https://tirto.id/rontoknya-bisnis-department-store-cyZd
 https://tirto.id/rontoknya-bisnis-department-store-cyZd
 Rontoknya Bisnis Department Store 
https://tirto.id/rontoknya-bisnis-department-store-cyZd Pusat perbelanjaan 
ritel Lotus di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat. tirto.id/Andrey Gromico 290 Shares   
 
mailto:?subject=Rontoknya%20Bisnis%20Department%20Store%20&body=https://tirto.id:443/rontoknya-bisnis-department-store-cyZd
 Reporter: Ringkang Gumiwang 
https://tirto.id/author/ringkanggumiwang?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 25 Oktober, 2017dibaca normal 3 menit

 Semenjak 2014 pendapatan department store MAPI mengalami perlambatan Pelaku 
ritel juga harus mampu melihat perubahan perilaku konsumen
 Kejadian berantai tutupnya beberapa merek bisnis department store memunculkan 
pertanyaan. Apa yang memicunya?

 
 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Suasana 
gerai Lotus Department Store di Skyline Building, Jakarta Pusat, Selasa pagi 
lalu nampak sepi. Di toko berlantai dua itu lebih dominan nampak keramaian 
gambar-gambar promo diskon 20-80 persen produk busana dan perlengkapan wanita. 
Nama Lotus menjadi trending topic di media sosial soal kabar penutupan 
gerai-gerai retail dari bisnis PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) hingga akhir 
bulan ini.

Tutupnya gerai-gerai Lotus bukan ihwal cerita baru dalam jagat bisnis retail 
khususnya department store di Indonesia. Pada September 2017, pengunjung 
mengantre diskon besar-besaran jelang department store milik Grup Lippo, 
Matahari itu menutup gerainya di Pasaraya Manggarai dan Blok M, Jakarta. Selain 
Matahari dan Lotus, gerai department store lainnya Ramayana juga ditutup di 
beberapa lokasi termasuk di kawasan Blok M.

Baca juga: T 
https://tirto.id/toko-ritel-berguguran-pemasok-barang-cari-peluang-pasar-baru-cyXjoko
 
https://tirto.id/toko-ritel-berguguran-pemasok-barang-cari-peluang-pasar-baru-cyXj
 Ritel Berguguran, Pemasok Barang Cari Peluang Pasar Baru 
https://tirto.id/toko-ritel-berguguran-pemasok-barang-cari-peluang-pasar-baru-cyXjPenutupan
 operasi suatu bisnis tentu bukan keputusan gegabah oleh para manajemennya. 
Bisnis department store MAPI misalnya, sudah mengalami penurunan pendapatan 
sejak tahun lalu. Sebelum 2014, pendapatan MAPI dari segmen department store 
terbilang kinclong. Pendapatan department store pada 2013 mencapai Rp2,37 
triliun atau naik 21 persen. Setelah itu, mengalami perlambatan pendapatan 
hingga puncaknya hanya tumbuh 6 persen pada 2015. 

Tahun lalu, department store MAPI malah tumbuh minus 3 persen hanya Rp2,68 
triliun. MAPI memiliki unit usaha department store dari PT Panen Lestari 
Internusa (Sogo), PT Benua Hamparan Luas (Debenhams), PT Panen Selaras 
Intibuana (Seibu), PT Alun Alun Indonesia Kreasi (Alun-alun Indonesia), PT 
Panen GL Indonesia (Galeries Lafayette), dan PT Swalayan Sukses Abadi 
(Foodhall).

Sialnya, tren penurunan pendapatan terus berlanjut hingga semester I-2017. 
Pendapatan hanya mencapai Rp1,35 triliun, turun 2 persen dari periode yang sama 
tahun lalu. Segmen department store MAPI memang menyusut, tapi total pendapatan 
MAPI tahun lalu menembus Rp9,71 triliun atau naik 14 persen. Semester I-2017, 
pertumbuhan total penjualan malah naik 20 persen menjadi Rp4,42 triliun. Bisnis 
kafe dan restoran memang menopang dari restoran dibandingkan department store 
yang sedang terpuruk.

Baca juga: Penutupan Gerai Lotus dan Gurita Bisnis MAP 
https://tirto.id/penutupan-gerai-lotus-dan-gurita-bisnis-map-cyV5

Rontoknya bisnis department store MAPI juga terjadi pada PT Matahari Department 
Store Tbk. (LPPF). Tren pertumbuhan pendapatan LPPF sejak 2013-2017 juga 
mengalami perlambatan yang cukup dalam. Pada 2013, pertumbuhan LPPF masih 27 
persen senilai Rp4,04 triliun. Pertumbuhan penjualan justru makin melambat pada 
tahun berikutnya semenjak 2014-2015, masing-masing menjadi 21 persen, 17 
persen. Titik terendah pertumbuhan terjadi pada tahun lalu, hanya tumbuh 12 
persen tahun lalu dengan pendapatan Rp6,43 triliun. 

Sementara itu, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS), pendapatan pengelola 
gerai-gerai Ramayana ini dari bisnis pakaian dan aksesoris masih tumbuh. Pada 
tahun lalu tumbuh 11 persen di 2016, dengan pendapatan pakaian dan aksesoris 
Rp2,93 triliun, meski pada 2014 dan 2015 sempat mengalami penurunan pendapatan 
masing-masing Rp2,71 triliun dan Rp2,63 triliun. Pada semester I-2017 
pendapatan bisnis pakaian dan aksesoris tumbuh 13 persen sebesar Rp1,86 triliun 
dibandingkan semester I-2016. Pendapatan Ramayana lainnya disumbang dari bisnis 
swalayan yang kini trennya sedang menurun. 

“Pendapatan MAPI, LPPF dan RALS memang sama-sama tertekan. Namun, kinerja RALS 
agak sedikit positif karena gerainya banyak di luar Jawa. Persaingan di Jawa 
sangat ketat,” ujar Kiswoyo Adi Joe, analis dari Recapital Sekuritas.


 share infografik


Banyak faktor yang bisa menyebabkan bisnis department store terpuruk, mulai 
dari daya beli yang menurun, pola belanja yang berubah, jual beli daring hingga 
persaingan bisnis ritel yang ketat. 

Dari sisi pengeluaran konsumsi rumah tangga misalnya, aspek penggerak ekonomi 
ini memang melambat sejak 2014. Pada tahun itu konsumsi rumah tangga tercatat 
tumbuh 5,60 persen. Pada tahun berikutnya, pengeluaran konsumsi rumah tangga 
melambat dengan hanya tumbuh 4,99 persen. Namun, pada 2016, membaik ke level 
5,01 persen. Saat bersamaan bisnis ritel juga mengalami perlambatan sejak 2013. 
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat pada semester I-2017 
industri ritel hanya tumbuh 3,7 persen 
https://tirto.id/%20http:/ekonomi.kompas.com/read/2017/09/13/152426426/hingga-akhir-tahun-pertumbuhan-industri-ritel-diprediksi-melambat,
 padahal tahun sebelumnya sempat di atas 10 persen.

“Secara statistik, konsumsi rumah tangga tumbuh. Namun, di lapangan, konsumsi 
masyarakat itu menurun. Penjualan eceran atau ritel juga jadi melambat,” kata 
Enny Sri Hartati, Ekonom Institute for Development of Economics & Finance 
(INDEF) kepada Tirto.

Baca juga: 
 Daya Beli Masyarakat Melemah, Benarkah? 
https://tirto.id/daya-beli-masyarakat-melemah-benarkah-ctGk Daya Beli Turun 
atau Tidak? https://tirto.id/daya-beli-turun-atau-tidak-cxQb
Faktor menggeliatnya transaksi online juga sering dikaitkan punya dampak pada 
penjualan ritel offline. Namun, bagi pengusaha ritel, nilai transaksi ritel 
online masih kecil. Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia 
(Aprindo) Roy N. Mandey berpendapat jual beli daring memang bagian dari masa 
depan pasar ritel. Ia mendorong para pelaku ritel untuk juga masuk ke ranah 
digital yang kini makin berkembang.

“Untuk saat ini, transaksi online belum berpengaruh terhadap transaksi 
penjualan ritel offline. Dari total nilai kapitalisasi pasar retail nasional 
senilai US$320 miliar dolar, transaksi online baru menyumbang sekitar 1,4 
persen,” kata Roy kepada Tirto.

Pelaku ritel juga harus mampu melihat perubahan perilaku konsumen. Model produk 
terbaru khususnya model pakaian yang melekat pada layanan department store 
menentukan pilihan konsumen di tengah ragam tawaran produk secara online yang 
makin deras. Produk fesyen yang tidak update alias gaya lama juga menjadi 
persoalan bagi department store. Dengan produk yang tidak kekinian tentunya 
tidak menarik bagi konsumen.

“Sebagian persoalan lesunya penjualan department store disebabkan model pakaian 
yang masih old school. Sehingga, upaya-upaya promosi yang dilakukan juga tidak 
akan berdampak besar,” kata Craig Johnson, Head of Research dari perusahaan 
riset Customer Growth Partners. 
https://www.bloomberg.com/news/articles/2016-11-22/department-stores-change-tactics-as-they-lose-ground-to-screens
 

Baca juga: Aprindo Sebut Toko Ritel Modern Harus Lakukan Redefinisi 
https://tirto.id/aprindo-sebut-toko-ritel-modern-harus-lakukan-redefinisi-cyXy

Apa yang terjadi dengan dapartment store bagian dari proses keseimbangan baru 
sebuah bisnis dan harus diantisipasi oleh pelaku ritel lainnya. Ini bukan 
berarti gerai-gerai ritel lainnya seperti hipermarket atau supermarket aman 
dari proses dinamika pasar dan perubahan ekonomi yang tengah berlangsung menuju 
era digital yang serba efisien dan ketat. 

Baca juga artikel terkait LOTUS 
https://tirto.id/q/lotus-hJT?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword atau 
tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang  
https://tirto.id/author/ringkanggumiwang?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - rgw/dra)

 

Kirim email ke