. Sebab, tidak mungkin orang yang 
sombong mau menjelajah hikmah dari kitab suci orang lain. Dia bisa menikmati 
keindahan firman Tuhan tanpa harus menukar keimanannya," tandasnya.
 Berikut tulisan lengkap Eko Kuntadhi 
http://www.netralnews.com/news/tag/eko%20kuntadhi di akun Facebooknya, dikutip 
Netralnews.com, Kamis (26/10/2017).
 AHOK MEMBACA ALQURAN
 “Di sini gua juga hampir khatam baca Al Quran 
http://www.netralnews.com/news/tag/al%20quran loh. Gua kan SD sama SMP di 
sekolah Islam, jadi gua inget-inget dikitlah,” kata Ahok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok, kepada Ignatius Haryanto, ketika 10 
orang penulis berkesempatan menjenguknya.
 Menurut Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok, dia mendapatkan Al Quran 
http://www.netralnews.com/news/tag/al%20quran dari seorang ibu. Sayang dia 
tidak menceritakan lebih detil ibu yang memberikannya kitab suci tersebut. “Nah 
gua baca juga tuh surat Al Maidah, bagus isinya,” kataAhok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok, meneruskan.
 Saat saya membaca kisah ini, saya teringat masjid KH Hasyim Asyari yang 
pembangunanya digagas Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok. Kebetulan 
saya pernah menikmati sejuknya masjid megah di Jakarta Barat tersebut. Saya 
juga teringat masjid di Balai Kota hasil peninggalan Ahok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok.
 Pikiran saya juga melayang kepada ratusan marbot masjid yang mendapat jatah 
umroh. Juga orang-orang yang setiap pagi memenuhi pelataran Balaikota untuk 
mengadukan masalahnya. Sebagian besar mereka adalah beragama Islam, mengadukan 
masalahnya kepada seorang Gubernurnya.
 Ahok, mantan Gubernur berdarah Tionghoa dan beragama Kristen itu mengisi waktu 
luangnya dengan mereguk keindahan asma Tuhan. Dia membaca Alquran, menikmati 
keindahan bahasa dan hikmah di dalamnya. Tanpa harus menukar keyakinannya.
 Sebab kitab-kitab suci itu sejatinya memang hadir untuk mereka yang berfikir. 
Manusia-manusia yang jiwanya terbuka untuk menerima kebaikan dan keindahan 
kalam Tuhan.
 Lelaki yang dipenjara karena dianggap terpeleset perkataannya tentang Alquran 
kini mencoba menjelajahi makna-makna dalam setiap ayat. Dia tahu, meskipun 
karena kepentingan politik dia ditelikung dengan mengatasnamakan kitab suci, 
tapi kitab suci adalah kitab suci. Kitab yang mengejawantahkan sabda Tuhan 
untuk manusia.
 Hanya saja, ada manusia yang menggunakan kitab suci untuk memetik keuntungan 
sendiri. Kitab suci yang mahaluas dan mahaagung itu, ditekuk hanya sebatas 
pemahamannya saja. Pada akhirnya fikiran dan pemahamannya itulah yang dianggap 
lebih suci dan kitab suci.
 Inilah yang sering kita dengar dari jargon kembali kepada Alquran dan hadist. 
Padahal jargon itu bisa diselewengkan menjadi hanya merujuk kepada pemahaman 
mereka saja mengenai Alquran dan hadist. Bukan kembali kepada Alquran dan 
hadist sebagaimana aslinya. Ujungnya kembali pada keinginannya saja.
 Mereka mengangungkan tafsirnya terhadap kitab suci. Mereka menekuk 
kemahaluasan firman Tuhan hanya sebatas pengertiannya yang terbatas. Sebab saat 
mendekati kitab suci, ada perasaan bahwa pemahaman sayalah yang paling benar. 
Keyakinan sayalah yang paling unggul. Seperti ada perasaan tinggi hati ketika 
mendekati firman Tuhan.
 Jika semua orang memiliki perasaan seperti itu, apakah mungkin seorang 
penganut Kristen taat seperti Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok, mau 
membaca kitab suci agama lain?
 Saya membayangkan Ahok http://www.netralnews.com/news/tag/ahok membaca Alquran 
dengan pikiran yang terbuka. Dengan bathin yang siap menerima hujan hikmah. 
Perasaan yang sama dialami ketika dia membaca Alkitab. Dengan rasa hormat yang 
sama. Dengan ketakjuban yang sama.
 Sebab bahasa-bahasa langit itu hanya bisa dinikmati oleh jiwa-jiwa yang 
merekah. Oleh hati yang jembar dan perasaan yang lapang.
 Di Mako Brimob, dalam kesehariannya Ahok 
http://www.netralnews.com/news/tag/ahok hampir khatam membaca Alquran. Dia 
bebas menjelajahi ayat demi ayat dari setiap firman Tuhan. Ikut menikmati 
hikmah sebagaimana layaknya kebanyakan kaum muslim. Dia tahu, bukan karena 
kesalahannya menyebutkan ayat Alquran yang menyebabkan dia mendekam di penjara 
sekarang. Respeknya pada kitab suci, tidak akan pernah pudar. Hanya karena 
kepicikan politik saja, yang membuat dia 'nyantri' di ruang tahanan Mako Brimob.
 Pencapaian kebeningan hati memang harus dimulai dengan kerendahatian. Sebab, 
tidak mungkin orang yang sombong mau menjelajah hikmah dari kitab suci orang 
lain. Dia bisa menikmati keindahan firman Tuhan tanpa harus menukar keimanannya.
 Kata Jalaluddin Rumi, "hanya hati yang dipenuhi cinta yang dapat menjangkau 
langit tertinggi."

 
 
 Reporter : Adiel Manafe
 Editor : Wulandari Saptono
 
http://www.mgid.com/ghits/d/43337/i/53255/pp/1/1?h=T50abjPb6z1ySo1s5h6OvETRg5tmeYUG5G0tSYM6LSUIwv5F9iwYJ_lVM0jm6CjK&u=4GFU9x2hMQ8bvMOgWZGXXiSKY0iNRYY48zSXDLKmP1ybv0SNE6PGUlFOqvk1fA_buQbwiPCnDPJ8VShs80a5fAN2sheVQOVa7oL8c6IBY_S8nFAiHufmJGgwzP6CFwsi1wfULq7b0MJ3n4zi-9fzm9KBgezFDn71Nr2aPyemANCaz7g9PFI0ibbUUNYsm55rTLqFYuekLQgk9DrDNo9yzJIPiK5OzVo7ZUUVQJUG_psASO9TNxAzbO2qDqSORevRoCoOuaRDM7plVAl1srVKcUpihj6QJ5HDkFRbGOCcoFzNVS2uhe03sXa8AbXrhzpgFHHNOO_iAE3weM6Fk7RSAR5OvHG8z2ZvfQIdTSQ1ThfhB4Qizb2wtCh92T7Cl_HrxZWIu8wjxYW7k5TOWMqpqneECSdHwxsFxlUzKU6OIU-TS_GmChNFzhQXHFO1yrZMIOGm2RTAGwSxa_zYPL9duEbSdcyL9l-VzVjcsL8YQzo*&ts=google.com&tt=Organic






 

Kirim email ke