From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, October 27, 2017 6:32 AM
  





http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/10/27/oyg0ue440-sekali-pribumi-sesudah-itu-heboh



Jumat , 27 Oktober 2017, 04:00 WIB

Inlander-Bumiputera-WNI Asli-Pribumi-WNI (1)

Sekali Pribumi, Sesudah itu Heboh
Red: Elba Damhuri

Republika/Daan 

 

Nasihin Masha





REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nasihin Masha

Menghadiri momen-momen politik penting merupakan ritual tersendiri bagi 
wartawan. Saat Jokowi menang sebagai gubernur, Jokowi menang sebagai presiden, 
dan upacara pisah-sambut dari SBY ke Jokowi pun saya hadiri.

Untuk Anies-Sandi, saya memilih hadir saat pidato politiknya. Nur Hasan 
Murtiaji, wakil pemimpin redaksi Republika, rupanya memiliki ritual yang sama. 
Maka kami pun berangkat bersama-sama dari kantor dengan naik bus Transjakarta.

Saat Anies menyebut kata “pribumi”, saya berbisik ke Hasan, “Ini akan rame.” 
Dan, jadilah kegaduhan tersebut. Anies dituduh rasis. Ia dituduh melanggar 
Inpres Nomor 26 Tahun 1998 yang dibuat di masa BJ Habibie menjadi presiden.

Anies juga dituduh melanggar UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan 
Diskriminasi Ras dan Etnis yang dibuat di masa pemerintahan SBY. Segera saja, 
ada yang mengadukan Anies ke Polri dengan tuduhan rasis tersebut.

Pengadu itu Jack Boyd Lapian yang disebut berasal dari Gerakan Pancasila. 
Selain didampingi pengacara, Jack ditemani orang-orang dari Banteng Muda 
Indonesia --ormas yang dekat dengan PDIP. BMI juga diberitakan sebagai salah 
satu pihak yang ikut melaporkan Anies ke Polri.

Namun, banyak pula yang membela dengan argumen bahwa Anies menyampaikan hal itu 
dalam konteks era kolonial dan tak ada tendensi rasis. Di antara yang membela 
adalah Jaya Suprana, pengusaha dan juga penulis esai. Jaya beretnis Tionghoa. 
Pembelaan Jaya dibuat dalam sebuah tulisan.

Sebelum menulis, Jaya mendengar ulang pidato Anies dari video CNN Indonesia 
yang diunggah di Youtube. Menurut dia, hanya sekali Anies menyebut kata 
“pribumi” yaitu pada kalimat “Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. 
Kini telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan di negeri sendiri.”

Jaya mencatat kalimat itu berada pada menit 06.30 hingga menit 08.00, yaitu 
diawali dengan suatu prolog bahwa Jakarta menjadi salah satu saksi kolonialisme 
dan menjadi kota melting pot (bertemunya beragam manusia dengan asal-usul dan 
budayanya masing-masing). Jakarta juga memiliki posisi penting karena tempat 
lahirnya Sumpah Pemuda, kota proklamasi, dan kota dirumuskannya cita-cita 
nasional ketika para pendiri bangsa menyusun UUD 1945 dan Pancasila.

Setelah berucap tentang pribumi, Anies menguncinya dengan pepatah Madura: “Itik 
se atelor, ajam se ngeremme”. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Anies 
mengingatkan agar hal itu jangan sampai terjadi.

Anies berpidato dengan membaca naskah pidato yang sudah disiapkan. Ada bagian 
yang tak tertulis dalam naskah pidato tapi diucapkan Anies, ada pula yang 
tertulis dalam naskah pidato namun diucapkan dengan kalimat berbeda atau diberi 
penekanan untuk menguatkan.

Yang tak ada dalam naskah tertulis, misalnya, tentang masyarakat Betawi yang 
telah menjadi sebaik-baiknya tuan rumah. Yang mendapat penekanan, misalnya, 
tentang letak pelaksanaan Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan sidang BPUPK.
Adapun tentang pribumi ada sedikit perbedaan. Pada naskah pidato tertulis 
“rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan” dan seterusnya. Namun, yang diucapkan 
adalah “dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan” dan seterusnya.

Pidato Anies selain diawali dengan salam Muslim, juga diawali salam Kristen, 
Hindu, dan Buddha. Dan saat menutup, untuk salam Muslim, Anies menggunakan dua 
versi: versi Muslim pada umumnya dan versi Nahdliyin. Lengkap.
Berikut ini adalah analisis pidato Anies yang merujuk pada transkrip pidato 
yang diucapkan. Saya sengaja tak melakukan transkrip sendiri, tapi memanfaatkan 
transkrip yang ada yang sudah beredar.

Pertama, transkrip yang dilakukan Uni Z Lubis, wartawan senior yang juga mantan 
anggota Dewan Pers dan kini anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat. Kedua, 
transkrip yang dilakukan oleh tim SalingSapa.com.

Transkrip versi Uni berdasarkan mendengarkan ulang dari rekaman video, 
sedangkan transkrip versi SalingSapa.com dilakukan menggunakan aplikasi dari 
rekaman video. Berdasarkan transkrip dua versi ini didapatkan data-data yang 
sama.

Ada sejumlah diksi menonjol yang sering diucapkan pada pidato Anies tersebut. 
Pertama, kata “keadilan” diucapkan tujuh kali. Kedua, kata “persatuan” 
diucapkan lima kali. Ketiga, kata “untuk semua” dan “bagi semua” --yang 
mempunyai makna yang sama- diucapkan 13 kali.

Keempat, kata “Pancasila” diucapkan tujuh kali. Kelima, kata “bagi seluruh” 
diucapkan empat kali. Keenam, kata “kesejahteraan” diucapkan dua kali. Ketujuh, 
kata “pribumi” diucapkan satu kali. Sangat menarik mencermati angka-angka 
tersebut.

Ternyata frasa dan diksi yang bersifat menyatukan justru paling menonjol yaitu 
bagi semua, untuk semua, bagi seluruh, dan persatuan. Adapun tema yang menjadi 
sorotan dan pokok paling menonjol selama masa kampanye, yaitu soal “keadilan” 
dan “kesejahteraan” menjadi urutan berikutnya.

Namun, yang paling riuh dibicarakan justru yang diucapkan satu kali: pribumi. 
Apakah ini yang dinamakan nila setitik rusak susu sebelanga? Bisa ya jika apa 
yang disampaikan Anies dalam konotasi nila.

Namun, jika kita cermat dan jernih membacanya maka struktur kalimat itu justru 
dalam ruang “susu”, bukan nila. Wajar sekali jika semangat persatuan dan 
menyatukan merupakan yang paling menonjol karena itu merupakan laku rutin dari 
pidato politik kemenangan setelah kompetisi yang tajam.

Menyatukan memang bukan pekerjaan gampang. Namun, persatuan autentik akan 
tercipta dengan sendirinya dengan menghadirkan prestasi.



Kirim email ke