----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 27 Oktober 2017 04.39.41 GMT+2Judul: 
Fw: [GELORA45] Eko Kuntadhi soal Ahok ‘Nyantri‘ di Mako Brimob dan Hampir 
Khatam Al Quran
     

  From: [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, October 27, 2017 8:15 
AM   







Eko Kuntadhi soal Ahok ‘Nyantri‘ di Mako Brimob dan Hampir Khatam Al Quran




Kamis, 26 Oktober 2017 | 13:59 WIB








Ahok saat di LP Cipinang (istimewa)





JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa hari terakhir, nama mantan Gubernur DKI 
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali menjadi perbincangan hangat 
lantaran mengaku hampir tamat membaca (khatam) kitab suci Al Quran.

“Di sini gua juga hampir khatam baca Al Quran loh. Gua kan SD sama SMP di 
sekolah Islam, jadi gua inget-inget dikit lah," kata Ahok kepada 10 penulis 
yang mengunjunginya rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada Selasa 
(24/10/2017).

Pertemuan antara Ahok dengan para penulis itu telah diulas oleh Ignasius 
Haryanto di dalam sebuah tulisannya dengan judul “Sebuah Selasa Siang Bersama 
BTP”. Ignasius sendiri merupakan salah satu dari 10 penulis yang telah 
mengunjungi Ahok.

Atas apa yang diungkapkan Ahok, mengundang penggiat media sosialEko Kuntadhi 
memberikan pandangannya lewat sebuah tulisan pendek berjudul 'Ahok Membaca Al 
Quran.' Dalam tulisannya itu ia menyebut, hanya orang-orang yang rendah hati, 
memiliki jiwa merekah, dan perasaan lapanglah, yang mau menjelajah hikmah dari 
kitab suci orang lain.

"Saya membayangkan Ahok membaca Alquran dengan pikiran yang terbuka. Dengan 
bathin yang siap menerima hujan hikmah. Perasaan yang sama dialami ketika dia 
membaca Alkitab. Dengan rasa hormat yang sama. Dengan ketakjuban yang sama," 
kata Eko.

"Sebab bahasa-bahasa langit itu hanya bisa dinikmati oleh jiwa-jiwa yang 
merekah. Oleh hati yang jembar dan perasaan yang lapang. Pencapaian kebeningan 
hati memang harus dimulai dengan kerendahatian. Sebab, tidak mungkin orang yang 
sombong mau menjelajah hikmah dari kitab suci orang lain. Dia bisa menikmati 
keindahan firman Tuhan tanpa harus menukar keimanannya," tandasnya.

Berikut tulisan lengkap Eko Kuntadhi di akun Facebooknya, dikutip 
Netralnews.com, Kamis (26/10/2017).

AHOK MEMBACA ALQURAN

“Di sini gua juga hampir khatam baca Al Quran loh. Gua kan SD sama SMP di 
sekolah Islam, jadi gua inget-inget dikitlah,” kata Ahok, kepada Ignatius 
Haryanto, ketika 10 orang penulis berkesempatan menjenguknya.

Menurut Ahok, dia mendapatkan Al Quran dari seorang ibu. Sayang dia tidak 
menceritakan lebih detil ibu yang memberikannya kitab suci tersebut. “Nah gua 
baca juga tuh surat Al Maidah, bagus isinya,” kataAhok, meneruskan.

Saat saya membaca kisah ini, saya teringat masjid KH Hasyim Asyari yang 
pembangunanya digagas Ahok. Kebetulan saya pernah menikmati sejuknya masjid 
megah di Jakarta Barat tersebut. Saya juga teringat masjid di Balai Kota hasil 
peninggalan Ahok.

Pikiran saya juga melayang kepada ratusan marbot masjid yang mendapat jatah 
umroh. Juga orang-orang yang setiap pagi memenuhi pelataran Balaikota untuk 
mengadukan masalahnya. Sebagian besar mereka adalah beragama Islam, mengadukan 
masalahnya kepada seorang Gubernurnya.

Ahok, mantan Gubernur berdarah Tionghoa dan beragama Kristen itu mengisi waktu 
luangnya dengan mereguk keindahan asma Tuhan. Dia membaca Alquran, menikmati 
keindahan bahasa dan hikmah di dalamnya. Tanpa harus menukar keyakinannya.

Sebab kitab-kitab suci itu sejatinya memang hadir untuk mereka yang berfikir. 
Manusia-manusia yang jiwanya terbuka untuk menerima kebaikan dan keindahan 
kalam Tuhan.

Lelaki yang dipenjara karena dianggap terpeleset perkataannya tentang Alquran 
kini mencoba menjelajahi makna-makna dalam setiap ayat. Dia tahu, meskipun 
karena kepentingan politik dia ditelikung dengan mengatasnamakan kitab suci, 
tapi kitab suci adalah kitab suci. Kitab yang mengejawantahkan sabda Tuhan 
untuk manusia.

Hanya saja, ada manusia yang menggunakan kitab suci untuk memetik keuntungan 
sendiri. Kitab suci yang mahaluas dan mahaagung itu, ditekuk hanya sebatas 
pemahamannya saja. Pada akhirnya fikiran dan pemahamannya itulah yang dianggap 
lebih suci dan kitab suci.

Inilah yang sering kita dengar dari jargon kembali kepada Alquran dan hadist. 
Padahal jargon itu bisa diselewengkan menjadi hanya merujuk kepada pemahaman 
mereka saja mengenai Alquran dan hadist. Bukan kembali kepada Alquran dan 
hadist sebagaimana aslinya. Ujungnya kembali pada keinginannya saja.

Mereka mengangungkan tafsirnya terhadap kitab suci. Mereka menekuk kemahaluasan 
firman Tuhan hanya sebatas pengertiannya yang terbatas. Sebab saat mendekati 
kitab suci, ada perasaan bahwa pemahaman sayalah yang paling benar. Keyakinan 
sayalah yang paling unggul. Seperti ada perasaan tinggi hati ketika mendekati 
firman Tuhan.

Jika semua orang memiliki perasaan seperti itu, apakah mungkin seorang penganut 
Kristen taat seperti Ahok, mau membaca kitab suci agama lain?

Saya membayangkan Ahok membaca Alquran dengan pikiran yang terbuka. Dengan 
bathin yang siap menerima hujan hikmah. Perasaan yang sama dialami ketika dia 
membaca Alkitab. Dengan rasa hormat yang sama. Dengan ketakjuban yang sama.

Sebab bahasa-bahasa langit itu hanya bisa dinikmati oleh jiwa-jiwa yang 
merekah. Oleh hati yang jembar dan perasaan yang lapang.

Di Mako Brimob, dalam kesehariannya Ahok hampir khatam membaca Alquran. Dia 
bebas menjelajahi ayat demi ayat dari setiap firman Tuhan. Ikut menikmati 
hikmah sebagaimana layaknya kebanyakan kaum muslim. Dia tahu, bukan karena 
kesalahannya menyebutkan ayat Alquran yang menyebabkan dia mendekam di penjara 
sekarang. Respeknya pada kitab suci, tidak akan pernah pudar. Hanya karena 
kepicikan politik saja, yang membuat dia 'nyantri' di ruang tahanan Mako Brimob.

Pencapaian kebeningan hati memang harus dimulai dengan kerendahatian. Sebab, 
tidak mungkin orang yang sombong mau menjelajah hikmah dari kitab suci orang 
lain. Dia bisa menikmati keindahan firman Tuhan tanpa harus menukar keimanannya.

Kata Jalaluddin Rumi, "hanya hati yang dipenuhi cinta yang dapat menjangkau 
langit tertinggi."


Reporter : Adiel ManafeEditor : Wulandari Saptono




    

Kirim email ke